
Wanita itu menatap Vano nanar, bagaimana bisa dia berkata seperti itu padanya? Bukankah malam itu dia yang sudah mengambil kesempatan darinya? Begitukah rasa tanggung jawab yang keluar dari mulut manisnya?
Fay duduk termenung di sebuah bangku taman di bawah pohon rindang tak jauh dari rumah sakit. Kabar kehamilan yang tiba-tiba membuatnya terpukul, bahagia, juga sedih. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Bagaimana jika ibunya tahu? Hal itu pasti akan memperburuk keadaannya, Fay tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
"Tuan, demi Tuhan saya tidak pernah melakukannya dengan orang lain. Bayi ini milik Anda," lirih Fay.
Sudut matanya mulai lembab, butiran kristal yang berusaha ditahan kini lolos begitu saja. Mengapa sesakit ini dituduh oleh orang yang yang sudah menodainya, mengapa tidak mengakui hasil perbuatannya?
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan. Kamu tidak pantas melakukannya!" seru Vano. Dia memijat pangkal hidungnya.
Cobaan apalagi ini, Tuhan?
"Aku berani bersumpah, kamu satu-satunya orang yang menyentuhku," tukas Fay, membiarkan air mata membanjiri wajahnya.
"Saya tidak ingin mendengarnya lagi. Kalau memang kamu hamil, dia pasti milik orang lain. Bayi itu bukan milik saya."
Fay semakin tergugu, dia juga tidak menginginkan kehadiran janin itu tumbuh dalam rahimnya. Namun, dia bisa apa? Tuhan sudah menghadirkan dia--calon bayi dalam perutnya--sebagai anugerah dalam hidupnya. Akankah dia bisa menolaknya?
"Baiklah. Kalau kamu tidak mau mengakuinya, biarkan aku yang menerimanya," ucap Fay dengan suara serak. Percuma saja meyakinkan dia kalau paka akhirnya tetap tidak percaya.
"Heh, kau memang pantas mendapatkannya. Kau lupa siapa yang merayuku? Mungkin saja aku hanya pelampiasanmu saja, tidak tahu berapa banyak laki-laki yang menghangatkan ranjangmu," ejek Vano.
Suara Fay tercekat di tenggorokan, semua kalimat yang sudah tersusun rapi hancur berantakan. Tertahan di kerongkongan, dadanya semakin sesak. Boleh saja Vano tidak mengakui anak ini, tetapi dia sudah keterlaluan. Mengatakan istri sendiri sebagai wanita *****.
"Bukankah dia yang lebih tahu wanita seperti apa aku ini? Dia juga yang sudah membuka segel yang berusaha kujaga," ucap Fay dalam hati.
"Kenapa diam? Saya yakin kamu sendiri sudah lupa siapa ayah dari bayi itu. Itulah sebabnya kau setuju untuk menikah denganku."
Vano melenggang menjauh, meninggalkan Fay dengan luka yang menganga. Boleh saja tidak bersedia menjadi ayah dari bayi itu, tetapi tidak perlu mengatakan hal buruk tentangnya.
"Huu ... huu...." Fay mengatupkan kedua tangannya untuk menutupi wajah. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Apa yang harus Fay lakukan? Membunuh bayi itu, tidak mungkin. Fay masih takut dosa, dia tidak ingin bayi yang bahkan belum melihat dunia harus berakhir di tangannya, dia tidak setega itu.
"Mama akan berusaha membahagiakan kamu, kita harus kuat, kita harus saling menguatkan," bisik Fay. Dia mengusap perutnya yang masih datar. Di sana tumbuh calon manusia yang tidak sengaja tumbuh akibat kesalahannya. Fay baru menyesal, seandainya malam itu dia tidak mabuk, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi padanya.
Namun, menyesal sudah tidak ada gunanya, mau menyalahkan siapa? Semua ini murni kesalahannya.
Vano pergi dengan perasaan hancur, dia tidak menyangka Fay adalah wanita seperti itu. Dia mengira bahwa Fay hanya menginginkan kekayaan dan kekuasaannya saja, ternyata wanita itu masih begitu serakah. Berpura-pura setuju menikah dengannya agar dia bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.
"Aarrghhh ...." Tangan Vano meninju pohon besar yang ada di hadapannya beberapa. Meluapkan semua amarah dan rasa sesak di dada.
Awalnya Vano hanya ingin memanfaatkan Fay, mengancamnya dengan kejadian malam itu untuk kepentingannya sendiri. Siapa yang menyangka justru dirinya yang dimanfaatkan olehnya.
"Aku pikir kau berbeda dengan wanita lain, tidak kusangka kau lebih hina dari mereka. Siapa laki-laki itu? Aku belum melakukannya. Kau dengar, aku belum melakukan apa pun padamu," teriak Vano.
