Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Jagoan Kecil



Satu minggu telah berlalu, tetapi Fay masih enggan membuka mata. Berbeda dengan kondisi putra pertamanya yang sampai saat ini belum diberikan nama. Bukan tidak ingin, tetapi keluarga yang lain menunggu Fay terbangun untuk memberikan nama kepada bayi tersebut.


Bayi mungil dengan berat tidak sampai dua kilogram itu semakin hari semakin menunjukkan peningkatan, kesehatannya semakin baik.


"Mam, dia terbangun, lucu banget." Aline mengukir senyuman di wajahnya. Bayi mungil itu sedikit membuka matanya, tangannya bergerak, mengubah posisi tidurnya. Namun, mereka hanya bisa melihatnya dinding kaca, karena tidak sembarang orang boleh masuk ruang perawatan bayi.


Namun, Adel tak menanggapi ucapan Aline. Dadanya terasa sesak setiap kali menatap bayi itu dia akan teringat Vano--ayah sang bayi. Pertemuannya tanpa sengaja dengan Vano, telah mengubah seluruh hidupnya.


Melihat bayi tersebut, membawanya pada kenangan di masa lalu. Di mana Vano kecil ditinggalkan oleh ibu kandungnya. Mengapa, Tuhan? Mengapa dia harus mengalami kejadian yang mengingatkannya pada kesedihan di masa lalu?


"Mam," lirih Aline dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, Sayang. Sejak kapan kamu di sini?" Adel menghapus jejak air matanya, tetapi semua sudah terlambat. Aline sudah terlanjur melihatnya.


"Aline nggak mau Mami sedih lagi, oke."


"Mami ..., Mami nggak papa." Adel memaksakan senyumnya, tidak ingin membuat Aline khawatir.


"Al tau Mami nggak baik-baik aja. Al cuma nggak mau Mami sakit, keponakan Al pasti juga akan sedih."


"Kau benar, Al." Henry tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka. Entah sejak kapan, mereka tak menyadari kedatangannya.


"Dad, kau kemari?" ucap Adel dan Aline bersamaan.


"Daddy juga mau lihat jagoan kecil," jawabnya.


Saat mereka bertiga sedang asyik mengenang masa lalu, Wulan yang baru saja tiba berbicara dengan napas terengah. Saat bersamaan, bayi mungil itu tiba-tiba menangis. Tangisannya sangat menyayat hati, semua yang ada di sana tidak turut merasakan keswdihan bayi tersebut.


"Kalian di sini ..., hah. Fay ..., dia ...."


"Apa yang terjadi padanya, Lan?" Senyum memudar dari wajah Adel, tergantikan dengan wajah cemas.


Perawat bergegas masuk setelah mendengar tangisan bayi, dia berusaha menenangkan dengan semua cara yang dia bisa.


"Dia ..., dia ...,"


"Katakan, apa yang terjadi padanya?" ucap Henry, tak kalah penasaran.


"Lebih baik kalian ke sana, sekarang!" Wulan mendorong Adel dan Henry ke luar ruangan. Mereka menuju ruang pemantauan Fay yang tidak jauh dari sana.


Di sana, Mama Yuri tengah terduduk lesu, wajahnya, pucat dengan tatapan kosong.


"Ada apa ini?" tanya Adel panik.


Yuri tetap diam, tidak menanggapi orang yang mengajaknya bicara. Di dalam sana, tim dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan Fay. Wanita itu kembali kritis.


"Kita tunggu saja hasilnya. Semoga ada sebuah keajaiban." Henry menenangkan sang istri, meski dalam hati dia merasakan ketakutan yang sama.


Pintu ruangan terbuka, Dokter Alvin keluar ruangan, di susul Dokter Adam di belakangnya. Wajahnya pucat pasi, seolah tak ada aliran darah.


"Sorry," lirih Dokter Alvin. Untuk kesekian kalinya dia merasa gagal sebagai seorang dokter. Namun, pada akhirnya tetap Tuhan yang menentukan hidup dan mati seseorang.


"Kamu sudah berusaha." Henry menepuk bahu Dokter Alvin. Sungguh di luar dugaan, Henry menerimanya dengan lapang dada.


"Maksud dokter?" Kening Adel berkerut, dia berharap ketakutannya tidak pernah terjadi.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini?" gumam Yuri, air matanya tak terbendung lagi.


"Maafkan saya. Tuhan lebih menyayanginya dan mengambil semua rasa sakit yang dideritanya." Dokter Alvin tak mampu menatap wajah-wajah frustasi di hadapannya. Dia bergegas pergi setelah mengatakan hal itu.


"Maafkan kami, Tuan, Nyonya." Dokter Adam turut mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya.


"Aku mau lihat anakku," desak Yuri. Dia berjalan gontai, dibantu Adel memasuki ruangan tempat Fay terbaring pucat.


Yuri tidak berani membuka kain yang menutupi wajah putrinya. Dialah satu-satunya penyemangat, alasan mengapa Yuri bertahan sampai saat ini. Seorang anak yang telah menderita sejak kecil, hingga dewasa dia tidak pernah mengeluh. Mengapa hanya sekejap dia baru saja mencecap manisnya kebahagiaan, justru memilih untuk pergi?


"Kenapa kamu tega sama Mama, Nak?" Yuri memejamkan matanya, air bening terus menderas, sebagian terjatuh pada tubuh puyrinya yang terbaring tak bernyawa.


"Mama nggak mau hidup lagi, tanpa kamu hidup Mama nggak ada artinya."


Adel mengusap punggung Yuri yang semakin bergetar. Dia juga merasakan kehilangan yang sama, tetapi dia teringat bayi mungil tak berdosa yang menanti kasih sayang dari mereka. Keluarga yang tersisa.


"Sayang, kamu harus bahagia di sana bersama anak Mami," ucap Adel.


Mendengar kata 'anak' Yuri teringat dengan malaikat kecil yang ditinggalkan Fay dan Vano. Bagaimana nasib bayi itu kedepannya? Sungguh malang nasibmu, Nak.


Duka kembali menyelimuti keluarga besar Syahreza, tak kalah terpukul Riko, dia menyesali semua perbuatannya. Namun semua itu sudah terlambat. Penyesalan tak akan merubah apa pun. Dia kini hidup sebatang kara, sebuah tamparan baginya karena tak mampu menghargai sebuah keluarga.


Ending.


***


Cerita ini sudah berakhir, kisah bayi malang itu akan ada di novel saya berikutnya. Kisahnya Aline, yang terpaksa menjadi orang tua sambung bagi keponakannya. Begitu berat perjuangan Aline, dia harus memikul tanggung jawab seperti Vano sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia bahkan dituduh memiliki bayi sebelum menikah.


Akankah ada seseorang yang bersedia mendampingi Aline merawat dan membesarkan bayi tersebut dengan tulus?


Tetap nantikan di cerita berikutnya.