
"Kamu sengaja ingin menghindar?" ucap seseorang di ambang pintu dengan wajah yang sulit diartikan.
"Menghindar?" Fay mencari asal suara dengan kening berkerut, ia tidak tahu apa maksud ucapan Vano. Yah, selesai makan malam, ia meminta Arlan mengantarnya ke rumah sakit untuk menjenguk calon ibu mertuanya. Tidak disangka Fay juga ada di sana.
Vano mengira Fay sengaja tidak ikut datang pada makan malam kerluarganya karena tidak ingin bertemu dengannya. Padahal ia sama sekali tidak tahu tentang adanya makan malam itu.
"Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan," ucap Fay dengan tatapan bingung.
Vano melihat Ibu Yuri sudah terlelap, ia meminta Fay mengikutinya, tidak ingin mengganggu istirahatnya. Banyak pertanyaan yang ingin Fay katakan, tetapi ia memilih menyimpan untuk dirinya sendiri.
"Saya datang untuk menagih janji," tegas Vano setelah mereka sampai di sebuah taman kecil di ujung lorong rumah sakit.
"Janji yang mana?"
"Kau belum memberiku jawaban."
Ah, hampir saja Fay lupa, dia mengatakan akan memberikan jawaban setelah sang ibu menjalani operasi.
"Jangan lagi berusaha untuk mengulur waktu, karena cepat atau lambat perutmu akan semakin membesar."
"Hah?" sentak Fay dengan wajah memerah, bola matanya membulat penuh mendengar ucapan Vano. Mengapa ia tidak memikirkan hal itu? Bagaimana jika yang diakatakan Vano benar, saat ini di rahimnya sudah tumbuh benih laki-laki itu?
Tangan Fay berada di perut, ia menelan saliva dengan susah payah. Perasaannya sungguh kacau, tetapi tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi. Apa yang akan terjadi jika ia terus menunda dan diketahui oleh ibunya? Keadaannya belum pulih benar pasca operasi. Kemungkinan terburuknya dia harus kembali melihat sang ibu terbaring lemah dengan keadaan koma.
Tidak, jangan sampai hal itu terjadi. Fay melihat wajah Vano seksama. Terdapat kesungguhan yang meyakinkannya untuk mengiyakan keinginan Vano menikah secepatnya. Dengan begitu, ia juga bisa secepatnya membalas perlakuan Ana dan Farah padanya.
"Baiklah, sesuai keinginanmu."
Vano menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah lengkungan. Ia sangat puas dengan jawaban Fay.
*Tunggu, bukankah aku terkesan memaksa dan tidak sabar untuk menikah dengannya? Seolah aku ini laki-laki kesepian yang begitu membutuhkan perhatian seorang wanita.
Terserah dia bagaimana akan menilai aku, yang terpenting aku tidak lagi di desak oleh semua orang*.
Vano menyetujui keinginan Fay bukan tanpa alasan, ia juga didesak oleh sang kakek--Tuan Abimanyu untuk segera menikah, Paman Arga juga mendukungnya agar posisinya sebagai CEO tidak bisa digoyahkan. Dengan begitu, kesempatan Ferdi semakin kecil.
Dengan begitu, Vano bisa mendapatkan keuntungan ganda meski sebenarnya keberatan dengan Fay yang serakah.
"Hmm..., Arlan akan mengurus semua keperluannya. Satu minggu lagi, persiapkan dirimu baik-baik."
"Termasuk wali nikah?"
Hampir saja Vano melupakan hal itu, bagaimana pun juga Riko tetap ayah biologis Fay sesuai hasil penyelidikan. Sebenarnya hari ini dia berniat mengatakan keinginannya untuk melamar Fay, tetapi semuanya berantakan tidak sesuai rencana saat ia melihat Ana dan putrinya. Sebarusnya ia mengatakan dengan jelas bahwa anak yang dimaksud adalah Fay. Bukan Farah.
"Ya, tidak perlu melakukan apa-apa, hanya dirimu saja itu sudah cukup. Jaga dirimu dan calon anak kita," ucap Vano dengan mata mengerling.
