Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Ada aku di sini



Hari yang ditunggu tiba, koper sudah tertata rapi di dalam bagasi mobil. Fay tampak cantik dengan balutan dress berwarna peach di bawah lutut. Vano mengenakan kemeja berkerah dengan warna senada dan dipadukan dengan celana jeans panjang.


"Mbak Rum, fotoin kita dong!" panggil Vano. Tidak biasanya dia meminta mengabadikan moment bersama sang istri. Sebelumnya, Fay yang lebih antusias tentang hal itu. Berbeda dengan hari ini, Vano justru yang mendesak Fay.


"Kita sudah hampir terlambat," tolah Fay halus.


"Cuma sebentar, Sayang." Vano membujuk sang istri, menarik pinggangnya untuk merapat.


"Tapi nggak usah gini juga, malu." Fay menepis tangan Vano dari pinggangnya. Di sana ada ibu dan ayah mertuanya, sehingga Fay merasa tidak nyaman.


"Biarin aja." Vano merangkul sang istri, tidak lupa kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya. Senyum merekah bagai bunga di musim semi.


"Mbak, yang banyak, ya." Vano tidak berhenti bergaya, membuat sang istri memgerucutkan bibirnya.


"Ayo, nanti kita terlambat." Fay menarik tangan Vano masuk ke dalam mobil. Di dalam sana, sudah ada sopir yang bersiap untuk mengantar mereka ke bandara.


"Bye, Sayang." Mama Yuri melambaikan tangan tanpa memudarkan senyum di wajahnya.


Tak berbeda dengan Yuri, Adel juga melakukan hal yang sama. Dia sangat bersyukur Fay adalah wanita yang menikah dengan Vano, dia sangat beruntung mendapatkannya.


Selain itu, pelik di dalam keluarganya telah usai, mereka tidak perlu lagi bersandiwara dihadapan orang lain. Hubungannya dengan Vano sudah sepenuhnya kembali. Semua itu tidak lepas dari campur tangan Fay yang turut andil di dalamnya.


Fay melakukan hal yang sama, dia melambaikan tangan sampai kaca mobil tertutup sepenuhnya. Sepanjang jalan, Vano tak henti menempel pada sang istri. Bahkan baby di dalam sana juga merasa risih, buktinya bayi itu sangat aktif. Bergerak ke sana kemari ketika Vano mengusapnya.


"Ish, kau ini. Nggak tau orang geli, apa?" ketus Fay, dia memutar bola matanya.


"Lagi main sama baby," elaknya.


"Tapi aku geli."


Kehamilan Fay memasuki bulan keenam, tentu saja baby semakin aktif dari sebelumnya. Namun, trimester kedua ini adalah waktu yang paling aman untuk mereka menikmati waktu berdua sebelum hadirnya malaikat kecil di tengah keluarga mereka nantinya.


Mereka sibuk bercengkerama, tidak memperhatikan sopir mereka yang telah berganti orang tanpa sepengetahuan Arlan dan para penjaga. Vano sendiri tidak mengenali sopir yang menutupi wajahnya dengan topi dan masker.


Kecepatan semakin bertambah di jalanan lurus yang sangat sepi, Vano menyadari ada yang tidak beres dengan sang sopir.


"Hei, apa kau ingin membunuh kami, huh?" sungut Vano. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, membuka paksa topi yang menempel di kepala laki-laki tersebut.


"Kau, apa yang kau lakukan di sini?" Vano membulatkan matanya lebar-lebar saat melihat sopir tersebut.


Dia beringsut mundur, mendekat sang istri erat-erat. Fay yang sedang menikmati pemandangan di luar jendela tersentak. Wajah Vano tampak menegang, apa yang sebenarnya terjadi?


"Kau pasti tidak akan menyangka, bukan?" ujar laki-laki itu.


"Bukankah kau seharusnya membusuk di penjara?" tanya Vano hati-hati.


"Hahaha ..., kau lihat aku sekarang?" Irawan tersenyum smirk, dia sangat senang melihat wajah pias Vano. "Aku sudah bebas, untuk membalaskan semua peebuatanmu."


"Sayang, tenanglah!" bisik Vano. Dia tahu Fay ketakukan, tetapi saat ini dia tidak boleh memprovokasi laki-laki itu.


"Kau mengirimku ke penjara, sekarang giliranku mengirimmu ke neraka!" sentak Irawan. Dia menginjak pedal gas lebih dalam lagi, menambah kecepatan sampai melewati batas makaimal.


"Kau gila, hah? Di sini ada istri dan anakku yang tidak bersalah. Kalau kau mau melampiaskan kekesalanmu, cukup lakukan itu padaku. Mereka tidak bersalah." Vano tak kalah berteriak, sementara Fay mulai bergetar. Dia membekap mulutnya sendiri agar tak terdengar jeritnya yang memilukan. Air mata membanjiri wajahnya, sebagian mengenai pakaian Vano.


