
"Lo harus datang ke pesta ulang tahunku besok." Aline merajuk layaknya anak balita. Gadis itu tidak lagi berada di belakang Vano, melainkan bersandar di dada bidangnya dan memainkan dasi yang melingkar di lehernya.
Aline awas saja kau, aku akan memotong uang jajanmu setelah ini.
"Iya," sahut Vano singkat, tetapi ekor matanya tidak lepas dari wanita yang duduk di sofa dan sibuk bermain dengan benda pipihnya.
"Gue nggak mau ada dia, yang ada pesta ulang tahunku akan kacau jika dia benar-benar datang."
Vano justru berpikir sebaliknya, pada hari itu keluarga besarnya pasti akan berkumpul. Di sanalah ia akan memberikan kejutan dengan membawa Fay tanpa perlu bersusah payah mengundang mereka.
"Dia sama sekali tidak peduli?" ucap Vano dalam hati. Mengapa hatinya kecewa melihat Fay sama sekali tidak melihat ke arahnya.
"Hmm..., apa kau sudah selesai?"
"Ya, jangan lupa malam ini Daddy memintamu pulang," ujar Aline seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Pergilah." Vano enggan menanggapi kalimat terakhir yang diucapkan Aline.
"Ish, kita jarang bertemu. Bukan ditawari makan, minum juga enggak. Dasar kejam!" Aline mencebik, padahal ia masih ingin menguji wanita itu, tapi sepertinya Vano sengaja mengusirnya karena ingin melindungi wanita itu.
"Kamu tidak sedang kekurangan makan, Al. Kau salah tempat jika datang ke sini untuk meminta makan."
"Bolehlah sesekali makan bersama," rayu Aline.
Vano meraih gagang telepon, jika sudah seperti ini hanya Arlan yang bisa menghadapi adik perempuannya yang manja.
"Lan, ke ruanganku...." Vano belum menyelesaikan kalimatnya, tetapi Aline sudah merebutnya dan meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Namun percuma saja, Arlan yang baru saja masuk ke ruangan kembali ke ruangan Vano dengan wajah kesal.
"Tidak bisakah kamu biarkan aku istirahat sebentar?" gerutu Arlan sepanjang jalan menuju ke ruangan Vano.
"Kenapa lo panggil beruang kutub itu ke sini?!" seru Aline, wajahnya merah padam menahan kesal.
"Kamu lapar, bukan? Arlan akan menemanimu."
"Lo ini nggak peka banget jadi orang. Aish, kenapa juga ada orang yang suka sama pria menyebalkan sepertimu?"
Tangan Aline terkepal, ia semakin kesal karena tingkah Vano. itulah mengapa ia selalu ribut dengannya, Aline merindukan saat itu. Namun, Vano tetap saja menyebalkan, dulu atau sekarang sama saja.
"Aku sibuk."
"Sibuk apa? Sibuk pacaran?" ketus Aline.
Tak lama pintu ruangan diketuk sebelum Aline sempat melarikan diri, Arlan lebih menyebalkan daripada Vano. Aline selalu tidak menyukainya, pria tampan berkacamata itu selalu saja mengaturnya. Tidak boleh ini, tidak boleh begitu. Semua kegiatannya pasti tidak lepas pengawasan dari CCTV hidup bernama Arlan.
"Masuk," pinta Vano seraya berdiri.
"Eh, gue harus pergi. Awas kalau ngadu!" ancam Aline. Gadis itu berlari ke ruangan istirahat Vano, tetapi percuma saja. Vano sudah lebih dulu menahannya.
"Kamu mau kemana?" ujar Vano mencekal lengan tangan adiknya.
"Tuan memanggil saya ada perlu apa?" ucap Arlan dengan sopan. Tidak disangka Aline juga ada di sana, bahkan Fay juga masih ada di ruangan itu.
"Bawa si cerewet ini ke kantin. Dia penasaran dengan makanan di sini!" Vano mendorong Aline pelan, tetapi gadis itu dalam keadaan tidak siap sehingga melangkah maju. Beruntung rem kakinya masih berfungsi dengan baik, jika tidak ia pasti akan menabrak meja.
"Enggak perlu, rasa laparku sudah hilang melihat dia!" tegas Aline. Ia meninggalkan ruangan Vano. Bahunya sengaja menabrak Arlan. Padahal ruangan itu cukup luas untuk memberi ruang Aline berjalan.
"Antar dia pulang," pinta Vano.
"Tapi, saya masih harus mempersiapkan meeting...."
"Kamu boleh pulang lebih awal, saya masih ada Keke. Awas saja kalau dia tidak sampai di rumah dengan selamat." Vano mengangkat sebelah tangannya, ia tidak ingin dibantah. Arlan mau tidak mau harus diam dan menuruti keinginannya.
