Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Dia Bukan Dirinya



"Dia sengaja mau mempersulit hidupku, jangan harap itu bisa terjadi!" gerutu Fay meninggalkan pelataran gedung megah HS Group.


Fay adalah wanita yang bebas dan tidak suka dikekang, terlebih usianya baru menginjak kepala dua tahun ini. Seandainya keadaan tidak memaksa, saat ini dia pasti masih melanjutkan pendidikan yang sempat terbengkalai karena sakit yang diderita sang ibu.


Jika mengingat hal itu, tentu saja Fay juga tidak ingin hal buruk terjadi padanya. Namun, inilah jalan hidup yang sudah digariskan untuknya.


Fay mengernyit keheranan saat mendapati banyak pengunjung yang datang ke tempatnya bekerja. Tidak biasanya club ramai, padahal sekarang bukanlah weekend atau hari libur.


"Apakah ada tamu penting yang datang hari ini?" gumam Fay dengan rasa penasaran tinggi yang membawa langkahnya masuk ke dalam club.


Prang!


"Astaga, apa yang sudah terjadi? Mungkinkah ada gempa bumi?"


Gelas dan botol kaca jatuh, berserakan di atas lantai, hampir saja lemparan gelas itu mengenai Fay jika saja wanita itu tidak sigap menangkapnya. Dilihatnya sekelompok orang yang sedang membuat keributan di sana.


Petugas keamanan berhasil dikalahkan, mereka meringis menahan sakit. Mereka sudah berusaha menahan gerombolan preman itu, tetapi jumlahnya terlalu banyak. Di siang hari hanya ada beberapa petugas keamanan yang berjaga.


"Bos, kami sudah melakukan sesuai keinginan Anda," ucap seorang diantara mereka pada laki-laki bertubuh tinggi yang membelakangi Fay.


"Good Job, saya akan menambahkan bonus untuk kalian," cibir laki-laki itu.


Fay belum bertindak, ia segera mencari tahu masalah yang sebenarnya terjadi. Pemilik club tidak ada di tempat, begitu juga penanggung jawabnya. Hal itu dimanfaatkan oleh Ferdi yang sudah lama mengincar mereka untuk balas dendam.


"Ada apa ini?" tanya Fay pada pengawal yang tersungkur dengan hidung berdarah.


"Mereka mencari orang yang membuat keributan di toilet saat malam tempo hari."


Deggg!


Mata indah Fay membulat penuh, jadi mereka adalah anak buah Vano? Bukankah ia berada di kantor?


"Biar aku yang tangani, kalian pergilah dan hubungi Tuan Evan."


Preman itu tidak menyadari kedatangan Fay dari pintu belakang, terlebih lampu ruangan remang karena ada beberapa yang tidak dinyalakan. Pengawal itu bertindak sesuai rencana yang Fay katakan padanya.


"Ehm, Anda mencariku, Tuan?" tanya Fay dengan suara lantang. Dia berusaha tenang menghadapi mereka. Meski ilmu beladirinya cukup bagus, tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Sedangkan teman-teman Fay sudah berhasil mereka kalahkan.


Laki-laki itu berpaling, keduanya sama-sama menyipitkan mata. Terutama Ferdi, ia tidak menyangka akan bertemu wanita cantik di tempat ini. Fay berjalan semakin mendekat, laki-laki itu tidak berkutik, ia mengira Fay datang karena tertarik dan ingin menggodanya.


"Dari mana datangnya wanita cantik ini? Sayang sekali dia belum berganti pakaian dan berdandan. Kalau iya, dia pasti akan terlihat lebih menggoda," batin Ferdi menatap Fay tanpa berkedip.


Ck, dia memang sangat mirip. Hampir saja aku tertipu, tapi tidak akan untuk kedua kalinya.


Fay sudah bisa membedakan laki-laki itu Vano atau bukan. Yah, dia sengaja mendekat karena ingin membedakan aroma yang menempel padanya. Penerangan tidak mendukungnya untuk membedakan fisik, Fay harus bisa memastikan bahwa laki-laki itu memang bukan Vano yang dikenal, hanya itu ide yang terlintas olehnya. Beberala kali bertemu, Fay sudah hafal betul wangi maskulin yang membuatnya terlena. Tidak dengan laki-laki yang berdiri menatapnya dengan kagum. Mupeng.


