
Dalam perjalanan, Vano menelepon manager Niko--bintang papan atas yang tengah naik daun sekaligus rivalnya di dunia bisnis. Namun, ia memilih berkarier di dunia hiburan dan terpaksa melanjutkan perusahaan keluarga karena sang ayah sakit.
"Ada apa? Aku sibuk!" ucap Niko setelah managernya memberikan ponsel. Dia baru saja istirahat setelah melewati syuting panjang dan melelahkan.
"Ke Mall XXX, sekarang!" tegas Vano.
"Ogah, pekerjaanku masih banyak. Aku malas bertemu fans fanatik," tolak Niko.
"Saya hitung sampai tiga, kalau kau masih keberatan, kau akan menjadi seorang pembunuh."
"Hei, apa hubungannya denganku?"
"Kalau tidak bersedia datang, secara tidak langsung kamu akan membunuh seorang wanita yang tidak bersalah."
Niko semakin tidak mengerti dengan ucapan Vano yang terkesan bertele-tele, selalu saja dia membuatnya berpikir keras untuk menemukan jawabannya sendiri.
"Aku nggak peduli." Niko kekeh, tidak bersedia menuruti permintaan Vano.
"Baiklah, aku tinggal katakan sama ...."
"Iya, iya. Kamu bicara sendiri dengan sutradara, aku masih ada satu adegan yang belum diselesaikan."
"Berikan ponsel ini padanya."
"Ada yang mau bicara denganmu," ujar Niko memberikan ponselnya.
"Katakan padanya aku sibuk," sahut sang sutradara.
"Kau yakin? Sebaiknya, katakan sendiri."
"Nggak bisa, aku sibuk! Pergi sana!" Sutradara itu mengusir Niko, dia yang juga masih ada hubungan kekerabatan dengannya. Untuk itu, Niko masih bisa bertahan di dunia hiburan.
"Hmm ..., kau punya waktu satu menit," ucapnya, ponsel sudah berada di tangannya.
"Kamu biarkan Niko pergi, saya akan mengganti rugi lima kali lipat dari honornya."
"Baiklah." Dia mengembalikan benda pipih itu kepada Niko. "Pergilah!" lanjutnya.
"Ish, kau ini. Tega banget masukin aku ke kandang macan." Niko mencebik, dia kesal karena sang sutradara tidak membantunya.
"Tunggu apalagi?" teriak Vano di seberang sana. Rupanya panggilan masih terhubung.
"Iya, iya. Dasar pemaksa!" Niko mencebik, baru saja hendak beristirahat setelah syuting iklan. Kalau tidak ingat jasa Vano yang sudah membantu ayahnya, maka dia pasti tidak akan menerimanya.
"Ke Mall XXX," perintah Niko pada sang manager.
"Tapi, bagaimana dengan syutingnya?"
"Kan bisa ditunda," ucap Niko memaksakan senyumnya. Dia melenggang keluar, menuju Mall XXX sesuai perkataan Vano.
Laki-laki yang menjadi manager Niko hanya mengedikkan bahu seraya menghembuskan napas berat. Dia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa.
Sesampainya di Mall XXX, Vano sudah menunggunya di dalam mobil. Dia meminta Nikk untuk turun lebih dahulu dan berjalan ke arah yang berlawanan dengannya. Benar saja, kehebohan dari berbagai kalangan yang saling dorong dan berdesakan saat menyadari kedatangan Niko.
Begitu pula orang-orang yang sebelumnya mengepung salin dimana Fay dan Aline berada. Mereka tidak kalah antusias, tidak ingin ketinggalan untuk sekadar melihat Niko--idola mereka dari jarak yang cukup dekat.
"Wah, ada Nicolas di sini. Ayo, jangan sampai ketinggalan," teriak wanita yang belum selesai di warnai rambutnya.
"Apa? Nicolas ada di tempat seperti ini?"
Antusias pengunjung, terutama mereka kaum hawa, melupakan tujuan mereka memprovokasi Fay. Mereka terlena untuk sesaat, terlebih Niko datang membawa coklat dan bunga yang dia bagikan.
Sementara itu, Aline sangat kesal karena sang kakak tak kunjung datang. Apa dia tidak bisa masuk, atau memang sengaja?
