
"Nona, mohon tunggu sebentar. Tuan sedang menerima tamu." Wanita yang duduk di depan ruangan Vano mencegah seorang gadis yang memaksa masuk.
"Gue nggak peduli, Jangan menghalangi jalan!" sentak gadis itu.
"Tapi, Tuan Melviano berpesan tidak boleh ada yang mengganggu."
"Seberapa penting tamu itu dibandingkan denganku, adik kandungnya?" Aline memutar bola matanya, ia sangat kesal karena Vano tidak menjawab panggilan dan mengabaikan pesan darinya.
Aku harus menjawab apa? Kalau dibiarkan masuk, nanti aku yang kena marah. Kalau enggak, aku juga kena marah. Haish, sungguh merepotkan.
"Kenapa diam? Minggir, gue mau ketemu presdir kalian yang sok sibuk." Aline mendorong pintu kasar, menimbulkan suara berdebam.
Matanya terbelalak, tak percaya dengan adegan yang dilihatnya. Sejak kapan Vano suka bermain wanita di kantor? Tidak tahu malu, apakah dia begitu putus asa sampai melupakan rasa malunya? "Sungguh membuaku kesal," gumam Aline.
"Jadi ini tamu penting yang lo maksud?" ketus Aline, tangannya terlipat di atas perut, tatapannya tidak berkedip, seolah ingin menelanjangi gadis yang ada di pangkuan Vano.
"Emm..., Al." Vano segera berdiri dengan wajah menegang.
Gadis itu membenarkan posisi duduknya, ia sama terkejutnya dengan Vano. Mereka bukan sengaja melakukannya, melainkan Fay hendak terjatuh dan Vano menariknya. Namun, ia tidak berdiri dengan baik sehingga terjatuh bersama ke atas sofa. Posisi mereka sangat dekat, siapa pun yang melihatnya pasti akan menyangka jika mereka berdua sedang berbuat tak senonoh.
"Aline, sejak kapan kamu melupakan sopan santun? Bisa tidak, ketuk pintu sebelum masuk?" ucap Vano kesal.
Dia sangat marah, jangan-jangan dia itu salah satu wanita pria menyebalkan ini? Celaka, kalau begitu lebih baik aku pergi lebih awal.
"Sopan santun? Gue yang harusnya bertanya sama kalian, bermesraan di kantor, pintu enggak dikunci. Apa kalian masih punya rasa malu?" cibir Aline.
"Ini tidak seperti yang Anda lihat, semua ini hanya tidak sengaja. Yah, dia hanya membantuku," elak Fay, ia tidak ingin terjadi salah paham dan ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Nggak sengaja? Lo pikir gue buta?" kesal Aline.
"Aline, stop. Mau apa kamu datang ke sini?" Vano kembali ke kursi kebesarannya. Sampai lebaran semut juga tidak akan selesai kalau berdebat dengannya.
"Jadi, lo udah lupain dia? Sekarang melampiaskan semuanya pada wanita ini?" Aline tak henti mencecar keduanya dengan pertanyaan yang menyudutkan.
Dia siapa? Bukan urusanku juga, pernikahan ini hanya untuk keuntungan bersama. Aku juga enggak peduli berapa banyak wanita yang terlibat dengannya.
"Lebih baik aku pergi, selamat siang, tuan dan nona." Fay berniat pergi, ia tidak ingin mendengarkan perdebatan mereka yang akan menyudutkanya.
"Urusan kita belum selesai, kamu duduk dan diam di sana! Saya akan bicara dengannya sebentar." Fay terpaksa menyimpan umpatan dalam hati, bisa saja dia pergi. Namun, masih ada hal penting yang perlu dibicarakan dengannya.
Vano meraih tangan Aline dan memintanya duduk berhadapan dengannya. Kesal, tentu saja. Aline datang disaat yang tidak tepat.
"Apaan, sih? Lepasin gue, sakit tau!" ketus Aline.
Ini semua gara-gara wanita itu. Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu karena berani merebut kakak menyebalkanku.
"Gue mau ngomong hal penting, suruh orang luar itu pergi!" sindir Aline dengan lirikan matamya ke arah gadis yang duduk di sofa, dia sibuk dengan benda pipih miliknya, seolah tidak menganggal Aline dan Vano di ruangan itu.
