Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Perusahaan Adijaya



"Laporan macam apa ini?" maki Vano melemparkan lembaran demi lembaran berisi laporan keuangan selama satu bulan. "Kalian tidak becus bekerja? Lebih baik saya memberikan kesempatan kepada orang lain yang lebih kompeten dari pada perusahaan membayar pemalas seperti kalian."


"Tolong beri satu kesempatan lagi, kami akan memperbaikinya segera," sahut salah seorang yang menjabat sebagai kepala bagian keuangan.


Vano hanya menjawab dengan lirikan mata tajam, pikirannya benar-benar kacau. Mengapa juga masalah di kantor harus datang sekarang? Sungguh mimpi buruk bagi mereka.


"Kamu, sudah berapa lama bekerja di sini?" tanya Vano pada seseorang yang lain.


"Saya, lima tahun, Tuan."


"Lima tahun? Selama itu perusahaan menggaji orang sepertimu?" Vano semakin marah saat memeriksa laporan pemasaran yang grafiknya menurun drastis dari bulan sebelumnya.


"Tuan, tahun ini ada COVID, jadi permintaan pasar tentang hunian menurun. Karena riset pasar juga...."


"Saya tidak menerima alasan apa pun. Itu sudah menjadi pekerjaan kalian, jangan memintaku untuk mengajarimu seperti anak TK yang baru belajar menulis!"


Jam terasa berputar sangat lambat dari biasanya, laporan yang mereka kerjakan tidak ada satu pun yang sesuai dengan harapan Vano.


"Kalian semua keluar, jangan pernah menginjakkan kaki di sini jika hanya ingin membuatku kesal."


"Baik, Tuan." Kedua orang laki-laki itu segera pergi dengan langkah seribu. Jika tahu CEO mereka dalam suasana hati yang buruk pasti tidak akan datang ke ruangan itu. Mereka sama saja membangunkan macan tidur.


Arlan menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan Vano, ia ingin memberitahukan hal penting padanya. Namun semenjak pulang dari rumah sakit, suasana hatinya benar-benar buruk. Dia melampiaskan amarahnya pada semua pegawai yang datang ke kantornya. Tidak terkecuali dirinya, padahal saat ini ada informasi penting mengenai kerjasamanya dengan Perusahaan Adijaya.


Arlan terperanjat saat pintu tiba-tiba di buka dari dalam, dia bergeser ke kiri untuk memberi jalan pada Vano, tetapi mereka bergeser bersamaan. Arlan bergeser ke kanan, Vano mengikutinya tanpa sengaja. Vano tidak dapat menyembunyikan rasa kesalnya pada Arlan yang terus menghalangi jalan.


"Arlan, kau sengaja?"


"Hikk, nasib jadi bawahan selalu disalahkan," lirih Arlan mengalihkan pandangan.


"Kamu bicara dengan siapa, huh? Jelas-jelas aku dihadapanmu," seru Vano, sebelah tangannya bersembunyi di kantong celana.


"Tentu saja dengan Anda, Pak Direktur," ketus Arlan. Ia harus menyampaikan berita tentang pengajuan kerjasama Perusahaan Adijaya. Namun, Vano kembali melenggang meninggalkan Arlan dalam keadaan kesal.


"Ada hal menarik yang ingin saya sampaikan." Arlan mencekal lengan Vano.


"Besok saja, aku lelah." Vano menepis tangan Arlan, kembali melanjutkan langkahnya.


"Kau yakin? Ini tentang Perusahaan Adijaya." Arlan melupakan atasan dan bawahan, lagi pula sekarang hanya ada mereka berdua.


Perkataan Arlan menghentikan langkah Vano, ia mengingat kembali nama Adijaya, nama yang tidak asing di indera pendengaran.


"Ya sudah, kalau tidak tertarik, lebih baik...."


"Kita bicara di dalam." Vano berbalik, kembali ke ruangan dengan Arlan mengekor di belakangnya.


"Perusahaan Adijaya mengajukan kerjasama...," jelas Arlan. Ia memberikan proposal kerjasama yang dibawanya. Ternyata perusahaan itu sedang kekurangan dana untuk proyek pembangunan yang sedang ditangani.


