Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Apa Yang Terjadi Padaku?



"Pergi kamu! Jangan sentuh aku!" teriak Fay.


"Saya tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu."


Vano hendak menolong Fay yang masih kesakitan, laki-laki macam apa dirinya yang tega menyakiti istrinya sendiri?


"Aku bilang pergi! Mbak Rum, cepat bantu aku!"


Wanita itu bergeming di tempatnya, Vano menatapnya nyalang, Rumi tidak berani membantahnya.


"Diam! Saya tidak akan pergi kemana pun." Laki-laki itu merengkuh tubuh Fay dengan paksa, membiarkan wanita itu terus memakinya. Itu tidaklah penting, yang terpenting sekarang adalah kesehatan Fay.


"Aku nggak mau sama kamu! Orang jahat, nggak punya hati, aku benci kamu!" maki Fay. Tangangannya memukuli dada bidang Vano dengan air mata tak henti mengalir.


Boleh saja Vano menghukumnya dengan tidak menganggap kehadiran anak itu, tetapi tidak perlu melakukan kekerasan padanya. Apakah dia sengaja melakukannya? Sungguh kejam!


Sekarang Fay merasa sangat terpukul karena tidak bisa melindungi anak yang baru saja tumbuh di rahimnya. Tidak berbeda dengan Vano, dia menyesal. Seandainya saja dia tidak menanggapi Fay, semua ini pasti tidak akan pernah terjadi.


Jika memang anak itu lahir nanti, dalam hati Vano sudah bertekad, akan menganggap anak itu seperti anak kandungnya sendiri meski tidak ada hubungan darah diantara mereka. Bagaimanapun dia tidak ingin mempermainkan pernikahan. Walaupun awalnya memang hanya sebuah kesepakatan, baginya pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dimainkan sesuka hati.


"Semua ini salahmu! Kamu jahat!" Fay tidak henti memaki Vano dan menyalahkannya karena kejadian ini.


Sekarang semua itu hanya tinggal kenangan, hatinya hancur melihat Fay tak henti menangis sambil memegangi perutnya. Kehadiran malaikat kecil yang digadang-gadang akan memberi warna dalam hidupnya sepertinya harus terkubur dalam-dalam.


"Lan ..., Arlan ..., cepat siapkan mobil!" Suara bariton Vano menggema ke seluruh ruangan.


Aku tidak pernah melihatnya sepanik ini, batin Arlan.


Koenigsegg itu melaju dengan kecepatan tinggi, Arlan sendiri terkesiap saat melihat Vano membawa sang istri dalam keadaan berdarah-darah.


"Lan, bisa nyetir tidak? Jangan seperti siput berjalan," sentak Vano. Dia sudah tidak sabar sampai di rumah sakit, terlebih Fay yang terus merintih dan menyalahkannya. Hati kecilnya merasa tercubit mendengarnya.


Siput katamu? Hei, kamu nggak lihat aku sudah memacu adrenaline seperti di arena balap?


Arlan merapatkan bibirnya, dia hanya menjawab dengan lirikan matanya.


"Hati-hati matamu kesleo kalau terus mencuri pandang! Nyetir yang benar!" Vano menatapnya nyalang. Sementara wanita yang duduk di sebelahnya tidak henti memaki dan menyalahkannya.


Sial, mengapa jalanan ini sangat jauh? Aku menyesal sudah membangun mansion di tempat terpencil. Hik, sungguh menyedihkan!!


Wajah Fay semakin pucat, terlebih sejak bangun tidur lambungnya dibiarkan kosong. Dia menggelengkan kepala beberapa kali, berharap padangannya yang mulai kabur bisa kembali normal.


Vano semakin ketakutan, jangan sampai terjadi sesuatu pada Fay. Kalau tidak, dia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri karena sudah membuat Fay menderita. Dia memang benci dengan pengkhianatan yang dilakukan istrinya, tetapi kebenaran akan segera terungkap.


Sesampainya di rumah sakit, Vano segera menggendong Fay dengan langkah panjang sedikit berlari.


"Dokter, suster." Vano berteriak memanggil anggota medis yang bertugas. Wajah Fay sangat pucat, membuatnya semakin ketakutan. "Cepat tolong dia!"


Fay sudah terbaring di brankar dorong, tetapi Vano tidak boleh masuk ke dalam. Dia hanya bisa menunggunya di luar. Pakaiannya terkena bercak darah, membuatnya semakin merasa tersiksa karena sudah menyebabkan Fay seperti ini.