"Al, jaga ucapanmu. Dia calon istriku, bukan orang luar," ucap Vano santai.
"Apa, dia akan menjadi calon istrimu?!" Aline sungguh dibuat terkejut dengan berita yang baru saja Vano katakan. "Lo jangan becanda."
Benar yang Vano katakan, dari sorot matanya tidak ada keraguan sama sekali. Aline tidak ingin mempercayainya, sejak kapan Vano bisa serius dengan wanita setelah orang itu pergi? Pasti hanya bualan semata, pikirnya.
"Haha..., jangan membodohiku dengan lelucon." Aline tidak dapat menahan tawa dan menganggapnya sebuah lelucon. Vano sangat kesal dibuatnya dan membiarkan Aline tertawa sepuasnya.
"Sudah puas tertawanya?"
"Ya, puas banget. Gue tahu dia itu cuma salah satu dari koleksimu."
Mendengar kata 'koleksi', Fay menyudahi kegiatannya untuk bermain gadget. Ia tertarik tentang hal yang akan mereka bahas. Syukurlah kalau begitu kenyataannya, ia juga tudak perlu menaruh harap pada laki-laki yang telah mencuri kesempatan padanya.
Setelah mendapatkan miliknya, Fay akan meminta cerai tanpa rasa bersalah. Lagi pula pernikahan ini tidak didasarkan atas rasa cinta. Lebih cepat untuk mengakhirinya itu lebih baik.
"Terserah kau saja."
"Apa keluarga yang lain sudah tahu?" Vano menggelengkan kepala, ia sengaja ingin memberi kejutan di hari ulang tahun Aline. Tak disangka ia akan bertemu dengan Fay lebih cepat dari dugaannya.
Aline semakin yakin wanita itu bukan calon istri Vano seperti yang dia katakan, tetapi dari cara Vano memperlakukannya, pasti wanita itu memang berbeda dari yang pernah dikenalnya.
Aline kembali memperhatikan penampilan wanita itu, sama sekali bukan tipe yang Vano idamkan. Pakaian yang dikenakan biasa saja, bahkan tidak terlihat seperti wanita pada umumnya. Kaos pendek warna maroon yang dipadukan dengan celana jeans, sepatu cats, dan rambutnya yang sanggul asal.
Hah, dia pasti wanita miskin yang hanya menginginkan kekayaan keluarganya. Sudah banyak wanita yang mengelilingi Vano, semuanya sama saja. Hanya memandang harta dan kedudukannya saja. Aline tidak menyukai hal itu.
"Kalau begitu, gue yakin dia bukan calon istri seperti yang lo bilang," tebak Aline.
"Benar atau tidaknya kamu akan segera tahu," ujar Vano mengangkat kedua bahu. "Tidak biasanya kamu datang ke sini, katakan siapa yanh menyuruhmu?"
"Ayolah, datang mengunjungi pacar sendiri masa enggak boleh," ucap Aline dengan suara yang dibuat manja.
"Pacar? Kamu pasti sudah gila, Al!" sentak Vano dengan rahang mengeras.
Permainan apalagi yang Aline lakukan? Mengapa ia selalu membuatnya kesal dan tidak membiarkannya tenang sebentar saja?
"Gue emang gila, tergila-gila padamu," sahut Aline.
Dia ingin melihat reaksi wanita itu jika benar dia adalah calon istrinya pasti akan bereaksi melihat calon suaminya digoda oleh wanita lain. Aline berjalan mendekat, tangannya memijit bahu Vano dengan lembut.
Kita lihat saja, sampai kapan lo akan berpura-pura tidak peduli?
"Al, kamu apa-apaan, sih?" Vano menepis tangan Aline dan menatapnya dengan kening berkerut. Sebenarnya apa yang dilakukan Aline? Dia benar-benar tidak bisa menebaknya.
"Diam, ikuti saja saranku. Kita akan lihat bagaimana reaksi wanita itu," bisik Aline.
Vano merasa tidak nyaman, tapi benar apa yang Aline katakan. Dia juga ingin melihat bagaimana reaksi Fay saat ada wanita lain yang menggodanya.
Keterlaluan! Jadi kamu menyuruhku menunggu hanya untuk melihat kalian bermesraan?
Namun, sungguh diluar dugaan, Fay sama sekali tidak peduli. Dia malah merasa geli dengan tingkah mereka.
Bersambung ....