Kepalan tangan laki-laki itu kembali menghajar pohon yang tidak bersalah hingga buku jarinya terlihat memerah. Seandainya pohon itu bisa bicara, dia pasti akan berteriak dan memakinya bodoh.
"Aku tidak menyentuhnya, bukan aku orangnya," lirih Vano. Tubuhnya lunglai, dia jatuh terduduk dengan bersandar di pohon yang sudah menjadi pelampiasan untuknya.
Mereka berdua sama-sama terluka, tidak menyangka kabar kehamilan Fay justru menambah benang kusut yang baru saja hendak terurai.
Flash Back On
"Kau yakin? Tidak akan menyesal nantinya?" Fay menggelengkan kepala, kemudian mengangguk cepat.
"Tidak akan. Cepatlah! Aku sudah tidak tahan lagi," jerit Fay dengan tidak sabar. Tubuhnya semakin panas, dia mulai melepas gaun yang dipakainya, tapi Vano mencegahnya.
Fay mendekatkan wajahnya, napasnya tidak beraturan. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya? Dia tidak dapat mengenali dirinya, juga hal yang dilakukannya pada Vano.
"Ck, wanita ini. Jangan salahkan saya, ini semua keinginammu," bisik Vano di dekat telinga Fay.
Reaksi Fay sungguh diluar dugaan, wanita itu segera mengalungkan kedua tangannya di leher Vano. Fay mulai kehilangan akal, tangan dan bibirnya mulai nakal, dia menggunakan naluri untuk melakukannya. Berdekatan dengan Vano benar-benar membuatnya nyaman.
"Sial, wanita ini benar-benar tidak takut mati," umpat Vano. "Lan, bawa jalan ke penthouse," pinta Vano pada sekretarisnya itu.
Tidak mungkin dia membiarkan Fay berbuat seenaknya dan dilihat oleh banyak orang. Mereka akhirnya menuju penthouse yang Vano maksud. Sebuah kamar mewah di lantai teratas gedung yang Fay anggap kamar hotel mewah keesokan paginya. Memang tudak ada yang salah, Vano sengaja membangun penthouse di hotel miliknya untuk beristirahat.
Dalam perjalanan, Fay tidak henti menggoda Vano. Dia bahkan sudah melepas jas mahalnya untuk menutupi tubuh bagian atas Fay yang diumbar.
"Fokuslah menyetir! Apa yang kau lihat?" ketus Vano saat Arlan melirik ke arahnya.
Siapa juga yang mau lihat wanita itu, aku cuma mau lihat reaksimu yang tidak seperti biasanya.
Arlan menelan saliva dengan susah payah, bafu sekali ini Vano merespon seorang wanita yang jelas-jelas menggodanya. Terlebih wanita itu seperti cacing kepanasan yang tidak bisa diam. Namun, Vano sungguh tenang, dia sama sekali tidak mengindahkan rayuan wanita itu.
"Turun!" Vano meneriaki Fay yang terus menempel seperti ada lem diantara mereka.
"Gendong, aku nggak mau jalan," rengek Fay manja.
Arlan yang melihatnya bergidik, kalau dia yang ada di posisi Vano pasti sudah meninggalkan wanita itu di resto. Berbeda dengan Vano, dia menuruti keinginan Fay dan menggendongnya sampai ke lantai teratas.
Brak!
Vano menendang pintu dengan kasar, dia membawa Fay ke ranjang. Beruntung pintu menutup secara otomatis. Dia Melemparkan wanita itu, mengikuti permainan yang semakin memanas, membangunkan sesuatu yang tengah tertidur. Vano hampir lupa diri, tetapi wajah Aline yang terlintas, juga Mami Adel. Dia membayangkan wanita itu yang berada dalam kungkungannya.
"Apa yang sudah kamu lakukan?" maki Vano pada dirinya sendiri. Sebenarnya dia juga tidak rela kesenangannya harus berakhir, apalah daya, dia tidak boleh menjadi laki-laki breng*** yang memanfaatkan wanita sedang dalam pengaruh obat.
Laki-laki dengan penampilan yang sudah acak-acakan itu membawa Fay ke dalam bathup yang sudah dipenuhi dengan air dingin sesuai permintaannya. Petugas sudah mempersiapkan sebelumnya karena Arlan terlebih dulu menghubungi mereka.
"Aaaaa ..., kamu mau kemana?" Fay mencekal tangan Vano yang hendak meninggalkannya.
"Kamu diam di sini!" sentak Vano dengan mata melebar penuh.
"Nggak, aku maunya sama kamu."
"Kau benar-benar merepotkan!"
Vano membiarkan tubuhnya basah kuyup, dia mengguyur Fay dengan shower. Air dingin di malam hari sungguh membuat tubuh menggigil hebat. Sepanjang malam Fay tidak membiarkannya tidur. Dia baru terlelap setelah dokter datang dan memberinya obat. Barulah Vano bisa terlelap.
Flash Back Off
Bersambung ....