Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Sweetheart



Vano terus menempel pada sang istri, dia tak sedikit pun memberi kesempatan untuk Fay menjauh darinya. Hanya untuk urusan kamar mandi saja dia begitu susah dibujuk. Seperti sekarang ini contohnya.


"Mau kemana lagi?" tanya Vano dengan mata terpejam. Setiap gerakan Fay pasti disadari olehnya.


"Mau pipis, kamu mau ikut?" sahut Fay kesal. Bagaimana tidak? Vano tidak membiarkannya pergi dari sisinya. Padahal ia juga perlu melakukan banyak aktivitas.


"Boleh?" Vano terbangun, seketika matanya terbuka lebar.


"Nggak." Fay berlalu, sebelum Vano kembali berulah. Semenjak hamil, Fay lebih sering bangun tengah malam untuk ke kamar mandi.


Apalagi perutnya yang terlihat semakin membuncit di usia kehamilannya yang memasuki bulan kelima. Namun, morning sickness yang dialaminya menghilang begitu saja semenjak Vano kembali ke sisinya.


Masih di dalam perut saja sudah pintar, dia tidak lagi rewel, apalagi soal makanan. Hal itu mempengaruhi berat badan Fay, dalam satu bulan berat badannya bisa naik hingga dua kilogram. Apalagi kalau Vano yang menyuapinya, pasti tidak akan ada habisnya.


"Sudah?"


"Hmm."


"Tidurlah! Sekarang masih malam," pinta Vano, menepuk sisi ranjang di sebelahnya.


"Aku lapar," rengek Fay.


"Tadi udah makan pas mau tidur, masa iya baru dua jam mau makan lagi?" cibir Vano.


"Iya, tapi sekarang lapar lagi." Fay mengedipkan matanya beberapa kali, sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk bulan sabit. "Ini juga baby yang minta," lanjutnya.


Vano mendesahkan napasnya, tidak mungkin dia mengabaikan Fay, apalagi dengan alasan bayi di dalam perutnya. Mau tak mau Vano harus ke dapur dan menemukan makanan sesuai keinginan sang istri.


"Ya sudah, mau makan apa?" Vano bersiap turun dari ranjang, tak ingin Fay menunggu semakin lama. Rasa kantuk seakan menghilang, padahal Vano baru saja terlelap beberapa menit.


"Salad buah."


"Aku ambilkan."


"Nggak mau."


"Terus?"


"Baby mau Daddy yang bikin." Fay memperlihatkan deretan giginya tanpa dosa.


"Mana bisa, biar Mbak Rum yang buatin," bujuk Vano.


"Nggak mau, buatan Mbak Rum nggak enak, maunya kamu yang bikin. Titik, nggak pake koma."


"Kau mau Daddy melayani ibu ratu lagi, Sayang?" bisik Vano, dia mendekatkan tangannya untuk mengusap perut sang istri yang terlihat membuncit.


Diluar dugaan, bayi tersebut sudah bisa merespons ucapan Vano. Dia bergerak dengan lincah di dalam sana, seolah mengerti bahasa yang Vano katakan.


"Tuh, kan. Nggak percaya, sih."


"Heh, baiklah! Tunggu di sini!" Vano bergegas menuju ke dapur, dia menyalakan lampu, mencari keberadaan bahan yang dapat dijadikan salad buah di lemari penyimpanan.


"Mau apalagi? Bukankah sudah kubilang untuk menungguku di kamar?" Vano memutar bola matanya, Fay semakin hari semakin menyebalkan, menggunakan alasan kehamilan untuk mengerjai Vano setiap saat.


"Aku mau lihat, siapa tahu kamu bohong."


"Nggak mungkin, buat baby, apa yang nggak bisa." Vano mulai mengumpulkan setok buah yang ada sesuai instruksi video, ponselnya terus dinyalakan sampai salad buah yang Fay inginkan tersaji.


