
Terima kasih banyak yang masih bersedia mengikuti cerita ini sampai di tahap ini.
Sekian, selamat membaca!
***
Fay berjalan gontai, menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan hancur. Semua jalan yang dilaluinya terasa buntu, mengapa dunia ini begitu kejam padanya?
"Hei, anak haram! Masih berani kamu menginjakkan kaki di rumah sakit ini?" cibir wanita yang memakai gaun merah muda.
Fay berusaha mengabaikannya tidak ingin lagi membuat keributan, terlebih saat ini ada begitu banyak orang yang berlalu lalang. Dia memilih meninggalkan rumah sakit untuk menenangkan diri, tidak mungkin menemui sang ibu dalam keadaan kacau seperti ini. Wajah sebab dan hidung memerah seperti badut.
Wanita itu tidak ingin ibunya merasa cemas melihat keadaannya, tetapi dia justru bertemu istri sang ayah di lorong rumah sakit.
"Ck, beraninya dia mengabaikanku!" Ana sangat geram karena Fay acuh tak acuh padanya.
"Kenapa, sih? Ribut banget, siapa yang buat Mama kesal?" tanya Farah.
"Tuh, lihat! Anak haram itu berani banget cuekin Mama," ketus Ana. Dia menunjuk dengan dagunya, siluet Fay semakin menghilang diantara orang-orang yang berlalu lalang.
"Itu nggak penting, Ma. Ada hal yang lebih penting lagi," ucap Farah antusias. Dia mendekat ke araha Ana dan membisikkan sesuatu hal mengejutkan yang baru saja diketahuinya tanpa sengaja.
"Apa kamu bilang?" Wajah Ana berubah riang, seringai muncul di wajah yang mulai ditumbuhi gurayan halus itu. "Kamu nggak bohongin Mama, kan?"
"Buat apa bohong, Farah nggak sengaja lihat di ruangan dokter tadi."
"Ternyata memang benar, ****** kecil ini pasti sama seperti ibunya. Menggoda banyak pria untuk mendapatkan uang. Kalau tidak, dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk biaya rumah sakit ini," ejek Ana. Wanita paruh baya itu masih saja mengira Fay adalah wanita simpanan.
"Kita harus baik-baik menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkan nama baiknya," bisik Farah. Dia masih menyimpan dendam, terlebih Fay sudah mempermalukannya di acara pesta ulang tahun Aline.
Farah dan Ana membuntuti Fay sampai di sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah sakit. Di sana, Fay sedang duduk termenung di sudut ruangan berdinding kaca yang menyuguhkan pemandangan taman kota. Jus yang dipesan hanya diaduk-aduk menggunakan sedotan dengan tatapan berkelana, menjelajah jauh ke luar sana.
Fay masih ingat betul, pagi hari saat dirinya terbangun dalam keadaan polos di kamar hotel. Jika saja malam itu tidak minum terlalu banyak. Ah, bukan itu, jika saja dia tidak datang ke bar. Pasti semua ini tidak akan terjadi padanya.
Namun, semua ini sudah terlambat, hal itu sudah terjadi. Menyesal pun tiada guna lagi, yang harus dia pikirkan adalah bagaimana merawat anak ini nantinya. Tidak mungkin Fay bisa menyembunyikan kehamilannya terlalu lama, perutnya akan semakin membuncit kemudian hari dan hal itu cepat atau lambat pasti terjadi.
Brak!
Ana menggebrak meja yang ditempati Fay, sampai gelas yang berisi jus itu sebagian isinya tumpah.
"Kau sengaja ingin membuatku terbunuh?" maki Fay, segera berdiri dari duduknya.
"Ya, kalau hal itu bisa dilakukan. Pasti sudah kulakukan sejak dulu." Farah memutar bola matanya, mengagetkan orang sehat tidak akan membunuhnya. Kecuali dia yang memiliki penyakit jantung.
"Astaga, cobaan apalagi ini? Mengapa dua lampir ini juga datang padaku?" gumam Fay pelan, tetapi masih terdengar oleh Farah.
