Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Hukuman



"Pergi ..., pergi kalian semua!" teriak Fay dengan mata terpejam. Tangannya dikibaskan, seolah mengusir seseorang.


Vano baru saja kembali setelah menukar pakaiannya dengan yang baru, dahinya berkerut saat mendengar teriakan Fay. Dia berpikir Fay sudah terbangun, tetapi setelah diperhatikan lebih dekat, baru menyadari bahwa wanita itu sedang mengigau.


Tidak hanya sekali, hampir sepanjang malam Fay mengigau. Vano terjaga sepanjang malam karena menjaga Fay, wanita itu juga tidak melepaskannya dan meminta hal aneh-aneh.


Laki-laki itu mendengkus, terlebih saat Fay memeluknya dari belakang. Ada desiran aneh yang menjalar, membuat kerja jantungnya memompa lebih cepat. Dia merengek, meminta Vano untuk tetap tinggal dan menemaninya. Mereka memutuskan untuk menginap. Kabut tebal kembali turun, ditambah medan jalan yang gelap dan terjal. Tidak memungkinkan mereka untuk kembali.


"Ada apa denganku? Pasti karena aku tidak tidur dengan baik." gumam Vano.


Dia membiarkan Fay berbuat sesuka hati, Vano melihat sisi lain dari sikapnya yang seperti anak kecil. Namun, dimatanya itu terlihat lucu dan menggemaskan. Apa, lucu dan menggemaskan? Nggak, ini pasti bukan diriku. Vano tidak akan melakukan hal itu.


Langit jingga di sebelah timur menyingkirkan malam yang gulita. Menyapa setiap insan dari tidur lelapnya.


Fay mendesis saat tubuhnya terasa ditimpa beban berat, tidak leluasa untuknya bergerak. Matanya membelalak, suaranya memekik di tenggorokan. Sosok yang sangat familiar kini terbaring berhadapan dengannya. Dia mendongak, dengkuran halus Vano membuatnya terusik. Terlebih hembusan napas laki-laki itu menyapu sebagian rambut Fay yang dibiarkan tergerai.


Dipandanginya wajah Vano dari jarak yang begiti dekat, dia kembali dibuat kagum dengan pahatan Tuhan yang satu ini. Puas menikmatinya, wanita itu hendak memindahkan tangan kekar yang menindih perutnya. Dia tidak ingin merasa canggung jika tahu dirinya sudah lebih dulu bangun.


Namun, Vano tidak membiarkan Fay melakukannya. Dia pura-pura terpejam dengan tangan membelit tubuh mungil sang istri.


"Ish, berat banget. Ini tangan apa batang kayu?" Bibir Fay mengerucut, tak henti menggerutu.


Vano berusaha menahan tawa agar tidak meledak, dia hanya tidak ingin suasana kembali canggung, jika Fay tahu kalau dirinya sudah lebih dulu terbangun. Ini pertama kalinya mereka tidur satu ranjang setelah menikah, ternyata tidak buruk memiliki guling hidup. Pikir Vano.


"Dasar mesum, masih juga manfaatin keadaan."Fay tidak henti memaki Vano. Menganggap laki-laki itu sengaja memanfaatkan keadaan.


"Ugh, jam berapa ini?" Vano menguap, mengerjapkan matanya beberapa kali. Kini Fay yang berpura-pura tidur, dia tidak ingin disalahpahami.


Semoga dia tidak mendengar perkataanku, mau ditaruh dimana wajahku kalau dia sudah lebih dulu bangun.


Vano membalikkan tubuhnya dalam posisi terlentang. Fay dapat bernapas lega, akhirnya dia bisa terbebas. Dia berusaha menentralkan debaran di dada yang bergemuruh hebat. "Hampir saja," ucapnya dalam hati. Dia tidak tahu harus berkata apa pada laki-laki itu. Selama ini mereka jarang sekali mengobrol, hanya perdebatan-demi perdebatan yang mengisi hari-hari saat bersama.


"Saya tahu kamu sudah bangun," celetuk Vano. Fay masih membisu, semakin ketakutan. Apalagi jika diingat sikapnya semalam, akankah dia marah karena melihat dirinya bersama laki-laki lain dalam satu ruangan?


"Masih tidak bangun juga? Sepertinya hukumanmu semalam masih kurang?" lanjutnya.


