Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Ingkar Janji



Derap langkah seseorang semakin mendekat, Yuri melihat wajah Fay ditekuk, suram, dengan bibur mengerucut.


"Fay, sudah pulang?" tegur Mama Yuri yang baru saja kembali dari taman. Namun, wanita itu tidak mengindahkan sang ibu.


Fay menerobos masuk ke dalam kamar, membuang tas dan buku ke sembarang arah. Dia melemparkan diri ke atas ranjang dengan pakaian lengkap dan sepatu masih menempel di tempatnya.


"Dasar ngeselin, bisanya cuma ngomong doang, tapi nggak pernah ditepati!" Fay memaki dan melampiaskan rasa kesalnya pada bantal guling yang tidak bergerak sedikit pun.


"Awas saja, aku juga bisa mengabaikanmu!"


Benda pipih miliknya dibiarkan terus bergetar, dia hanya melihat sekilas nama yang tertera di layar dan menutupnya dengan bantal kemudian menindihnya. Membuat Vano menunggu dan merasa bersalah.


Laki-laki itu tidak menyerah, justru semakin gencar mengirimkan pesan dan menelepon sang istri. Dia tidak memiliki pilihan lain, proyek pembangunan sedang ada masalah, terpaksa Vano harus turun tangan mengawasi anak buahnya menyelidiki kasus tersebut sebelum mencuat ke publik.


Gedung yang belum selesai di bangun, ruang bawah tanahnya mengalami kerusakan. Cor beton kokoh yang diharapkan dapat menampung beban hingga ribuan ton, nyatanya runtuh karena dua buah truk pengangkut pasir yang terparkir di atasnya.


"Sayang, please. Angkat, dong!" gumam Vano berkali-kali. Dia tidak bisa Fay mengacuhkannya, tetapi masalah proyek pembangunan stasiun bawah tanah juga tidak bisa dibiafkan begitu saja.


Tidak hanya itu, puluhan pesan juga dia kirimkan sebagai permintaan maafnya karena tidak pulang malam ini. Kemungkinan sampai lusa Vano baru akan kembali. "Aish, kenapa juga harus ada masalah di saat seperti ini?" gerutunya.


Ponsel yang terus berdering membuat Fay semakin kesal, dia memilih untuk menonaktifkan ponselnya dan tertidur dalam keadaan kesal. Rasanya hari ini dia begitu lelah padahal hanya ada dua mata kuliah. Biasanya dia mampu melewati empat mata kuliah dalam satu hari tanpa mengeluh, tetapi sejak pagi suasana hatinya sudah buruk. Membuat semangatnya menghilang.


Wanita itu terlelap dengan tanpa melepaskan atributnya dari kampus, ini bukan kebiasaannya yang suka rapi dan bersih. Namun rasa lelah membawanya mengarungi dunia mimpi hanya dalam sekejap.


Vano uring-uringan karena masalah pekerjaan yang tidak kunjung menemukan titik terang. Ditambah ponsel sang istri yang tidak dapat dihubungi. Telepon rumah tidak diangkat, apakah perlu menghubungi ke nomor ibu mertuanya? Sungguh tidak sopan, tetapi rasa bersalahnya kepada sang istri lebih besar dari pada memikirkan sopan atau tidak tindakannya itu.


"Ada apa, Nak? Tidak biasanya menelepon ke nomor ini," tanya Yuri saat pertama kali melihat nama yang tertera di layar, keningnya berkerut sangat dalam. Vano tidak pernah menghubunginya jika tidak ada hal yang benar-benar darurat.


"Emm ...." Vano menggigit bibir bawahnya, dia ragu-ragu untuk bertanya keadaan sang istri.


"Ada apa, hmm? Katakan saja."


"Apakah istriku sudah pulang?" ucap Vano kemudian.


Yuri mengulum senyum, ternyata hanya bertanya hal itu. Ah, menantunya ini memang paling perhatian. "Oo, aku kira ada hal penting apa? Dia sudah pulang dan langsung ke kamar," jelas Yuri dengan tatapan ke arah pintu kamar yang tertufup rapat.


"Baiklah, Ma. Terima kasih."


"Kenapa nggak telepon ke nomornya aja, kalian ada masalah?"


