
Sebuah gedung ditengah perkebunan teh yang terbilang megah, di sanalah Fay berada saat ini. Akses masuk hanya bisa menggunakan kendaraan roda dua. Tidak hanya itu, di kanan dan kiri jalan terdapat jurang yang sangat curam. Aih, hanya orang gila yang bisa membangun villa di tempat seperti itu.
"Kau, siapa pun itu. Cepat lepaskan aku!" teriak Fay. Ikatan di tangan sudah berhasil terlepas, begitu juga dengan kedua kakinya.
"Melepaskanmu, itu tidak mungkin." Seorang bertopeng terlihat di balik pintu, Fay dapat melihatnya melalui lubang kecil yang ada di pintu.
"Kau, siapa yang menyuruhmu? Aku nggak punya dendam dengan siapa pun."
"Kalau ingin menyalahkan, salahkan nasibmu yang buruk," ejek orang itu.
Meski tidak mengenali wajahnya yang memakai topeng, tetapi Fay merasa dejavu dengan suaranya.
"Kamu harus lihat, bagaimana aku menghancurkan kamu sedikit demi sedikit. Berani merebut milikku, maka aku juga tidak akan membiarkan siapa pun bahagia setelah menginjakku!."
Orang itu tertawa seperti orang gila. Dia memang tidak bisa menghancurkan pohon besar yang berdiri kokoh, tetapi dia bisa memulainya dari akar pohon itu, menggali lubang di bawahnya. Dengan begitu pohon itu akan tumbang dengan sendirinya setelah tertiup angin.
"Dasar gila, psikopat. Cepat lepaskan aku! Atau kalian akan menanggung akibatnya!" ancam Fay.
Sayang sekali dia tidak bisa menggunakan keahliannya karena tidak ada lawan di sana. Ruangan remang itu hanya memiliki satu pintu yang terkunci rapat, tapi bukan tidak ada cara untuk keluar dari sana.
"Terima kasih atas pujiannya, Nona cantik."
"Ck, aku sedang memakimu!" seru Fay. "Tidak tahu malu!" Fay menggedor pintu sekuat tenaga, tetapi percuma saja. Baja kokoh itu tidak bergerak sedikit pun. Yang ada dirinya yang kesakitan. Sungguh sial.
"Kau benar, aku memang tidak tahu malu. Ini belum saatnya aku menemanimu bermain, kau sabarlah sebentar, Sayang."
Fay merasa mual mendengarnya, siapa sebenarnya laki-laki tidak tahu malu dan mesum itu?
"Kau tunggu saja, aku pasti akan membalasmu," maki Fay.
"Dengan senang hati, Nona. Aku akan selalu menantikan waktu itu tiba."
Dia berlalu, meninggalkan Fay dalam keadaan kesal. Tidak sabar untuk memulai pertunjukkan, dia sangat menantikan hal itu. Terlebih reaksi Vano yang pasti akan sangat menarik.
Di sisi lain lereng kebun teh, kabut tebal menghalangi padangan sore itu, jarak pandang terbatas. Terlebih sekarang musim hujan, akses jalan dan mendan curam membuat Vano harus menunda rencananya.
"Sampai kapan harus menunggu?" Vano berdecak. Dia tidak bisa diam, mondar-mandir seperti setrikaan.
"Setelah hujan reda."
"Tapi istriku tidak bisa menunggu lagi. Bagaimana kalau dia melakukan hal yang buruk padanya?" Laki-laki yang memakai hodie merah itu tidak bisa lagi menunggu. Fay dalam bahaya, secepatnya harus segera tiba di villa.
"Istri, istri saja terus. Kau tidak sadar bahwa dia sudah menemukan kelemahanmu yang lain," batin Arlan.
"Kau lupa dia orang seperti apa? Dia nekat melakukan hal ini bukan tanpa persiapan." Arlan sangat kesal, Vano tidak bisa fokus semenjak adanya Fay dalam hidupnya.
"Dia? Kau tahu siapa dalang di balik ini semua?" Kening Arlan berkerut, dia tidak tahu siapa orang yang menjadikan Fay sandera. Nomor yang Vano berikan merupakan private number, tetapi dia bisa melacak keberadaan pemilik nomor tersebut.
"Ini hanya dugaanku, belum sepenuhnya benar."
"Haruskah aku membenarkannya?" tanya Arlan dengan wajah datarnya.
Vano masih termenung, apa sebenarnya tujuan penculik itu? Dia sengaja menghubungi dirinya dan memberitahu dimana keberadaannya. Seharusnya dia tidak melakukan hal yang akan membahayakan dirinya sendiri. Vano bukankah orang yang mudah ditaklukkan, tetapi orang itu sangat licik, menggunakan Fay sebagai sandera.
"Hei." Tepukan di bahu Vano membuatnya berjingkat.