"Aku memang sudah gila. Kau masih memikirkan istri dan anakmu yang belum lahir? Bagaimana denganku? Henry si kepa*** itu sudah menghancurkan keluargaku. Bahkan istri dan anakku, mereka semua menderita. Semua ini karena ulah Henry. Sekarang, kau juga melakukan hal yang sama dengan putraku!" Irawan menambah kecepatan, laju mobil mulai tidak stabil.


"Maksudmu?"


"Ya, orang yang kau jebloskan ke jeruji besi beberapa bulan lalu. Karenamu hidupku berantakan, keluargaku mati dalam ketidakadilan. Bagaimana kau akan bertanggung jawab, hah?" maki Irawan.


"Kau tidak takut masuk penjara lagi? Dia pasti akan senang melihatmu di sana."


"Tidak, hidupku tak berarti lagi. Dia membenciku, semua ini karena ulah keluarga kalian."


"Saya akan memberikan apa pun, asalkan kau biarkan kami selamat. Tidak, biarkan istriku selamat." Vano berusaha mengulur waktu.


"Kau hanya ingin nyawa kalian. Hahaha ...."


"Aku takut," lirih Fay dengan suara serak.


"Ada aku di sini, tidak akan terjadi apa-apa," hibur Vano.


Irawan sudah tidak peduli lagi dengan celoteh Vano. Dia tidak mendengarkan ucapan Vano, apalagi mendengarkan penawaran Vano yang berniat negosiasi dengannya. Jualan di depan adalah tikungan tajam.


Dia teringat triknya saat kecelakaan beberapa eaktu itu, tetapi sialnya di depan adalam tikungan tajam menukik dan terdapat jurang yang sangat dalam.


"Hentikan!" Vano berusaha merebut kendali.


"Kau akan membunuh kita semua," teriak Vano.


"Aku akan mati bersama kalian, dengan begitu keluarga Syahreza akan kehilangan pewaris."


"Sayang, tutup matamu!" pinta Vano.


Sudah tidak ada jalan untuk menghindar, Vano mendekap erat sang istri seraya menutup mata dan berdoa. Mobil dengan kecepatan tinggi telah menabrak pagar pembatas dan terjun bebas ke jurang. Mobil berguling beberapa kali sebelum akhirnya meledak.


Bruk! Bruk! Duar!


Suara ledakan yang sangat keras, membuat Arlan yang kebetulan melintas bersama Aline hanya mematung. "Nggak, ini nggak mungkin!" teriak Aline histeris. Keduanya hanya bisa menatap mobil tersebut terbakar, kepulan asap tebal membumbung tinggi. Menimbulkan setuja tanya bagi orang-orang yang melihatnya.


Aline terus berteriak, sebelum akhirnya Aline tidak sadarkan diri. Arlan sendiri tidak dapay berkata-kata, perasaannya campur aduk menjadi satu, suaranya tercekat di tenggorokan menyaksikan sendiri kejadian memilukan yang menimpa Vano dan istrinya.


Dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mengantar Vano ke bandara. Seharusnya dia tidak mudah percaya dengan orang lain. Bagaimana bisa orang itu menerobos penjagaan para pengawal yang begitu ketat?


Ini semua pasti hanya mimpi, Arlan mencubit kengan tangannya. Sakit, bahkan terlihat memerah. "Ini bukan mimpi?"


Para pengawal berdatangan, lokasi kejadian tidak jauh dari mansion Vano. Tentu saja mereka segera melakukan uoaya penyelamatan. Namun, Tuhan memiliki rencananya sendiri. Membutuhkan waktu dua jam untuk mereka menemukan korban, bahkan tubuh Irawan sudah tidak bisa lagi dikenali.


Sesampainya di rumah sakit, suasana duka menyelimuti keluarga Syahreza. Vano dinyatakan meninggal dunia, sedangkan Fay kritis dengan luka bakar lima puluh persen. Tidak hanya itu, bayi dalam kandungannya yang selamat harus dilahirkan paksa. Dia lahir prematur karena keadaan yang tidak memungkinkan. Keadaannya juga kritis dan dalam pemantauan dokter.


"Katakan padaku ini hanya mimpi!" teriak Aline, sesaat setelah dia siuman.


"Tenanglah!" ujar Arlan menenangkan.


"Nggak! Aku mau lihat mereka, bawa aku ke sana." Aline mengguncang tubuh Arlan.


Satu part sebelum berakhir. Ayo, dong bantu semangatin thor! Ini sambil nyesek ngetiknya. Huaaaaa ....


Bersambung ....