"Kau bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mendesak Riko. Dengan begitu, bukankah semuanya akan lebih mudah?" Vano merapatkan kedua tangannya di atas meja, benar yang dikatakan Arlan. "Satu lagi, kau hanya perlu duduk, diam dan menerima hasilnya."


"Baiklah, atur saja jadwalku. Lebih cepat lebih baik." Vano menyeringai, ia memang harus mendesak Fay agar tidak lagi memiliki alasan untuk menolak.


"Katanya tidak tertarik," gumam Arlan dengan mulut mencebik.


"Aku tidak pernah berkata demikian," cibir Vano, ia masih mendengar ucapan Arlan meski hanya gumaman.


Selain itu, Perusahaan Adijaya akan berada di bawah kendalinya, semakin mudah untuk mengawasi Riko dengan mengatasnamakan keluarga. Hahaha... Sungguh ide yang brilian.


"Satu lagi, dari informasi yang diberikan anak buah kita. Paman kedua sudah menemukan pelaku yang melukainya. Dari perkiraan, pelaku memiliki dendam terhadap paman kedua," ungkap Arlan. "Apa kita perlu bertindak?"


"Biarkan saja, cukup awasi mereka. Jika ada hal sekecil apa pun laporkan padaku."


"Baik," sahut Arlan singkat. Sebenarnya masih ada satu hal penting yang ingin disampaikan, tetapi ia tidak tahu apakah sekarang saat yang tepat atau tidak.


"Ada apa lagi?"


"Emm... Minggu depan ulang tahun Al."


Vano segera mengangkat sebelah tangannya, ia sedang tidak ada mood untuk membicarakan keluarganya. "Cukup, Lan. Jangan bahas dia lagi."


"Sampai kapan menghindar?"


"Sampai aku benar-benar siap."


Hening.


Arlan lebih memilih untuk diam dan tidak melanjutkan pembahasan mereka. Vano memiliki hak untuk menentukan hidupnya, ia hanya bisa mengingatkan dan tidak bisa memaksanya untuk melakukan sesuai keinginannya, terlebih usianya dua tahun lebih tua. Arlan hanya perlu mengawasinya sesuai permintaan Arga.


"Apa jadwalku selanjutnya?" tanya Vano memecah keheningan.


"Tidak ada jadwal selanjutnya, Anda bisa kembali lebih awal, Pak Direktur."


"Baiklah, jangan lupa kirimkan jadwalku satu minggu kedepan."


"Eh, Anda mau kemana?"


"Aku hanya ingin istirahat lebih awal, kau tidak usah mengikuti. Aku juga akan membawa mobil sendiri."


"Tapi, bagaimana kalau Tuan Abimanyu bertanya?"


"Kau tahu apa yang harus kaulakukan."


Arlan tidak mengantar Vano, ia hanya menatap siluet laki-laki itu hingga menghilang di balik pintu. Pertama yang harus dilakukan adalah menyusun kembali jadwal Vano. Anis, sekretaris yang membantunya sedang cuti.


Sebenarnya masih ada satu pertemuan lagi sore ini, tetapi melihat keadaan Vano, Arlan memilih untuk menemui klien itu sendiri.


Vano sudah duduk di kursi kemudi, ia memang sengaja tidak meminta sopir untuk mengantarkannya. Kedua matanya terpejam, Al adalah adik perempuan satu-satunya. Tentu saja rasa rindu itu pasti ada, dia rindu saat berdebat dengan gadis kecilnya. Gadis pembangkang yang sangat disayanginya.


"Al, kamu sudah besar sekarang."


Vano mengusap potret dirinya dan Al kecil yang tersimpan di dalam dompetnya. Foto box saat dirinya bermain dengan Al di sebuah taman hiburan. Sungguh, Vano sangat ingn kembali ke masa itu.


Dia tersenyum getir mengingat tempat yang sudah lama sekali tidak didatanginya. Namun, rasa sesak itu kembali terasa saat menginggat adegan demi adegan yang terus berputar seperti adegan film.


Netranya mengembun, rasa sakit itu semakin menusuk saat menatap wanita yang duduk memangku Al kecil. Tubuh Vano serasa menegang, hari dimana ia harus menerima pukulan terberat dalam hidupnya.


"Tidak, itu hanya masa lalu." Vano menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga di paru-parunya. Dia menyimpan kembali foto itu ke dalam dompetnya.


Bersambung ....