
"Wanita kampungan, norak, aku pasti akan merebut yang seharusnya menjadi milikku," bisik Salsa saat melewati Fay.
"Aku akan menantinya," sahut Fay santai.
"Dia sudah pergi, kamu marah? Atau cemburu padanya?" goda Vano.
"Eh, enggak, ngapain cemburu sama orang yang nggak jelas." Fay mencebik, Vano adalah orang paling sombong yang pernah ditemuinya.
"Nggak jelas bagaimana? Jelas-jelas aku suamimu," ujar Vano membanggakan diri. Dia terkekeh, semakin bersemangat menggoda sang istri.
"Ck, suami. Tolong diingat lagi, tujuan kita menikah."
Vano terdiam, perkataan Fay mengingatkannya akan tujuan awal pernikahan ini. Raut wajahnya tiba-tiba menjadi suram. Mengapa ada perasaan tidak rela hanya dengan membayangkan hubungan mereka akan berakhir?
"Apa yang udah dia lakuin?" ucap Aline dengan mendorong pintu kasar.
Keduanya menoleh ke arah pintu, kemudian saling menatap, bertanya melalui gerakan matanya apa maksud ucapan Aline.
"Dimana sopan santunmu, Al?" sembur Vano, dia tidak suka dengan sikap Aline yang asal nyelonong tanpa mengetuk pintu.
"Lupakan. Aku tanya sekali lagi, apa yang perempuan itu lakukan di sini?" ucap Aline setengah berteriak. "Dia pasti ingin kembali menjadi parasit seperti dulu, bukan?"
"Nggak perlu dibahas," tukas Vano.
Dia sudah malas membahas masalah Salsa, dia memang masih menyimpan sedikit harapan bisa bertemu dengannya. Namun, saat dia berhadapan dengan wanita itu, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Perasaan senang, sedih, sekaligus marah bercampur menjadi satu. Dia sulit untuk membedakannya.
Terlebih kehadiran Fay di sisinya, Vano hanya tidak ingin mengingkari janji suci yang sudah terucap. Dia memikul beban untuk memperlakukan Fay layaknya seorang istri meski hanya sebatas partner kerjasama. Terlebih hal itu akan memyangkut nama baiknya.
"Baiklah. Kalau begitu, aku ingin membuat perhitungan dengannya," ujar Aline. Kedua netranya tidak lepas memindai wanita yang sudah menjadi kakak iparnya itu dari ujung kepala sampai ujung kepala. Dia tidak bisa dibandingkan dengan Salsa yang berpenampilan modis dan elegan.
"Al, nggak usah aneh-aneh, deh." Vano mencebik adik perempuannya ini memang sulit ditebak, tetapi dia memiliki firasat buruk. Hal apa yang sedang direncanakan Aline untuk istrinya?
"Cantik, sih. Tampang okelah, tapi perlu sedikit modifikasi. Pinjam dia sebentar, bye."
Aline menyeret Fay menuju lift khusus, dia memiliki misi tersembunyi.
"Al, apa-apaan kamu ini? Jangan berulah lagi!" teriak Vano. Namun kedua wanita itu terlalu cepat menghilang dalam sekejap.
Aline berhasil menculik Fay dan membawanya keluar. Gadis itu tidak suka melihat penampilan Fay yang terlalu sederhana dan tidak mencerminkan istri presdir.
Vano sudah menyiapkan semua keperluan Fay, tetapi wanita itu tidak mau ribet. Dia memilih tampil apa adanya asalkan dirinya merasa nyaman.
"Aku heran, deh. Sebenarnya apa yang dilihat dari cowok tengil itu dari kamu?" cibir Aline.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Misi kali ini, Fay harus dipermak maksimal. Dia tidak akan mengizinkan wanita genit itu kembali menggoda kakaknya.
Aline memang tidak menyukai Fay, tetapi dia lebih tidak rela jika Vano kembali bersama dengan Salsa. Jangan sampai terjadi! Dalam mimpi sekali pun tidak boleh.
"Kamu ini dikasih duit nggak, sih? Pantesan aja si ulat keket itu masih berharap, kamu aja kayak gini," ejek Aline. Dia tidak henti mencemooh penampilan Fay yang terlalu sederhana.
