
"Ehm, saling memandangnya bisa di skip sebentar?" ucap penghulu.Tampak rona di wajah keduanya, mereka duduk saling berdampingan.
Fay sudah duduk di samping Vano untuk penandatanganan buku nikah. Ekor matanya tidak lepas dari wanita cantik yang duduk di sampingnya. Ada perasaan haru, sekarang dia sudah menjadi seorang suami, tanggung jawab juga bertambah. Meski hanya di atas kertas, tetapi bagi Vano pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Dia berharap hanya sekali dalam hidupnya. Namun, apalah dayanya, mereka memiliki tujuan masing-masing.
Dia sama sekali tidak mengadakan pesta pernikahan, meski aku tahu bahwa hanya acara sederhana saja dia harus menghamburkan banyak uang. Namun, apalah arti semua itu baginya. Dia pasti tidak ingin banyak orang yang tahu bahwa dia sudah menikah. Terlebih pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan.
Selesai acara utama, Vano sibuk dengan tamu undangan yang hadir, sementara Fay harus mengikuti suami abal-abalnya itu menyapa para tamu. Mulutnya terasa keram karena setiap kali harus memaksakan senyum. Setelah mengabadikan momen bersejarah dalam hidup mereka, kini ia harus berkeliling menggunakan high heels, benar-benar sejarah kelam. Yah, hal ini akan menjadi sejarah yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup Fay.
"Ck, menyebalkan," gerutu Fay. Semua yang hadir tidak satu pun yang dikenalnya.
"Diam sebentar, jangan berulah!" bisik Vano mengeratkan tautan tangannya.
"Ish, nggak tahu apa kakiku sudah sakit." Fay menatap Vano dengan wajah sendu, berharap laki-laki itu akan berbelas kasihan padanya.
"Perlu saya gendong?" Vano sengaja menggoda istri barunya.
Kening Fay berkerut, masih banyak orang di ruangan itu. Tidak boleh, tanpa melakukannya dia sudah cukup risih dengan tatapan orang-orang yang hendak memuja penampilannya.
"Awas saja kalau sampai terjadi," ketus Fay.
Apa gunanya pelaminan kalau pada akhirnya hanya untuk pajangan?
"Jangan mengumpatku."
"Si-siapa yang ngumpat?" elaknya.
Vano menatap Fay kesal, mengapa dia terlihat lucu dan imut? Membuatnya tak tega untuk terus menggodanya. Bagimanapun, mereka akan melewati lebih banyak waktu bersama setelah hari ini. Dengan kata lain, Vano memiliki mainan untuk menghiburnya.
Sejak kapan kamu merasa kasihan pada wanita yang hanya menginginkan hartanya? Itu tidak pantas, Vano.
Selesai menjamu tamu, acara makan bersama sebagai penutup dari rangkaian acara hari ini. Masing-masing meja diisi oleh 5-6 orang, mereka duduk mengelilingi meja. Acara benar-benar singkat, tidak ada haru biru seperti yang Fay bayangkan. Yang hadir hanya keluarga ini dan beberapa tamu penting.
Fay tidak bisa membayangkan dirinya akan tinggal di sini, jauh dari keramaian, tetangga juga jarang. Kalaupun ada, pasti jaraknya sangat jauh. Dia terbayang film horor yang sering dilihatnya, biasanya rumah mewah itu berhantu. Ah, seram.
Apa yang kamu pikirkan? Siapa juga yang mau dikurung di tempat ini.
Vano memperhatikan wanita yang baru saja sah menjadi istrinya, ada kekecewaan di matanya. Apakah karena pernikahan ini tidak sesuai keinginannya? Terbesit sebuah ide untuk mengetes Fay.
"Ehm, Sayang."
"Whattt?" Fay langsung berdiri dari duduknya, menggebrak meja dengan kedua tangannya, matanya membulat penuh. Dia begitu terkejut, tidak menyangka dengan apa yang didengarnya.
Semua mata yang ada di ruangan itu tertuju padanya. Fay merapatkan bibirnya erat, mengapa dia lupa dirinya masih ada diantara keluarga besar. Beruntung tamu yang lain sudah meninggalkan tempat acara, tetap saja Fay merasa malu.
"Sayang, kau tidak perlu sesenang itu," ucap Vano lantang. Dia menganggukkan kepala sebagai permintaan maaf.
"Ini semua gara-gara kamu, untuk apa mengagetkanku?" Fay menatap Vano nyalang. Laki-laki itu terlihat datar, seperti tidak ada hal yang terjadi. "Aku nggak suka dipanggil begitu."
"Kalau begitu cinta, baby, honey, sweetheart, atau....?"
"Cukup, nggak ada satu pun."
"Tapi kita ini suami istri, harus ada panggilan sayang yang mesra."
"Apanya suami istri? Kita hanya sandiwara, jangan merancau di siang bolong!" gumam Fay pelan, tetapi Vano masih bisa mendengarnya. Dia sendiri tidak menyangka terhafap reaksi Fay yang berlebihan.
"Saya masih bisa mendengarnya," ujar Vano kembali menyuap makanan ke mulutnya.
