Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Sepi Dalam Keramaian



Vano tengah berdiri di balkon sebuah kamar hotel yang masih satu gedung dengan ballroom tempat Aline mengadakan pesta ulang tahun. Dia tidak perlu memesan kamar, karena ia sudah memiliki akses keluar masuk tempat itu secara khusus.


Semilir angin dibiarkan menampar wajah tampan pemuda itu. Dua batang sigaret hanya tersisa sebagian, kepulan asapnya membaur bersama aroma cairan hitam pekat yang menemaninya. Gemerlap cahaya terhampar di bawah sana, tetapi tidak mampu menerangi jiwanya yang kelabu. Hatinya terasa sepi meski berada di tengah keramaian.


Mam, seandainya saja kau tahu. Hatiku lebih hancur melihat keadaanmu, hanya itu satu-satunya cara yang terbaik untuk saat ini. Lebih baik aku dibenci olehmu, karena aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi padamu.


"Shhh...." Vano mendesis, merasakan perih di pipi sebelah kirinya. Cap tangan Fay dan Henry terlukis di sana, membaur mengingatkannya pada kejadian di taman. Mengetahui sikap Vano, Herny begitu murka.


"Nyonya, bangunlah!" Fay menggoyangkan tubuh wanita paruh baya yang kini bersandar padanya. Beruntung Fay sigap menangkapnya, kalau tidak, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Vano berlari, ia sungguh panik melihat Adel yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Namun, Henry segera mendorongnya. Vano terhuyung ke belakang karena tidak dalam keadaan siap.


"Belum cukup kamu menyakiti Mami? Selama ini dia sangat berharap bisa melihatmu, tetapi apa yang kamu lakukan sekarang, hah? Kamu ingin membunuhnya perlahan?" murka Henry membawa Adel dalam dekapan, wanita itu masih terkulai tjdak berdaya. "Kalau ada orang yang harus disalahkan, Daddy orangnya, bukan Mami kamu!"


Henry membawa sang istri untuk beristirahat, ia juga menghubungi Dokter Alvin untuk memeriksa keadaan Adel. Mereka baru saja menempuh perjalanan jauh dari London, langsung menuju ke tempat acara dan tidak beristirahat terlebih dahulu.


"Arlan, hubungi Dokter Alvin," ucap Henry, kebetulan ada hal yang perlu Arlan katakan pada Vano. Diluar dugaan, ia justru menyaksikan kisah pilu drama ibu dan anak.


"Baik." Arlan menghubungi Dokter Alvin, tidak lupa memberitahu mama dan papanya tentang kejadian yang menimpa Mami Adel.


Fay menatap nanar kepergian Herny bersama Adel dalam dekapnya. Benarkah ia akan menikahi monster berwujud tampan yang tega menyakiti keluarganya sendiri?


"Lebih baik kita tidak usah bertemu dulu," ucap Fay, rasa kecewa karena dia tahu sisi lain Vano lebih cepat dari yang dibayangkan.


Flash Back On


Melviano terpaksa melakukan hal yang membuat Adel dan keluarganya membenci sikapnya. Hanya dengan begini dia bisa melindungi keluarga besar Syahreza dari wanita jahat itu.


Wanita yang mengaku sebagai saudara Mommy Metta, wanita itu tanpa sengaja bertemu dengannya saat berkunjung ke makam Mommy Metta beberapa hari sebelum hari ulang tahunnya ke-15.


Saat itu, El mengira wanita yang tengah bersimpuh di samping makam Mommy Metta adalah Adel, wanita yang telah merawat dan memberikan kasih sayang padanya selama ini.


"Mam," sapa El. Remaja itu mensejajarkan tubuhnya dengan wanita itu.


"Kenapa eng-gak ...."


El terpaku saat wanita itu memalingkan wajah ke arahnya. Bagaimana tidak? Wajah wanita itu sangat familiar, wajah yang selama ini hanya bisa El lihat di foto.


Jantung El seolah berhenti memompa, ia mengerjap dan menggosok mata dengan tangannya, berharap ini hanyalah sebuah mimpi.


"Kenapa? Masih belum percaya?"


El membisu, dia mencubit tangan kirinya, ini nyata. Remaja itu mengamati penampilan wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kau ... kau benar Mommy?" lirih El.


"Haha ... Jangan mimpi! Siapa yang punya anak sepertimu ini," cibir wanita itu. Dia tersenyum mengejek, dan kembali berkata, "coba lihat! Yang mana dari tubuh ini mirip mommy kamu yang bodoh itu."


