Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Fakta Baru



"Mama ngapain keluar?" tegur Fay mendorong kursi roda sang ibu kembali ke bangsal.


"Ayolah! Mama bosan di kamar terus, Mama cuma mau cari angin," sahut Yuri mencari alasan.


Dia sudah enggan berlama-lama di rumah sakit, bisa saja dia melalukan rawat jalan, tetapi Vano tidak mengizinkannya. Dia meminta Dokter Adam terus mengawasi perkembangan kesehatan ibu mertuanya.


Fay tidak dapat mengelak, kesehatan sang ibu memang terlihat baik, tetapi sewaktu-waktu bisa kambuh. Kondisi tubuhnya pasca operasi tidak stabil, terlebih setelah keracunan. Agaknya ada penolakan jika dilihat dari reaksi tubuhnya. Untuk berjaga-jaga, lebih baik Yuri tetap tinggal di rumah sakit.


"Apalagi sejak kemarin Mama nggak boleh nyalain televisi, ponsel juga dibatasi, Mama takut terjadi hal buruk sama kamu," celotehnya.


Fay dan Vano saling melempar pandangan, seperti yang dikatakan sang ibu, kejadian buruk itu telah menimpanya. Perasaan ibu memang tidak pernah salah, ikatan diantara mereka sangat erat, sehingga bisa menebak apa saja yang terjadi pada putrinya.


Namun, melihat keduanya baik-baik saja, Yuri bisa sedikit lega. Setidaknya mereka berdua masih baik-baik saja. Bahkan lebih baik dari sebelumnya.


"Mama tenang aja. Fay nggak sendiri lagi, jika terjadi sesuatu padanya, sudah ada orang yang bisa diandalkan," ujar Vano menepuk dadanya membanggakan diri.


"Ya, aku harap begitu. Jadi, aku tidak perlu takut jika sewaktu-waktu pergi. Fay sudah berada di tangan orang yang tepat." Yuri menatap lekat manik mata hazel milik sang putri. Saat ini, mereka sudah berada di ruang perawatan Yuri. Fay membantu sang ibu duduk di sofa panjang yang menghadap ke arah luar.


"Ish, Mama ini ngomong apa, sih." Fay mencebik, perkataan yang ibu sangat tidak disukainya. "Mama harus melihatku bahagia, bersama keluarga kecil Fay kelak. Bukankah itu impian Mama?" tegurnya.


"Dengarkan Mama, semua yang hidup pasti akan mati, entah kapan itu. Adanya pertemuan pasti ada perpisahan, semua itu sudah pasti sebagai hukum alam," ujar Yuri menasehati.


Suasana tiba-tiba menjadi hening, Vano hanya diam menyimak percakapan dua wanita itu. Suster Ningsih sudah pergi, hanya ada mereka bertiga di sana.


"Ehm, bagaimana kalau melanjutkan obrolan setelah selesai makan? Lihatlah, makanan ini hampir dingin." Vano memecah keheningan, berusaha mencairkan susasana yang mencekam.


"Ah, iya. Hampir lupa, Fay udah lama nggak masak buat Mama. Ini resep baru, loh." Fay meraih kotak bekal dari tangan Vano. "Mama makan yang banyak, ya."


Yuri menatap nanar putrinya, dia tahu Fay hanya tidak ingin membahas masalah itu lagi. Namun, dia memilih mengiyakan permintaan Fay karena tidak ingin membuat suasana kembali canggung. Memang benar adanya, Yuri sangat merindukan makanan rumahan hasil olahan tangan Fay.


Fay tentu saja sangat antusias, tetapi ada beberapa makanan yang dipantang karena tidak baik bagi kesehatan sang ibu. Untuk itu, Fay harus memilah bahan makanan yang sekiranya tidak mempengaruhi kesehatan ginjal ibunya.


Di saat yang sama, di tempat lain.


Dua orang wanita sedang duduk dengan kepala menunduk, kemarahan Riko belum juga reda sejak Vano mempublikasikan hubungannya dengan Fay di hadapan khalayak.


"Pa, jangan salahkan Farah terus, dia melakukan itu juga pasti punya alasan." Ana tidak rela Riko melimpahkan semua masalah yang terjadi pada putrinya.


