Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Ulang Tahun Aline 2



"Aku tidak akan memaafkan semua orang yang sudah mengusik ketenangan keluargaku, sudah saatnya diakhiri."


Gemerlap lampu di malam hari semakin memudar, Vano menatapnya nanar. Kekuasaan sudah ada dalam genggaman. Satu langkah lagi, untuk mengamankan posisinya sebagai CEO HS Group. Yah, setelah ia menikahi Fay, maka semua kualifikasi akan terpenuhi. Dia tidak akan goyah, dirinya yang sekarang bukan Vano yang dulu lagi, bukan pula Vano yang lemah dan membiarkan orang lain menyakiti keluarganya. Dengan sikapnya, bukan hanya keluarganya yang tersakiti, tetapi juga dirinya sendiri bagaikan buah simalakama.


"Lan, percepat rencana kita, saya mau besok semuanya sudah siap," ucap Vano setelah panggilan terhubung.


Apa katanya? Besok? Dia ini benar-benar suka menyiksa orang. Enak banget tinggal ngomong, enggak tahu yang di sini jungkir balik.


"Arlan, saya tahu kamu sedang mengumpat," cibir Vano.


Arlan memutar bola matanya, kesal dengan sikap Vano yang semena-mena. Namun, Vano pasti memiliki alasan tersendiri dibalik sikapnya.


"Peramal gadungan," kesal Arlan.


"Hei, biarpun gadungan, tetapi semua tebakanku seharusnya tepat."


"Baiklah. Anda benar, Tuan Melviano."


"Ya, di sini akulah bosnya."


"Jadi kapan saya harus mulai mempersiapkannya? Anda tidak sudah menunda waktu saya."


"Ck, sekretaris tidak beradab."


Panggilan berakhir, Arlan terkekeh sudah berhasil membuat Vano kesal. Namun, Vano sendiri tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Arlan masih tahu batasan dan waktu untuk serius dan bercanda.


***


Sementara itu, Fay kembali ke tempat acara. Nasib baik sungguh tidak berpihak padanya, niat hati ingin memanjakan mata justru harus ternoda dengan kehadiran perempuan yang paling tidak ingin ditemuinya.


"Heh, anak haram! Ini bukanlah tempat yang bisa kamu datangi sesuka hatimu," ejek perempuan itu.


Astaga, untuk apa si ulat bulu datang ke sini? Tidakkah Engkau biarkan aku menikmati kehidupan orang kaya sebentar saja.


Bukan tidak pernah, tetapi Fay memang tidak menyukai acara seperti ini yang menurutnya hanya menghamburkan uang. Lebih baik Fay gunakan waktunya untuk hal yang lebih bermanfaat. Namun, saat ini keadaannya lain, Fay ingin menikmati makanan dan minuman enak untuk melampiaskan rasa kesalnya pada Vano. Dia yang sudah membawanya, tetapi meninggalkannya diantara orang-orang yang tidak dikenal.


"Apa kamu bilang? Aku enggak dengar." Fay mendekatkan diri dengan tangan di telinga. "Maksudmu, hari ini aku cantik? Haha..., aku memang cantik sejak lahir."


Fay sama sekali tidak takut dengan Farah, terlebih dia duduk di sudut ruangan yang tidak terlalu ramai. Dia sengaja memilih tempat itu karena ingin menikmati acara tanpa diganggu oleh siapa pun.


"Telingamu memang bermasalah, sama seperti pemiliknya!" Farah tak henti memaki kakak tirinya, dia tidak mengindahkan suaranya yang mulai menarik perhatian tamu yang lain.


"Kenapa? Iri dengan kecantikanku?"


"Tidak sudi, orang miskin seperti kamu pasti hanya mengandalkan pria hidung belang. Kecantikan palsu, aku juga yakin kalau semua yang melekat di tubuhmu semua barang palsu, tiruan, imitasi." Farah terus mengeluarkan kata-kata pedas, beberapa orang mulai mencuri dengar perdebatan keduanya.


"Setidaknya hatiku tidak imitasi sepertimu dan ibumu." Fay menarik sebelah sudut bibirnya dengan wajah acuh, Dia menikmati hidangan untuk mengganjal perut kosongnya.


Aku perlu makanan yang banyak, jangan salahkan acting-mu yang terlalu buruk untuk seorang pemain drama.


"Kamu, beraninya menjelekkan Mama." Farah mulai terpancing, tujuannya untuk membuat Fay malu, tetapi kini dirinya yang tersulut api amarah. Apalagi mendengar ibunya ikut terseret.


"Aku? Kata-kataku yang mana yang menjelekkan kalian? Bukankah semua yang kukatakan itu fakta?"


Farah semakin kesal, berjalan mendekati Fay yang masih menikmati kue di hadapannya. Dia menyingkirkan piring makan dengan tangannya, membuat Fay beranjak dari duduknya, beruntung piring tersebut tidak melukai Fay.


