Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
I'm Sorry



"Sshh ...." Vano mendesis menyandarkan bahunya perlahan pada sandaran kursi mobil. Luka luarnya memang sudah sembuh tetapi masih terasa nyeri jika tersentuh. Apalagi tepukan Daddy Henry yang sengaja dilakukan karena Vano tidak menuruti perkataannya.


"Masih sakit?" Arlan melihat raut kesakitan di wajah Vano melalui kaca tengah mobil yang tergantung.


"Masih bertanya, kau ingin merasakannya?" Vano mendengkus, perhatiannya tertuju pada jalanan yang dilaluinya. Sudah dua bulan dia tidak melewati jalanan ini.


"Ish, pendendam!" gumam Arlan pelan, sangat pelan sehingga hanya dirinya yang bisa mendengarnya.


Vano tidak peduli, yang dia pikirkan hanya ingin segera sampai di mansion dan bertemu istrinya. Apalagi ada malaikat kecil yang tengah tumbuh di rahim sang istri. Ah, Vano sangat tidak sabar menantikannya.


Saat dinyatakan kritis, dia bermimpi bertemu Fay menggendong anak kecil. Anak itu terus menangis dan memanggil namanya. Namun tidak berselang lama, Vano mendengar kabar kehamilan sang istri.


Vano ingin saat itu juga membuka mata dan memeluk Fay, tetapi dia masih harus terbaring dan seolah-olah tidak mengetahuinya. Sungguh menyesakkan, berpura-pura tidak tahu padahal mengetahui kebenarannya. Yang dia lakukan hanya menitikkan air mata setiap kali Fay berkunjung. Dan itu berulang selama satu bulan lamanya.


Lebih menyakitkan lagi saat dirinya harus terbang jauh, serpihan tulang yang patah jarus segera diobati. Vano harus kembali menahan rindu dan pergi jauh tanpa kehadiran sang istri.


Aku akan menebus waktu yang telah membuat jarak diantara kita.


Di sana, Vano hanya bisa menghibungu Fay dengan identitas dokter yang merawatnya, itu pun terbatas waktunya. Selain itu, Fay selalu bersikap dingin seolah tidak peduli dengan keadaannya.


"Lan, bisa cepat sedikit nggak, sih?" gerutu Vano, waktu terasa sangat lambat, dia sangat tidak sabar untuk bertemu Fay.


"Hmm."


Kau tahu ini batas maksimal kecepatan aman, aku nggak mau ambil resiko lagi. Seperti dirimu yang gegabah waktu itu.


Pintu gerbang terbuka otomatis, penjaga sudah tahu dari kamera CCTV yang dipasang bahwa mobil yang dikendarai Arlan memasuki pekarangan mansion mewah tersebut.


Rasanya sangat menyenangkan bisa kembali ke mansion ini lagi. Vano sangat merindukan tempat ini, terutama penghuninya yang juga telah memenuhi seluruh ruang di hatinya.


"Tuan, Anda ...." Mbak Rum membulatkan matanya lebar-lebar saat mengetahui Vano sudah berdiri di hadapannya.


"Ssttt, di mana istriku?" Vano mengisyaratkan tangannya agar Mbak Rum mengecilkan suaranya, dia celingukan mencari sosok yang paling dia rindukan.


"Sepertinya masih ada di taman belakang, Tuan. Perlu saya sampaikan berita baik ini?" tanya Mbak Rum dengan wajah bersemangat.


"Tidak perlu, saya yang akan memberikan kejutan untuknya." Vano mengambil sebucket bunga dari tangan Arlan yang sempat dibelinya dalam perjalanan pulang. Bagaimana reaksi Fay saat melihatnya pertama kali?


Laki-laki itu melenggang ke taman di belakang mansion, di sana terdapat satu paviliun yang dikelilingi berbagai macam warna bunga mawar kesukaan Fay. Tempat ternyaman Fay untuk menghabiskan waktu semenjak Vano mengalami kecelakaan.


Benar yang dikatakan Mbak Rum, wanita itu tengah duduk, merenung seorang diri dengan tatapan kosong. Wajahnya semakin tirus, terlebih Fay mengalami morning sickness yang parah selama satu bulan terakhir. Makanan yang masuk akan ditolak mentah-mentah oleh lambungnya, hanya makanan tertentu saja yang dia inginkan, baru dapat dicerna.


"Hal apa yang membuatmu terlihat begitu menyedihkan saat aku tidak ada di sisimu?" batin Vano dengan perasaan tak menentu.