Wajah Fay terasa panas, ia yakin saat ini wajahnya sudah semerah udang rebus. Vano menyukai kebiasaan barunya. Ternyata menggoda Fay begitu menyenangkan.
"Besok akan ada orang yang menjemputmu," Vano melenggang, meninggalkan Fay yang masih mematung di tempatnya. Ia tidak menyangka bahwa pengendalian dirinya terhadap Vano begitu buruk.
"Ish, dasar menyebalkan. Benarkah aku akan menikah dengannya? Entah ini berkah atau musibah menikah dengan orang sepertinya."
Fay terduduk lesu, yang paling membuatnya cemas ialah benih yang Vano katakan. Apa benar hanya sekali melakukan bisa langsung jadi? Fay benar-benar tidak siap menjadi seorang ibu di usianya yang masih sangat muda. Bagaimana dengan ibunya? Atau kuliahnya yang pasti akan semakin terbengkalai jika ia benar-benar menjadi seorang ibu.
***
Keesokan harinya, Vano meminta Fay untuk menghubungi Riko. Dia ingin Fay menemui Riko untuk membicarakan masalah pernikahan itu. Dengan enggan Fay mengirimkan pesan untuk Riko. Seberapa benci ia pada laki-laki itu, tetap saja di dalam tubuhnya mengalir darah Riko.
Vano sengaja melakukan hal itu, ia ingin melihat bagaimana Riko dan keluarga barunya bersikap pada Fay, yang juga putri kandungnya.
"Temui Papa di rumah malam nanti, bagaimana pun kita sudah lama tidak makan malam bersama, Papa juga ada hal yang perlu dikatakan padamu."
Balasan yang Fay dapatkan, ia sebenarnya malas pulang ke rumah. Jika saja Vano tidak memaksanya, lebih baik ia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di rumah itu.
Setelah pulang kerja, Vano orang suruhan Vano sudah menunggu. Siang hari Bar tidak ramai pengunjung, karena sebagian yang datang hanya ingin menikmati makanan yang tersaji layaknya sebuah restoran.
"Nona Fay, saya diperintahkan oleh Tuan Melviano untuk menjemput Anda," ucapnya dengan sopan. Tidak lupa memberi hormat dengan membukakan pintu mobil dengan tubuh sedikit condong ke depan.
"Dimana tuanmu itu?"
"Tuan Melviano masih ada pekerjaan, jadi tidak bisa menemani Anda."
"Dia pasti sengaja," gerutu Fay.
Mobil melesat, membelah hamparan aspal yang disinari cahaya jingga. Perasaannya sulit diungapkan dengan kata-kata, seharusnya ia senang. Tidak lama lagi akan berjumpa dengan sosok yang selama ini dirindukan, tetapi ia juga sedih jika mengingat sang ayah tutup maya melihat perlakuan Ana dan Farah padanya.
Fay harus bersiap untuk menulikan pendengarannya dengan semua ucapan Ana nantinya. Dia tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan keinginan Riko agar bersedia menjadi wali nikahnya, begitu sulitnya untuk mendapatkan haknya sebagai seorang anak.
"Kamu pasti bisa," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Fay menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menampung udara, dia harus mempersiapkan diri apa pun yang akan terjadi di dalam nanti.
"Masuk, enggak, masuk, enggak." Fay kembali bimbang saat dirinya sudah ada di depan pintu. "Lebih baik aku segera selesaikan masalah ini dan pergi secepatnya."
Pintu rumah terbuka, ternyata Ana sedang kedatangan tamu--teman-teman sosialitanya.
"Eh, ada tamu terhormat," ucap Ana dengan wajah sumringah.
"Siapa ini, Jeng?" tanya wanita yang duduk di sebelahnya.
"Hampir lupa memperkenalkan, ini Fay. Anak Mas Riko juga," ujar Ana dengan wajah berubah sendu.
Perasaan Fay mengatakan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi, melihat wajah Ana begitu bersemangat menyambutnya dan sedetik berikutnya berpura-pura menyedihkan.
"Eh, dia anak haram itu, kan? Untuk apa datang ke sini?"
Bersambung....