Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Tugas Pertama Sebagai Istri



Jangan lupa kasih selamat untuk pengantin baru kita, ya.


"Jadi, ini pekerjaan yang kamu maksud? Tidak terlihat seperti pekerjaan, tapi lebih mirip babu berkedok istri," gerutu Fay saat menyadari mansion mewah itu hanya ditinggali Vano dan dirinya saja.


"Katanya orang kaya, tapi membayar asisten rumah tangga saja tidak mampu." Mansion seluar puluhan hektar itu terlihat sepi, tidak ada pelayan dan pengawal yang bersiaga. Kemana mereka semua? Apakah mereka akhirnya menyerah, sudah tidak tahan bekerja dengan bos menyebalkan seperti Vano, selain itu, dimana keluarga besarnya itu? Bukankah mereka semalam menginap di mansion?


Fay memotong sayuran dengan kasar, dia bangun pagi karena bising alarm Vano yang terus berbunyi di dekat telinganya. Sungguh keterlaluan.


Namun Fay masih bersyukur, Vano memperlakukannya dengan layak sebagai seorang manusia. Sangat jauh dari yang dipikirkan Fay, laki-laki monster menyebalkan itu ternyata bisa berlaku baik dan menghormati privasinya.


"Kalau kerja itu harus ikhlas," celetuk Vano yabg tengah berdiri di belakangnya dengan tangan bersedekap.


"Aduh!" Fay tidak menyadari sayuran yang dipotongnya sudah habis, kini jarinya yang harus menjadi korban ketajaman pisau di tangannya. "Bisa nggak, kalau nggak ngagetin orang?" pekik Fay seraya meniup jarinya yang mengeluarkan cairan merah pekat.


"Tidak bisa," sahut Vano singkat.


"Ish, kalau begitu jangan datang ke sini!" ketus Fay.


"Ini rumah saya, terserah saya mau ada di mana, tidak ada yang melarangku!"


"Tuan Melviano yang terhormat, aku juga nggak minta tinggal di sini."


"Baiklah, waktumu sudah habis. Tunggu saja hukuman yang akan kau terima." Vano mengedipkan sebelah matanya dan berlalu meninggalkan dapur.


Sebagai dua orang asing yang tiba-tiba harus hidup bersama, mereka hanya bisa menghilangkan rasa canggung dengan caranya masing-masing. Hanya dengan berlaku acuh tak acuh, maka kecanggungan itu diharapkan dapat memudar dengan sendirinya.


"Ck, apalagi yang dia inginkan?"


Vano kembali dengan kotak P3K ditangan, Fay dibuat terkesima saat laki-laki itu menariknya duduk di meja makan. "Berikan tanganmu!"


"Untuk apa? Aku bisa mengobatinya sendiri," ucap Fay sebal.


"Cepat, jangan membuatku mengatakannya kedua kali."


Fay tersenyum samar, ternyata Vano masih bisa peduli dengan orang lain. Dia mengobati luka Fay dengan hati-hati, sesekali meniupnya perlahan.


"Kalau diperhatikan dari dekat, ternyata dia memang sangat tampan. Rahang kokoh dengan alis tebal dan bulu mata panjang meski tidak terlalu lentik. Cukup, apa yang sudah kamu pikirkan, Fay?" ucapnya dalam hati.


"Untung saja cuma gores, coba kalau sampai patah. Pasti saya yang akan kena sial, harus menambah biaya pengeluaran untuk biaya rumah sakit, belum lagi ganti ruginya."


Fay memicingkan matanya, dia menarik kembali kata-kata pujian untuknya. Bagaimanapun juga laki-laki itu adalah Vano, pasti tidak akan semudah itu membantunya.


"Aku nggak minta, saya bisa sendiri." Fay menarik tangannya dari genggaman Vano.


"Jangan banyak bergerak kalau tidak ingin lukamu kembali terbuka." Akhirnya plester bergambar hati berhasil dipasang.


Kenapa plester ini harus gambar hati? Membuat mataku sakit, besok aku akan minta Arlan menggantinya dengan gambar yang lain.


"Tuan, kau sengaja mengungkapkan perasaan dengan benda ini?" Fay menunjuk jari telunjuk yang terbalut plester dengan ekor matanya. Dia sengaja memecah ketegangan dengan menggoda Vano.


"Jangan berpikir aneh-aneh, hanya kebetulan saja. Kau lihat semua gambarnya sama. Saya hanya tidak ingin kau membuatku kelaparan dengan alasan jari tanganmu."


"Haish, masih saja perhitungan. Otaknya selalu diisi dengan kerugian dan keuntungan!"