"Apa yang sudah kulakukan padanya? Tangan inj yang sudah membuatnya terluka. Karena tangan ini kamu sudah membunuh dia yang tidak bersalah," gumam Vano dengan mulut bergetar.


Vano meraup wajahnya kasar, sungguh berdosa jika benar terjadi sesuatu pada bayi itu. Dia bahkan belum sempat lahir ke dunia, tetapi Vano sudah mengakhiri hidupnya. Tidak bisa duduk dengan tenang, Vano seperti cacing kepanasan.


"Nyonya, Anda masih bisa mendengar saya?"


Fay mengangguk pelan dengan mata terpejam. Benda di sekitarnya seakan berputar, lebih baik dia menutup mata agar rasa peningnya bisa dikondisikan.


Jarum infus kembali terpasang di tangan kanan Fay. Ah, lagi-lagi dia harus berurusan dengan cairan elektrolit. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan pertanyaan dari dokter, Fay dipindahkan ke ruang perawatan.


"Apakah aku harus menemuinya? Bagaimana kalau dia membenciku dan tidak bersedia bertemu denganku?" Vano pada dirinya sendiri.


Namun, laki-laki itu mengurungkan niatnya saat dokter yang menangani Fay memintanya berbicara.


"Cepat katakan, jangan banyak basa-basi!" Vano sudah tidak sabar untuk mendengar hasil pemeriksaan Fay.


"Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya?" Dokter itu menganggukan kepala.


"Seburuk apa?"


"Lebih buruk dari dugaan Anda."


"Apa bayinya bisa diselamatkan? Mengapa cepat sekali dia keluar?" tanya Vano dengan nada tinggi.


"Tuan, tenanglah! Kita dengarkan penjelasan dokter terlebih dahulu," bujuk Arlan.


"Sebenarnya anak itu tidak ada ...."


"Apa maksud ucapanmu?" Vano mencengkeram kerah baju sang dokter dengan wajah memerah memahan marah.


"Tuan istri Anda hanya menstruasi," jelas dokter itu.


"Menstruasi apanya? Kau tidak lihat darahnya banyak?"


Dia ini pernah ikut pelajaran biologi nggak, sih? gerutu Arlan dalam hati.


"Ya, menstruasi, datang bulan."


"Tunggu, maksud kamu dia tidak hamil?" Dokter itu mengangguk dengan cepat dan menunjukkan hasil pemeriksaan yang baru dilakukan.


"Benar, maaf sudah membuat Anda kecewa."


"Syukurlah!"


Wajah Vano tampak berbinar, jadi selama ini dia sudah salah karena menyalahkan Fay tanpa menyelidikinya lebih jauh?


Diluar dugaan, laki-laki itu justru sangat senang karena Fay tidak hamil. Tidak berbeda dengan Fay, dia bisa bernapas lega karena tuduhan itu tidak terbukti. Namun ada yang janggal, dari mana hasil pemeriksaan itu?


"Mengapa kemarin dia dinyatakan hamil?"


"Saya mohon maaf, Tuan. Hasil tes urine Nyonya Fay tertukar dengan pasien lain. Dia hanya mengalami Oligomenorea. Penyebabnya banyak, bisa jadi karena stress berlebih, tekanan, juga pengaruh hormon." jelas sang dokter.


"Tertukar? Kalian begitu ceroboh!" maki Vano. Hampir saja dia menyalahkan diri sendiri sebagai pembunuh hanya karena masalah ini. "Lan, selidiki mengapa hasil tes itu bisa tertukar."


"Baik, Tuan."


"Lalu, apa yang terjadi padanya? Kenapa dia pucat begitu?" Vano melihat tampilan Fay yang terbaring tak berdaya.


"Kelainan pada menstruasi salah satu penyebabnya, penyebab lainnya anemia, dan kekurangan nutrisi yang diserap."


Lagi-lagi kekurangan nutrisi? Apakah tugas para koki di mansion? Mengapa mereka membuat Fay kelaparan?


Aku akan membuat perhitungan dengan mereka setelah kembali.


"Tuan, bukankah kau berhutang penjelasan padaku?" ucap Fay dengan mata memicing.


"Penjelasan? Bukankah dokter sudah menjelaskannya padamu, semuanya?"


"Ya, tapi bukan itu yang aku maksud."


Fay meninginkan Vano memiliki etikad untuk menjelaskan kejadian malam itu padanya. Jika memang Vano tidak mengakui kehamilannya, itu berarti dia tidak melakukan apa-apa padanya?


Bersambung ...