
Fay tidak beranjak dari sisi sang ibu. Padahal kondisinya sendiri sedang tidak memungkinkan. Mungkin karena stress berlebihan kurang tidur, membuatnya mudah lelah dan mengantuk. Terlebih obat yang diberikan dokter padanya.
Kepalanya terasa berat untuk terangkat. Fay akhirnya terlelap dengan posisi duduk, tangannya tidak terlepas dari jemari sang ibu yang masih enggan membuka matanya.
Di ruangan itu hanya boleh satu orang yang menemani, terlebih Vano masih ada urusan mendesak yang harus dia tangani. Dia membiarkan sang istri beristirahat dan menemani sang ibu tanpa berniat mengganggunya.
"Kabari saya kalau ada sesuatu yang mendesak," pinta Vano pada Bimbim yang berjaga di depan pintu.
"Baik, Tuan." Lelaki bertubuh tinggi tegap itu menundukkan kepalanya mengantar Vano untuk menaiki lift.
Adel dan Henry masih di sana, meski hanya bisa menunggu di luar kamar.
Yuri mengerjap, kepalanya terasa berdenyut, pandangan matanya menjadi kabur. Dia kembali mengerjap, berharap saat ini sudah merasa lebih baik. Kenyataannya masih sama, tetapi dalam pandangan matanya yang berkabut, wanita itu masih mengenali Fay yang tengah terlelap dalam posisi duduk.
"Apa yang terjadi padaku?" ucap Yuri dalam hati.
Merasa ada pergerakan, Fay perlahan membuka matanya. Dia sangat senang, sang ibu sudah terbangun meski wajahnya masih terlihat pucat.
"Mama sudah bangun? Dimana yang sakit, bagian mana yang tidak nyaman? Fay harus panggil dokter sekarang." Dia mencecar ibunya dengan pertanyaan.
"Mama nggak papa, istirahat sebentar juga baik," ujar Yuri dengan senyum yang dipaksakan.
"Mama yakin? Wajah Mama pucat banget."
"Iya, tadi cuma salah makan aja."
"Nggak mungkin, Ma. Pihak rumah sakit pasti tidak akan salah memberikan makanan yang sesuai untuk orang sakit. Pasti ada sesuatu yang tidak beres."
Yuri memilih diam, tidak ingin Fay tahu hal yang sebenarnya terjadi dan membuatnya membenci ibu mertuanya. Dia yakin bahwa Adel tidak mungkin berniat untuk mencelakainya.
"Sudahlah, Fay. Yang terpenting sekarang Mama baik-baik aja," ucap Yuri menenangkan putrinya.
Semakin lama pandangannya mulai fokus dan terlihat normal. Yuri memperhatikan wajah putrinya juga terlihat pucat dan tidak seceria biasanya. Satu minggu hanya melihatnya melalui video call. Sekarang wajah Fay terlihat tirus.
"Fay, Mama mau bertanya sesuatu, tolong jawab dengan jujur." Yuri menatap lekat wajah putrinya, hal yang akan di sampaikan mungkin akan membuat Fay bingung.
Tampak senyuman di wajahnya, Fay mengangguk, mengiyakan permintaan sang ibu. "Tanya apa, Ma? Fay akan menjawabnya."
"Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Yuri dengan wajah sendu. Apakah keputusannya untuk melepaskan Fay salah?
Bagaimana Mama tahu kalau aku memang terpaksa untuk menikah dengannya? Apakah Mama juga tahu kalau kami hanya bersandiwara?
"Fay, kenapa diam? Apa benar kamu tidak bahagia?" desak Yuri.
"Tidak, Ma. Fay bahagia dengan pernikahan ini. Tuan, maksudku suamiku sangat baik padaku." Fay terpaksa berbohong, tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya, terlebih kondisi sang ibu tidak memungkinkan.
Dia memang sangat baik, tidak membiarkanku pergi dari istananya. Hikkk, sudah seperti hidup di dalam penjara.
"Kau yakin?" Dia mengerutkan alisnya, kalau benar yang dikatakan Fay, mungkin dia hanya berpikir terlalu berlebihan saja.
"Iya, untuk apa aku berbohong?"
"Kuharap juga begitu."
Kriet!
Sosok yang sedang mereka bicarakan kini tengah berdiri di balik pintu yang baru terbuka sebagian.
"Nak, masuklah!" pinta Yuri.
