Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Banyak Maunya



"Sampai kapan kau akan seperti ini?" Fay mendengkus, air matanya seakan kering setiap saat meratapi keadaan Vano yang belum menunjukkan perubahan.


Tangan Vano terasa hangat menempel di wajah Fay, padahal sudah lebih dari dua minggu suaminya hanya terbaring. Hidupnya hanya mengandalkan alat-alat kesehatan yang menempel di tubuhnya.


"Kau harus bangun, karena saat itu tiba akan bertambah satu orang lagi yang menantikannya. Dia di sini," bisik Fay, menempelkan tangan Vano pada perutnya yang masih rata, tetapi mulai mengeras.


"Aku di sini, Sayang. Aku bisa mendengar semuanya, tetapi seluruh tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali. Aku sangat bahagia."


"Dia yang menguatkanku, semangatku, satu-satunya alasan mengapa sampai sekarang aku masih bisa terus menjengukmu. Karena dia juga merindukanmu." Fay bermonolog, tangannya merapikan sulur rambut Vano ke belakang telinga.


Kalian pula yang membuatku tetap bertahan, maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi kalian.


Dokter sudah melarang Fay untuk tidak datang ke rumah sakit setiap hari, tetapi Fay mengacuhkan peringatan itu. Setiap malam dia tidak bisa terlelap dengan nyenyak, ketiadaan Vano telah mengusik rasa nyaman yang membuatnya candu.


Fay harus bersyukur, kehamilannya tidak terlalu merepotkan, bayi itu seolah mengerti keadaan sang ibu. Dia hanya tidak bisa berpisah dengan Vano, bahkan di atas ranjang masih ada pakaian Vano yang sengaja tidak dicuci. Dengan menghirup aroma Vano yang melekat di sana, Fay baru bisa terlelap, seolah suaminya itu ada di sampingnya.


Lagi, waktu berkunjung telah berakhir. Mau tak mau Fay harus kembali berpisah dengan Vano. Dia hanya bisa meratap, mengusap dinding kaca seolah sedang membelai wajah sang suami. "Aku pergi, besok aku akan kembali!" batin Fay.


Gumpalan kristal kembali mengalir di wajah Vano, lagi-lagi Fay tidak mengetahuinya.


"Ayo kita pulang!" Aline menggandeng tangan kakak iparnya.


Fay tersentak, menolehkan kepalanya ke arah gadis itu. Aline baru saja pulang dari kampus dan datang ke rumah sakit bersama Arlan. Keluarga ini benar-benar memperlakukan Fay dengan tulus, layaknya anak kandung.


Mereka tidak membiarkan Fay dirundung sepi, bergantian menemani dan menghiburnya. Terlebih untuk keamanan Fay, Henry mewakili Vano tidak akan memberikan celah sedikit pun untuk menyakiti menantunya.


"Hei, aku sedang bicara padamu!" ketus Aline. Namun dibalik sikapnya itu, Fay tahu bahwa Aline sangat peduli padanya.


"Aku mau ke kampus sebentar," desah Fay kemudian.


"Biarkan Arlan yang pergi, kau tidak perlu repot-repot ke sana," usul Aline.


"Nggak papa, sekalian jalan-jalan. Aku mau makan jajanan kampus, kayaknya enak." Fay membayangkan jajanan yang terbuat dari aci dan disiram kuah perpaduan pedas, asam, dan manis. (Makanan apakah itu?)


"Kau yakin?" Kening Aline berkerut. Tubuh Fay masih pucat, dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Fay nantinya.


"Iya, dari semalam aku pengin banget makan itu." Hanya dengan membayangkannya saja membuat Fay menelan saliva, apalagi mencicipinya langsung di depan penjualnya. Kuah hangat dan segar. Ah, cacing di perutnya sudah tidak sabar ikut menikmatinya.


"Baiklah. Aku temani," sahut Aline.


Fay terlihat ceria mengingat tujuan lain datang ke kampus, Aline sendiri tidak mengerti dengan perubahan sikap kakak iparnya yang signifikan. "Tadi masih lemes, giliran bahas makanan aja langsung heboh," gumam Aline. Kepalanya menggeleng pelan, dia mengikuti Fay yang sekarang tengah menyeretnya pergi.


"Nggak papa, Al. Demi calon keponakan, kamu harus perbanyak setok sabar." Aline bermonolog, mengurut dada agar tidak terpancing emosi. "Semoga nanti kamu nggak nyebelin kayak mami dan daddy kamu ya, Calon Ponakan," lanjutnya dalam hati.


