Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Jatuh Dalam Jebakan



Pandangan Fay semakin berkabut, samar-samar mendengar Vano berlari ke arahnya dan melampiskan amarahnya pada laki-laki yang mengungkungnya. Tubuhnya terasa lemas dan tidak berdaya setelah wanita bertopeng memaksanya meminum sebotol air mineral.


Sekuat tenaga Fay melawan, tetapi kondisinya masih belum pulih benar. Dia masuk dalam jebakan wanita itu dan laki-laki yang hendak menodainya.


"Kali ini kamu nggak akan bisa lolos lagi!" Dia mencengkeram dagu Fay dengn kekuatan penuh. "Percuma saja kamu melawan, lebih baik nikmati pertunjukan yang aku siapkan," lanjutnya.


Sial, kenapa aku bisa jatuh dalam jebakan mereka? batin Fay.


Kepalan tangan Vano tak henti menerjang wajah laki-laki itu. Dia tidak lain adalah paman keduanya. Laki-laki tidak berguna yang pekerjaannya berfoya-foya dan berbuat onar.


"Saya sudah memperingatimu, tetapi kamu masih juga tidak menyerah."


"Haha ..., kamu tidak bisa menyalahkan aku, dia sendiri yang datang ke sini dan naik ke ranjangku." Ferdi membersihkan darah segar yang terasa getir di sudur bibirnya.


Melihat keadaan Fay, Vano semakin murka. Namun Ferdi semakin menyukainya, pertunjukan yang disiapkan ternyata berhasil mengudang kemarahan Vano. Dia tahu bahwa Fay memiliki tempat di hati keponakannya.


Akhirnya, usahaku tidak sia-sia.


Wajah Vano merah padam, dia melepas hodie merah yang dikenakannya untuk menutupi Fay. Wanita itu terbaring tidak berdaya di atas ranjang.


"Aku masih menahan diri untuk tidak menyentuhmu, tetapi kami menjualnya kepada laki-laki lain. Mengapa harus orang itu?" ucap Vano dalam hati.


Sekali lagi Vano mendaratkan kepalan tinju di perut Ferdi. Dia terhuyung dan jatuh dengan posisi meringkuk. Tidak hanya itu, Vano menggunakan kakinya untuk memberi pelajaran pada tangan Ferdi yang menghalangi jalan. Tangan kotor yang sudah menyentuh kulit sang istri.


Ferdi mendesis, tapi masih bisa tertawa lepas. "Hahaha ..., aku pasti akan merebut semua milikmu!"


Mentari telah kembali ke peraduannya, gulita menyelimuti villa. Ditambah hawa dingin yang sangat menusuk, terlebih dia hanya mengenakan kaos putih tipis yang membalut tubuhnya.


Dari kejauhan, Arlan sudah menyiapkan kendaraan untuk Vano. Mobil jeep berwarna silver. Dia dan dua orang pengawal berhasil menemukan jalan rahasia di ruang bawah tanah yang terhubung ke perkebunan di sisi lain lereng.


"Ughhh ...." Fay melenguh saat Vano menaruhnya dengan kasar. Matanya setengah terpejam, tetapi dia masih bisa menyadari seseorang yang merengkuh dan membawanya pergi dari tempat itu.


"Jangan pergi! tolong aku, ini sungguh tidak nyaman," gumam Fay. Kedua tangannya melilit di pinggang Vano, memohon untuk tetap tinggal.


"Menyingkirlah!"


Vano mendorong Fay dan memyandarkannya di kursi. Dia ingin memasangkan sabuk pengaman untuk mengikat wanita itu. Namun, Fay tiba-tiba menariknya, jarak keduanya sangat dekat, hanya beberapa sentimeter. Beruntung tangan Vano masih sempat menahan tubuhnya di sandaran kursi.


Tidak tercium bau alkohol, apalagi obat. Suhu tubuh Fay juga normal. Mungkinkah benar yang dikatakan Ferdi? Fay sengaja datang untuk menggodanya, tapi apa untungnya? Mengingat hal itu Vano semakin kalut, dia tidak menyangka Fay adalah wanita yang seperti itu. Semua sudah diberikan, masih kurang apa?


"Lan, cepat kembali ke villa."


Benar saja, ternyata ada jalan rahasia yang bisa dilewati kendaraan roda empat. Tempat ini sungguh penuh dengan teka-teki. Selain tempatnya yang ekstrim, juga cuaca di sini tidak bersahabat.


