Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Akan Saya Kabulkan!



Satu minggu berlalu sejak kejadian itu, Fay menjadi lebih pendiam. Dia masih tinggal di mansion, Arlan yang mengantarnya setelah kesehatan Yuri dinyatakan dalam kondisi stabil.


Awalnya Fay menolak, tetapi dia akhirnya setuju setelah dokter membujuknya. Bagaimanapun, keadaannya sekarang perlu diperhatikan. Demi anak itu, Fay memutuskan untuk bertahan di mansion mewah yang lebih seperti neraka baginya. Dia tidak ingin anak ini lahir tanpa status, tanpa seorang ayah. Karena dia tahu betul bagaimana sakitnya hidup tanpa seorang ayah.


Fay tidak pernah berharap Vano mengakui anak dalam kandungannya, tetapi statusnya lebih berharga jika dia bertahan. Setidaknya anak itu masih memiliki seorang ayah meski hanya sebuah nama.


Vano tidak pernah datang, hanya Arlan yang sesekali mengunjunginya. Berbagai macam alasan yang digunakan, berkas yang tertinggal, pakaian Vano, bahkan sesuatu hal remeh lainnya. Fay tidak peduli lagi, yang terpenting sekarang dia masih memiliki tempat berteduh yang layak untuk dirinya dan calon buah hatinya kelak. Mansion ini adalah mahar yang Vano berikan untuknya. Jadi, dia berhak sepenuhnya untuk mansion ini.


"Non, sarapan pagi Anda sudah siap," panggil Mbak Rum.


Wanita itu sudah berulang kali memanggil Fay untuk mengantarkan sarapan paginya. Namun, Fay masih termenung. Tatapannya kosong, wajahnya dibiarkan begitu saja, terpaan cahaya hangat kekuningan di pagi hari yang menyilaukan tidak diindahkan olehnya.


"Nona Fay," sapa Mbak Rum sekali lagi. Tangannya memyentuh bahu majikannya hingga terjingkat.


"Ah, Mbak Rum. Mengagetkan saja." Fay berdecak kesal saat laumannya diganggu.


"Maaf, tapi sarapannya kalau tidak dimakan sekarang nanti dingin. Kalau dingin jadi tidak enak lagi," cerocos Mbak Rum.


"Iya, iya. Nanti aku makan, Mbak."


"Benar loh, ya?"


"Iya, kau ini cerewet sekali."


Mbak Rum lebih senang Fay memarahinya dari pada melihatnya termenung. Dia tidak tahu masalah yang sedang Fay hadapi, tetapi wanita keturunan Jawa-Sunda itu hanya menebak bahwa Fay sedang rindu dengan Tuannya.


"Non kangen sama Tuan Vano?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.


Fay memutar bola matanya, dari mana Mbak Rum bisa mendapatkan ide seperti itu?


"Nggak, siapa juga yang kangen," elaknya.


"Aduh, pakai malu-malu segala. Saya juga pernah mengalaminya." Mbak Rum senyum-senyum sendiri membayangkam masa lalunya dengan mendiang suaminya.


"Nggak usah berkhayal, deh."


Tidak dipungkiri, ada sesuatu yang kosong di rumah ini tanpa kehadiran Vano. Meski saat bersama, hanya perdebatan demi perdebatan yang mereka lalui. Namun hal itu bisa memberi warna tersendiri di rumah seluas ini.


"Panjang umur," celetuk Mbak Rum.


"Hah, siapa yang ulang tahun?"


"Itu ...." Mbak Rum menunjuk sebuah mobil sport berwarna italic memasuki halaman mansion. "Ciye, yang udah nggak sabar ketemu ayang beb," ledek wanita itu.


"Mbak Rum nggak usah ngadi-ngadi, siapa juga yang mau ketemu dia?" ketus Fay.


Mbak Rumi terkekeh melihat sikap istri big boss. Dia sebenarnya tahu bahwa Fay sebenarnya sudah mulai ada rasa dengab Vano. Namun wanita itu menunjukkan sikap lain saat dirinya bertanya akan hal itu.


"Saya masih ada pekerjaan lain, jangan lupa dihabiskan sarapannya, Non."


Fay mengabaikan ucapan Mbak Rum, sarapan paginya masih untuh, tidak tersentuh sama sekali. Selera makannya hilang saat Mbak Rum mengatakan kehadiran Vano. Apa yang harus dikatakan saat bertemu dengannya?


