
Warning!!!
Part ini mengandung bawang, jika tidak sanggup di skip aja! Karena saya sendiri yang ngetik rasanya nyesek dan tidak rela.
Setiap awal pasti akan berakhir. Ada pertemuan maka ada perpisahan, semua yang datang mereka pasti akan pergi, begitulah hukum dalam hidup ini.
Namun, semua itu terasa begitu singkat dalam kehidupan seorang Fadila Atsya Yuuna dan Melviano Ansell Syahreza. Terasa baru kemarin mereka bertemu tanpa sengaja, tetapi sekarang mereka harus berpisah untuk selamanya. Tuhan, begitu cepat Engkau menyatukan mereka.
Mansion mewah kediaman Henry penuh dengan karangan bunga, bertuliskan ucapan bela sungkawa atas kepergian Melviano--putra pertamanya, sekaligus CEO HS Group saat ini.
"Sayang, jangan tinggalin Mami!" lirih Adel ditengah isaknya. Suaranya serak karena terlalu banyak menangis.
Adel memeluk erat pigura foto Melviano, bayi mungil yang terasa seperti anak kandungnya sendiri, kini telah pergi untuk selama-lamanya.
Sayang, kenapa tega ninggalin Mami secepat ini? Sejak bayi kau sudah sangat menderita, bahkan sampai kau tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, hidupmu tak lepas dari penderitaan. Baru saja Mami melihatmu bahagia, mengapa senyuman itu untuk terakhir kalinya?
Di samping Mami Adel, ada Mama Wulan, Aline, dan juga Ara. Air mata mereka telah mengering, terkuras habis sejak kejadian kemarin. Hari yang seharusnya menajdi hati paling membahagiakan telah berubah menjadi petaka, duka, dan lara.
"Kamu jahat! Kenapa tinggalin Al secepat ini?" sambung Aline. Dia bersandar di bahu kiri Mama Wulan, sementara Mami Adel di bahu sebelah kanan. Ara memeluk Aline dari samping.
Ara tak kalah terpukul mendengar kabar duka yang menimpa Vano. Laki-laki yang sangat baik, seperti kakak kandungnya sendiri. Ara bergegas memesan penerbangan tercepat ke Indonesia setelah mendengar kabar tersebut.
"Kak, semua ini terasa mimpi buat Ara." Gadis itu mengusap air mata dengan punggung tangannya.
Di sisi lain, Henry hanya duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di sampingnya ada Arga, Arlan, dan Tuan Abimanyu. Sementara Bejo dan Nathan bertugas di rumah sakit menemani Mama Yuri untuk sementara waktu menjaga Fay dan bayinya.
I'm sorry, El. Daddy tidak dapat mencegah kemalangan ini.
Tatapan Henry tertuju pada peti jenazah dimana jasad sang putra terbaring tak bernyawa. Hampir seluruh tubuhnya penuh luka bakar, terutama bagian wajah, sehingga sulit dikenali.
Maafkan Apa, El. Semua ini karena kesalahan Apa, tetapi kamu yang harus menanggung semua penderitaan ini, batin Tuan Abimanyu.
Tidak seharusnya aku membiarkan orang lain menyetir. Jika ada orang yang pantas disalahkan, maka akulah satu-satunya orang itu. Aku pasti tidak akan membiarkan satu orang pun lolos. Aku akan membuat mereka merasakan sakit ribuat kali lipat dari pada sakit ini.
Arga tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Dia yang selalu tegar, nyatanya hari ini tidak dapat menahan diri. Kaca mata hitam menyelamatkannya, genangan di pelupuk mata siap membanjiri wajahnya jika Arlan berkedip sekali saja.
Semua orang sibuk dengan pemikiran masing-masing. Menyalahkan diri mereka atas kejadian ini, Vano tidak pantas menerima penderitaan ini. Sejak kecil dia sudah menderita, dipisahkan dengan ibu kandungnya. Saat remaja harus berpura-pura bermusuhan dengan keluarganya sendiri. Bahkan sampai dewasa dia tidak luput dari ancaman orang-orang yang tidak berperasaan. Namun, jalan inilah yang terbaik untuk Vano, dengan begitu dia tidak akan menderita lagi.
Fay masih belum sadarkan diri, dia dinyatakan kritis, begitu pula putra mungilnya. Tidak dapat terbayangkan bagaimana reaksi Fay saat mengetahui kenyataan pahit yang menimpanya.
Mentari semakin terik, iring-iringan mobil jenazah diikuti mobil lain yang membawa anggota keluarga telah diberangkatkan menuju sebuah tempat. Vano akan dimakamkan di samping makam Metta--ibu kandungnya.
