Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Lobster



Vano meletakkan termos makanan di atas meja, ia begitu antusias dan penasaran dengan makanan yang Fay bawakan untuknya. Dalam hati bertanya-tanya, hidangan apa yang Fay siapkan? Semoga saja seperti apa yang dibayangkan, aromanya saja wangi sekali, pasti bentuk dan rasanya juga sama.


Namun, Vano harus menelan saliva dengan susah payah saat melihat makanan yang ada di sana. Lobster besar bumbu saos asam manis. Dia melihat Fay dengan berjuta pertanyaan, inikah makan siang spesial yang dikagakan Ibu Yuri?


"Kenapa? Gak suka?" Fay memperhatikan perubahan di wajah Vano.


"Suka," sahut Vano singkat.


Aku hanya perlu mencicipinya sedikit, atau dia akan mengadu yang tidak-tisak pada ibunya.


Vano meminta sekretrisnya untuk membawakan peralatan makan. Suasana kembali hening, keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Hingga akhrinya sekretaris Vano datang membawakan dua set peralatan makan, memecah kesunyian di ruang CEO.


"Silakan, Tuan. Ada yang lain?" ucapnya. Namun tatapan wanita itu tidak lepas dari makanan yang berjajar di atas meja. Dia tahu bahwa Vano tidak pernah memakan makanan laut jika keluar bersamanya, terutama udang dan cumi.


"Tidak, kamu boleh keluar." Vano mengibaskan tangannya, meminta sekretaris itu keluar.


"Anda yakin?" tanyanya sekali lagi.


"Tentu. Saya akan menghubungimu jika ada yang perlu kaulakukan."


"Baiklah."


Vano masih diam, menatap lobster dengan jakun naik turun. Fay mengira Vano tidak menyukai makanan yang dibawanya. Bagaimanapun, Vano biasa makan hasil olahan chef terkenal, dia pasti tidak akan mau memakan makanan rumahan seperti yang dibawanya.


"Kalau tidak sesuai jangan dimakan," ucap Fay dengan wajah tidak bersahabat.


"Siapa bilang?" Vano menyendok kaldu dan mencicipinya, matanya terpejam saat hidangan itu mengingatkannya pada sesuatu yang sangat dirindukan.


"Hmm ..., dari mana kau mendapatkan makanan ini?" Perlahan matanya terbuka, menatap lobster besar itu dan Fay bergantian.


"Saya yang masak sendiri."


"Iyakah? Kamu pasti bohong, kamu membelinya di restoran, benar begitu?"


"Terserah kau saja," ketus Fay.


...Siapa yang bertanya, lalu siapa juga yang menjawabnya? Anda tidak perlu bertanya jika tidak percaya pada ucapan saya, dasar sombong....


"Kenapa diam? Bantu saya makan!"


"Hah?!" Fay membolakan matanya penuh.


"Lakukan! Bagaimana saya makan makanan ini, kau lihat sendiri saya sangat sibuk."


Eh, dari mana datangnya tumpukan kertas ini? Perasaan tadi kosong.


Fay sangat malas meladeni Vano yang besikap manja dan kekanakan, sangat berbeda dengan rumor yang pernah di dengarnya.


"Ya sudah lebih baik kubawa pulang lagi."


"Saya kira kedatanganmu untuk membujukku mengenai posisi Nyonya CEO, tapi saya tidak melihat ketulusanmu." Vano sengaja membahas masalah itu, ia juga masih ingin melihat bagaimana reaksi Fay. Apakah benar jika wanita itu matre seperti wanita lain? Vano masih ingin melihatnya dan berharap ketulusan Fay.


"Saya sangat menyesal karena harus mengatakan pada ibumu bahwa anak perempuannya ...."


"Baiklah."


Fay tidak memiliki pilihan lain, ia harus memindahkan lobster itu di piring dan memisahkan daging dan kulit lobster.


"Hei, tanganmu kotor, banyak kuman. Cuci tangan sana!" Vano menepis tangan Fay yang hendak menyentuh makanan.


"Astaga, kamu ini banyak banget maunya, Tuan. Kalau saja aku tidak membutuhkan uangmu, jangan harap aku akan melepaskanmu," gerutu Fay. Ia berjalan menuju ke wastafel yang ada di ruangan itu setelah Vano memberitahunya.