Hatinya begitu hancur saat melihat penampilan Fay, apakah benar karena alasan kehamilan seperti yang dikatakan Mami Adel? Atau karena dirinya? "Ah, sungguh berdosa kamu Vano, sudah menhiksa istri dan calon bayimu sampai menderita seperti sekarang ini," lirih Vano.


Fay tidak menyadari kehadiran seseorang yang telah dberdiri di belakangnya. Namun indera penciumannya telah mengendus aroma yang tak asing baginya. Wangi tubuh sang suami yang membuatnya candu.


"Apakah aku terlalu merindukanmu?" gumam Fay pelan, tetapi masih terdengar oleh Vano.


"Seandainya kamu benaran ada di sini," desah Fay, dia terisak dengan punggung bergetar. Benar kata Dilan, "Rindu itu berat", tetapi lebih berat lagi adalah menjaga Amanah.


Kedua tangannya menutupi wajah seiring tangisannya yang begitu memilukan. Fay tidak dapat membayangkan akan melalui semua ini tanpa kehadiran seorang suami.


"I'm sorry." Vano tidak tahan lagi, air mata Fay menjadi sebuah hantaman keras baginya. Vano melingkarkan tangannya dari samping.


Fay merasa mimpi yang begitu nyata, tetapi dia tidak ingin terlalu berharap jika nantinya hanya akan berakhir kekecewaan. Dia semakin terisak, saat pelukan Vano terasa begitu hangat dan nyata. Inilah yang dia inginkan.


"Maaf telah membuatmu bersedih, aku pasti akan membuat mereka membayar semua air mata yang keluar dari matamu," ungkap Vano.


Fay mendongakkan wajah, napasnya semakin memburu, tatapannya berkabut, dipenuhi oleh genangan air mata. "Aku harap mimpi ini nggak pernah berakhir," lirih Fay, menyentuh wajah Vano. Hangat dan nyata, bahkan laki-laki itu tersenyum simpul padanya.


"Ini bukan mimpi, aku sudah kembali," ucap Vano seraya membersihkan jejak air mata di wajah sang istri. "Kau tidak sedang bermimpi," ulangnya.


Fay mengerjap, disentuhnya wajah Vano, kemudian mencubit kulit wajahnya. Ini benar-benar terjadi, bukan mimpi. Namun Fay beringsut mundur, diperiksanya sang suami dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada luka atau bekas luka di sekujur tubuhnya.


"Kau kembali, mengapa baru sekarang?" Fay meninju dada Vano pelan, tetapi hal itu membuat Vano meringis.


"Aww," pekiknya.


"Apakah sakit? Di mana yang sakit? Biar aku panggilkan dokter untukmu," cecar Fay.


"Di sini yang sakit," tunjuk Vano pada dada yang ditinju sang istri.


"Benarkah? Biar kulihat." Wanita itu terlihat panik, apakah dia membuat luka Vano terbuka, atau benar-benar ada luka serius?


"Sayang, aku sakit. Kau tidak mempercayai kehadiranku," ucap Vano dengan wajah memelas.


"Kau mempermainkanku? Aku pasti sudah berlebihan karena mempercayai ucapanmu." Rasa iba berubah dalam sesaat, Fay kesal karena Vano mengerjainya. "Sudah puas, hah?" sentak Fay memukul bahu Vano. Kali ini benar-benar sakit, terasa nyeri.


"Aw, sakit."


"Jangan membohongiku lagi, aku nggak akan tertipu untuk kedua kalinya dengan trik yang sama," ketus Fay. Namun setelah beberapa saat, Vano masih meringis, keningnya berkerut dan berkeringat.


"Apakah benaran sakit?" Fay melunak, dielusnya bahu yang sebelumnya dia pukul. Vano hanya mendesis, tetapi matanya tidak melepas raut khawatir di wajah istrinya.


"Nggak papa, hanya sedikit. Nanti juga sembuh," hibur Vano.


"Makanya jangan suka mempermainkan orang, kena sendiri akibatnya, kan?" omela Fay.


"Duduklah!" Vano meraih tangan Fay dan memintanya duduk kembali di sampingnya. Dia menyerahkan bucket bunga mawar yang dibawa sebelumnya.


"Untukku?" tanya Fay. Vano menjawabnya dengan anggukan, senyum tak memudar dari wajahnya.


Ditatapnya wajah wanita yang sudah sangat dia rindukan, meski sedikit pucat, di mata Vano dia masih terlihat cantik.


Bersambung ....