Dia bukan dirinya.


Selain itu, jika diperhatikan lebih seksama. Sebenarnya hanya fisiknya saja yang sama. Wajah dan penampilannya sungguh berbeda, Vano selalu berpenampilan rapi, sedangkan laki-laki itu tidak. Ah, hampir saja lupa. Laki-laki ini lebih tua dari wajah Vano yang good looking dan tidak membosankan.


Ck, siapa yang sudi dirayu lelaki sepertimu. Sudah hampir kehilangan masa depan masih saja tidak mau bertaubat.


"Anda bertanya padaku?" tanya Fay dengan senyum yang dipaksakan.


Laki-laki itu mengangguk, para preman yang sedang membuat keributan seketika berhenti dan menyingkir setelah Ferdi memberi isyarat dwngan tangannya.


"Bukankah Anda sedang mencari seseorang? Orang itu adalah aku."


"Haha..., aku memang memcari seseorang di sini. Tapi bukan kamu orangnya. Aku hanya imgin membuat perhitungan dengan orang yang sudah mencelakaiku," Ferdi tersenyum penuh maksud. "Lagi pula, wanita cantik sepertimu mana mungkin tega melakukan hal buruk padaku."


Tunggu, wanita cantik? Ah, Fay melupakan sesuatu, dia belum mengubah penampilannya. Bukankah itu hal yang bagus, dia bisa mengusir mereka tanpa menggunakan kekerasan. Dia harus mengulur waktu menunggu bala bantuan datang.


Kenapa kamu begitu bodoh, Fay. Untung saja dia tidak mengenali wajahmu.


"Tuan, Anda begitu percaya diri. Saya ke sini karena memang tugas saya di sinj. Saya bekerja di sini," ungkap Fay. Namun, bekerja yang Fay maksud bukanlah pekerjaan yang Ferdi pikirkan.


"Jadi kamu bekerja di sini?" Wajah Ferdi menyeringai penuh maksud. Tangannya mulai nakal, tetapi sebisa mungkin Fay menghindar. "Kalau begitu, temani aku minum."


"Jaga sopan santun Anda, Tuan." Fay mulai kesal karena Ferdi mulai kurang ajar.


"Tuan, jaga sikapmu!" omel Yugo, kepala pengawal yang bertukar shift dengannya, dia memintanya untuk mundur, jika tidak rencanaya pasti tidak akan berjalan dengan lancar.


"Sopan santun? Sejak aku masuk ke tempat ini. Maka sopan santun yang kamu maksud sudah tidak ada lagi," ejek Ferdi. "Wanita rendah sepertimu tidak pantas membicarakan hal itu. Bukankah sudah menjadi pekerjaanmu melayani dan memuaskan setiap tamu yang datang?"


"Hahaha...." preman yang dibawa Ferdi tertawa berjamaah.


Tangan Fay terkepal erat dengan wajah merah padam. Hatinya mencelos Ferdi mengatainya wanita rendah, Apakah setiap orang yang datang ke tempat ini selalu sama dengan yang Ferdi pikirkan? Tentu saja Fay berbeda, dia bertahan di tempat ini karena gajinya yang besar dengan kemampuan yang dimilikinya.


Jadi dia berpikir bahwa aku wanita penghibur? Baiklah, akan aku turuti keinginanmu untuk menghiburmu.


"Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi." Kepalan tangan wanita itu berhasil membuat sudut mulut Ferdi pecah, rasa getir cairan merah pekat mulai dicecapnya.


"Kau, dasar wanita rendahan! Beraninya memukulku?!" maki Ferdi, tangannya menyentuh sudut bibirnya yang terasa nyeri. Sepertinya dia sudah salah menilai Fay.


Ferdi hendak membalasnya, tetapi seseorang datang dan berhasil menghalangi pukulan dan menghempaskannya kasar. Suasana kembali menegang, terlebih bantuan yang Fay harapkan datang disaat yang tepat. Mereka dikepung dari berbagai arah.


"Kalau berani hadapi saya, jangan hanya berani dengan wanita."


"Siapa yang berani mengganggu kesenanganku?"


Kemarahan Ferdi yang sempat mereda kian memuncak, dia merasa harga dirimya sebagai laki-laki telah diinjak-injak oleh seorang wanita.


Siapa yang nolongin Fay? Ayo tulis jawabannya di komentar.


Bersambung....