"Kamu selidiki lebih jauh lagi, apakah ada orang lain yang membantunya dibelakang atau tidak. Aku nggak yakin ini murni rencananya."


Fay seperti orang asing yang tidak dikenalnya, dia tidak bisa diam dan terus menempel pada Vano. Awalnya marah, tetapi lama kelamaan menjadi risih hingga akhirnya Fay terlelap setelah menguras isi perutnya.


Untung saja Vano teringat perkataan dokter, Fay sedang menstruasi. Dia bisa percaya pada istrinya dan melupakan semua pemikiran buruk tentangnya, tapi dia tetap harus menghukum wanita itu.


"Baiklah."


Vano membawa Fay ke kamar. Di bawah cahaya terang, terlihat jelas wajah Fay memerah dan sedikit bengkak. Juga lengan tangan dan kakinya, membuktikan bahwa Fay memang melakukan perlawanan.


"Tidak seharusnya aku membawamu dalam kekacauan ini," bisik Vano. Dia merasa bersalah karena sudah melibatkan Fay dalam pertarungan masalah keluarganya. Namun, tidak ada jalan untuk mundur, dia harus melewati semua rintangan dan memperketat penjagaan.


"Kamu ini jadi perempuan jorok banget," maki Vano.


Dia sudah berganti pakaian dan melihay Fay dengan hodie kotor miliknya.


Laki-laki itu menelan saliva yang terasa pahit. Mereka memang sudah lama menikah, tetapi disuguhkan pemandangan tubuh molek sang istri sungguh membuat keimanannya di uji. Dia ingin menggantikan pakaian Fay, karena di tempat ini tidak ada pelayan wanita. Tidak mungkin membiarkan Fay tertidur dengan pakaian kotor.


"Nggak papa, dia halal bagimu. Bahkan melakukan hal yang juga boleh." Vano menggerutu, memalingkan wajahnya ke arah lain saat mengelap sang istri dan menggantikan pakaiannya.


Dia masih berpikir, sebenarnya apa tujuan Ferdi yang sebenarnya? Tidak mungkin Ferdi melepaskan mereka begitu saja. Juga tidak meminta imbalan apa pu darinya. Apa yang sedang mereka rencanakan untuk membalasnya?


Setelah Vano pergi di Villa.


"Bagaimana?" tanya seseorang di seberang sana.


"Seperti dugaanmu," sahut Ferdi dengan mata terpejam.


"Good job! Lanjutkan rencana berikutnya."


Ferdi berbicara membahas rencana selanjutnya, dia berpikir bahwa Vano sudah percaya pada sandiwaranya. Dengan tidak mudah dia melakukan ini semua, kedepannya tidak boleh gagal.


"Bagaimana dengan imbalan yang kau tawarkan?" tanya Ferdi.


"Kau tenang saja, setelah aku mendapatkan proyek itu, HS Group akan jatuh di tanganmu. Dan kerja sama kita akan berjalan dengan lancar tanpa bisa ditebak."


Panggilan berakhir, Ferdi mengepalkan tangannya erat. Kali ini pengorbanannya tidak boleh sia-sia, tidak mengapa wajahnya memar, tidak peduli Vano memukulinya. Asalkan tujuannya bisa tercapai, semua itu tidak ada artinya lagi.


Bukan salahnya hadir di tengah keluarga Syahreza, bukan pula keinginannya lahir tanpa status. Kesalahan sang ibu di masa lalu, haruskah dia sendiri yang menanggungnya? Dunia ini tidak adil jika menghakimi seseorang hanya dengan melihat statusnya sebagai anak haram di keluarga ningtat tersebut.


Kalau boleh meminta, Ferdi lebih ingin terlahir pada keluarga biasa saja. Meski tanpa status, setidaknya dia bisa merasakan kasih sayang sebuah keluarga. Khayalan, itu semua hanyalah sebuah mimpi. Saat dia terbangun, semua mimpinya akan lenyap dan tidak akan pernah terwujud.


"Kalian yang sudah membuatku menjadi monster, apa artinya semua ini kalau aku tidak bisa menjalankan peranku dengan baik. Nikmatilah saat-saat bahagia kalian untuk terakhir kalinya."


Ferdi menenggak minuman berwarna merah kehitaman yang terasa membakar tenggorokan. Hanya itu satu-satunya cara untuk menyenangkan diri sesaat.


Bersambung ....