Ini tidak benar, siapa sebenarnya wanita ini?


"Hei, bocah kecil. Aku tidak sudi menjadi mommy kamu, anak dari laki-laki yang sudah membunuh Metta." Seringai menghiasi wanita itu, sangat mengerikan.


"Siapa Anda sebenarnya?" tanya El dengan wajah ketakutan.


"Heh, tidak perlu tahu siapa diriku, yang pasti akulah yang akan menghancurkan Henry dan keluarganya. Sudah cukup mereka bersenang-senang selama ini. Aku akan membuat perhitungan dengan kalian. Terutama wanita itu, karena dia Metta pergi."


"Kau ini tahu apa? Dia yang sudah membunuh Metta, dan berpura-pura seolah dia malaikat. Jangan lupa kau masih bayi saat itu!"


El memang hanya mendengar cerita dari orang-orang di sekitarnya, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi 15 tahun silam. Bahkan sampai saat ini tidak seorang pun yang memberitahu dirinya kisah Mommy Metta.


Mereka selalu beralasan jika bertanya Metta, alasan mereka hanya tidak ingin membuka luka lama yang sudah dikubur dalam-dalam. Tertama Henry, ia tidak ingin membuat El kecewa jika tahu masalahnya dengan Metta.


"Kenapa diam?! Tidak bisa jawab? Karena kamu memang tidak tahu yang sebenarnya terjadi, bukan?"


"Itu tidak perlu, siapa pun Anda. Saya harap Anda jangan pernah sekali pun mendekat atau menyentuh keluargaku."


Rahangnya mengeras dengan tangan yang terkepal, El tak rela jika ada orang lain yang mengganggu kebahagiaan keluarganya.


"Anda tidak perlu berbicara buruk tentang Mami Adel. Saya lebih tahu bagaimana Mami dari pada orang lain."


"Hahaha ... Benar-benar anak Metta, kebodohannya bahkan ia wariskan padamu."


"Stop!"


Melihat El kesal justru membuat wanita itu semakin berani untuk memgungkapkan kebenciannya.


"Selama wanita bernama Adel itu masih berada di sisi Henry, maka selama itu juga aku tak akan menyerah," bisik wanita itu.


El teringat kejadian satu minggu yang lalu, dimana dia dan Mami Adel hendak ke toko kue. Mami Adel hampir saja tertabrak mobil jika dirinya tak datang di waktu yang tepat.


"Apa yang bisa saya lakukan agar Anda mengampuni keluarga saya?"


"Kau cukup pintar."


Wanita itu berdiri sambil bertepuk tangan, memang benar dugaannya, El bukanlah remaja biasa yang akan menyerah dengan keadaan.


"Aku mau dia membencimu!"


"Tidak bisa!" El menggeleng lemah, bagaimana dia bisa menyakiti wanita yang sangat disayanginya?


"Semua terserah padamu," ujar wanita itu dengan mengangkat bahu. Dia melenggang menjauhi pemakaman dengan seringai mengerikan di wajahnya.


Sedangkan remaja itu tak kuasa menahan genangan yang sejak tadi ia tahan. Bagaimana ia akan memilih? Jika bertahan maka nyawa Adel dan keluarganya dalam bahaya, tetapi jika tidak, ia akan menyakiti seluruh keluarganya.


"Mom, tolong katakan padaku, apa yang harus El lakukan?" isaknya pada gundukan tanah dengan taburan bunga segar di atasnya.


Wanita itu pasti tidak main-main dengan ucapannya. Berulang kali Mami Adel hampir celaka, semua itu pasti ulah wanita jahat itu.


Flash Back Off


"Aku harus bagaimana sekarang?" Vano mengacak tatanan rambutnya. Dia tidak pernah merasa begitu frustasi seperti ini sebelumnya. Terlebih kehadiran wanita itu di dalam keluarga besarnya, membuat Vano harus bekerja keras untuk menyingkirkan hama dalam kedamaian rumah tangga orang tuanya.


"Tidak, kerja kerasku selama ini tidak boleh beehenti di tengah jalan. Tinggal selangkah lagi, hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya."


Tidak ingin lagi Mami Adel terluka, Vano harus segera mengakhiri semua duri dalam kehidupannya. Dia tahu apa yang harus dilakukan setelah ini.


Bersambung ....