Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Lelang



"Sudah ada pergerakan?" ujar Vano menyimpan telepon genggamnya ke dalam saku celana.


"Sesuai dugaan. Menurut informasi yang saya dapatkan, Tuan Muda Brahmana mengincar tanah Blok C yang merupakan tempat terluas," jelas Arlan. Dia memperlihatkan ipad yang menunjukkan peta tanah pelelangan..


"Hmm ..., dengan begitu, tidak akan lagi orang yang akan berebut denganku." Vano menganggukkan kepalanya, melihat dengan seksama peta tersebut. Lahan kecil di sekitar Blok E yang menjadi target, jika digabungkan akan membentuk sebuah jalur paralel yang mengelilingi tanah tersebut. Pemilik tanah Blok E tidak akan memiliki akses masuk jika seluruh tanah kecil di sekeliling menjadi miliknya.


Mereka sedang dalam perjalanan ke sebuah acara lelang, di sana ada sebidang tanah yang menjadi incarannya sejak lama. Lahan itu dibagi menjadi beberapa bagian, dan dengan harga yang tidak sama. Saat ini tempat itu hanyalah lahan kosong yang dibiarkan ditumbuhi tanaman liar, semak belukar dan tempat pembuangan sampah yang kumuh. Tidak terlalu luas, paling tidak bernilai dibanding dengan tanah di sisi yang lain.


Namun, dengan tanah tersebut, dia berencana mengembangkan real estate menjadi pusat keramaian. Tanah tidak berharga tersebut nantinya akan menjadi tempat yang paling strategis dalam beberapa tahun kedepan.


Suasana di dalam mobil kembali hening, Vano teringat tentang wanita yang telah menjadi istrinya. Dia kembali memantau wanita itu dari CCTV mansion yang terhubung langsung ke telepon pintar miliknya.


"Dia lagi ngapain, ya?" Di sana, Fay terlihat sedang menikmati jus alpukat di tepi kolam dengan kaki di rendam. "Jadilah penurut, ini semua demi kebaikanmu," lirih Vano dengan kedua sudut bibir berkerut.


Rasanya Vano selalu ingin segera kembali ke mansion dan membuat Fay kesal seperti sebelumnya. Melihat Fay marah adalah hobi barunya. Dia selalu menyelesaikan pekerjaannya di waktu yang singkat. Tidak lagi seperti dulu sebelum menikah, Vano akan berlama-lama di kantor, terkadang ia menginap di kamar pribadinya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Sepertinya tingkat kewarasan orang ini semakin menurun semenjak menikah. Semoga saja lenyakit gila kerjanya tidak akan kambuh lagi," batin Arlan.


"Ehm, kita sudah sampai, Tuan." Arlan memberi jalan untuk Vano.


"Ya, saya sudah tahu," sahut Vano datar. Dia merapikan pakaiannya, memasang kacamata hitam dan mengaitkannya di hidung mancungnya. Tangan kanan Vano dimasukkan ke dalam saku celana, dia berjalan diikuti oleh Arlan dan dua orang lain di belakangnya.


Kedatangan pria bertubuh tinggi tegap dengan bulu halus yang tercukur rapi itu menyita begitu banyak pasang mata para peserta lelang yang hadir. Terutama bagi kaum hawa, penampilan Vano benar-benar membuat mereka meneteskan air liur.


Bagaikan adegan slow motion yang ada di film-film, ada yang pura-pura terjatuh di depan Vano, ada sibuk merapikan riasan wajah demi mencuri perhatian CEO tampan itu, ada juga yang menatapnya tanpa berkedip dengan mulut terbuka lebar. Hik, awas ada lalat masuk.


"Ya ampun, sudah punya istri masih saja genit, jalan pakai dilambatin segala. Udaha kayak model di karpet merah aja," maki Arlan dalam hati.


Vano berjalan lurus ke depan, seolah tidak melihat kejadian apa pun. Dia benar-benar tidak peduli dengan wanita-wanita itu, tetapi kehadirannya tidak dapat dielakkan lagi dari wanita yang mengelilinginnya.