"Apa?" ketus Vano.
"Tidakkah kau merasa ada yang janggal? Kalau benar ini penculikan, mengapa mereka tidak meminta tebusan? Dan lagi, dia membiarkan kita datang tanpa syarat apa pun. Mungkin ...."
"Kau benar, mengapa aku tidak memikirkan hal ini?" Vano mengutuki dirinya. Dia tidak berpikir jernih sebelumnya, jika saja dia gegabah bukan hanya Fay yang menjadi korban. Dirinya akan terperangkap dalam jebakan lawan.
"Kita harus bagaimana?"
"Sesuai rencana awal," ucap Vano mantap.
"Kau gila! Kau mau mengorbankan mereka?" sentak Arlan. Jika benar ini hanyalah jebakan, apa yang akan terjadi padanya dan para pengawal yang dibawanya?
"Aku tidak memiliki pilihan lain," lirih Vano.
"Nggak, aku nggak setuju, pasti ada cara lain."
"Coba kau katakan kalau memang ada pilihan lain."
Mereka berdua menyusun siasat yang tepat sebelum bertindak. Bagaimanapun tempat yang akan mereka datangi sangat berbahaya. Perencanaan harus benar-benar matang dan penuh persiapan. Orang yang dihadapinya tidaklah mudah.
"Kita berangkat sekarang," ucap Vano, memberi isyarat pada para pengawal untuk menjalankan sesuai rencana.
Sungguh di luar dugaan, jalan menuju villa tampak lengang. Namun, tiba-tiba sekelompok orang tak dikenal menghadangnya di pelataran villa. Mereka berjumlah puluhan itu menggunakan penutup wajah dan menyerangnya. Vano berhasil menghindar dan menerobos masuk. Di sana hanya ada beberapa orang dan berhasil dilimpuhkan hanya dengan beberapa gerakan.
"Ah, rencana yang sangat mudah ditebak," gumam Vano. Dia membiarkan anak buahnya menyelesaikan orang-orang itu. Dalam hati dia menganggap remeh rivalnya. Namun dia juga tidak tahu kesulitan apa yang akan ditemuinya di dalam sana.
Brak!
Laki-laki pemilik nama Melviano itu berhasil mendobrak pintu kasar dalam sekali tendangan. Sepertinya villa ini memang sengaja tidak dikunci untuk menyambut kedatangannya. Hal itu menguatkan keyakinan Vano, kedatangannya memang sudah dinantikan. Dia harus tetap waspada.
"Masuklah!" Arlan menganggukkan kepala sebagai persetujuan.
"Aku percayakan padamu."
Hanya beberapa orang yang memiliki kemampuan payah, Vano dengan mudah membuat mereka terkapar. Degub jantungnya semakin cepat, dia mencari kesetiap sudut ruangan, tetapi tidak juga mendapati apa yang dicarinya.
"Lan, kau urus mereka. Aku akan melihat ke atas."
"Biar aku temani," pinta Arlan. Dia tidak mungkin membiarkan Vano sendiri. Nyawa Vano sedang dipertaruhkan.
"Tidak, aku bisa tangani," tolak Vano. Dia hanya membawa dua orang pengawal ikut bersamanya.
Lampu sebuah ruangan menyala redup, ruangan itu tidak dikunci, menyisakan sebuah celah untuknya melihat ke dalam sana. Meski penerangan minim, Vano dapat melihat dengan jelas ke dalam sana.
"Ah," rintih seorang wanita yang sangat dikenalnya.
Vano berusaha menepis pemikiran liarnya, tetapi semakin dia mendekat, suara itu semakin jelas. Wanita sedang merintih, juga .... degus seorang laki-laki. Dia menelan saliva yang terasa pahit, tidak mungkin terjadi apa yang dia bayangkan, bukan?
Langkahnya terhenti di balik pintu, tangannya hendak terulur untuk membuka pintu tersebut. Namun segera diurungkan. Dia merasa bimbang.
Suara rintihan dan ******* seperti longlongan di kesunyian, menggema di indera pendengarannya. Akankah ketakutannya benar-benar terjadi?
Dari sudut dia bisa melihat pakaian yang terakhir kali Fay kenakan berserak di lantai, tumpang tindih dengan pakaian pria.
Panas di kedua netranya semakin menjalar, tangannya terkepal erat hingga buku jarinya memutih. "Tuhan, mengapa sesakit ini?" Tidak, dia sudah tidak sanggup lagi melihat lebih jauh, tapi nalurinya mengatakan dia harus memastikannya.
"Binatang!" Vano sangat murka dengan apa yang ditangkap sepasang netra indah nan tajam miliknya.
Hayoooo, siapa yang travelling? Apa yang sebenarnya Vano lihat? Mengapa dia begitu marah?
Bersambung ....