"Apa kamu bilang? Kamu yang wanita simpanan, sekarang terima sendiri akibatnya," kesal Farah.
"Kalau bukan wanita simpanan terus apalagi? Wanita yang hamil tanpa suami?" ejek Ana dengan suara lantang. Tentu saja hal itu menarik perhatian pengunjung lain.
Degub jantung Fay semakin berpacu, dari mana mereka tahu bahwa dirinya sedang hamil? Apakah dua orang ini mengawasinya?
"Kenapa diam? Tidak bisa mengelak?" Kali ini Farah yang menyudutkannya.
"Pembawa aib keluarga, tidak seharusnya kamu memiliki muka untuk hidup tenang sampau sekarang ini."
Memang saat ini Fay sudah menikah, tapi apa bedanya dia dengan wanita penggoda? Vano--sang suami saja tidak mengakui anak itu. Hik, sungguh menyedihkan. Belum lahir saja sudah mendapat banyak penghinaan, bagaimana jika anak itu benar-benar lahir nantinya? Apakah dia adalah aib keluarga seperti yang Ana katakan?
Tidak, dia hanyalah makhluk yang tidak bersalah. Yang bersalah adalah dirinya, sebagai wanita tidak mampu menjaga kehormatan dan kesuciannya. "Dia pantas hidup, meski seluruh dunia tidak menginginkannya, tapi aku adalah ibunya," ucap Fay dalam hati.
Para pengunjung cafe saling berbisik, banyak diantar mereka mencibir dan ikut mengatai Fay. Padahal mereka sama sekali tidak tahu duduk persoalannya.
"Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga...."
"Kamu bilang keluarga? Sejak kapan kalian menganggapku keluarga?" tukas Fay. Dia memotong ucapan Ana yang belum sempat diselesaikan.
"Haih, tidak usah beralasan. Kamu wanita tidak tahu diri. Sudah berapa banyak laki-laki yang menidurimu? Sampai kamu harus menanggungnya sendiri?" Farah dan Ana tidak henti melontarkan makian untuk Fay. "Oh, aku tahu. Pasti kamu bingung, kan? Laki-laki mana yang akan menjadi ayah dari bayi ini?" lanjutnya.
"Hidupku tidak perlu penilaian dari Anda, Nyonya Ana. Apa pun yang kulakukan sama sekali tidak ada hubungannya denganmu." Fay berusaha menahan diri agar tidak tersulut api amarah.
"Yah, aku hanya kasian dengan anak itu. Dia pasti anak mengalami nasib yang sama dengan kamu. Anak haram! Dosa apa yang sudah ibumu lakukan, bisa menjadi wanita simpanan, dan sekarang anaknya juga sama."
Fay mengambil jus jeruk yang belum sempat diminumnya. Dia menyiramkan jus tersebut di wajah Farah hingga tandas, tak tersisa sedikit pun di dalam gelas.
"Kamu! Dasar anak haram!" Farah sangat marah, dia tidak sempat mencegahnya karena Fay bergerak sangat cepat.
"Seperti itulah seharusnya, aku hanya membantumu menikmati jus segar tanpa perlu meminumnya. Rasanya segar, bukan?"
Fay menarik sudut bibirnya ke atas membetuk seringai. Orang seperti Farah tidak pantas berkomentar tentang hidupnya. Dia memilih pergi, niat hati ingin menenangkan diri, tetapi mendapatkan kesialan.
"Nyonya, tunggu sebentar," cegah seorang pelayan. Farah dan Ana yang hendak meninggalkan cafe karena malu dengan penampilannya.
"Apalagi?" sentak Ana, dia membantu membersihkan wajah putrinya yang basah kuyup.
"Mohon maaf, pesanan ini belum di bayar," ucap pelayan itu dengan sopan.
"Apa kamu bilang? Kamu tidak lihat dia ini korban? Sekarang masih berani meminta bayaran?" Ana sungguh kesal, niat hati ingin membuat Fay malu, lagi-lagi mereka yang harus menerima akibatnya.
"Tapi, wanita cantik tadi yang mengatakan Anda ibunya dan dia juga bilang Anda yang akan membayarnya."
Bersambung ....