
"Bukankah kamu yang seharusnya menjelaskan padaku? Mengapa hasil tes itu bisa tertukar? Atau, kamu memang sengaja menipuku dengan berpura-pura hamil?"
Vano mendekati Fay yang masih terbaring di ranjang. Namun wanita itu mengalihkan pandangan matanya ke sembarang arah, enggan menatap mata elang yang siap menerkamnya. Seluruh tubuhnya terasa tidak bertenaga, yang dia inginkan hanyalah ketenangan dan dapat beristirahat dengan baik. Selama satu minggu ini selera makannya menghilang, begitu pula jadwal tidurnya yang berantakan.
"Jawab saya!" desak Vano.
"Untuk apa aku melakukan itu semua, kalau pada akhirnya kamu semakin membenciku?" ucap Fay pelan.
"Kau bicara dengan tembok?" ketusnya.
"Tuan, aku nggak mau berdebat denganmu. Aku mau tidur, ngantuk!" Fay membelakangi Vano, menutupi dirinya dengan selimut. Pengaruh obat membuat wanita itu segera memejamkan mata dan mengarungi dunia mimpi.
Laki-laki itu mendengus, kesal karena diabakan. Bukankah seharusnya dia yang marah karena sudah dibohongi? Mengapa sekarang malah sebaliknya?
"Aish, sudahlah. Kali ini kau beruntung, tapi jangan harap lain kali," ucap Vano dalam hati.
Dia bisa bernapas lega, ternyata Fay tidak mengkhianatinya dengan laki-laki lain. Namun, siapa yang berani mempermainkannya dengan berita bohong tersebut?
Aku pasti tidak akan mengampuni siapa pun orang yang sudah mempermainkanku.
Telepon genggam miliknya bergetar, Vano mengerutkan kening dalam saat tahu siapa yang menghubunginya. Dia adalah Yuri--ibu mertuanya. Tidak biasanya wanita menelepon ke nomor pribadinya, mungkinkah dia tahu Fay sedang ada di rumah sakit?
"Nak, kau sedang sibuk? Apa aku mengganggumu?" tanya wanita itu setelah telepon terhubung.
"Emm ..., tidak. Saya tidak sibuk," jawab Vano dengan senyum yang dipaksakan.
"Apa kalian ada masalah?"
"Mmh ..., maksud ibu?"
"Telepon Fay tidak dijawab, pelayan di rumah bilang dia tidak ada di rumah. Perasaanku tidak enak, apa terjadi sesuatu padanya?"
Vano terdiam cukup lama, apa yang akan dia katakan pada ibu mertuanya? Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya terjadi? Jika hal itu terjadi, dia takut kesehatan ibu mertuanya akan terganggu. Padahal kondisinya belum sepenuhnya pulih, Vano tidak ingin membuatnya terbebani dengan berita tentang putrinya, Fay.
"Nak Vano, kamu mendengarku?" tanya Yuri sekali lagi.
"Ah, ya. Fay baik-baik saja, saya mengajaknya keluar untuk membeli sesuatu," sahut Vano beralasan.
"Benarkah? Kalian sedang berkencan?" Yuri terkekeh membayangkan mereka berdua. "Dimana dia, izinkan Mama bicara dengannya."
Mana ada kencan di rumah sakit?
Vano menggaruk tengkuk lehernya, alasan apa lagi yang akan dia gunakan?
"Itu ..., Bu. Maksud saya, Ma. Fay tadi ke toilet, nanti saya sampaikan kalau Mama telepon."
"Baiklah. Yang penting dia baik-baik saja, Mama sudah lega. Mama yakin kamu bisa menjaganya." Sudut bibir Yuri berkerut, tetapi Vano tidak dapat melihatnya.
"Saya akan berusaha."
"Ya sudah, lanjutkan saja kencan kalian. Mama nggak akan ganggu lagi."
Panggilan berakhir setelah mengucapkan salam perpisahan. Laki-laki itu kembali menatap Fay yang tengah terlelap. Jika diperhatikan lebih dekat, wanita itu memiliki paras cantik alami. Bulu mata lentik dengan alis tebal, serta bibir ranum yang begitu menggoda meski sedikit pucat. Namun, Vano segera menepis angannya.
Dia ini hanya wanita cerewet yang sengaja memanfaatkanmu, serakah, dan hanya peduli pada kekayaan yang kamu miliki. Untuk apa kamu begitu peduli padanya? Dia tidak pantas mendapatkannya.
