Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Jangan pergi!



Yuri mendesahkan napasnya yang terasa berat, memperhatikan putrinya dengan tatapan sedih. Bagaimana tidak? Sudah tiga hari berlalu, tetapi kondisi Vano belum juga mengalami perubahan, dia dinyatakan koma dan hanya menunggu keajaiban Tuhan untuk kembali sadar.


"Makanlah sedikit, setidaknya demi anak kamu!" tegur Yuri.


Fay tidak merespons, dia hanya mengaduk-aduk makanan dengan tatapan kosong, tanpa berniat untuk memakannya.


"Fay."


Tepukan di bahu membuat Fay menelengkan wajahnya, wanita itu memaksakan senyumnya. Meski hatinya terasa pahit melihat kondisi Fay yang semakin terpuruk.


"Aku nggak selera makan," lirih Fay, meraih gelas berisi air putih dan meneguknya sedikit. "Aku kenyang," lanjutnya.


"Heuh, kamu belum makan sama sekali, bagaimana bisa kenyang?" omel Mama Yuri.


"Benar yang Mama kamu katakan, Nak. Apalagi sekarang ada makhluk kecil yang bergantung hidup padamu," celetuk Mami Adel dari arah luar.


Pagi ini, dia akan menemani Fay. Saat ini wanita yang tengah hamil muda itu memerlukan banyak dukungan dari orang-orang terdekatnya. Tidak terkecuali diringa sebagai ibu mertua.


Tidak mudah memang bagi Fay menjalani hari-hari tanpa Vano, terlebih kondisinya yang tengah berbadan dua. Kesadaran Mami Adel untuk membujuk menantunya demi calon cucu yang baru saja hendak tumbuh.


"Mami," gumam Fay pelan.


"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Mami Adel kemudian, tetapi Fay menggeleng dengan cepat.


"Aku nggak mau apa-apa, cuma ...."


"Ssttt ..., tidak usah dilanjutkan. Mami tahu kamu merasa kehilangan, tapi anak Mami itu belum pergi. Dia hanya beristirahat sejenak, kau harus bisa membuatnya kembali. Kau ingat apa kata dokter kemarin?" Mami Adel memeluk Fay erat, mencurahkan rasa sayangnya, seperti menyayangi putrinya sendiri.


"Kau mau dia juga pergi?" Mami Adel kembali bertanya seraya mengusap perut Fay yang masih rata. Lagi, Fay hanya mampu menjawabnya dengan gelengan kepala. Suaranya tercekat di tenggorokan, sehingga tidak mampu lagi berkata-kata.


"Aku juga sudah memperingatinya, tetapi dia tidak mengindahkan peringatan dariku," potong Mama Yuri.


"Jangan biarkan dirimu larut dalam kesedihan, sehingga mempengaruhi perkembangannya. Mami minta kamu jangan pernah lelah, perjalanan kalian masih sangat panjang," ujar Mami Adel menasehati.


Berbagai cara dilakukan untuk membujuk Fay, terlalu stress juga tidak akan baik untuk kesehatannya. Terlebih kekurangan asupan. Adel tahu Fay wanita yang kuat, dia pasti bisa melalui semua ini dengan support dari orang-orang di sekelilingnya.


Benar juga, jika sampai Fay mengabaikan dirinya, makan akan berakibat buruk pada kandungannya. Tidak menutup kemungkinan hal yang lebih buruk terjadi. Bahkan bisa saja dia kehilangan malaikat kecilnya.


"Kalau kau menginginkan sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya pada kami," ujar Mama Yuri. Kedua ibu itu berhasil membujuk Fay, meski hanya beberapa suap makanan yang masuk.


Setelah selesai sarapan, Fay kembali mengunjungi Vano. Berharap sudah ada perubahan yang lebih baik pada kesehatan Vano. Namun, kenyataan tak seindah harapan. Laki-laki itu masih enggan membuka matanya. Memar di wajah akibat benturan mulai menghitam, pertanda Vano mengalami penderitaan yang amat sangat menyakitkan.


"Hai, aku datang lagi, kamu jangan bosan, ya." Fay mulai membuka mulutnya, setelah beberapa menit terdiam dan memandangi wajah sang suami. Tangannya menyentuh jemari Vano yang biasa menjahilinya. Namun saat ini dia hanya bisa diam tanpa melakukan apa pun, bahkan ia harus bergantung hidup pada alat-alat mendis yang menempel di tubuhnya.


