
"Aaa...." Fay menjerit sambil menutup wajah saat lampu mobil menyilaukan mata datang dengan kecepatan penuh.
Mobil tidak berkecepatan tinggi itu tidak dapat dikendalikan lagi, pengemudi mobil membuka kaca jendela dan meneriaki orang-orang suapaya menghindar. "Minggir..., cepat minggir. Remnya blong!" Pengemudi tersebut juga panik apalagi melihat seseorang berlari ke arah jalanan.
"Fay, cepat menghindar!" teriak Riko.
Laki-laki berusia paruh baya itu segera berlari sesaat setelah mendengar Fay menjerit. Namun langkahnya tidak kalah cepat dari laju mobil itu.
"Apa kamu sudah gila, hah?" sentak seseorang yang menarik tangan Fay. "Kamu kalau tidak becus mengemudi sebaiknya tidak usah menyetir." Pengemudi mobil itu tidak lupuk dari amarah Vano.
Tubuh Fay bergetar dengan mata terpejam, jantungnya terus menghentak dengan kecepatan tinggi. "Apa aku sudah mati?" lirih gadis itu. Perlahan indera penciuamannya mengendus aroma menenangkan yang dikenalnya.
"Lan, kamu urus orang itu. Jangan biarkan dia pergi!" Arlan mengiyakan dengan anggukan kepala. Mobil itu baru berhenti setelah menabrak trotoar, beruntung tidak ada korban karena saat itu hanya laki-laki itu yang ada di dalam mobil.
"Hei, apa kamu kucing?" Gadis itu membuka mata dan segera mendorong Vano--orang yang menyelamatkan nyawanya.
"Tuan, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Fay. "Oh, aku tahu sekarang. Tuan pasti sengaja memanfaatkan keadaan seperti waktu itu, ayo ngaku!"
"Seharusnya saya yang bertanya, kamu bukan anak kecil lagi. Untuk apa main lari-larian di jalan raya?" ucap Vano kesal. Bukan berterima kasih sudah diselamatkan nyawanya, tetapi malah mengatainya.
"Enggak usah ngelak, kamu pasti sengaja, kan?"
"Fay, kamu enggak papa? Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya." Kedatangan Riko mengakhiri perdebatan keduanya. Namun, ia tercengang melihat siapa laki-laki yang menyelamatkan putrinya.
"Tuan Melviano," ujar Riko dengan suara kecil.
Vano lebih baik tidak memberitahu mereka kalau sebenarnya ia sudah mengetahui hubungan keduanya. "Kalian saling mengenal?" Vano tidak menjawab, ia ikut bertanya melihat reaksi Riko.
"Dia Fay--putri saya," jawab Riko. "Tuan mengenal putri saya?"
"Siapa putrimu? Sekarang masih ingat bahwa Anda memiliki putri yang lain? Selama ini Anda dimana?" Fay tidak terima, ia masih marah dan belum bisa memaafkan Riko.
"Papa sudah minta maaf, kita mulai semuanya dari awal," bujuk Riko. Namun Fay masih saja tidak mengindahkan kata-katanya. Sebaliknya, Fay menepis tangan Riko yang hendak terulur padanya. "Bukankah kamu datang ke rumah karena sudah memaafkan Papa?"
"Haha..., Anda pikir dengan minta maaf semuanya akan selesai dan kembali seperti dulu lagi? Enggak, Anda sudah menyakiti kami," sentak Fay. Ia sudah tidak tahan lagi untuk meluapkan semua kekesalannya. Sedangkan Vano, ia memilih diam dan menontton drama anak dan ayah yang saling bersitegang.
"Lalu, apa yang harus Papa lakukan agar kalian memaafkan Papa?" ujar Riko dengan wajah sendu.
"Sebaiknya Anda tidak usah datang lagi dalam kehidupan kami, dan saya merendahkan diri datang ke sana semata hanya ingin Anda menjalankan kewajiban terakhir Anda. Menikahkan aku dengan laki-laki yang akan menggantikanmu untuk menjagaku dan Mama. Selamanya."
Tangan Fay merengkuh lengan Vano dan membelitnya, Vano bisa merasakan tangan Fay berkeringat dan bergetar. Dia tahu, Fay hanya berpura-pura kuat. Jemarinya saling bertaut, memberi kehangatan dan kenyamanan untuk Fay.
