
"Hmm..... sepertinya menyenangkan, aku akan mengikuti alur saja, seperti akan sedikit menghibur diri" ucap Hito. Dan Hito pun kembali ke rumah tempat Katla dan Sierra berada.
"Aku kembali....." ucap Hito yang kembali sambil membuka pintu. "Selamat datang kembali, tuan...." ucap Katla. "Ya..... kalian baik baik saja kan....." ucap Hito. "Ya.... kami baik baik saja" ucap Katla. "Ada apa di luar.....? apakah ada yang aneh......?" ucap Sierra. "Tidak ada sama sekali, hanya saja ini sudah malam hari, sepertinya ada tradisi yang mengatakan bahwa setelah matahari terbenam tak boleh ada yang keluar rumah.
"Adakah hal seperti itu .....?" ucap Sierra. "Lah, buktinya saja ada di sini" ucap Hito. "Ugh.... sialan..... susah berbicara dengan mu hito" ucap Sierra. "Hahaha...... aku cuma bercanda loh" ucap Hito. "Candaan ku ga lucu Hito" ucap sierra. "Ya.... ya..... sekarang kalian pergi tidur sana..... besok kita pergi cukup pagi" ucap Hito. "Ya..... baiklah" ucap Katla dan Sierra.
Dan Sierra pun pergi ke sebuah kamar dan ia langsung berbaring di tempat tidur. "Katla, kenapa kau tak pergi tidur......?" ucap Hito. "Anu.... apakah tuan tak melakukan itu.....?" ucap Katla. "Huh.....? siapa juga yang mau, mending kau jaga punya mu untuk orang yang kau cintai" ucap Hito. "Ta-Tapi tuan......" ucap Katla.
"Tak ada tapi tapian, mulai sekarang kau tak perlu bertanya lagi....." ucap Hito. "Ya, baiklah tuan....." ucap Katla. Dan Hito pun pergi ke sebuah kamar dan katla pun pergi ke kamar yang lain. "Hmm..... kalau dengan dugaan ku, besok akan ada seseorang yang memberikan makanan dan minuman yang berisi racun pelumpuh" ucap Hito.
Dan Hito pun tidur di kamar itu, beberapa saat pun berlalu dan makam hari berganti pagi hari. Hito pun bangun dari tidur, dan ia menuju ke ruangan tamu. "Hmm..... apakah aku terlalu pagi bangun.....?" ucap Hito. "Tok.... tok.... tok....." seseorang mengetuk pintu rumah itu. "Ya.... tunggu sebentar aku akan buka" ucap Hito.
Dan Hito pun membuka pintu, dan terlihat seorang anak kecil yang membawa tiga roti di sebuah piring kayu. "Oh.... ada apa.....?" ucap Hito. "Ini..... aku berikan padamu" ucap anak kecil itu. "Oh.... roti kah.....? baiklah aku akan terima" ucap Hito yang kemudian menerima roti itu. "Ya, sampai jumpa" ucap anak itu yang kemudian berlari pergi.
"Hmm.... bocah kah, aku tak mengira seperti ini" ucap Hito. Tak lama Katla dan Sierra pun pergi ke ruang tamu. "Hito.... kenapa kau membuka pintu.....?" ucap sierra. "Ya serah ku lah, aku yang membuka pintu" ucap Hito. "Kau ini, kalau di ajak bicara bisa ga yang nyambung" ucap Sierra. "Iya ya, aku membuka pintu barusan ada anak kecil yang memberikan ini" ucap Hito yang sambil menunjukkan tiga roti kepada katla dan Sierra.
"Wah roti..... roti di pagi hari emang enak" ucap Sierra yang kemudian mengambil atau roti. "Katla kau tak ambil juga....? ini ambillah" ucap Sierra yang mengambilkan satu roti pada Katla, dan katla pun menerima roti yang di berikan Sierra. "Terima kasih Sierra" ucap katla. "Ya..... bukan apa apa" ucap Sierra.