Dua hari Fay tidak mengunjungi Vano, dokter sudah melarangnya sering berkendara karena kondisi tubuhnya yang masih lemah. Hari ini Fay memaksa datang dan menemui sang suami.


"Sampai kapan kau akan tetap seperti ini? Tidakkah kau ingin tahu bahwa sekarang bukan hanya aku yang membutuhkanmu, tetapi dia. Yang ada di sana sedang menantimu bangun dan menyayanginya," bisik Fay dengan suara bergetar.


Setiap kali melihat Vano, Fay pasti tidak akan bisa menahan air matanya. Mengapa begitu singkat kebahagiaan yang mereka lewati? Rasanya Fay ingin waktu cepat berlalu dan Vano segera bangun.


Diraihnya tangan kokoh yang biasa merengkuhnya, mencurahkan cinta, dan memberikan rasa nyaman dan aman. Fay membaringkan kepalanya tanpa melepas tautan tangannya dengan Vano. Matanya terpejam, tetapi air matanya tidak henti berproduksi. Layaknya mata air di musim hujan.


"Please, buka matamu. Aku nggak mau kamu pergi seperti ini saja sudah membuatku sakit. Bagaimana aku harus melanjutkan hidupku tanpa kamu."


Punggung Fay bergetar seiring tangisnya yang kembali pecah. Di ruangan yang sunyi hanya terdengar suara alat medis yang menyayat hati. Fay tidak dapat membayangkan jika pada akhirnya Vano benar-benar meninggalkannya.


"Aku nggak mau jadi kaya kalau nggak ada kamu, aku nggak perlu posisi Nyonya CEO tanpa ada kamu, aku cuma mau kamu bangun!"


Menangis membuatnya lelah, Fay terlelap dengan posisi menggenggam tangan Vano.


"Hei, bangunlah!" suara serak yang begitu dia rindukan akhirnya bisa lagi didengar. Fay mengerjap, dia tidak sedang bermimpi Vano membuka matanya meski harus sedikit menyipit.


"Ini benaran kamu? Bukan mimpi?" Fay mengguncang tubuh Vano perlahan. Dia sangat bahagia, akhirnya Vano bangun dari tidur panjangnya. "Tuhan, teeima kasih sudah mengabulkan doaku."


"Ya, kamu tidak sedang bermimpi. Saya mendengar semua ocehanmu, makanya tidak tega membiarkankan istri cantikku bersedih," lirih Vano. Ucapannya tidak terlalu jelas karena Vano masih menggunakan alat bantu pernapasan.


"Aku akan panggilkan dokter." Fay ingin memanggil dokter, tetapi Vano mencegahnya.


"Tidak perlu, saya hanya ingin menghabiskan waktuku yang sedikit bersamamu."


Deg! Fay terdiam tanpa membalikkan badan. Apa maksud perkataan Vano barusan?


"Temani aku sebentar saja, waktuku sudah tidak lama lagi."


"Nggak boleh, kamu mau ke mana?" Fay kemabli terisak.


"Aku sudah lelah, kamu harus menjadi wanita hebat meskipun tanpa kehadiranku."


"Nggak akan, aku cuma mau kamu. Kamu tidak boleh kemana-mana, tetap di sini bersamaku!"


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Karena ...." Tiba-tiba napas Vano tersengal, dia kesulitan bernapas meski sudah menggunakan alat bantu pernapasan.


"Nggak, aku peringatkan, jangan sampai terjadi apa-apa sama kamu atau akau juga akan pergi!" ancam Fay. Wajahnya sudah dipenuhi jejak air mata, membuat tatapannya semakin mengembun.


"Dokter ..., suster ...."


"Jangan membuatku takut, ayo bicara!" sentak Fay, mengguncang tubuh Vano dengan sekuat tenaga.


Fay kembali berteriak melihat keadaan Vano, dia semakin ketakutan saat Vano mulai kejang.


"Dokter ..., cepat selamatkan dia!"


Bagaimana keadan Vano selanjutnya? Akankah Vano sanggup bertahan? *St*ay tune.


Bersambung ....


Bersambung ....