
"Kamu ..., kamu nggak usah bercanda." Fay memalingkan wajahnya ke sembarang arah, saat manik matanya bertemu dengan milik Vano, dia merasakan debaran yang sungguh aneh.
"Lihat saya baik-baik! Saya tidak sedang bercanda." Vano meraih dagu sang istri, tatapan keduanya kembali beradu.
"Jaga sikapmu! Masih ada orang di sini."
"Kamu, berhenti sekarang!" Vano mengusir sang sopir untuk menepikan kendaraan roda empat tersebut.
"Tapi, Tuan. Bagaimana saya ...."
"Saya nggak peduli bagaimana kamu kembali, mau jalan kaki juga bukan urusan saya, sudah sana pergi!"
Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia keluar dari tempatnya dengan mulut tak henti menggerutu. Bosnya yang satu ini memang keterlaluan. Ck, sepertinya dia tahu apa yang akan mereka berdua lakukan di dalam mobil. Mengingat hal itu, dia yang juga baru menikah tak kuasa menahan senyum.
"Sekarang hanya ada kita berdua. Pindah ke depan," perintah Vano. Dia hanya melompat dari sela kursi untuk menempati posisi sopir, tetapi Fay mematung di tempatnya.
"Saya ini bukan sopir kamu, cepat pindah!" pintanya sekali lagi.
Fay terpaksa menuruti keinginan Vano, dia juga masih belum puas mendengar pengakuan laki-laki itu. "Ck, siapa suruh mengusir sopir tadi, sekarang kamu sendiri yang marah-marah," gerutu Fay.
"Saya dengar apa yang kamu bicarakan!" ujar Vano dengan wajah datar. Raut wajah Vano yang paling tidak disukai Fay.
"Bagaimana? Sudah siap semua?" tanya Vano melalui telepon.
"Sudah siap semua, tinggal menunggu kedatangan Anda," jawab Arlan di seberang sana.
"Baiklah. Satu jam lagi, kamu panggil semua media untuk berkumpul."
"Hah? Bagaimana dengan rapat daruratnya?" Mulut Arlan terbuka lebar mendengar perintah lain dari atasannya. Dia sudah bersusah payah mengumpulkan petinggi perusahaan, tetapi sekarang dia memiliki rencana lain.
Mungkin dia akan mengumumkannya ke publik setelah rapat itu selesai.
Arlan berhenti membantah, dia masih berusaha berpikir posistif dengan keinginan Vano yang ingin melakukan konferensi pers. Itu bukanlah Vano yang biasanya.
"Jangan banyak protes, lakukan saja!" Vano mencebik, dia juga melakukan hal ini untuk kebaikannya.
"Buat apa mengumpulkan para pemburu berita?" tanya Fay dengan kening berkerut.
"Banyak tanya, nanti juga kamu tahu sendiri." Vano melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
"Sorry, Dad. Mungkin sekarang sudah saatnya, aku nggak bisa lagi membiarkan mereka terus menyakiti keluargaku. Jangan salahkan aku dengan keputusanku ini," batin Vano.
Vano memang berniat menutupi pernikahannya dengan Fay. Hal itu dia lakukan untuk melindunginya. Dia tidak ingin Fay menjadi sasaran bagi orang-orang yang berniat mengincarnya. Namun hal itu tidak berjalan sesuai harapan, masih saja ada orang yang berniat mencelakai keluarganya.
Dia harus menggunakan siasat lain, membiarkan mereka yang mengkhianatinya untuk menunjukkan wajah yang sebenarnya. Sudah cukup Vano berpura-pura selama ini, dia sudah tidak tahan lagi.
Aku tidak bisa berbuat banyak demi melindungi privasimu, tetapi mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakitimu. Maafkan aku yang terlalu bodoh ini, Una.
***
Ada apa gerangan CEO HS Group yang selama ini tidak pernah tersorot media justru mengundang mereka datang? Begitulah kira-kira pertanyaan semua rekan-rekan pers. Mereka saling berbisik, menduga-duga berita mengejutkan apa yang akan di publikasikan.
"Semuanya sudah siap?" Vano sudah tiba di gedung HS Group. Arlan sudah menunggunya, membimbingnya menuju tempat konferensi pers.
