
"Kau akan membawaku ke mana?" tanya Fay dengan wajah kesal.
Mereka sudah berkendara selama puluhan menit, tetap saja tidak sampai ke tempat tujuan. Entah sudah berala kali Fay bertanya pertanyaan yang sama dan jawabannya tetap sama. "Nanti akan tahu setelah sampai."
"Ish, kau ini nggak punya jawaban lain apa?" Fay mencebik, melipat tangan di atas perut.
"Kau juga tidak ada pertanyaan lain?" sahut Vano dengan tatapan fokus ke jalanan.
Jalanan yang mereka lalui benar-benar menakutkan, di sebelah kiri dan kanan jalan hanya ditumbuhi pohon-pohon besar. Tidak ada rumah, atau pin bangunan lain. Sekali pun ada, rumah terlihat sepi dan tidak berpenghuni.
Mengapa aku harus membangun Villa di tempat terpencil seperti ini, sekarang aku sendiri yang repot.
Vano baru menyadari bahwa tempat itu terlalu jauh dari kota, awalnya hanya ingin memiliki tempat yang tenang dan jauh dari keramaian. Hanya ada dia dan dunianya, tanpa ada siapa pun yang menganggunya.
Sebenarnya mansion mewah itu milik Vano pribadi dari hasil kerja kerasnya sebelum ia menjadi CEO HS Group, orang tidak ada yang tahu keberadaan tempat itu, termasuk keluarganya. Hanya orang-orang khusus yang tahu, seperti Arlan dan para pengawal juga pelayan tentunya. Itu pun tidak bisa keluar-masuk semaunya sendiri.
Empat puluh lima menit perjalanan harus mereka lewati untuk sampai di pusat keramaian. Fay terlelap memendam rasa kesal, terlebih semalam hanya tidur beberapa jam.
"Hei, bangunlah!" seru Vano saat mereka sampai di sebuah rumah makan sederhana yang masih sepi pengunjung.
Fay tidak berkutik, dia tidur seperti orang pingsan.
"Hei, kau ini tidur apa mati?"
Ck, kasar banget sama istri. Kalau dia mati nanti kamu jadi duda kembang, dong!
Vano memutar bola matanya, ia membunyikan klakson dengan nyaring. Fay tersentak, ia hendak berdiri dari duduknya, tetapi kepalanya membentur plafon mobil. "Auw," rintihnya seraya memegangi kepalanya.
Fay memejamkan mata dengan kening berkerut, ia memijat kepalanya berharap tidak tumbuh sesuatu di atasnya. Dia mulai mengerjap setelah beberapa saat, mendengar kekehan Vano yang menggelitik telinganya.
"Sudah puas tertawanya?" tanya Fay dengan wajah kesal.
Vano seketika merubah ekspresi wajahnya, kembali datar. Dia memeriksa bagian mobilnya yang membentur kepala Fay. "Kasihan sekali kamu, apa wanita ini menyakitimu?"
Ucapan Vano membuat Fay memgangkat kedua alisnya. Apa katanya? Jelas-jelas yang sakit kepalanya, mengapa dia harus berbelas kasihan pada mobil yang merupakan benda mati? Kewarasan Vano perlu dipertanyakan.
"Kau gila! Yang sakit itu kepalaku, mana ada mobil bisa merasa sakit?" maki Fay pada lelaki menyebalkan yang sayangnya sudah menjadi suaminya itu.
"Apa kau bisa mendengarku?" ucap Vano acuh tak acuh.
"Dasar gila!"
"Sekali lagi kau berkata demikian, saya akan menambah hukumanmu!" ketus Vano.
"Kau gila, gila, gila. Sudah puas?" ejek Fay, dia tersenyum smrik.
"Baiklah, mari kita tentukan hukumanmu."
Seringai muncul di wajah Vano. Dia keluar dari mobil diikuti Fay di belakangnya. Ternyata Vano ingin membawanya makan di luar? Mengapa harus membuang waktu sebanyak ini hanya untuk menikmati sarapan pagi yang kesiangan?
"Bukan urusanku juga," gumam Fay mengangkat kedua bahunya bersamaan.
Wanita itu memilih tidak peduli, mulai sekarang dia juga akan belajar dari Vano bagaimana menjalani hidup melalui kebiasaan Vano.
"Selamat datang, Bapak dan Ibu," sapa seorang pelayan yang membukakan pintu untuk mereka.
"Hei, matamu sebelah mana yang melihatku bapak-bapak? Anak belum punya, istri juga gadungan," gerutu Vano. Dia tidak terima dipanggil "bapak" oleh pelayan itu.
Fay merapatkan bibir, dia ingin sekali mentertawakan Vano karena panggilan pelayan itu.
"Kita balik aja, di sini pelayanannya tidak bagus."
"Eh."
Kalau mereka pergi, pasti akan membutuhkan waktu lebih lama lagi dan Fay tidak ingin hal itu terjadi. Dia terpaksa mencari cara agar Vano tidak pergi dari tempat itu.
"Aduh, perutku sakit!" Fay memegangi perutnya saat Vano hendak berbalik.
"Hei, ada apa denganmu?" Vano terlihat panik.