"Aduh, kalian ini pengantin baru nggak ada romantis-romantisnya sama sekali," sindir Wulan.
"Masih malu-malu kucing, sama kayak kita dulu," sahut Arga.
"Ish, siapa juga yang malu-malu," elak Wulan.
"Ma, coba cerita waktu awal menikah," celetuk Ara.
"Hssttt... Kamu masih dibawah umur, belum saatnya tahu urusan orang dewasa." Aline yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan, sekarang turut bersuara.
"Hei, jangan ganggu dia, kamu tidak lihat ada bidadari yang duduk di sampingnya?" celetuk Arlan.
Pasangan pengantin baru itu menjadi bulan-bulanan untuk keluarga besar Syahreza. Yuri sudah lebih dulu meninggalkan acara karena harus kembali mejalani perawatan di rumah sakit. Begitu juga Riko, laki-laki itu diantar pergi sesaat setelah Yuri pergi.
Fay dapat merasakan kehangatan keluarga Vano, tetapi mengapa sikapnya begitu berbeda dengan kedua orang tuanya? Ya, Henry dan Adel segera meninggalkan acara setelah mengabadikan moment bahagia putra kesayangan mereka. Namun Fay masih mencoba berpikir jernih, mungkin saja ada hal penting yang tidak bisa ditinggalkan.
Ada sedikit rasa iri, mereka adalah keluarga sultan, tetapi masih menggenggam erat keharmonisan keluarga. Seandainya pernikahan ini sungguhan, atas dasar suka sama suka. Pasti Fay akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.
Melihat perubahan raut wajah Fay, Vano menyadari ada sesuatu yang membuatnya terusik. "Saya permisi untuk mengantar istri istirahat," pamit Vano pada seluruh keluarga besarnya.
"Ciye, yang udah nggak sabar," goda Ara.
"Anak kecil diam!" sahut Aline dan Arlan bersamaan.
"Ciye, barengan." Kali ini Ara menggoda kakaknya dan Aline.
Fay hendak kembali ke kamar yang ditempati sebelumnya, dia juga merasa lelah meski acara berlangsung cepat. Hampir semalaman dia tidak tidur, semua itu ulah anak buah Vano yang menculiknya lagi dan lagi.
"Kamu mau kemana?"
"Eh, bukan urusanmu!" ketus Fay.
"Sekarang menjadi urusanku. Bagaimana kalau mereka curiga kalau kita tidak tidur satu kamar?"
Tunggu, maksudnya Fay harus berbagi kamar dengan laki-laki menyebalkan itu? Mengapa ia tidak memikirkan hal itu? Menikah berarti hidup berdua, berbagi satu sama lain.
"Maksudnya, kita...?" Fay menunjuk Vano dan dirinya bergantian.
"Tentu saja, lagi pula ini bukan pertama kalinya untuk kita."
Pipinya memerah, jika saja malam itu dia tidak mabuk, pasti tidak akan berakhir bersama Vano.
Ck, mau tidak mau Fay harus kembali bersandiwara. Dimulai hari ini, hidupnya akan penuh dengan sandiwara. Namun yang dikatakan Vano benar, jika tidak terjadi malam itu, mungkin saat ini bukan dirinya yang akan menikah dengan Vano.
"Tunggu apalagi?"
Fay mengikuti Vano, luas kamar ini sebesar rumah yang ditinggali Fay bersama ibunya. Tidak hanya itu, kamar ini didekorasi dengan indah, layaknya kamar pengantin yang pernah dilihatnya di film-film. Aroma bunga segar menusuk di indera penciuman saat Fay memasuki ruangan.
"Tapi, koperku."
"Saya sudah meminta pelayan untuk membuangnya."
"Apa kamu bilang? Kenapa seenaknya membuang barang pribadiku?" ucap Fay dengan nada tinggi.
"Karena saya tidak ingin kamu memakai pakaian itu lagi, ingat statusmu! Sekarang kamu adalah Nyonya Muda Syahreza, jangan membuatku malu dengan pakaian lusuhmu itu."
"Ck, dasar sombong. Mentang-mentang anak sultan."
"Bukankah hal itu yang membuat kamu setuju menikah denganku?" ucap Vano dengan sudut mulut mencibir.
Semua yang Vano katakan benar, tetapi mengapa Fay merasa sakit hati akan ucapan laki-laki itu?
Vano menanggalkan jas mahalnya melonggarkan ikatan simpul di leher yang terasa mencekik. Dia menatap wajah Fay seksama. "Ah, ya. Saya sudah mengurus prosedur pengunduran dirimu. Mulai besok, kamu sudah tidak perlu bekerja."
"Kau ini benar-benar, ya. Lalu, dari mana aku mendapatkan uang untuk membayar semua biaya hidupku dan Mama nanti?"
"Kau mau bekerja?" Fay mengangguk pelan.
"Apakah semua yang kuberikan masih belum cukup?"
"Aku hanya ingin mendapagkan uang dari kerja kerasku sendiri."
"Kalau begitu, mulai sekarang kamu bekerja untukku. Hanya untukku!"
Bersambung ....