"Terserah."


Jawaban membagongkan dari semua pertanyaan, terserah itu maknanya panjang. Perlu kepekaan yang tinggi untuk menjawabnya, perlu kesabaran yang luas untuk menjelaskannya.


Fay hendak kembali ke dapur, tetapi Vano menahannya. "Mau kemana?"


"Kemana lagi? Anda tahu saya sedang apa sebelumnya?"


"Ikut saya. Saya belum menyelesaikan hukuman karena kecerobohanmu."


Vano menarik Fay ke kamar, tentu saja Fay memberontak. Apa yang akan Vano lakukan padanya? Pikir wanita itu.


"Saya tunggu lima menit kalau tidak selesai, saya sendiri yang akan membantumu berganti pakaian. Waktumu dimulai dari sekarang!"


Apa katanya? Dasar fiktor, selalu saja menggunakan kesempatan untuk menindasku.


Meski begitu, Fay tetap melakukan keinginan Vano untuk berganti pakaian. Hampir semalaman dia tidak bisa tidur karena takut Vano berbuat yang tidak-tidak padanya, rasa waspada yang berlebihan justru membuatnya tersiksa sendiri. Pagi sekali Fay sudah bangun dan mandi dan berkutat di dapur.


"Tapi dia tidak mengatakan ingin pergi kemana," gumam Fay. Dia sibuk memilah pakaian di walk in closet, semua pakaian sama sekali tidak ada yang sesuai dengan seleranya. Hampir keseluruhan berbentuk dress dengan berbagai macam model.


Dia memakai dress di bawah lutut berkerah, pakaian yang menurutnya paling simpel, dipasukan dengab sepatu flat berwarna senada. Rambut diikat kuncir kuda dengan sentuhan make up tipis. Mulai sekarang, Fay akan berusaha menikmati perannya sebagai Nyonya CEO.


"Kamu pasti bisa, Fay. Jangan mengeluh, ingat Mama yang sedang menunggumu!" Berkali-kali Fay meyakinkan dirinya sendiri bahwa hal ini tidak akan lama. Jadi dia memutuskan untuk menikmati peran barunya. Kalau perlu dia akan membuat Vano semakin kesal dengan tingkahnya.


Masih ada black card di tangan. Fay berjanji akan menghamburkan uang Vano, dia akan menghabiskan uangnya sebanyak mungkin. Dengan begitu, Vano pasti akan membencinya dan segera berpisah dengannya. "You're really smart, Fay."


Vano melirik alroji yang melingkar di tangan kirinya. Dia sudah berganti pakaian di ruangan lain dengan pakaian casual, celana jeans panjang dipadukan kaos berkerah berwarna putih. Membuatnya terlihat semakin tampan.


Laki-laki itu mengurungkan niatnya, pintu sudah terbuka tanpa dia melakukan apa-apa. Fay terlihat cantik dengan pakaian yang dikenakannya, baju itu sangat cocok dengan kulit bersihnya.


"Lama banget," ketus Vano saat kesadarannya kembali. "Kau yakin memakai pakaian ini?"


"Ya, apa ada yang salah?" tanya Fay dengan kening berkerut.


"Tidak. Kita berangkat sekarang."


Fay mengekor di belakang Vano. Sebuah mobil berwarna putih sudah terparkir di halaman dan siap mengantarkan mereka berdua. Hari ini, Vano sengaja meliburkan semua pelayan dan pengawal yang bertugas. Namun, masih ada beberapa orang yang disiagakan jika ada hal mendesak yang Vano perlukan, seperti sekarang contohnya.


"Kita mau kemana?"


"Menerima hukumanmu."


Kalau mau menghukum, kenapa memintaku berganti pakaian segala? Sebenarnya dia akan membawaku kemana? Jangan-jangan markas rahasia. Di sana dia akan menyiksaku seperti di film-film?


Mobil melaju, meninggalkan pekarangan mansion mewah. Vano sendiri yang menyetir, dia menolak saat sopir ingin mengantarnya. Sepanjang jalan Fay hanya diam, tangannya menggenggam dress hingga terlihat lusuh di bagian yang digenggamnya.


Bayangan hukuman yang Vano katakan membuatnya cemas, padahal ia sendiri sudah sering melakukan pelatihan beladiri sebelumnya. Namun, detak jantungnya benar-benar tidak dapat dikendalikan.


Kemana mereka akan pergi? Bagaimana Vano akan menghukum istri barunya? Tulis pendapatnya di kolom komentar. Semoga berkenan memberikan like, vote dan hadiah supaya thor lebih semangat. Terima kasih.


Bersambung ....