"Nyangkut di mana orang itu?" Aline sesekali menyeret kedua bola matanya ke arah pintu, tetapi tetap tidak ada yang datang.
Fay mondar-mandir tidak karuan, yang ditakutkan hanya satu, bagaimana jika sang ibu mendengar skandal palsu seperti yang diberitakan?
"Kamu ini, bisa diam nggak, sih?" cibir Aline kemudian. Dia tidak nyaman melihat Fay yang mondar-mandir tanpa rasa lelah.
"Ini gawat, Al. Gawat banget!"
"Nggak usah lebay, sebentar lagi juga suami kamu datang."
"Bukan itu, tapi kalau sampai berita itu tersebar, terus Mama tahu, aku pasti tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri," ujar Fay sendu.
"Itu tidak akann terjadi, kau percaya bahwa suami kamu bisa menanganinya hanya dengan jentikan jari. Kau tidak usah memikirkannya," ucap Aline menyombongkan kekuasaan keluarganya.
"Kau benar, tetapi aku tidak bisa kalau tidak mencemaskannya."
Vano datang bersama anak buahnya dari arah berlawanan. Di depan salon sudah terlihat sepi, orang-orang itu yang didominasi perempuan menyerang Niko.
"Di mana mereka?" ucap Vano dengan suara meninggi.
"Mereka bersembunyi di sana," laki-laki bertulang lunak itu menunjuk sebuah ruangan dengan pintu tertutup rapat.
"Pintunya di kunci dari dalam, Tuan." Salah satu pengawal yang hendak membuka pintu mengatakannya. Dia tidak dapat membuka pintu tersebut meski sudah berulang kali mengetuk.
Di dalam ruangan, Fay dan Aline saling menatap. "Jangan-jangan, mereka sudah masuk," tebak Aline dan Fay bersamaan. Keduanya mengira massa yang ada di depan salon sudah berhasil masuk dan memaksanya keluar.
"Dobrak."
"Tuan-tuan yang baik hati, tolong jangan lakukan itu, saya ada ide lain," ujar pemilik salon.
"Hmm ..., lakukan."
Dia mendekati pintu, mengetuknya bebeeapa kali dan berkata, "mereka datang menolong, cepat buka pintunya."
Tidak menunggu waktu lama, pintu terbuka dari dalam. "Kalian nggak apa-apa?" tanya Vano pada Fay dan adiknya.
"Ish lama banget, sih?" gerutu Aline.
"Nggak usah protes, yang penting Arjuna kalian udah datang," ucap Vano membanggakan diri.
"Terserah kau saja." Aline malas berdebat.
"Sekarang kalian kembali ke mansion?"
Vano mendekat, dia membisikan sesuatu di telinga Fay dan membawanya pergi dari pintu yang lain. Dia tidak akan membiarkan orang-orang menyudutkan Fay lagi.
Mereka tidak ada yang memperhatikan gerak-gerik Vano, para penonton hanya fokus pada kedatangan Nicolas yang tiba-tiba.
"Kembali ke mansion, kamu juga, Al. Jangan keluyuran." Vano menatap sang adik nyalang, kalau saja Aline tidak mengajak sang istri pergi, kejadian ini tidak perlu terjadi.
"Enak aja keluyuran, masih ada kelas sore ini di kampus." Aline tidak mau Vano kembali mengirim kamera hidup jika dia mengatakan yang sebenarnya.
"Kau yakin?" Kening Vano berkerut, tidak yakin dengan keinginam wanita.
"Ya."
"Baiklah. Arlan yang akan mengantarmu." Benar firasatnya, pasti Vano akan menempatkan si beruang kutub untuk memantaunya.
"Kita juga pergi," ujar Vano menarik tangan Fay dan menyeretnya ke sebuah mobil sedeehana berwarma hitam.
"Tunggu dulu, aku ini jalan atau berlari?" Fay kesulitan mengimbangi langkah lanjang sang suami.
"Kamu juga jalan kayak siput lama banget!" ketus Vano tanpa menatap Fay. Jemari tangannya tidak melepaskan genggaman Fay, seolah takut kehilangan.
"Pulang!" ucap Vano setelah mereka di dalam mobil.
"Nggak, kita mampir ke rumah sakit sebentar. Boleh, ya, please." Fay memohon. Dia harus memastikan sendiri kondisi sang ibu.
Bersambung ....