Fay acuh tak acuh, dia memutar bola matanya, merasa jengah dengan tingkah adik iparnya tersebut. Mereka tidak sedekat itu, mengapa juga harus peduli padanya?
"Ya terus, aku harus apa? Kalau ada yang mau ambil aja," ujar Fay santai. Kedua bahunya terangkat, dia tidak peduli ada berapa banyak wanita yang datang menggoda Vano. Lagi pula, hanya dia satu-satunya wanita yang memiliki buku couple dari kantor agama. Dia tidak ingin memikirkan hal itu, cepat atau lambat pernikahan mereka akan berakhir.
Cittt ..., decitan rem yang diinjak mendadak. Aline menepikan mobil yang dikendarainya. Dia menoleh ke samping, dia menatapnya nyalang. Apakah benar dia seorang wanita? Apakah Fay ini masih manusia, dia membiarkan wanita lain mendekati suaminya?
"Aku jadi ragu-ragu kamu ini masih wanita atau bukan. Ada gitu istri yang membiarkan suaminya dibagi sama wanita lain? Gila, kamu benar-benar sudah tidak waras."
"Aku rasa kamu yang tidak waras, untuk apa memikirkan hal itu. Cih, mengganggu kewarasan."
Aline tidak bisa lagi berkata-kata, yang terpenting dia sudah mengingatkan. Terserah Fay bagaimana akan menghadapinya?
"Ngapain ke sini?" tanya Fay dengan kening berkerut.
"Mau permak," sahut Aline singkat. "Cepat turun!"
Fay malas berdebat, dia lebih baik mengikuti kemauan Aline. Siapa yang menyangka bahwa Salsa juga ada di sana.
"Al, ngapain di sini? Aku kangen banget, loh. Kita udah lama nggak santai bareng."
Dia, sejak kapan Aline setuju memiliki kakak ipar lain selain diriku? Bukankah dia yang selalu berharap aku menjadi kakak iparnya?
Aline mengabaikan Salsa yang menyapanya, dia terlihat berbicara dengan seseorang dan membawa Fay masuk ke dalam.
"Sorry, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Aline menarik salah satu sudut bibirnya. Dia tidak mau lagi berhubungan dengan wanita itu, menggandeng lengan Fay memasuki salon kecantikan yang biasa di kunjunginya.
"Aku pasti akan mendapatkanmu kembali, tunggu saja saat aku menjadi kakak iparmu, Al."
Aline masih bisa mendengarnya, dia berhenti dan berbalik badan. "Bermimpilah sebelum mimpi itu dilarang! Ingat baik-baik, selamanya kamu tidak bisa dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terwujud," ejek wanita berbaju biru tersebut.
Mereka memasuki ruangan lebih dalam, tetapi di setiap sudut Fay merasa heran dengan tatapan orang-orang padanya. Apa yang membuat mereka melakukannya? Apakah penampilannya memang aneh? Rambutnya, bajunya, atau wajahnya?
"Ada apa dengan mereka?" batin Fay.
Mereka yang kebanyakan tamu kelas atas saling berbisik, membicarakan orang yang baru saja masuk ke dalam salon tersebut. Kebetulan hari itu salon sedang ramai pelanggan. Bengkel kecantikan yang ada di salah satu mall ternama di ibu kota.
"Eh, dia itu wanita yang ada di foto ini, kan?" ucap seorang wanita berambut sebahu.
"Iya, wajahnya sama persis," sahut wanita di sebelahnya.
"Nggak nyangka, wajahnya polos, tapi kelakuannya menjijikan," ejrk wanita berbaju pink.
"Benar, sekarang kita harus hati-hati, banyak penipu."
Masih banyak perkataan menusuk lain yang berhasil ditangkap indera pendengaran Fay. Dia sendiri tidak tahu hal apa yang membuatnya terkenal seperti artis.
Aline juga merasa heran dengan wanita-wanita itu, dia merogoh benda pipih miliknya di dalam tas selempang. Dan betapa terkejutnya dia dengan trending topik hari ini. Dia juga sama seperti yang lain, membandingkan wajah Fay dengan wanita yang ada di dalam foto tersebut. Sama persis, dan semua itu terlihat asli.
Apakah penilaian Aline selama ini salah? Berita apa yang masuk best seller di pemberitaan hari ini?
Bersambung ....