Arlan sudah menunggu di loby, dia tidak diperbolehkan masuk oleh Aline karena terlambat datang menjemputnya. Padahal Arlan sendiri menyempatkan waktu untuk menjemput Aline di tengah kesibukan pekerjaannya.


Namun, pekerjaan Arlan tidak begitu repot karena ada sekretaris baru yang membantunya. Dia adalah orang kepercayaan Ferdi, itulah mengapa saat ini Arlan bisa menemui Aline dan Fay.


Ferdi terlalu mendominasi, banyak peraturan baru yang diterapkan di perusahaan. Tentu saja hal itu menyudutkan karyawan, tetapi Arlan bisa apa? Bosnya bukan Ferdi, melainkan Vano. Dia tidak bisa membantah perintah Ferdi karena posisinya lebih tinggi.


"Hei, ngapain bengong? Cepat jalan!" tegur Aline saat menyadari Arlan tengah melamun.


"Hah, dimana kakak ipar?" Arlan mengangkat sebelah alisnya, dia tidak menyadari kehadiran dua wanita itu karena terlalu fokus memikirkan nasib HS Group kedepannya di tangan Ferdi.


"Astaga, Arlan. Aku segede ini masih nggak kelihatan? Sungguh ter-la-lu." Fay mencebik, dia sudah berdiri tepat di hadapan Arlan, masih juga tidak menyadarinya? "Kau ini, cuma Aline yang terlihat."


"Eh, kenapa jadi aku yang salah?"


"Kamu memang selalu salah," imbuh Fay. Mereka berjalan lebih dulu menuju mobil yang sudah terparkir.


"Ish, nggak jelas." Arlan mengurut pangkal hidungnya, mengutuki kesialannya bertemu dua wanita itu.


Cepatlah bangun! Lihatlah sendiri bagaimana kelakuan istri sama adik kamu ini. batin Arlan.


Aline sudah masuk ke dalam mobil, disusul Fay. Mereka duduk bersebelahan di kursi belakang.


Sepanjang perjalanan ke kampus, setiap kali melihat pedagang makanan di pinggir jalan yang menarik perhatian, Fay selalu meminta berhenti untuk membelinya.


Ini sudah kelima kalinya, jajanan itu menumpuk dan belum satu pun yang disentuhnya. Aline memonyongkan bibirnya melihat kelakuan Fay.


"Arlan, berhenti sebentar, ada penjual boba."


"Kamu nggak lihat! Makanan sebanyak ini siapa yang mau ngabisin?" protes Aline. Bukan tidak mau menuruti keinginan Fay, tetapi dia hanya membeli dan mencium baunya saja. Sama sekali tkdak berniat memakannya.


"Kamu sama Arlan," celetuk Fay dengan senyum mengembang, memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"What?" jawab keduanya bersamaan.


"Aku kenyang," kelit Arlan.


"Aku lagi diet," tolak Aline.


"Yah, terus gimana nasib makanan ini?" Bibirnya melengkung ke bawah dengan tatapan poppy eyes. "Ini keponakan kamu yang mau," bujuk Fay. Dia hanya mencari alasan agar tidak dimarahi.


"Iya, iya." Aline akhirnya mengalah.


"Beli bobanya jadi, nggak?" tanya Arlan yang sudah bersiap turun dari mobil.


"Jadi," sahut Fay semangat.


"Nggak!" Aline menatap Arlan nyalang, mengisyaratkan agar dia tidak menuruti keinginan aneh istri kakaknya.


"Ya udah, aku beli sendiri aja." Fay berniat turun, tetapi Aline mencegahnya.


"Nggak usah, biar Arlan yang ke sana. Aku mau yang orange, ingat itu!" pinta Aline.


"Sebenarnya siapa yang ngidam, sih? Tadi katanya nggak boleh, sekarang pakai request rasa segala," maki Arlan dalam hati.


"Nggak usah maki orang, cepat sana!"


"Iya, aku pergi! Dasar banyak maunya!" Arlan mendekati kedai boba yang sangat ramai di siang terik ini. Sepanjang jalan mulutnya tak henti berkomat-kamit. Lima kali Fay menginginkan makanan pinggir jalan, lima kali juga dirinya yang harus rela mengantre dan berdesakan.


Andai kartu VVIP berguna di tempat seperti ini!


Arlan semakin kesal saat seorang ibu menyerobot antrian. "Ah, siapa yang berbuat, kenapa aku yang harus kena imbasnya? Vano, awas saja kalau istriku ngidam nanti, kamu yang bakal aku suruh-suruh." Arlan berdecak sebal, dia harus rela kepanasan dan menunggu lama.


Kasihan banget kamu, Lan.


Bersambung ...