Fay segera bangun dalam posisi duduk, pakaiannya sudah berganti dengan kemeja pria yang kebesaran. Dia kembali dikejutkan dengan keadannya yang tidak memakai pakaian lain selain pakaian dalamnya.


"Kau, siapa juga yang sudi berada di ranjang yang sama denganmu," ketus Fay.


"Maksudmu, lebih baik bersama dengan pria lain?" tanya Vano dengan wajah dingin, dia tidak dapat menyembunyikan kekesalannya saat menemukan Fay dalam keadaan yang sulit dijelaskan.


Wanita itu tidak berani menatap Vano, lidahnya terasa kelu untuk sekadar melakukan pembelaan. Dia sendiri tidak terlalu ingat dengan kejadian semalam.


"Kenapa diam? Kau lebih suka pria kotor itu dari suamimu?"


"Ng-nggak, a-aku ..., emmh." Fay menggigit bibir bawahnya, dia tidak tahu harus berkata apa.


"Sebagai hukumannya, kau harus menyiapkan sarapan pagi." Setelah berkata demikian, Vano meninghalkan Fay yang masih mematung di tempatnya. Apakah itu berarti Vano sudah tidak marah lagi padanya?


Tidak ingin membuat Vano semakin marah, dia berlalu ke dapur setelah membersihkan wajah dan melakukan ritual paginya.


Aroma masakan hasil racikan Fay begitu menggelitik lambung Vano yang tengah berbincang dengan Arlan. Fay menuruti permintaan Vano untuk membuatkan sarapan. Dia tidak menyangka Villa ini sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan dan bahan makanan. Semuanya lengkap tersedia.


"Fay, kamu ngapain, sih? Udah kayak istri yang ketahuan selingkuh aja." Tangan terampil Fay berhasil menyajikan menu sarapan sederhana namun mengundang selera makan.


Dilihatnya siluet wanita itu di dapur, pikirannya mulai berkelana. Vano memeluk Fay dari belakang, mengendus aroma tubuh wanita itu yang bercampur wangi makanan.


"Ish, kau nakal." Fay meletakkan pisau yang digunakan untuk memotong sayuran.


"Nakal cuma sama kamu seorang," bisik Vano. Tangannya mulai bergerilya, tetapi Fay segera menepisnya.


"Ayolah! Kamu bilang tadi lapar, aku harus menyelesaikannya sebelum cacing di perutmu berdemo." Fay menepis tangan Vano yang hendak meneruskan aksinya.


"Saya tidak akan lapar, apalagi ada kamu yang menjadi menu sarapanku," goda Vano, membalikkan tubuh sang istri, sekarang mereka saling berhadapan.


"Nggak usah mulai, deh. Belum puas membuatku terkapar dan kelaparan?" Fay berdecak sebal.


"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" ucap Arlan membuyarkan lamunan Vano. Bayangan igu seketika sirna, menyisakan Fay yang masih berkutat dengan peralatam dapur.


Astaga, Vano. Apa yang sudah kamu pikirkan? Membayangkan dirinya sedang menggoda Fay yang sedang memasak di dapur? Sungguh otaknya sudah tidak beres. Dia memijat pangkal hidungnya, bisa-bisanya dia membayangkan hal yang tidak-tidak.


Dia baru menyadari penampilan Fay begitu menggoda, kemeja kebesaran miliknya memperlihatkan kaki jenjang Fay yang dibiarkan terekspos. Pantas saja Arlan tjdak berkedip menatapnya.


"Kamu sengaja, hah?" sentak Vano. Dia menarik Fay dan segera membawanya kembali ke kamar. Tentu saja orang lain tidak diizinkan melihat tampilan Fay yang terlihat seksi di matannya.


"Apaan, sih? Aku lagi masak, nanti gosong gimana?"


Vano mengabaikan Fay yang terus memberontak. Melemparnya dengan kasar di atas kasur.


"Kamu sengaja berpenampilan seperti ini untuk menggoda pria lain?" Vano sangat murka, ternyata kemeja kebesaran miliknya membuat tubuh mungil wanita itu terlihat menggoda, bahkan membangkitkan imajinasi liarnya. Dia tidak ingin orang lain ikutbmelihatnya, cukup dirinya seorang.


"Eh, maksudnya apa coba?"


"Lebih baik kamu diam di sini. Jangan kemana-mana!"


Bersambung ....