Tidak perlu takut, Fay. Kamu harus berani mengatakannya.


Benar saja, kenop pintu di putar. Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu perlahan memasuki kamar dengan langkah pelan. Dilihatnya Fay masih bergeming di balkon kamar dengan tatapan kosong.


"Ck, dasar pemalas! Dia masih bisa menikmati hidup enak di rumah ini?" Vano berdecak, dia hanya melihat sekilas wanita itu dan berjalan seolah Fay tidak ada di ruangan itu.


Sebenarnya Fay tidak benar-benar abai, dia hanya tidak ingin berhadapan dengan Vano. Menghindar memang tidak menyelesaikan masalah, tetapi untuk saat ini, itulah cara terbaik untuk mereka.


"Saya tahu kamu hanya pura-pura," ucap Vano dalam hati.


Fay masih bergeming. Mulutnya terkunci rapat untuk menyampaikan keinginanya.


Apa yang akan dia lakukan di kamar ini?


Satu minggu lebih Vano menghilang, untuk apa tiba-tiba kembali? Fay mengamati Vano dengan ekor matanya. Dia berjalan ke meja kerja dan terlihat mencari sesuatu di sana.


Tujuan Vano memang untuk mengambil arsip laporan perusahaan yang tertinggal. Keberadaan Fay di ruangan itu membuatnya tidak nyaman, tetapi dia memilih diam seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.


"Tuan, ada yang harus kita bicarakan," ujar Fay memberanikan diri.


Tidak peduli bagaimana Vano akan bersikap nantinya, berpura-pura dan diam juga tidak akan menyelesaikan masalah.


Vano menghentikan langkahnya di depan pintu kamar, nyalinya menciut untuk sekedar menyapa wanita itu. Dia menunggu kalimat yang akan Fay ucapkan selanjutnya.


"Aku mau kita bercerai setelah anak ini lahir."


"Kamu tidak berhak mengambil keputusan," sahut Vano tanpa melihat lawan bicaranya. Dadanya bergemuruh mendengar perminttan Fay.


"Mengapa aku tidak boleh? Aku yang menjalani hidup ini, jadi siapa pun orangnya tidak berhak mengaturnya."


Selama satu minggu ini Vano sudah memikirkannya, dia memang sakit hati karena Fay memanfaatkannya habis-habisan. Namun, baginya pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan tidak boleh mempermainkan ikatan suci tersebut.


Sekarang apa? Fay malah meminta berpisah darinya.


"Kamu tidak berhak memgambil keputusan," ketis Vano.


"Kenapa? Bukankah kamu tidak menginginkan anak ini? Jadi tidak ada gunanya aku bertahan!" sentak Fay dengan mata memerah.


"Saya tidak akan pernah melakukannya." Vano tidak mengindahkan Fay, dia melanjutkan langkahnya dan ingin segera pergi.


"Untuk apa kamu mempertahankan setangkai mawar jika tanganmu akan terluka karena durinya? Bukankah lebih baik kamu membuangnya?"


"Kamu mau cerai? Akan saya kabulkan!" Vano menepis tangan Fay yang hendak menghadangnya. Entah apa yajg sudah dia lakukan sampai membuat Fay terjatuh dan meringis kesakitan.


"Aww ...," rintih Fay memegangi perutnya. Dia jatuh dalam posisi duduk.


Apa yang sudah kamu lakukan padanya? Lihatlah! Dia sekarang kesakitan.


"Non, ya ampun. Apa yang terjadi?" Mbak Rum berjalan tergopoh menghampiri Fay yang tersungkur di lantai.


"Nggak papa, Mbak. Tolong bantu aku berdiri." Tangan Vano bergetar hebat, dia sudah menyakiti istrinya.


"Tuan, kenapa diam aja? Cepat panggil ambulan, Non Fay berdarah," teriak Mbak Rum saat melihat ada noda merah di lantai.


"Apa katamu? Cepat menyingkir!" Vano mendorong Mbak Rum hingga terhuyung. Benar apa yang wanita itu katakan, Fay berdarah.


Vano, kamu sangat kejam!


"Pergi kamu! Jangan sentuh aku!"


Apa yang terjadi pada Fay? Bagaimana sikap Vano selanjutnya? Apakah dia akan menolong Fay? Ikuti terus, ya.


Bersambung ....