
Sementara itu, Henry sedang dalam perjalanan menuju ke kantor HS Group. Baru saja kondisi perusahaan pulih setelah beberapa waktu lalu terkena imbas skandal yang menyeret nama Vano. Dia terpaksa kembali ke Jakarta setelah mendengar berita itu, tidak menyangka Vano akan bernasib buruk dalam kecelakaan yang dialaminya.
"Sebarkan berita tentang kecelakaan putraku, katakan bahwa sekarang dia dalam keadaan koma," perintah Henry kepada seseorang di seberang sana.
Dia tahu bahwa cepat atau lambat berita itu akan tersebar, maka Henry akan membantu mereka mendapatkan informasi lebih cepat. "Heh, kalian pasti sudah tidak sabar untuk mendengar berita ini, bukan?" Henry menyeringai, setidaknya itulah yang mereka harapkan.
"Kau memintaku kembali hanya masalah sekecil ini?" Arga mencebik, dia sedang menikmati liburan bersama sang istri saat Henry mendesaknya kembali. Arga dan Wulan sudah merencanakan liburan kali ini, sekalian mengunjungi Ara yang tengah menimba ilmu di Negeri Paman Sam.
Cetak! Sentilan Henry membuat Arga mendesis. Dia memutar bola matanya, Arlan pasti bisa mengatasinya, mengapa harus mereka yang turun tangan?
"Kau harus bermain dipanggung yang sama, drama ini tidak akan seru kalau tidak ada pemeran pendukung," kesal Henry.
"Terserah kau saja, sudah setua ini masih saja menyukai keningku," dengus Arga, mengusap keningnya yang menjadi sasaran Henry.
"Kau yang tua, aku masih muda." Henry tidak terima dikatai tua, menurutnya dia masih muda meski sebentar lagi akan menjadi seorang kakek.
"Ck, dasar kakek-kakek nggak tahu diri," balas Arga.
"Argaa ..., lebih baik aku mengirimmu ke antartika sekalian."
"Ya, itu lebih baik, di sana nggak akan ada yang mengganggu ketenanganku."
"Kalau nyertir fokus ke depan, nggak usah curi-curi pandang, mau gajimu nggak dibayar?" sentak Henry pada lelaki paruh baya yang duduk di kursi kemudi.
Dua orang di belakangnya ini memang sudah tidak muda lagi, tetapi sikap mereka kekanakan hanya karena masalah sepele, batin sang sopir.
Saat ini posisi tertinggi di HS Group kosong, terlebih lagi periode jabatan Vano akan segera berakhir. Hal itu membuat guncangan yang cukup besar, beberapa pemilik saham mendesak untuk pemilihan CEO sementara sebelum Vano kembali. Mereka melupakan keberadaan Henry--pemegang posisi nomor satu sebelumnya--yang masih memiliki sebagian saham di sana. Meski tidak sebesar di tangan Vano.
"Perusahaan tidak bisa seperti ini terus, ada ribuan karyawan yang bergantung hidup dengan HS Group," celetuk seorang laki-laki berkepala botak. Dia adalah pemilik sepuluh persen saham HS Group.
"Benar, harus ada yang menggantikannya untuk sementara waktu," imbuh orang yang duduk di sebelahnya.
Arlan terlihat kuwalahan menangani mereka. Bagaimanapun, posisinya hanya sekretaris direktur, dia tidak memiliki kewenangan untuk memutuskan. Dia baru mendampingi Vano selama satu tahun, sebelumnya Arga-lah yang membimbing Vano hingga akhirnya memilih mundur dan digantikan olehnya.
"Kita tidak bisa berdiam diri, jangan biarkan kami menunggu sesuatu yang tidak pasti."
"Apakah kalian memiliki kandidat yang tepat?" ucap Henry tegas.
Semua peserta rapat tertuju padanya yang tiba-tiba hadir dalam rapat ini. Mereka semua bungkam melihat sosok yang berjalan semakin memdekat. Bukankah dia ada di London? Sejak kapan mantan penguasa itu kembali?
"Ada, pemegang saham terbesar kedua," usul pria berjas biru.
Henry berjalan mendekat, dia menempati kursi yang sudah lama ditinggalkannya untuk Vano.
"Kau tidak akan menghalanginya, bukan?" Ferdi yang duduk di sudut sana mulai bicara. Sejak awal dia hanya diam dan membiarkan yang lain berbicara, kini gilirannya angkat suara.
"Tidak, hal ini kalian yang putuskan. Saya hanya datang mewakili Melviano, putraku. Seperti yang kalian semua ketahui, sekarang ini dia dalam keadaan vegetatif. Kedepannya mungkin saya tidak akan mengurusi masalah perusahaan, melinkan fokus pada kesembuhan putra saya."