"Tapi...."
Tatapan Vano tegas dan tidak ingin dibantah. "Pergi! Atau sekalian aja besok tidak usah masuk."
Aish, mereka berdua ini selalu saja menindasnya. tidak hanya kakak, adiknya sama saja menyebalkan.
"Al, tunggu di sini. Saya ambil mobil."
"Jangan sok akrab, lo itu nggak perlu pura-pura baik sama gue. Di sini nggak ada siapa pun, nggak udah bersandirwara," sindir Alin. Dia tahu betul apa yang dipikirkan Arlan, keberadaannya pasti hanya perintah Vano semata. "Ah, ya. Panggil gue Nona Aline, mengerti?"
"Maafkan saya tidak sopan, Nona Aline. Saya hanya ingin memastikan keselamatan Anda." Arlan menarik napas panjang, ia harus bisa membujuknya.
"Dasar beruang kutub! Gue udah bukan anak kecil lagi, bisa pulang sendiri."
Arlan terpaksa menarik lengan Aline, tetapi gadis itu masih saja memberontak. Ia terpaksa menggendongnya di depan dan membawanya ke mobil yang sudah disiapkan oleh sopir kantor.
"Hei, lo mau apa? Lepasin gue, Beruang Kutub!" maki Aline. Tangannya tak henti memukul dada bidang Arlan.
Pintu berhasil dibuka dengan susah payah, Aline sudah berada di dalam mobil. Percuma saja Aline kabur, Arlan pasti akan memiliki sejuta cara untuk mendapatkannya.
Aline tidak pernah menghormati Arlan, terlebih usia mereka hanya terpaut dua tahun. Dengan Vano sekalipun, Fay sering memanggil nama. Terlebih jika situasinya tidak ada orang lain, ia akan bersikap baik jika ada maunya atau di hadapan keluarganya saja. Namun, baik Vano maupun Arlan tidak pernah mempermasalahkannya.
Di ruangan Vano.
"Siapa yang membiarkanmu pergi?"
"Aku juga harus pergi, aku harus kerja," ujar Fay membenahi tas selempangnya.
"Saya tidak mengizinkan kamu pergi. Urusan kita belum selesai."
"Urusan apalagi? Bukankah sudah cukup menunjukkan kemesraan kalian padaku? Atau masih ada wanita lain lagi yang akan datang?" Fay tersenyum getir.
Jadi dia benar-benar salah paham pada Aline?
Vano membiarkan Fay salah paham padanya mengenau hubungannya dengan Aline. Tidak berniat untuk menjelaskan yang sebenarnya.
"Ya, kau harus belajar dari mereka bagaimana menjadi wanita," ejek Vano.
"Aku wanita sungguhan atau bukan bukankah Anda yang lebih tahu tentang hal itu, Tuan?" Wajah Fay menyeringai, ia tidak ingin Vano mengejeknya.
Wajah Vano menegang, kenapa wanita ini pandai sekali membalikan keadaan?
"Aku harus pergi sekarang, kalau tidak aku bisa terlambat," ucapnya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Jangan pergi! Tidak. Emm..., maksudku kau tidak perlu lagi bekerja. Apa uang yang sayang berikan masih belum cukup?"
"Saya punya tanggung jawab dan tidak ingin bergantung pada orang lain."
"Kamu akan segera menikah denganku, berapa pun saya berikan asal kamu berhenti dari pekerjaan itu." Vano kekeh ingin Fay keluar dari pekerjaannya.
"Berikan aku alasan, mengapa aku harus berhenti?"
"Karena saya tidak suka."
"Hanya itu?"
"Ya."
"Anda tidak berhak ikut campur dalam pribadiku."
"Saya ini calon suami kamu, jadi saya bwehak menentukan mana yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan."
"Jangan lupa, Tuan Melviano yang terhormat. Pernikahan kita hanya sebuah kesepakatan. Anda tidak berhak mengatur kehidupan saya. Setelah menikah sekali pun."
Vano bungkam, benar yang dikatakan Fay. Pernikahan ini hanya demi keuntungan semata, tetapi ia tidak rela jika Fay harus bekerja di club.
Apakah yang akan Vano lakukan agar Fay menurut padanya?
Mohon maaf sedikit lambat update, saya harus revisi dari bab awal. Ada alur yang perlu saya perbaiki, jika bersedia silakan baca bab awalnya. Jika tidak juga tidak masalah, terima kasih sudah setia menemani perjalanan Vano dan Fay sampai di titik ini. Kiss online dari thor untuk readers tercinta. ❤❤
Bersambung ....