Fay berpangku tangan memperhatikan tangan lincah Vano, beruntung lemari penyimpanan makanan itu telah diisi penuh. Jika tidak, Vano tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi keinginan Fay yang semakin hari semakin aneh.


"Tadaaa ..., pesanan Anda sudah sudah datang." Vano membawa semangkuk salad buah hasil olahan tangannya sendiri, dia tidak pernah membuatnya, tetapi bekat bantuan video online, Vano berhasil menyelesaikannya.


"Hmm ..., harum banget," puji Fay mengendus wangi buah segar yang bercampur saos berwarna putih.


Potongan berbagai macam buah ditambah saus mayonise, yogurt, dan creamer serta parutan keju di atasnya membuat Fay mengulum saliva. Tak sabar ingin segera mencicipinya.


"Mau disuapin?" Vano mengira Fay ingin dirinya menyuapkan salad biah tersebut. Dengan sigap Vano mengambil piring kecil dan sendok, bersiap menyuapi sang istri, tetapi Fay menggeleng dan menutup mulutnya.


Fay justru merebut piring tersebut dan kembali mengendus aromanya. Setelah itu, dia mengambil sendok dan meminta Vano membuka mulutnya. "Aaa ..., ayo buka mulutnya."


"Hah, bukankah kamu yang lapar?" Vano mengerutkan keningnya, mengapa sekarang berbalik? Fay yang menyuapinya.


"Aku kan nggak bilang mau makan salad," celetuk Fay seenaknya.


Ini sebenarnya istriku yang banyak tingkah apa akunya yang mudah ditindas? Huhu ..., Baby, kasihan banget kamu selalu jadi tumbal Mami.


"Tadi katanya lapar, terus mau salad." Vano mendengkus, dia mulai kesal.


"Iya, tapi aku cuma mau cium baunya aja."


Gubrak! Sudah susah payah Vano membuatnya, tetapi hanya ingin dinikmati aromanya saja. Bukan hanya itu, Fay kembali menyuapkan salad buah tersebut untuknya.


"Udah, Sayang."


"Baby masih mau suapin," rengek Fay dengan bibjr mengerucut.


Baby, kamu belum lahir aja udah buat Daddy darah tinggi. Semoga saja setelah lahir nanti jangan bertingkah yang menyusahkan Daddy lagi, oke.


Tatapan Vano tertuju pada perut buncit yang membola. Mulutnya terus mengunyah suapan demi suapan yang diberikan ibu hamil tersayangnya.


Mereka kembali ke kamar setelah Vano menghabiskan hampir setengah mangkuk salad buah. Perutnya terasa berat untuk berjalan karena terlalu penuh.


Setiap kali Vano mengatakan sudah, Fay akan menangis, membuatnya tidak tega dan kembali menuruti keinginan sang istri.


Ini ngidam apa kesempatan balas dendam?


"Mau dielus." Fay meraih tangan Vano dan meletakannya pada bulatan yang membuncit.


"Sayang, bobok, ya. Udah malem, nih." Vano berbicara dengan baby yang masih ada di dalam sana. Lagi-lagi dia merespon dengan gerakan bergelombang yang semakin terasa nyata.


"Mami juga bobok, ya." Sebuah kecupan mendarat di kening sang istri.


"Thanks, My lovely husband," bisik Fay kemudian berbalik membelakanginya.


Meski tidak dapat melihat wajahnya, Vano tahu bahwa sekarang wajah Fay tengah bersemu. Semenjak hamil, Fay semakin manja dan Vano menyukai itu. Satu manja, satu lagi nggak mau lepas. Haha ... apa bedanya kalian berdua sama-sama membutuhkan.


"Love you sweetheart," balas Vano tak kalah berbisik. Dia merapatkan diri pada yang istri, memeluknya. Tangannya tak berhenti mengusap hingga keduanya terlarut dalam dunia mimpi.


Bersambung ....