Dan mereka pun makan roti itu dengan lahap. "Hito.... kau tak makan roti itu......? kalau tak makan, buat aku yang makan" ucap Sierra. "Tak perlu, bentar lagi kau akan terjatuh....." ucap Hito. "Hah....? apa yang kau bilang barusan.....?" ucap sierra. Dan beberapa saat kemudian, Kepala Katla dan Sierra pun merasa pusing.
"Burn.....!!" Hito pun membakar roti yang tersisa menjadi abu. Setelah itu, ia meletakan piring di lantai dan ia pun berbaring sambil memejamkan mata. Tak lama, beberapa orang pun masuk ke dalam rumah itu.
Beberapa saat kemudian, Sierra, Katla dan Hito pun terbangun di atas papan kayu sambil kedua tangannya terikat. "Ugh.... apa yang barusan terjadi....." ucap Sierra. "Aku tak tau, seperti nya tadi aku baru saja pingsan" ucap Katla. "Apakah ini perbuatan Hito......?" ucap Sierra.
"Hey hey.... kalau bicara di jaga mulutnya atau nanti ku apakah mulut mulut mu itu" ucap Hito yang terikat di belakang sierra. Mereka bertiga di ikat membentuk lingkaran. "Hahaha..... tak ku sangka kalian tak waspada atau apapun, dan kelian langsung makan dengan mudahnya" ucap Kepala desa. "Oh.... jadi kau dalang di sini.....!! lepaskan ikatan ini.....!!" ucap Katla. "Siapa kau.....?! berani beraninya kau menyuruh ku begitu" ucap kepala desa.
"Sial.... dia sama seperti Hito" ucap sierra. "Hey.... jangan samakan aku dengan orang lain....." ucap Hito. "Sudah sudah.... jangan bertengkar" ucap Katla. "Ya.... sebaiknya kau lepaskan ikatan ini" ucap Hito. "Ya, aku sudah membuka ikatan ini dari kalau aku bisa" ucap sierra. "Aku kira kau bisa, jadi tidak ada yang bisa berguna sekarang" ucap Hito.
"Apakah bicaranya sudah selesai.....? aku cukup muak mendengar kalian saling berdebat" ucap kepala desa. "Ya, siapa juga yang menyuruh mu mendengar perdebatan kami....." ucap Hito. "Hey.... aku ini punya telinga jadi tanpa sengaja aku mendengar percakapan kalian" ucap kepala desa.
"Ya, kalau begitu kenapa tidak kau lepas saja telinga mu itu.....?" ucap Hito. "Sialan.....?!!1 sudah diam saja kau, sudah tak bisa melakukan apapun, kau bacot saja.....!!" ucap kepala desa. "Ya serah ku lah, aku yang punya mulut, kau tak berhak berkata seperti itu" ucap Hito. "Arrrggg......!! menyebalkan, sebaiknya aku langsung menyerahkan kalian kepada dewa tanah" ucap kepala desa.
"Dewa tanah.....? siapa lagi itu.....? aku tak pernah mendengar nama itu" ucap Hito. "Kau mana tau, sebaiknya lakukan ritual secepatnya" ucap kepala desa. Dan tak lama, para warga pun menghampiri tempat itu. "Wah.... cukup banyak juga ya warga di ini" ucap Hito. "Ini bukan waktunya terkesan, woy.....!!" ucap sierra.
"Lah kenapa, siapa tau salah satu dari mereka akan menolong" ucap Hito. "Oh ya, benar juga..... siapa saja tolong aku....." ucap sierra. "apakah ada yang ingin menolong dia.....? kalau ada, dia akan ikut di korbankan kepada dewa tanah" ucap kepala desa. "Tidak.....!! kenapa malah tak ada yang mau menolong" ucap Sierra.
"Itu paling karena kau mengeluarkan intimidasi yang sangat kuat" ucap Hito. "Mana ada njir......!!!" ucap Sierra. Hito dan Sierra berdebat tentang hal yang tak berguna, sedangkan Katla hanya bisa pasrah dengan keadaan.