Riko membulatkan matanya, apa dia tidak salah dengar? Kewajiban terakhir? Menikah? Bukan hanya Riko, Vano juga tidak menyangka Fay akan mengatakan hal itu dengan tegas. Meski tahu bahwa Fay hanya memanfaatkan dirinya, tetapi perasaannya menghangat mendengarnya.
"Maksudnya kamu akan menikah?"
"Ya."
"Tuan Melviano ini calon suami kamu?" tanya Riko sekali lagi.
"Apakah perlu aku mengulangnya sekali lagi? Baiklah, dia Melviano--calon suami Fadila Atsya Yuuna--dan kami akan segera me-ni-kah. Sekarang sudah jelas?"
"Baiklah, bagaimana kalau kita bicara di dalam saja, Tuan Riko? Ah, maksud saya calon ayah mertua." Vano membuka suara ia hanya ingin memecahkan ketegangan diantara mereka. Terlebih tidak ingin privasinya terganggu dan menjadi konsumsi publik karena sikap mereka yang mudah mengundang banyak pasang mata.
"Iya, kita bicarakan di dalam saja. Bagaimana, Fay?" Riko setuju dengan pendapat Vano. Mungkinkah ini anugerah Tuhan untuknya? Jika Fay benar-benar menikah dengan Vano, semua usahanya tidak perlu dicemaskan. Semua pasti akan berjalan sesuai rencana bahkan lebih.
Awalnya Fay keberatan, tetapi Vano berhasil membujuknya. Terlebih soal wali nikah, mau tidak mau Fay harus mengikuti dua laki-laki itu masuk ke restoran. Lama tidak datang, ternyata di dalamnya sudah banyak yang berubah.
"Silakan, silakan. Semoga Nak Vano merasa nyaman."
Ck, Nak Vano. Sok akrab, aku tahu kamu hanya memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentinganmu sendiri. Aku juga yakin kalau kamu hanya tertarik dengan kekayaannya.
Fay mememutar bola matanya, Riko sangat pandai menjilat. Sikapnya sangat berbeda pada Vano.
"Kenapa enggak pernah bilang sama Papa kalau kamu sudah punya pacar, Fay? Kalau tahu lebih awal Papa bisa mengadakan pesta pertunangan dulu seperti Farah."
"Kami tidak berpacaran," sanggah Vano. Memang itulah kenyataannya.
"Ah, kalian sudah mau menikah masih saja malu-malu mengakuinya." Riko terkekeh melihat keduanya yang terlihat canggung. "Jadi, kapan kalian akan menikah?"
"Minggu depan," sahut Vano mantap.
"Uhuk..., uhuk...." Riko tersedak minuman yang sedang ditenggaknya. "Kalian sudah lama saling mengenal?"
"Belum," jawab Fay singkat.
"Berapa lama?"
"Dua minggu?" kali ini Vano yang menjawabnya.
"Apa kalian tidak ingim mengenal lebih dalam satu sama lain terlebih dahulu? Kita bisa mulai perlahan, tunangan dulu...."
"Mengenal apanya? Bahkan kami sudah melakukan lebih daripada itu," ucap Fay dalam hati. Namun ia tidak mungkin mengatakan bahwa peetemuan mereka karena sebuah kesalahan yang tidak disengaja.
"Tidak perlu, kami bisa melakukannya setelah menikah. Benarkan, Sayang?"
Apa dia bilang? Aku pasti salah dengar, tidak mungkin orang menyebalkan sepertinya mengucapkannya, atau mulutnya kesleo karena dia sering mengatakannya pada banyak wanita?
"Sayang, kau tidak setuju?" panggil Vano sekali lagi.
"Hah?"
Dia benar-benar sudah tidak waras.
"I... iya."
Vano berhasil meyakinkan Riko, Fay dibuat kagum akan hal itu. Dia sangat pandai bernegosiasi, pantas saja ia bisa menjadi CEO HS Group diusianya yang masih muda. Namun, Fay harus kembali kecewa jika mengingat pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan. Baik Vano maupun Fay, mereka memiliki tujuan masing-masing.
Bersambung....