"Huu ..., huu ...." Tangis keluarga kembali pecah saat timbunan tanah mulai menutupi peti jenazah.
Adel kembali terkulai, tak sadarkan diri. Rasanya baru kemarin dia bermain bersama, melihat kelucuannya, tetapi sekarang dia harus berlapang dada melihatnya ditimbun tanah.
"Mami .... Bangun, Mam!" Aline mengguncang tubuh Mami Adel.
Dengan sigap Henry menggendong tubuh mungil sang istri tanpa menunggu pemakanan selesai. Wajah wanita itu terlihat sangat pucat, seperti tak ada aliran darah. Entah kapan terakhir kali mereka mengisi lambung, hanya beberapa teguk air putih untuk menghilangkan dahaga.
"Baik, Tuan."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan aspal di tengah rintik hujan yang mulai membasahi bumi. Cuaca cerah tiba-tiba berubah mendung saat jenazah sampai di tempat pemakaman.
Wulan dan Ara mengapit tubuh Aline yang mulai limbung. "Duduklah!" pinta Ara. Aline hanya menurut saja, lututnya terasa seperti jeli. Tidak kuat untuk menopang tubunhnya sendiri. Mereka bertiga duduk di kursi yang telah disediakan. Namun tetap bisa melihat proses pemakaman hingga selesai.
Selesai pembacaan doa, satu per satu orang yang melawat pulang ke rumah masing-masing. Tersisa keluarga inti saja. Tuan Abimanyu juga meninggalkan lokasi, dia tidak tahan lagi berlama-lama di sana. Rasa sesak yang dia rasakan semakin membebani. Untuk itulah dia memilih pergi seperti yang lain.
"Papa pulang dulu, masih banyak hal yang harus dikerjakan," pamit Arga pada putranya.
"Mama juga ikut Papa," ujar Wulan. "Ara, Bagaimana denganmu?"
"Aku ikut kalian, Kak Al, kau mau ikut kami?" tanya Ara pelan.
"Al masih mau di sini," lirih Aline. Dia melepaskan genggamannya di lengan Mama Wulan.
"Kau yakin?" tanya Wulan sekali lagi. Aline mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah. Arlan akan tetap di sini menemanimu!" perintah Papa Arga.
"Pa, Arlan masih harus ke rumah sakit," elaknya.
"Jangan membantah, Ar. Ini perintah!" tegas Papa Arga.
"Benar, Ar. Mama nggak mau terjadi sesuatu pada Aline," bujuk Mama Wulan.
"Al cuma mau sendiri, kalian pulanglah!" Aline bersikeras ingin tetap tinggal. Padahal hujan mulai turun.
"Nggak papa, Sayang. Arlan akan tetap di sini menemanimu." Sekali lagi Mama Wulan mendekap Aline, sebelum akhirnya meninggalkan mereka.
Arlan berdiri di samping Aline, dia tengah bersimpuh di atas gundukan tanah yang penuh taburan bunga. Pigura foto Vano terbingkai rangakian bunga, terpampamg jelas di atas nisan.
Air matanya kembali menyerbu, perasaannya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Saat ini Aline hanya ingin menangis. Mengabaikan keberadaan Arlan yang tak kalah hancur menerima kenyataan ini.
"Kak." Aline memanggilnya kakak, tidak seperti selelumnya. Entah sejak kapan panggilan itu tidak keluar dari mulutnya.
Perasaan Arlan turut bergetar, sesak tiba-tiba menjalar memenuhi rongga dadanya. Meski sikap Vano menyebalkan, tetapi dia punya cara sendiri untuk meluapkan rasa cintanya kepada mereka bertiga yang lebib muda.
"Kau jahat! Kenapa tinggalin Al, tinggalin Mami, Daddy, kita semua. Bagaimana dengan kakak ipar dan keponakanku? Apa yang harus aku katakan kalau mereka bertanya tentangmu?"
Aline mengulum saliva dengan susah payah, pandangan matanya semakin buram karena air mata. Namun, semakin lama semakin kabur dan tidak terlihat sama sekali.
"Al, jangan menakutiku! Hei, bangunlah!" Arlan dengan sigap mendekap tubuh Aline yang condong ke arahnya. Gadis itu tak sadarkan diri.
Arlan menggendong Aline di depan ala bridal style, mengabaikan terpaan air hujan yang membabi buta menghajar mereka. Dia meraih jas kering yang ada di jok belakang, memakaikannya pada Aline.