"Sudah, Tuan. Sesuai keinginan Anda."
Vano mengangguk, melenggang menuju aula bersama Fay. Vano tidak melepaskan tautan tangannya, dia ingin menunjukkan kepada semua orang siapa Fay untuknya.
"Jangan membantah!"
Kehadiran Vano benar-benar menjadi sebuah kejutan, terlebih wanita yang berdiri di sampingnya. Dia adalah wanita yang menjadi pemeran utama dalam pemberitaan.
"Siapa wanita itu?" tanya seorang camera-man.
"Bukankah dia yang menduduki peringkat pencarian terpanas?"
"Dia pasti sengaja menggoda laki-laki kaya untuk melindunginya."
"Ck, tidak tahu malu.
"Dasar jalan."
Masih banyak celoteh yang membuat sakit indera pendengaran. Fay hanya diam dan menunduk, tidak berani melibat kerumunan orang yang sudah menanti Vano.
Apakah Vano akan mengumumkan tentang hubungan mereka? Mungkinkah dia marah dan berniat membuka kedoknya di hadapan pers? Urat syaraf Fay seketika menegang, dia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya.
Vano merasakan jemari tangan Fay yang terasa dingin, dia mengeratkan tautan tangannya, menyalurkan kehangatan dan semangat untuk sang istri. Kilatan wajahnya mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, ada dirinya di belakang Fay.
"Ehm, bisa kita mulai sekarang?" Suara riuh seketika berubah hening.
"Ya," sahut mereka serempak. Permburu berita dari berbagai media berkerumun, mereka berjumlah puluhan orang saling berdesakan untuk mendapatkan view terbaik untuk melakukan siaran langsung. Satu kantor berita hanya diperbolehkan mengutus satu orang perwakilan saja, Hal itu dilakukan untuk meminimalisir adanya saling dorong.
"Seperti yang kalian ketahui bersama, saya memanggil kalian semua ke sini untuk menyampaikan hal penting yang bersifat memaksa dan darurat." Vano menjeda kalimatnya. Dia melirik Fay yang semakin tegang.
"Kalian pasti bertanya-tanya, tujuan saya mengumpulkan reka-rekan sekalian." Vano menatap samg istri yang terus menyembunyikan wajahnya.
"Dia--wanita ini--adalah istri saya." Fay seketika mengangkat wajahnya, tidak menduga bahwa Vano akan berkata demikian.
Suasana membali riuh, bagaimana mungkin CEO yang tidak pernah masuk pemberitaan dan tidak terdengar dekat dengan wanita kini mengumumkan pernikahannya.
"Semua yang ada di berita itu tidak benar, saya saksinya. Saya bisa membuktikannya."
"Bisa saja Anda hanya berdalih untuk menutupinya," ujar seorang wartawan.
"Saya tidak bicara omong kosong, saya memikiki bukti," sahut Vano dengan suara lantang. Dia terlihat kesal, masih ada yang berani menantang dirinya.
"Kami sudah menikah, saya memiliki bukti dan saksi yang siap memberatkan kalian. Saya tidak akan membiarkan orang lain mencemarkan dan menyakiti istri saya. Siapa pun orang yang sudah memberitakan berita bohong itu, saya tidak akan melepaskannya," ucap Vano dengan berapi-api.
"Sebaliknya, saya akan menuntut media yang melakukan pemberitaan buruk tentangnya."
Fay tercengang mendengar pengakuan Vano, begitu juga semua pemburu berita dan pemirsa yang menyaksikan siaran langsung tersebut.
Di ruang rapat, dewan direksi dan pemegang saham akhirnya tahu alasan Vano tidak hadir bersama mereka untuk membahas harga saham yang turun drastis.
"Ingat baik-baik! Saya tidak akan mengampuni mereka yang terbukti bersalah. Menyebarkan ujaran kebencian dan pencemaran nama baik."
Proyektor LCD dinyalakan, menampilkan dengan jelas siapa pelaku sebenarnya yang menjebak Fay dan masih menyebarkan berita miring tentangnya.
"Laki-laki itu adalah saya, su-a-mi-nya." Vano mengejanya dengan lantang.
Bersambung ....