Telepon masih ada dalam genggaman, tetapi perasaan Yuri tetap mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dengan Fay. Sebagai seorang ibu, dia bisa merasakan ada hal buruk yang sedang menimpa putrinya.
"Mungkin hanya perasaanku saja," gumam Yuri meletakkan benda pipih itu di atas nakas.
"Bagaimana keadaanmu?" ucap seorang laki-laki yang sangat dikenalnya. Yuri mendongakkan wajahnya, tubuhnya terasa menegang saat laki-laki itu berjalan memasuki bangsal yang ditempatinya. Jantungnya seolah berhenti berdekat melihat kedatangan laki-laki itu. "Mau apa kamu datang ke sini?"
"Tentu saja aku bertemu dengan istriku, tidak ada alasan khusus bagiku untuk datang selain perasaan rindu," rayu Riko dengan membawa sebucket bunga.
"Ck, rindu? Aku tidak pantas mendapatkannya, silakan berikan untuk wanita lain," ucap Yuri dengan wajah berpaling ke sembarang arah.
"Yuri, aku hanya ingin minta maaf atas semua sikapku yang selama ini sudah menyakitimu dan anak kita. Aku terpaksa melakukan ini semua," ucap Riko memohon.
Kedatangannya memang untuk memperbaiki hubungannya dengan Yuri dan anak mereka--Fay.
"Maaf? Semudah itu kamu berucap maaf? Di mana kamu saat kami membutuhkan kehadiranmu? Kamu diam saat wanita jahat itu berbuat jahat padaku. Sekarang kamu ingin meminta maaf?"
"Semua itu sudah berlalu, Yuri. Kita mulai dari awal, ya."
"Heh, kamu pikir dengan meminta maaf semuanya akan selesai dan bisa kembali seperti sebelumnya."
Dadanya naik turun seiring napas yang terasa berat di tenggorokkan. Mengapa laki-laki itu datang di saat Yuri sudah menata hidupnya kembali? Kehadirannya sungguh mengguncang pondasi yang susah payah Yuri bangun. Akankah tembok pembatas itu bisa disingkirkan?
"Aku tidak mengatakan demikian, tapi kita bisa mulai lagi dari awal...."
"Dan kamu akan membiarkan wanita jahat itu menindas kami berdua?" Yuri memotong ucapan Riko yang belum selesai. Saat ini, dia hanya ingin melihat Fay bahagia di sisa umurnya. Tidak akan membiarkan Fay menderita seperti dirinya yang bodoh. Sungguh, dalam mimpi pun tidak.
Riko terdiam, Yuri dan Fay menderita semua itu memang salahnya. Namun saat ini hanya wanita itu harapan satu-satunya.
Proyek lelang sudah gagal, kali ini aku tidak boleh gagal lagi.
"Tidak, aku janji hal itu tidak akan pernah terulang lagi."
Riko berpikir, kalau saja hubungannya dengan Yuri dan Fay bisa diperbaiki, mungkin saja Vano akan memberinya sedikit peluang untuk kembali bekerja sama. Dengan begitu perusahaannya akan beroperasi kembali.
"Nyonya, ini bukan tempat yang bisa Anda datangi sesuka hati," tegas Bimbim yang berjaga.
"Aku cuma mau menemui suamiku, dia ada di dalam. Minggir kalian! jangan halangi aku!" teriak Ana. Wanita itu diam-diam membuntuti Riko. Benar saja, dia menemui Yuri.
Mendengar suara keributan di luar, Yuri sudah menduga hal itu akan terjadi. Untuk itu dia tidak akan pernah mengulang kesalahannya untuk kedua kalinya. Cukup sekali dia bertindak bodoh dengan mempercayai Riko--laki-laki berdarah dingin yang sudah mempermainkannya.
"Cukup! Sebaiknya kamu urus istri kamu itu. Aku nggak mau dia semakin membenciku karena perbuatanmu."
"Kamu juga istriku, Yuri."
"Istri? Bagiku suamiku sudah lama mati, semenjak kami meninggalkan rumah itu," sentak Yuri.
Dia berusaha menahan genangan di kedua sudut matanya, sesak itu kembali menjalar. Namun Yuru harus menguatkan diri, dia tidak boleh membiarkan usaha Fay yang sudah membiayainya sia-sia.
"Pergi! Aku nggak mau lihat wajah memuakkan kamu lagi! Pergi sekarang juga!" usir Yuri dengan suara tinggi.
Bersambung ....