"Sudah berulang kali, tapi nggak dijawab, pesan juga nggak dibalas. Boro-boro dibalas, dilihat aja nggak," sahut Vano dalam hati. Namun dia tidak ingin membuat ibu mertuanya curiga dan menyalahkannya.


"Nggak, bukan seperti itu. Mungkin ponselnya kehabisan baterai, untuk itu saya tidak bisa menghubunginya," terang Vano.


"Baiklah." Panggilan sudah berakhir dan bisa bernapas lega karena Fay sudah sampai di rumah.


Dia harus tetap berpikir posistif seperti yang ibu mertuanya katakan. Mungkin saja Fay memang sedang banyak beban mengenai kuliahnya. "Biasanya juga nggak tahan lama-lama ngambek," batin Vano.


Vano sibuk memikirkan sang istri, padahal Fay sedang terlelap, berkelana di dunia mimpi tanpa mengingatnya sama sekali. Kasihan banget, sih.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Vano tentang sang istri, Arlan datang bersama kepala penanggung jawab proyek. Mereka berdua kini duduk saling berhadapan setelah dipersilakan masuk. Suasana ruangan begitu hening dan menyeramkan, terlebih suasana hati Vano yang sedang mendung.


"Tuan, dia adalah manager keuangan yang bertanggungjawab atas proyek pembangunan metro," tutur Arlan.


"Hmm."


"Saya minta kamu menganalisis penyebabnya, bukan membawa orang nggak penting ke sini," sembur Vano dengan tatapan menusuk.


"Dia adalah kunci, bukan orang yang tidak penting." Arlan mendengus. Dia tahu Vano dalam suasana hati yang tidak bagus, tetapi harus fokus pada pekerjaan yang menundanya. Semakin dia menunda, semakin lama juga masalah akan selesai.


"Katakan, apa yang kamu ketahui."


Vano memperhatikan dengan saksama, semua penjelasan laki-laki berkacamata tebal yang sedang menerangkan aliran dana yang melalui persetujuannya. Namun, dia hanya menyetujui proposal yang masuk sesuai data yang tertulih pada prososal tersebut.


"Saya bersumpah, setelah saya cek, harga bahan baku dan kualitas memang sesuai dengan laporan yang ada di laporan tersebut," terangnya.


"Kalau kamu sudah menyelelidikinya, kenapa bisa sampai terjadi hal ini?" sentak Vano dengan rahang mengeras. Membuat sang manager ketakutan.


"Mohon maaf, Tuan. Saya keberatan jika hanya saya yang diperiksa. Saya tahu pemikiran Anda, tetapi saya tidak akan pernah berani memanipulasi laporan keuangan untuk keuntungan pribadi. Kelangsungan saya di HS Group lebih berharga," imbuh laki-laki itu.


Vano bungkam, dia memang tidak boleh sepenuhnya menyalahkan bagian keuangan. Bisa saja mereka semua bekerjasama untuk membohonginya. Vano sangat teliti dan paling benci dibohongi. Tentu saja Vano tidak akan menginterogasi seseorang tanpa bukti dan alasan.


Laporan yang diterimanya memang ada yang tidak beres. Entah siapa yang berniat mencelakainya melalui orang-orang yang terlibat langsung dalam proyek tersebut. Dana yang dihelontorkan tidak sedikit, pantas saja mereka lebih tertarik untuk menipunya.


"Kau boleh pergi! Lan, saya ada hal penting yang harus kita bicarakan."


Benar juga, masalah ini tidak boleh dianggap remeh, meski tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi kerugian yang harus ditanggung bukanlah jumlah yang sedikit. Apalagi jika berita ini sampai tersebar luas, pasti kepercayaan konsumen akan menurun dan beralih ke sarana lain.


"Coba katakan sekali lagi, siapa yang memberimu laporan ini?" tanya Vano penuh selidik. Kedua tangannya bersedekap, memutar kembali ingatannya pada detik-detik proyek pembangunan tersebut ambruk.


"Jangan bilang ...." Arlan menjentikkan jari, dia akhirnya mengerti dan tanggap membaca situasi.


"Ya, seperti yang kau pikirkan. Kita harus mulai dari sana." Vano mencetuskan ide untuk mengubah strategi penyelidikan. Mereka harus menyusun banyak cara dengan berbagai kemungkinan.


Bersambung ....