"Nggak rugi aku datang ke sini, bisa lihat langsung Tuan Melviano, ternyata dia lebih tampan ribuan kali dibanding dengan fotonya," celetuk wanita berbaju merah.


"Ya, aku sengaja dandan maksimal karena mendengar dia juga akan datang," ucap wanita berbaju minim di sebelahnya.


"Sama, aku juga maksa ikut sama bos biar lihat dia secara langsung. Aaaa ..., pangeran di dunia nyata." ujar yang lain.


"Heh, sadar diri. Kalau dia pangeran mana mau sama upik abu kayak kamu!" ketus wanita berbaju merah.


"Dia milikku!" baju hitam tak mau kalah.


Para wanita itu sibuk memperebutkan Vano, sementara laki-laki yang mereka rebutkan sudah pergi entah kemana.


Namun, Vano menolak saat dirinya akan ditempatkan di meja VVIP paling depan. Kehadirannya pasti sangat mudah dikenali oleh rivalnya.


"Saya sudah pesan tempat khusus," ujar Arlan pada petuga itu.


"Ini tempat khusus untuk tamu terhormat, Tuan."


"Panggil atasanmu!" Vano menaikkan kacamantanya, dia menatap petugas itu sampai tubuhnya bergetar.


Siapa sebenarnya mereka? Mengapa aku merasa tidak berdaya hanya dengan melihat sorot matanya?


"Maafkan atas ketidaktahuan bawahan saya, Tuan. Silakan ikuti saya," ucap manager tempat lelang setelah mendapat laporan dari petugas lain. Aralan mengangguk setelah mendapat persetujuan Vano.


Mereka berada di ruangan khusus di lantai dua yang mirip seperti balkon kamar. Vano bisa leluasa melihat ke bawah, deretan tamu lelang yang hadir, tetapi mereka tidak dapat mengetahui keberadaan Vano dan orang-orangnya.


"Tuan, mohon maaf sekali. Ruangan ini sudah ada yang menempati," tegur manager yang hendak kembali setelah mengantar Vano dan bawahannya.


"Apa lo bilang? Gue yang udah booking tempat ini duluan. Atas dasar apa orang lain yang menempatinya?" seru Bryan, dia memaksa masuk ke ruangan yang Vano tempati.


"Maafkan saya, Tuan. Beliau datang lebih awal," jelas manager tersebut.


"Gue nggak mau tahu, kalian nggak tahu siapa gue, hah?" sentak Bryan, tidak terima saat penjaga menghadangnya.


"Sekali lagi saya mohon maaf, Tuan. Sesuai peraturan, yang datang lebih awal maka berhak menempati ruangan tersebut."


"Tuan, jangan membuat keributan di sini. Kita datang untuk mendapatkan lahan, tempat duduk sepertinya tidak terlalu penting," bujuk lelaki yang memiliki tatanan rambut rapi di belakangnya. Dia adalah Hutomo--sekretaris pribadinya.


"Bagi gue itu penting, Tomo."


Melihat sekeliling, Bryan yang sangat berambisi itu sudah menjadi pusat perhatian. Kali ini dia akan mengalah, asalkan tujuannya tercapai, semua ini tidak akan berarti apa-apa.


Lelang segera dimulai, ruangan lantai dua dibagi menjadi beberapa tempat. Namun, ruangan yang Vano tempati adalah tempat yang paling strategis. Menghadap langsung ke stan, dimana dimulainya acara tersebut.


"Bailkah, selamat malam para hadirin. Tamu lelang yang terhormat, kita akan memulai acara pada hari ini ...." Seorang wanita cantik berpakaian menawan itu menyampaikan susunan kalimatnya di hadapan para hadirin.


Riko sangat antusias, dengan penuh percaya diri dia duduk di baris paling depan. Dia sudah berhasil membujuk Vano untuk memberinya uang. Sehingga pada hari ini dia bisa mengikuti acara lelang. Dalam hatinya bersorak, dia pasti akan mendapatakan proyek besar jika saja bisa mendapatkan tanah yang strategis.


"Untuk tanah Blok A, dimulai dengan harga $500," papar wanita bergaun biru terang tersebut.


Bersambung ....