
Hari yang ditunggu akhirnya datang, Fay izin dari tempat kerja untuk menemani ibunya yang akan menjalani operasi transplantasi ginjal sore ini. Wanita itu berjalan mondar-mandir seperti setrikaan baju, dia sangat cemas, apalagi jika teringat kemungkinan terburuk dari operasi ini.
Sedangkan Yuri sudah pasrah, dia terlihat tenang dan percaya pada dokter apa pun hasilnya. Apalagi Vano sudah datang menemuinya dan berjanji akan menikahi Fay setelah keadaannya pulih. Meski harus ada kemungkinan terburuk, Yuri sudah tenang karena Fay bersama orang yang tepat.
"Duduklah, Mama ingin bicara," ujar Yuri menepuk sisi ranjang yang kosong.
Fay menolehkan wajahnya pada wanita yang telah melahirkannya, dia mengerjap beberapa kali, menyangkal genangan di kedua sudut matanya yang hampir terjatuh.
"Kamu nggak senang Mama menjalani operasi ini?" tanya Yuri mengusap punggung tangan putrinya lembut.
Fay terdiam, tentu saja senang akhirnya sang ibu sebentar lagi tidak perlu cuci darah untuk waktu yang lama.
"Kalau kamu nggak setuju, Mama lebih baik membatalkan ...." Kedua alis Fay terangkat, ini kesempatan yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama dan menjadi satu-satunya jalan agar ibunya bisa terus bertahan lebih lama lagi. Bagaimana mungkin mereka akan menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini?
"Fay setuju, sangat setuju jika hal itu untuk kebaikan Mama. Justru karena bahagia, sebentar lagi Mama bisa sembuh," ucap Fay dengan bibir bergetar, ia tidak sanggup lagi membendung butriran kristal yang menghujani wajahnya. "Ini air mata bahagia, Ma."
Yuri menghapus jejak air mata di wajah putrinya, gadis kecilnya telah tumbuh menjadi wanita tangguh dan pekerja keras.
Mas, seandainya kamu di sini. Putri kita sudah dewasa sekarang, dia sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Apa kabar kamu di sana?
"Mama harus semangat, ya. Laki-laki itu tidak akan datang, tapi Mama tenang aja, Fay selalu ada di sini untuk Mama."
Fay tahu apa yang sedang dipikirkan sang ibu, meski bibirnya terus berkata tidak, tetapi dia tahu arti dari lirikan matanya yang terus menatap ke arah pintu. Dengan berat hati Fay memberitahukan kondisi sang ibu yang akan mejalani operasi hari ini, walaupun dia tahu bahwa laki-laki itu tidak akan datang, tidak akan pernah.
Pintu diketuk, Dokter Adam bersama dua orang perawat meminta Yuri untuk berganti pakaian dan kembali memastikan kondisi Yuri sekali lagi. Dokter akan memberikan suntikan anestesi umum (bius total), sehingga pasien tidak akan merasakan apa-apa selama prosedur berlangsung.
Ma, tolong jangan pernah mengharapkan dia lagi. Dia tidak pantas untuk mendapatkan Mama.
Lagi-lagi Yuri harus kecewa karena orang yang datang bukanlah orang yang diharapkan. Fay sebenarnya kesal karena Yuri masih saja mengharapkan orang yang jelas-jelas telah menyakiti mereka, mencampakkan, dan membuat hiduap keduanya sengsara.
Ternyata aku memang sudah tidak boleh berharap lagi padamu, Mas.
Sebelum menjalani transplantasi ginjal, dokter sudah melakukan evaluasi dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada pasien mengenai riwayat penyakit yang pernah diderita, obat-obatan yang digunakan, serta riwayat alergi terhadap obat bius dan obat imunosupresan.
Dokter juga akan melakukan pemeriksaan umum, mulai dari pemeriksaan fisik, tes darah, pemindaian, seperti Rontgen, CT scan, atau MRI, hingga pemeriksaan psikologi untuk memastikan kesiapan fisik dan mental Yuri.
Yuri juga sudah melakukan beberapa tes untuk memastikan kecocokan dengan ginjal donor. Hal ini bertujuan untuk menekan potensi penolakan tubuh terhadap organ ginjal yang baru.