"Kau gila!" seru Fay dengan tangan terkepal erat.


"Dasar jelek, beraninya kamu!"


Hal itu tidak luput dari pengawasan petugas keamanan yang kebetulan melintas, tamu undangan mengerumuni meja di sudut ruangan itu dengan tatapan penuh tanya.


"Heh, apa yang kau lakukan? Untuk siapa kamu berpura-pura? Tidak akan ada yang menolongmu, meski kamu berlutut di hadapanku sekali pun."


"Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar tidak sengaja melakukannya." Mata Fay berembun, menunjuk gaun berwarna biru terang yang terkena noda makanan.


Farah membulatkan mata lebar, ternyata gaun yang disewanya telah dikotori oleh Fay. "Aarrghhh..., kau sudah mengotori gaun kesayanganku."


Tamu undangan saling berbisik, kebanyakan membela Fay, dan sebagian menyalahkan atas kecerobohannya.


"Kejam banget, sih. Padahal udah minta maaf," ucap seorang gadis yang mengenakan gaun hijau.


"Iya, seharusnya tidak perlu sampai seperti itu."


"Dia sendiri tidak hati-hati. Lihatlah siapa orang yang dia singgung, dia itu Farah Adijaya."


"Pasti bakal seru, nih!"


"Saya pasti akan membayarnya uang ganti rugi, asalkan Anda memaafkan saya," isak Fay. Butiran kristal mulai meleleh dari kedua sudut matanya.


"Kamu tidak perlu bersandiwara, anak miskin sepertimu mana sanggup membayar gaun mahalku ini?" ketus Farah menyombongkan diri.


Kerumunan itu membuat Aline tidak kalah penasaran, hal menarik apa yang sudah mengacaukan acaranya?


"Apa yang kalian ributkan? Siapa yang berani mengacau di acaraku?" sentak Aline pada kerumunan itu.


Bryan yang datang menemani adiknya memgobrol dengan Aline juga tertarik untuk melihat keributan yang terjadi. Sungguh suatu kejutan untuknya, dia mengenal betul siapa wanita yang tengah memaki Fay.


Bryan sengaja membawa Farah karena akan makan malam dengan keluarganya, ia sudah lebih dulu menjemput Farah saat Bianca--adiknya--memintanya datang ke acara Aline. Dia sudah mengatakan pada Farah untuk duduk dan menunggunya, siapa menyangka bahwa Farah malah membuat dirinya malu? Jika tahu begitu, dia pasti akan meninggalkannya di dalam mobil.


"Apa yang kau lakukan? Sudah kubilang, diam dan jangan membuatku malu," bisik Bryan, ia menarik lengan Farah hingga terhuyung dan melewatinya begitu saja. Tidak hanya itu, Bryan juga membantu Fay yang bersimpuh di depan Farah.


"Bangunlah!" Bryan mengulurkan tangan untuk membantu Fay.


"Terima kasih, Tuan."


"Bry, kau membelanya? Kau lihat, dia sudah mengotori gaunku!" Farah tidak terima Bryan lebih membela Fay daripada dirinya--tunangan resmi.


"Meski begitu, bukan berarti kamu seenaknya merendahkan orang lain."


Aline hanya memperhatikan dengan tangan terlipat di atas perut, sama seperti tamu yang lainnya. Dia ingin melihat bagaimana reaksi wanita yang akan menjadi calon kakak iparnya jika direndahkan orang lain.


"Tuan, ini memang salah saya," ucap Fay, menghapus jejak air mata di wajahnya.


"Kau dengar, Bry? Dia sudah mengakuinya, dia sudah menghina dan mengotori pakaianku. Apa aku harus diam saja?"


"Hei, cewek bar-bar. Kau yang sengaja datang ke sini dan ingin mempermalukan nona ini." Bianca membela Fay dan memapahnya duduk. Dia sudah tahu kejadian yang sebenarnya dari tamu lain yang menyaksikan sejak kejadian bermula.


"Bi, lo kenal wanita ini?" tanya Aline penuh selidik.


"Gue sama sekali enggak kenal," cibir Bianca.


"Lalu siapa wanita ini? Gue juga enggak kenal." Aline mengangkat kedua bahu bersamaan.


"Kalian ini benar-benar, tunggu saja pembalasanku!" Farah menghentak kaki, meninggalkan tempat itu dengan rasa malu yang luar biasa.


"Nona, saya benar-benar minta maaf. Tolong hubungi saya nanti, ini kartu nama saya." Bryan memberikan kartu namanya pada wanita yang sudah dimaki habis-habisnya oleh Farah.


"Terima kasih, Tuan. Sepertinya tidak perlu." Fay mengibaskan kedua tangannya, saat ini dirinya sudah merasa puas melihat Farah malu.


Bersambung ....