
"Iya, masih berani dia datang ke sini. Dasar enggak punya malu." Wanita dengan pakaian kurang bahan yang duduk di seberang turut bicara.
"Ternyata dia sama saja dengan ibunya, enggak tahu malu."
Sekarang Fay tahu, Ana sengaja membuat malu di depan teman-teman arisan sosialitanya. Sakit? Tentu saja, tapi ini bukanlah saatnya untuk mencari keributan. Ia hanya ingin menemui laki-laki yang akan menjadi wali nikahnya.
"Jeng, jangan bicara seperti itu, dia tidak bersalah. Bagaimanapun Fay ini masih anak suamiku." Ana merangkul Fay dengan mata berkaca-kaca.
Fay serasa mual melihat tingkah Ana. Untuk siapa dia berpura-pura? Apa untungnya dia menjilat?
"Kamu terlalu baik, Jeng. Pantas saja suami kamu lebih memilih kamu daripada wanita itu." Wanita bersanggul yang sebelumnya duduk di sebelah Ana--Dini, ia semakin memojokkan Fay dengan kata-kata pedas. Seolah Ana makhluk paling menyedihkan di dunia ini. Semoga saja.
Tenangkan dirimu, Fay. Nenek sihir ini sengaja memancing amarahmu. Dia tidak ada hubungannya denganmu, anggap saja dia manekin di rumah ini.
"Benar, mendingan kita usir aja anak tidak tahu diri ini." Kedua wanita pendukung Ana mengapit Fay dan ingin menyeretnya pergi. Ana menyeringai penuh kemenangan, dia bisa membalas Fay atas tindakan sang ibu di rumah sakit.
Rasain kamu, ini belum seberapa. Ibu kamu sudah membuatku diusir dari rumah sakit dengan rasa malu yang tidak akan pernah aku lupakan. Di sini adalah wilayahku, tidak ada orang yang akan membantu kamu anak haram!
"Fay, kamu datang?" Riko baru saja turun dari mobil, hari ini dia sengaja pulang lebih awal karena ingin istirahat di rumah. Namun, apa yang dilihatnya sungguh membuatnya terkejut. Kehadiran Fay tanpa memberitahunya di rumah ini merupakan suatu kebahagiaan untuknya. Selama ini Fay selalu menghindar jika Riko ingin bertemu, tetapi hari ini dia berinisiatif menemuinya.
"Ada apa ini?" Riko membantu Fay yang hampir saja terjatuh karena di dorong oleh kedua teman Ana.
"Riko, dia datang untuk menyakiti istri kamu, dia sengaja datang karena tidak terima dan ingin membalas dendam ibunya yang sama-sama tidak tahu diri," seru Dini dengan emosi meluap-luap.
"Sudahlah, Jeng. Ini semua salahku, lagian aku enggak papa," sela Ana dengan menitikkan air mata.
Fay menatap laki-laki paruhbaya itu dengan kening berkerut. Bukankah dia yang memintanya untuk datang ke rumah? Atau jangan-jangan....
Sekarang Fay semakin jelas akan tujuan Ana, apakah benar Riko tidak membaca pesan darinya? Ini semua ulah Ana, nenek sihir yang berwajah ganda.
"Sudahlah, saya tidak ingin mendengar kalian berkata apa pun lagi. Kalian semua bubar," sentak Riko pada keempat rekan sosialita Ana.
"Tapi, Mas."
"Enggak ada tapi, bubar." Riko mengulangi ucapannya. Ia tahu Fay tidak mungkin melakukan apa yang dituduhkan Dini dan lebih percaya pada apa yang dilihatnya.
"Fay, ikut Papa."
"Enggak, Fay tidak ingin membuat Nyonya Ana marah," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "Lebih baik Fay pergi, kehadiranku hanya membuat masalah di rumah ini." Butiran kristal lolos begitu saja dari kedua sudut mata Fay.
Nenek sihir, wanita jahat. Memangnya cuma kamu yang bisa akting? Kalau cuma begini aku juga bisa.
"Jangan pedulikan dia! Pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu dan ibumu," tegas Riko.
Tangan Ana terkepal erat, mengapa Riko masih saja membela Fay? Ini tidak adil, orang yang menemaninya dari titik terendah adalah dirinya, bukan Yuri, apalagi Fay. Mengapa mereka harus memiliki hak atas kekayaan yang sudah didapatkan?
"Mas, kamu enggak bisa seenaknya gitu, dong!"