"Anda sudah siap, Ibu Yuri?" tanya Dokter Adam.
Wanita itu mengangguk, menggenggam tangan Fay erat dengan memaksakan senyum. Tangannya terasa dingin, degup jantungnya bertambah kencang, tetapi dia harus terlihat baik-baik saja.
"Ma," lirik Fay menyeka air matanya.
"Saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk ibu Anda, Nona." Dokter Adam seolah tahu apa yang dipikirkan Fay. Dia hanya bisa menghiburnya dengan kata-kata.
Operasi ini harus berjalan lancar dan berhasil, jika tidak bukan hanya nyawa pasien yang terancam, tetapi jabatannya juga gelarnya sebagai seorang dokter taruhannya. Dia tidak boleh menyinggung Vano dengan kegagalan tugasnya.
"Terima kasih, Dokter."
Fay mendorong Yuri dengan kursi roda, suster sudah melarangnya tetapi Fay kekeh ingin melakukannya.
Mereka menuju ruang operasi yang sudah dipersiapkan, di sana juga sudah ada orang yang akan mendonorkan ginjalnya. Fay dilarang masuk, dia harus menunggi di luar ruangan.
Namun, baik Fay maupun Yuri sama sekali tidak diperkenankan melihat orang itu. Bahkan data dirinya juga dirahasiakan, hal itu atas permintaan pendonor sebagai syarat agar dia mau menjalani operasi sesuai kesepakatan sebelumnya. Mereka tidak dapat berbuat banyak, mereka harus setuju dengan syarat itu atau dia akan membatalkan niatnya.
"Baiklah, tarik napas panjang, hembuskan. Sudah siap, ya?" tanya Dokter Adam sekali lagi.
"Siap, Dok."
"Baik, kita akan mulai."
Dokter Adam mengistruksikan kepada tim medis yang ada di ruangan itu untuk memulai proses tranasplantasi. Dia sendiri sebagai dokter bedah juga ketua tim medis harus menyiapkan diri untuk segala kemungkinan.
Dokter akan memberikan suntikan anestesi umum (bius total), sehingga pasien tidak akan merasakan apa-apa selama prosedur berlangsung. Proses transplantasi ginjal kurang lebih memakan waktu tiga jam.
Di luar ruangan, mulut Fay tak henti berkomat-kamit. Waktu terasa sangat lama untuknya, dia terus melirik jarum jam yang seoalh bergerak sangat lambat dari biasanya.
"Mama harus baik-baik saja," gumam Fay pelan.
Dia seorang diri di sana. Tidak ada seorang pun yang menemani, tudak bisa berbagi kecemasan yang dirasakannya pada siapa pun. Hanya Fay anggota keluarga satu-satunya, hanya kepada Tuhan dia memohon, agar semuanya berjalan lancar dan segera diberikan kesembuhan.
Di saat seperti ini, Fay benar-benar membutuhkan bahu seseorang untuk bersandar, tapi siapa? Laki-laki yang dia harapkan bisa melindungi dan membahagiakannya, ternyata lebih memilih mengabaikannya dan pergi bersama wanita jahat itu.
Matanya terpejam dengan kedua tangan saling bertaut, bertumpu di atas kedua kaki untuk menopang kepalanya yang terasa begitu berat. Seandainya saja ....
"Saya pinjamkan bahu ini," ucap suara barito milik seseorang.
Perlahan mata Fay terbuka, ia mendongakkan wajah mencari asal suara yang tidak asing di indera pendengaran. Dia menganggapnya hanya angan-angan belaka, bagaimana mungkin orang yang sibuk sepertinya datang ke rumah sakit hanya untuk menemaninya.
"Heh, Mengapa di saat seperti ini kamu juga ada di sini? Kamu pasti sedang berhalusinasi tentangnya, Fay? Bangun, ini hanya mimpi!" Sudut bibirnya mencibir sosok laki-laki menyebalkan yang duduk di sebelahnya.
Fay hanya menganggapnya mimpi, apalagi pikirannya sedang kacau. Apa yang bisa diharapkan dari laki-laki yang baru ditemuinya dua kali? "Bangunlah, jangan menaruh harapan lebih padanya!" maki Fay pada dirinya sendiri.
Bersambung ....