Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Membuat Perhitungan



"Saya orangnya."


Kelopak matanya mengerjap, Fay mengerutkan kening saat melihat siapa laki-laki yang menahan tangan Ferdi untuknya. Dia merasa dejavu dengan laki-laki itu.


Siapa orang ini? Kenapa dia datang menolongku dan bukan Tuan Darwin? Apa dia tamu di sini? Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya.


"Siapa kamu? Beraninya ikut campur urusan orang lain!" maki Ferdi.


"Anda tidak perlu tahu siapa saya, karena saya tidak akan membiarkan orang seperti Anda membuat keributan di tempat saya!" tegas laki-laki itu.


"Kamu enggak papa?" tanya laki-laki itu dengan nada rendah. Dia dapat mengubah nada suaranya dalam waktu singkat.


"Ck, aku hanya ingin membuat perhitungan dengan manusia jelek ini." Ferdi melempar dua lembar foto yang memperlihatkan seorang berambut kribo, tetapi wajahnya tidak terlihat.


"Bagaimana ini? Dia hampir saja menemukanku, sepertinya hidupku tidak akan tenang setelah ini," batin Fay.


"Perhitungan?" Niko--anak pemilik Club Hulahop. Dia memang tidak pernah datang ke club karena harus menyelesaikan pendidikannya di luar negeri. Namun, sebenarnya sudah tahu kejadian waktu itu dari sang ayah. Hanya saja, siapa orang yang melakukannya masih menjadi teka-teki.


"Bukankah Anda memang pantas mendapatkannya?" cibir Fay.


"Kamu tidak berhak menilaiku," kesal Ferdi.


"Dia tidak berhak? Kalau begitu saya berhak melakukannya?" ujar Niko. "Pintu keluar ada di sebelah kiri Anda."


"Kau mengusirku?"


"Tidak, tempat ini hanya tidak menerima tamu tidak berakhlak seperti Anda."


Tangannya terkepal erat, Ferdi menggertakkan gigi mendapat perlakuan buruk dari pemilik club. Baru kali ini dia mendapat perlakuan buruk dari pemilik club selama dia mengunjungi tempat ini.


Kedatangannya ke tempat untuk mencari orang yang sudah mencekainya. Bukan hanya rencananya gagal, tetali ia harus kembali menerima penghinaan.


"Saya berhak menentukan siapa yang pantas dan tidak pantas datang ke tempat ini!" ujar Niko santai.


"Kau pemilik tempat ini? Kalau begitu kau harus bertanggung jawab pada hal yang terjadi padaku."


"Kita impas, Anda tidak ingin saya menagih biaya kerusakan dari kekacauan ini, bukan?" tantang Niko.


"Kalian kenapa diam? Hancurkan tempat ini!" Ferdi meminta preman yang dibawanya untuk kembali membuat keributan. Namun, keadaan berbalik. Orang-orang yang dibawa Niko lebih tangguh dan lebih banyak jumlahnya.


"Kalian memang tidak berguna, melawan mereka saja tidak bisa!" maki Ferdi pada para preman yng tergeletak kesakitan.


"Bos, kita nyerah. Uang itu pasti akan kami kembalikan." Preman itu lari terbirit-birit meninggalkan Ferdi seorang diri.


"Ck, anggap saja kalian menang, tapi aku pasti tidak akan melepaskan kalian." Ferdi memilih pergi dengan rasa malu. "Tunggu saja lain waktu, aku pasti akan membalas penghinaan ini bekali lipat!" umpat laki-laki itu.


Setelah Ferdi pergi, Niko meminta para pengawal untuk membereskan kekacauan yang terjadi. Dua kepala pengawal itu harus menjelaskan di ruangannya.


"Kau tetap di sini, ada hal penting yang ingin saya tanyakan," pinta Niko saat Fay berniat meninggalkan ruangan. Tidak memiliki pilihan lain, Fay terpaksa menyetujuinya. Padahal ia sendiri tidak tahu hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh pemilik tempatnya bekerja.


"Yuuna, apa kamu sudah melupakanku?" tanya Niko saat hanya ada mereka di ruangan itu.


Kening Fay berkerut, melupakan? Itu berarti dia tidak salah, mereka pasti pernah bertemu sebelumnya, tapi dimana? Namun, panggilan itu terasa sangat akrab di telinga.


"Maaf, Tuan. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Kau benar-benar sudah tidak ingat?" Fay menggelengkan kepala cepat. Ini pertama kalinya bertemu, bagaimana ia akan mengingatnya?