"Lebih baik Fay pergi aja dari sini," gumam Fay, tetapi masih bisa didengar oleh Riko.
"Baiklah. Kita bicara di luar," ujar Riko kembali ke mobil. "Tunggu apalagi? Ayo ikut." Riko melambaikan tangan pada Fay yang masih mematung di depan pintu. Dalam hatinya bersorak karena berhasil membuat Ana kesal.
"Anak haram! Kamu boleh menang kali ini, tapi aku tidak akan membiarkan ada lain kali."
Ana menatap mobil sang suami yang semakin menjauh, kakinya dihentakkan. Kebenciannya pada Fay dan ibunya semakin bertambah, terlebih sikap Riko yang tidak lagi acuh.
"Aku enggak boleh biarin anak dari wanita itu merebut hak Farah. Ini semua milikku, milik Farah. Aku tidak akan membiarkan seorang pun merebutnya."
Riko membawa Fay ke sebuat restoran sederhana, tetapi penuh arti. Yah, beberapa tahun silam saat Fay masih kecil, Riko sering mengajaknya makan di tempat ini bersama Yuri. Waktu itu, Riko belum sukses seperti sekarang. Namun Fay bisa merasa kehangatan sebuah keluarga.
Fay segera menepis bayangan keharmonisan sebuah keluarga yang pernah dia rasakan. Semua itu hanya masa lalu, sekarang tidak akan pernah terulang kembali.
"Kenapa Anda membawaku ke sini?" ucap Fay setelah mereka sampai di parkiran restoran.
"Ayolah, Fay. Papa rindu masa-masa denganmu. Sudah lama sekali kita tidak datang ke tempat ini," bujuk Riko.
"Heh, apakah Anda masih pantas berkata demikian? Kemana Anda selama ini? Anda seolah buta saat wanita itu menjahatiku dan Mama," murka Fay.
"Tolong jangan seperti ini, Fay. Papa melakukan ini demi kebaikanmu, demi kebaikan kalian."
"Haha..., kebaikan apa yang Anda maksud? Bukankah hal itu hanya untuk membahagiakan mereka tanpa memedulikan perasaan kami?" Fay menghapus jejak air mata di wajahnya dengan kasar. Ia tertawa getir setiap kali mengingat perlakuan Riko yang membiarkan Ana menindasnya. "Dan apakah ini yang dilakukan seorang ayah pada anaknya?"
Riko terdiam, dia tidak bisa mengelak, semua yang Fay katakan memang benar adanya. Namun ia juga terpaksa melakukannya, ia tidak ingin melihat Yuri dan Fay terus disakiti oleh Ana.
"Kenapa diam? Tidak bisa menjawab, bukan?"
"Fay, cukup. Papa tidak mau kamu mengungkit masalah yang sudah berlalu."
"Sekarang sudah merasa bersalah? Semua itu sudah terlambat. Fay membuka pintu mobil, melupakan tujuannya menemui Riko. Namun, ia kembali berbalik. "Bukankah Anda sendiri yang memintaku datang ke rumah itu dan sengaja membiarkanku di-bully oleh wanita itu dan teman-teman sosialitanya? Sekarang Anda masih berpura-pura tidak tahu?"
"Papa benar-benar tidak tahu apa yang kamu katakan, Fay."
Sebenarnya Fay sudah menebak sejak awal, tetapi ia masih berpikir yang membalas pesannya adalah Riko. Tenyata dugaannya benar, Ana dalamg dibalik masalah ini. Namun, Fay terlanjur kecewa, apalagi saat Riko membahas masa lalu. Seolah membuka luka lama yang sudah berhasil Fay tutup rapat.
"Jadi Anda berpikir bahwa aku sengaja datang dan membuat keributan di rumah itu?" Fay menggelengkan kepalanya, tidak percaya meski Riko terus meyakinkannya. "Satu hal lagi, Anda tidak pantas dipanggil Papa."
"Fay, dengatkan penjelasan Papa." Riko berusaha mengejar Fay yang berlari semakin jauh.
"Aaa...." Fay menjerit sambil menutup wajah saat lampu mobil menyilaukan mata datang dengan kecepatan penuh.
Apa yang akan terjadi pada Fay?
A. Dia tertabrak mobil
B. Riko menyelamatkannya
C. Jawaban lain bisa tulis di komentar.
Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan berikan hadiah supaya thor lebih semangat.
Bersambung....