"Silakan, Tuan." Fay sudah selesai memisahkan lobster dari cangkangnya. Ia mendekatkan piring berisi daging lobster pada Vano yang seolah sangat sibuk.


"Kau tidak lihat tanganku?" Vano menunjuk dengan matanya, kedua tangannya memegang dokumen yang harus ditandatangani.


Fay menatap jengah pria menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu seolah ingin menerkamnya. Namun teringat ucapan sang ibu agar dia memberikan kesan yang baik.


Aku tahu kamu sengaja mengerjaiku, Tuan. Demi Nyonya CEO, kamu pasti bisa, Fay! Demi Mama, kamu tidak boleh menyerah!


Fay mengambil sendok, ia seperti baby sitter yang sedang menyuapi bayi besarnya, tapi teringat tujuannya datang kemari untuk menagih uang satu milyar yang Vano janjikan, membuatnya harus mengendalikan emosi. Ia harus terpaksa menuruti keinginan Vano padahal ia tahu jelas dirinya sedang dipermainkan.


Namun, ia bisa membujuk Vano setelah ini. Mungkin semuanya akan lebih mudah jika Fay menuruti keinginannya, dengan begitu suasana hati Vano akan sedikit membaik dan mudah untuk dibujuk.


"Sudah, cukup."


Keringat bercucuran di wajah Vano terutama keningnya. Padahal Fay sangat yakin tidak memasukkan cabai di makanan tang dibawanya, mengapa Vano begitu berkeringat? Apakah pendingin ruangan ini rusak? Namun ia merasa dingin.


Berbagai pertanyaan bermunculan di kepala Fay. Ia memberikan satu gelas air putih yang sudah disiapkan. Juga menarik tisu untuk membersihkan wajah CEO muda dan tampan itu.


"Kamu pergilah! Saya bisa melakukannya sendiri."


"Tapi, Tuan ..., Anda tidak apa-apa?" Fay merasa panik dan ketakutan saat melihat wajah Vano memerah. Apakah ada yang salah dengan sikapnya?


Vano menggelengkan kepala cepat, ia beranjak dari duduknya dan membuka pintu, mempersilakan Fay keluar dari ruangannya.


Dasar menyebalkan, aku dipermainkan lagi. Kau tunggu saja, aku pasti tidak akan melepaskanmj dengan mudah.


Fay menghentak kaki keluar dari ruangan Vano. Sekretaris yang duduk di depan ruangannya bersiap untuk melakukan tugas, ia tahu apa yang harus dilakukannya.


Setelah Fay pergi, Vano semakin merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. "Lan, dimana obat yang ada di laciku?"


"Ada apa dengamu?"


"Jangan banyak tanya, cepat katakan!"


Arlan tahu ada hal buruk yang terjadi dengan CEO-nya, dia masih berada di lobby dan sempat berpapasan dengan Fay. Ia baru saja kembali dari luar untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.


"Tunggu aku segera ke sana."


Lelaki berkacamata itu beejalan dengan tidak sabar menuju ruangan Vano. Ia melupakan kebiasaan, menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.


"Apa yang terjadi? Ada apa dengan wajahmu?"


Arlan memberikan air hangat untuk Vano dan membawanya ke kamar pribadi yang ada di sudut ruangan. Saat berjalan melewati meja, ia tahu penyebab Vano seperti ini.


"Cepat minum!" Arlan memberikan obat alergi yang selalu disiapkan untuk Vano. Setelah itu ia membantu membaringkan Vano pelan.


"Huft!"


Vano menyentak udara yang terasa sesak baginya, ia tahu Arlan pasti akan menyalahkan dirinya karena memakan Lobster yang Fay berikan padanya, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa rasa masakan itu mampu mengobati rasa rindunya pada Mami Adel.


"Kenapa nggak dihabkskan sekalian?!" kesal Arlan. ia meletakkan kembali obat itu ke tempat penyimpanan.


"Kamu nggak akan tahu, Lan. Aku hanya ingin mencicipinya sedikit, karena ...," elak Vano dengan mata terpejam. Perlahan kondisinya sudah membaik tanpa harus memanggil dokter datang memeriksanya.


"Karena apa?" Pertanyaan Arlan tidak dijawab, Vano mulai terlelap, perlahan obat yanh diminumnya mulai bekerja, tetapi sebenarnya Vano masih bisa mendengar ucapan Arlan.


"Karena masakan itu mengingatku pada Mami," batin Vano.


Bersambung ....