"Perutku sakit," ulang Fay, dia harus berpura-pura untuk membujuk laki-laki menyebalkan itu.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Vano hendak memapahnya kembali ke mobil
"Nggak mau, perutku sakit karena kelaparan."
Vano membulatkan matanya lebar-lebar, ini sungguh memalukan. Apa yang Vano tidak miliki sampai-sampai istrinya kelaparan? Apa kata dunia?
"Ba-baik, Pak. Eh, maksud saya, Tuan."
"Hmm. Tunggu apalagi?"
Pelayan itu segera meminta bagian dapur untuk menyiapkan makanan sesuai keinginan Vano. Pelanggan masih sepi karena rumah amakan ini memang belum dibuka sepenuhnya.
Vano akhirnya mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat itu, mereka mencari tempat duduk yang nyaman. Dengan lukisan bernuansa perkampungan yang terlihat asri dan menyejukkan mata.
Mereka duduk saling berhadapan, dengan meja kayu berlapis kaca sebagai pembatas. Tanpa menunggu lama, satu per satu hidangan mulai di tata di atas meja, makanan itu memenuhi meja dan hanya menyisakan sedikit ruang untuk piring kosong.
Kau mengataiku gila? Sekarang nikmatilah kegilaanku ini!
"Ini semua menu makanan yang ada di sini?"
"Iya, Tuan. Silakan menikmati," ucap dua orang pelayan.
Fay tercengang melihat banyaknya makanan yang tertata di atas meja. Dia menelan saliva dengan susah payah, hanya dengan melihatnya saja sudah membuatnya kenyang. "Siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini?" pikirnya.
"Apa segini cukup?" tanya Vano dengan wajah sulit diartikan.
"Hanya kita berdua?" Fay menjawab pertanyaan Vano dengan pertanyaan.
"Memangnya ada siapa lagi?" ucap Vano dingin.
"Kau bilang lapar, bukan? Sekarang makanlah sepuasmu!"
Fay hanya memandang makanan itu bergantian, mengapa pesan begitu banyak makanan jika hanya mereka berdua yang makan?"
"Kenapa? Masih kurang? Saya akan memesan yang lebih banyak lagi."
"Tidak, ini sudah cukup."
Perut, kamu harus baik-baik saja hari ini. Anggap saja sedang latihan lomba makan banyak.
"Kalau begitu, makanlah!" Vano menenggak sedikit air putih.
Fay tidak tahu harus dari mana memulainya, apakah ini hukuman yang Vano maksud? Jika demikian, Fay akan membuatnya malu karena sudah menantangnya.
Fay ingin membantu Vano untuk mengambilkan makanan, tetapi dia menolaknya. "Tidak usah pedulikan saya, kau makan saja."
Fay memang lapar, apalagi semalam dia hanya mengganjal perutnya dengan selembar roti dan segelas susu. Tentu saja tidak begitu berefek baginya yang pecinta nasi. Hiks, kehidupan orang kaya memang sulit ditebak. Bukan berarti Fay tidak tahu, tetapi ia sudah terbiasa hidup sederhana dengan sang ibu semenjak pergi dari rumah Adijaya.
Haha ... Ayo habiskan semua makanan ini. Siapa suruh kau membuatku kesal?
Fay makan dengan lahap, berbeda dengan Vano. Dia hanya memasukkan dua suap makanan, setelahnya sibuk memperhatikan Fay yang begitu rakus.
"Uhuk ... uhuk," Fay terbatuk dan segera meraih segelas air putih di samping tangannya.
"Kalau makan pelan-pelan, tidak akan ada yang berebut makanan denganmu!" cibir Vano.
"Kau tidak makan?"
"Saya sudah kenyang melihatmu makan dengan lahap."
Vano menumpukan wajahnya dengan sebelah tangan di atas meja, dia sangat menikmati pertunjukkan yang Fay mainkan. Biasanya wanita yang pergi bersamanya pasti akan malu-malu dan menjaga image di depannya. Berbeda dengan Fay yang tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.
"Kenapa berhenti?"
"Tuan, aku tidak sanggup lagi." Fay mengusap perutnya yang membuncit. "Boleh tidak, kalau aku bungkus sisanya?"
"Tidak perlu, saya bisa membelikanmu makanan yang lain."
"Please," rengek Fay dengan wajah memohon. Matanya berkedip beberapa kali, mirip sekali dengan Aline waktu kecil.
"Apa aku terlihat sangat menyedihkan sampai tidak bisa menyiapkan makanan untukmu?"
"Tidak, kau sangat mampu untuk itu. Tapi sayang banget makanan ini kalau dibuang begitu saja. Kau tidak tahu, Tuan. Di luar sana masih banyak yang kesulitan hanya untuk mendapatkan sesuap nasi."
Benar juga yang dikatakan Fay, selama ini dia tidak pernah memikurkan hal itu.
"Terserah kau saja."
Vano meninggalkan Fay menuju meja kasir, selain membayar semua makan di meja, dia juga meminta pihak restoran untuk menyiapkan 100 kotak nasi untuk dibagikan secara gratis pada orang-orang yang membutuhkan tanpa sepengetahuan Fay.
Bersambung ...