"Kau selalu saja begitu, membela anak tidak tahu diri ini. Kali ini sudah tidak biaa dimaafkan, karena perbuatannya, semua orang tidak lagi mempercayai perusahaanku. Bisanya cuma menghabiskan uang saja, kalian mau hidup jadi gembel di jalanan kalau usahaku bangkrut, hah?" sentak Riko menunjuk Farah yang tersudutkan. Dia hanya bisa menangis tanpa berani mengangkat wajahnya.


Seperti boomerang, semua tuduhan yang di tujukan untuk Fay, nyatanya berbalik menyerang mereka. Bukan hanya itu, pertunangannya dengan keluarga Brahmana terancam dibatalkan.


"Apa isi otak kalian? Belum cukup selama ini kalian menindas Yuri dan putriku? Aku sudah melakukan semua keinginanmu, tetapi kalian tidak juga melepaskan mereka?" Riko semakin murka, ternyata keberadaan Yuri dan Fay memang sengaja disembunyikan, pantas saja selama ini Riko tidak dapat menemukan keduanya meskipun mereka masih ada di sekitarnya.


Surat yang Yuri tinggalkan lima belas tahun silam ternyata palsu, Ana-lah penyebab semuanya. Yuri sama sekali tidak pernah mengkhianatinya, terlebih berselingkuh darinya. "Tuhan, selama ini aku sudah dibutakan oleh wanita iblis sepertimu." Riko terduduk lemas, tangannya memijat kepala yang terasa hendak meledak.


Riko sangat terpukul, semua rencananya hancur berantakan. Sketsa kemakmuran karena Fay berhasil menikah dengan penguasa dunia bisnis hanya tinggal impian semata. Semuanya sudah berakhir padahal Riko belum sempat memulainya. Mengapa baru sekarang dia mengetahui fakta tersebut?


"Aarrgghh ...." Riko menjambak rambutnya, suaranya tercekat di tenggorokan jika mengingat bagaimana sikapnya kepada Yuri dan putri pertamanya, Fay. Pantas saja mereka sama sekali tidak menginginkan kehadirannya, ternyata semua itu hanyalah siasat Ana untuk merebut posisi Nyonya Adijaya.


"Pa, bagaimanapun juga Farah anak kita, mengapa kamu harus begitu kejam padanya?" ucap Ana setelah mengumpulkan keberaniannya. Dia tidak akan menyerah untuk memperjuangkan hak Farah di keluarga ini.


"Anak kita? Kamu jangan lupa, aku sudah berbelas kasihan padanya selama ini dengan menganggapnya sebagai anak. Semua aku berikan, nama, tempat tinggal, kehormatan, apa masih belum cukup?"


Riko beranjak dari tempatnya. Bagai api yang disiram dengan minyak, kemarahan Riko yang belum mereda kembali memuncak. Demi apa Ana masih berani membahas kejadian itu, dasar tidak tahu malu, muka badak, muka tembok. Ah, apalah itu.


Semuanya berawal saat Farah menderita demam berdarah, saat itu usianya baru menginjak tahun ketujuh. Riko ingat betul, dua hari setelah acara kemah yang diadakan pihak sekolah, Farah demam tinggi dan dilarikan ke rumah sakit. Hasilnya, dia dinyatakan positif demam berdarah. Dia membutuhkan donor darah untuk menyelamatkan nyawanya yang kitis. Namun, fakta baru justru terungkap.


Golongan darah Farah tidak cocok dengan Ana, bahkan Riko sebagai ayahnya. Tentu saja Riko sangat murka, tetapi melihat kondisi Farah kritis, dia memilih menyelamatkan nyawa gadis kecil tersebut. Berusaha mengesampingkan ego demi nyawa anak manusia.


Sampai saat ini, Farah tidak pernah tahu mengenai hal itu, dia mengira sikap acuh Riko padanya karena sudah menemukan Fay saat itu. Farah selalu menyalahkan Fay atas semua ketidakadilan yang menimpanya.


"Katakan kalau semua itu tidak benar, cepat katakan sama Farah kalau semua itu bohong, Ma." Farah mengguncang lengan sang ibu yang masih saja bungkam. Butiran kristak semakin menderas, menganak sungai, membanjiri wajahnya.


"Kenapa Mama diam?"


Bersambung ....