"Anda pasti salah mengenali orang."


"Tidak, aku tidak akan pernah salah. Ini aku, Niko."


Fay memijat pangkal hidung, membuka ingatannya di masalalu. Ah, ya. Nama itu hanya ada satu orang. Tapi benarkah dia Niko yang dulu dikenalnya? Sekarang tampilannya sangat berbeda, tubuh tinggi tegap berbalut satu set pakaian mewah. Mungkin hanya kebetulan yang sama.


"Jangan bilang...."


"Tidak mungkin, Niko yang kukenal pasti sudah takut jika berhadapan dengan orang jahat," cibir Fay.


Yuuna, aku senang bisa bertemu denganmu lagi, tapi... apa hubungan kamu sama Vano? Dia sangat melindungimu, pasti kalian ada sesuatu. Karena aku sudah menemukanmu, tidak peduli ada berapa banyak Vano juga tidak akan menyurutkan keinginanku untuk menjadikanmu milikku.


"Ayolah, semua orang bisa berubah."


Flash Back On


Vano sudah menyelidiki Club tempat Fay bekerja adalah milik Niko--orang yang dikenalnya dari kecil. Pekerjaan itu sangat berbahaya untuk seorang wanita, dan Vano tidak ingin itu terjadi pada Fay. Terlebih dia tahu bahwa Ferdi pasti tidak akan tinggal diam jika Ferdi tahu bahwa wanita yang telah mencelakainya akan segera menikah dengan keponakannya sendiri.


"Tuan, sesuai perkiraan Anda. Tuan Ferdi sekarang ada di Club Hulahop," kata seorang pengawal yang sengaja Vano tempatkan di tempat itu.


"Baiklah, lakukan sesuai rencana."


Saat ini, aku memang belum berhak melarangmu keluar dari sana, tetapi kau juga tidak lbisa mencegahku untuk melindungimu.


"Tuan, meeting akan segera dimulai, kita akan membahas proyek yang sudah pernah kita bahas sebelumnya," ujar Arlan mengingatkan.


"Tidak bisa ditunda?"


"Tidak, kita sudah menundanya selama dua minggu. Jika tidak, saya takut...."


"Baiklah." Vano membuang napas berat. Benar yang Arlan katakan, proyek ini adalah ide darinya, ia tidak mungkin melepaskan tanggung jawabnya begitu saja.


Vano tidak bisa datang meeting hati ini tisak bisa berjalan tanpa dirinya, tetapi bukan berarti dia tidak bisa melindungi Fay dengan cara lain. Dia menjentikkan jari saat mengingat pemilik Club.


"Aku memang tidak bisa datang, tapi orang lain bisa."


Lelaki berambut hitam lebat itu memghubungi seseorang yang bisa membantunya.


"Tumben telepon," ledek Niko setelah telepon terhubung. "Masih ingat punya teman di sini?"


"Ish, jangan berlebihan. Ada hal yang aku perlu bantuan darimu," ujar Vano langsung pada intinya.


"Suda kudugong."


"Kamu memang lebih mirip dugong," ejek Vano.


"Itu dulu, sekarang ketampananku ini sudah tiada duanya, Tuan Melviano saja lewat kalau jalan bersamaku," ujar Niko membanghakan diri.


"Terserah kau saja."


"Dasar kanebo kering, nggak bisa dibercandain."


"Waktuku terlalu berharga buat melayani pria pengangguran sepertimu."


"Ck, lalu pekerjaan apa yang pantas untukku?"


Vano mengagakan keinginannya, ia memberitahu Niko untuk memeriksa club milik sang ayah. Dia juga mengatakan kedatangan Ferdi untuk membuat kekacauan.


"Bagaimana aku tahu wanita itu? Aku sendiri belum pernah melihatnya."


"Apa perlu aku meminta Paman Edo mengirim kamu kembali ke Jerman?"


"Haih, baiklah Tuan Muda Melviano. Akan saya laksanakan, jangan lupa kamu harus membantuku mencari gadisku."


"Hmm."


Bukan hal yang sulit bagi Niko melakukan keinginan Vano, kebetulan ia memang sudah lama tidak datang ke tempat itu untuk menghilangkan penat. Gadis yang dicarinya begitu sulit ditemukan, membuatnya frustasi dan ingin menghibur diri dengan teman-teman seperjuangannya.


Flash Back Off


Bersambung....