Henry mengela napas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. Dia terlihat sangat tidak bersemangat setiap kali mengingat keadaan Vano yang bisa saja meninggalkannya sewaktu-waktu. "Kemungkinan besar, saya akan membawanya berobat ke luar negeri dan entah kapan akan kembali. Jadi, saya sangat berterima kasih kalau ada orang yang bersedia menggantikannya."
"Kau tenang saja, semuanya akan berjalan dengan baik di bawah pimpinanku," ucap Ferdi menyombongkan diri. Akhirnya dia bisa duduk di kursi CEO, setelah perjuangan yang panjang.
"Ya. Begitu lebih baik."
"Benar, kami tidak setuju!" Mereka lebih menginginkan Henry yang menggantikan Vano atau pun Arlan. Asalkan jangan Ferdi. Perusahaan pasti akan dalam keadaan kacau berada di tangan orang yang tidak berpengalaman.
"Saya setuju." Satu kalimat Henry yang membungkam semua orang. "Yang tidak setuju boleh meninggalkan tempat ini," lanjutnya.
Di rumah sakit, Adel mengguncang tubuh menantunya yang sedang menangis, tetapi dengan mata terpejam.
"Dokter ..., selamatkan dia!" teriak Fay.
"Kau sudah bangun, Nak." Bulan sabit terbit, membingkai wajah Adel.
Fay terlihat linglung, kedua netranya memindai seisi ruangan, dia masih berada di ruangan Vano. Laki-laki itu masih berada di atas ranjang tanpa bergerak atau bergeser sedikit pun.
"Mam," panggil Fay sekali lagi.
"Kita bicara di luar, oke."
Fay mengangguk, dia membiarkan Mami Adel membimbingnya keluar. Di koridor sangat sepi, hanya ada mereka berdua dan dua orang pengawal yang berjaga. Daddy Henry sudah pergi entah ke mana.
Adel terpaksa masuk, merasa cemas dengan kondisi Fay yang sudah lama berada di ruangan Vano. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk kepada menantunya itu. Tanpa diduga Adel justru mendapati kenyataan lain.
Fay terlelap bertumpu tangan yang dilipat dengan kepala miring, satu tangan yang lain tidak melepaskan tangan Vano yang masih tertancap jarum infus. Wanita itu mengigau, dia terus memanggil nama Vano dengan mata terpejam. Mungkin saja Fay terlalu lelah dan merindukan suaminya itu sehingga memimpikan Vano.
"Kau mimpi buruk, hmm?" tanya Mami Adel lembut.
Benarkah ini hanya mimpi? Jadi, Vano masih hidup?
"Mam, apa sebelumnya aku berteriak?" Bukan menjawab pertanyaan Mami Adel, Fay justru balik bertanya.
"Iya. Mami takut terjadi sesuatu, ternyata hanya mengigau. Kau pasti sangat merindukan dia, kan?" Mami Adel menatap menantunya cukup lama.
"Mami pasti sudah mengetahui jawabannya, bukan?" Fay mendesah lega, setidaknya Vano tidak benar-benar meninggalkannya. Namun keadaan Vano juga membuatnya terpuruk. "Dia tidak masih mengabaikanku, Mam." Matanya berkaca-kaca, siap menumpahkan genangan bening di kedua sudut mata.
Syukurlah kalau dia tidak bangun, berarti semua yang aku alami memang hanya mimpi belaka.
Rasa rindu membuatnya begitu takut kehilangan, bahkan terbawa sampai ke alam bawah sadarnya. Fay memeluk Mami Adel dari samping dan dibalas pelukan yang sama. Dia merasakan kehangatan seorang ibu, sama seperti memeluk Mama Yuri.
"Mami tahu kamu sudah tidak sabar menunggunya bangun, tetapi anak itu masih belum lelah tertidur. Kamu mimpi apa tentangnya?"
Benar saja, Vano masih dalam keadaan koma. Sejak operasi yang dijalananinya, dia sama sekali belum pernah terbagun, entah kapan keajaiban akan datang dan membuatnya segera terbangun dari tidur panjangnya.
Fay lebih baik menyimpan mimpi itu untuk dirinya sendiri, dia tidak ingin Mami Adel cemas, apalagi kakau sampai mimpi itu benar-benar terjadi.
"Nggak, Mam. Aku merindukan kejahilannya, itu saja."
"Baiklah. Kita berdoa saja, semoga tidak akan lama lagi dia bisa terbangun," ujar Mami Adel menggenggam tangan menantunya.
Eits, thor mau dong dibayar pakai vote, hadiah juga boleh, komen plus like juga mau banget. Salam hangat, jangan lupa jaga kesehatan readers terlope.
Bersambung ....