"Ibu, bagaimana keadaanmu?" sapa Vano dengan sopan. Dia melenggang menuju ke bangsal tempat ibu mertuanya terbaring.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," jawab Yuri, ujung bibirnya sedikit melengkung ke atas.
"Mama tanya aja sama orangnya langsung," Fay melipat tangan di atas perut.
"Apa kalian bahagia dengan pernikahan ini?" lirih Yuri.
Ekor matanya mengarah pada istrinya, apakah Fay akhirnya membongkar semua alasan yang mereka sembunyikan?
"Maksud ibu?" Vano tidak langsung menjawab, kalau dia salah bicara, bisa-bisa semua kebohongan mereka akan terbongkar saat itu juga.
"Kau ini, sudah kubilang, panggil Mama aja."
"Mama."
"Ya, itu terdengar lebih baik."
"Ma, Fay sudah katakan kami bahagia, dia memperlakukan aku dengan baik. Tidak membiarkan aku lelah sedikitpun," ujar Fay memastikan. "Iya kan, Sayang."
Wanita itu terpaksa mengubur rasa malunya, dalam hati sangat kesal karena Vano tidak juga mengerti kode yang diberikan padanya. Mau tidak mau Fay harus segera menyelsaikannya.
"Eh, iy, Bu. Maksud saya Mama. Maafkan kalau Fay merasa kurang nyaman."
"Aku cuma bosan, tidak berselera makan karena kau selalu pulang terlambat." Fay mengerucutkan bibir, seolah akting mereka memnag murni dari dalam hati.
"Baiklah. Mulai besok aku akan menemanimu." Vano membelai surai panjang sang istri dengan lembut. Yuri bisa melihat dari perlakuan menantunya, dia tidak akan membuat Fay bersedih.
Mereka berdua akhirnya pergi setelah meyakinkan Mama Yuri. Juga keadaan wanita itu masih perlu banyak istirahat.
Di luar ruangan, Fay dikejutkan dengan kedatangan seorang suster yang memintanya menemui dokter yang merawatnya selelum ini.
"Menurut hasil pemeriksaan, juga berdasarkan pengakuan Nyonya Fay, hasil pemeriksaan menunjukkan sebuah kabar bahagia," jelas dokter setelah Fay dan Vano duduk di ruangan dokter.
"Kabar gembira?" Keduanya mengerutkan kening dan saling memandang. Mana ada orang sakit dikatakan kabar gembira? pikir keduanya.
"Dok, tidak usah berbelit-belit, cepat katakan hasilnya." Vano sudah tidak sabar lagi, jangan-jangan Fay memiliki penyakit serius yang tidak bisa disembuhkan.
"Iya, Dok. Katalan apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa aku punya penyakit yang tidak bisa disembuhkan?"
"Bukan, bukan itu maksud saya. Melainkan hasilnnya Anda positif."
"Hah? Positif?" sentak Fay dengan wajah semakin bingung.
"Hei, cepat katakan. Apa dia kena COVID 19?"
"Bukan, Tuan. Melainkan, Anda akan menjadi seorang ayah."
"Ooo ..., begitu. Bilang dong dari tadi."
"Ayah? Apa maksudnya saya sedang?" Fay melirik perutnya yang masih rata.
"Benar. Selamat, Anda positif hamil."
"Apa katamu?" Kali ink reaksi Vano sungguh berlebihan. Dia bangkit dari duduknya dan menggebrak meja. "Ini nggak mungkin kamu pasti salah. Hasil pemerimsaan itu tidak mungkin milik Fay.
Ada apa dengan orang ini? Biasanya kalau pasangan diberitahu bahwa mereka akan memiliki momongan pasti akan menunjukkan kabar senang. Mereka berdua ini lain.
"Iya, Dok. Pasti hasilnya salah, aku nggak mungkin hamil," elak Fay.
Apa benar aku hamil? Kalau benar terjadi, beraryi aku sedang mengandung benih laki-laki menyebalkan itu.
"Katakan, anak siapa yang ada di perutmu itu?" sentak Vano dengan wajah merah padam, rahang kokohnya terlihat mengeras, tangannya terkepal erat hingga buku jarinya terlihat memutih. Vano sangat terkejut mendengar berita kehamilan Fay.
Mengapa reaksi Vano demikian? Apa yang membuat Vano marah?
Bersambung ...