
"Kemana dia akan pergi....? apakah dia akan pergi meninggalkan ku....? tapi ya, kalau aku sendirian lagi aku bisa tidur lagi" batin Laidly. Dan Laidly pun duduk di atas lantai. "Drrr......" terasa sedikit getaran di tempat itu. "Eh....? apa....? apakah terjadi gempa.....? atau ada apa....?" ucap Laidly yang sedikit kebingungan setelah merasakan getaran.
Beberapa saat setelah terjadi getaran, hito kembali ke tempat Laidly berad, ia kembali sambil menyeret seekor monster berbentuk kepiting yang dengan tinggi sekitar dua meter dan panjang samping kanan dan kiri sekitar dua setengah meter. "Halo.... aku kembali sambil membawa makanan" ucap Hito dengan santainya.
"Eh......? apa apaan itu....? kenapa kau membawa monster itu....?" ucap Laidly. "Ya.... ini akan jadi makanan dan aku akan mengolahnya" ucap Hito. "Tapi kenapa kau bawa ke sini....?" ucap Laidly. "Yah..... akan lebih enak kalau makan bersama" ucap Hito. "Maksudmu aku....?" ucap Laidly.
"Ya.... kita makan bersama, aku dapat cukup banyak" ucap Hito. "Bukankah kau hanya punya satu....?" ucap Laidly. "Tidak, kurang lebih aku dapat sepuluh atau lebih, dan beberapa bahan makanan yang lain" ucap Hito. "Eh....?! hanya dalam sekejap kau sudah dapat banyak....?" ucap Laidly. "Ya.... cukuplah untuk beberapa hari, kalau begitu aku akan memasak ini" ucap hito.
"Ya.... baiklah kalau itu mau mu, aku akan ikut" ucap Laidly. "Ya.... sekarang aku akan memasaknya" ucap Hito. "Wush.... bruak....." hito melempar kepiting tersebut ke tengah tengah tempat tersebut. "Sekarang waktunya menghibahkan es yang ada di atas kepiting itu" ucap Hito. Dan Hito pun berjalan dengan memadatkan mana yang ada di udara dan ia sampai di atas kepiting tersebut.
"Tap....." hito berdiri di atas kepiting tersebut. Dan Hito pun menghilang semua es yang ada di tubuh kepiting tersebut. "Wah.... cukup banyak sekali es ini" ucap Hito yang mengeluh kerena es yang ada di kepiting ada sangat banyak. "Bukankah itu sudah pasti, karena itu adalah kepiting es" ucap Laidly. "Ya.... aku tau itu" ucap Hito yang sudah selesai menghilangkan semua es yang ada di tubuh kepiting tersebut.
"Sihir, Burning....." hito menggunakan sihir api yang memiliki sihir tidak terlalu tinggi ke arah kepiting tersebut. "Apakah tidak gosong itu kepiting....?" ucap Laidly. "Hahahaha..... tenang saja, aku menggunakan sihir yang panasnya saja butuh beberapa menit untuk membakar objek padat" ucap Hito. "Oh.... begitukah..." ucap Laidly.
Tak lama hito pun menghentikan sihir api miliknya dan terlihat kepiting yang hito bakar tersebut berwarna merah dengan sedikit gosong di beberapa kulit kepiting tersebut. "Yosh.... sudah matang" ucap Hito yang sambil mendekat ke arah kepiting tersebut. "Krak....'' hito mematahkan satu capit kepiting tersebut. "Laidly ini...." ucap Hito sambil melemparkan capit kepiting yang baru saja ia patahkan.
Laidly pun menangkap capit kepiting yang di lemparkan hito ke arahnya. "Ah.... panas.... panas.... panas...." ucap Laidly yang memegang capit kepiting yang hito lempar. "Apakah sepanas itu......?" ucap Hito yang sambil membelah tubuh kepiting menjadi dua dengan tangan kosong. "Eh.....?! apakah bukankah akan sangat panas....? atau indra milikmu mati....?" ucap Laidly.
"Ini sudah biasa, aku sering melakukan ini" ucap Hito. "Eh.... begitukah.....?" ucap Laidly. "Yah... mehmang, ahku penah mahkan sesuatu yang lebih hanas" ucap Hito yang sambil makan daging kepiting. "Kalau berbicara jangan sambil makan, atau telan dulu makan yang ada di mulutmu baru kau berbicara" ucap Laidly. "Ya... ya.... apakah kau tidak makan....? nanti keburu dingin" ucap Hito.
"Ya.... aku juga akan makan" ucap Laidly. "Enak loh, jangan sampai tidak di makan" ucap Hito. "Apakah ini seenak itu....?" ucap Laidly yang akan makan daging yang ada di capit kepiting. "Nyam..... ehnakkk.....!!" ucap Laidly yang makan satu gigit. "Apa ini....? padahal ini daging monster yang hanya di bakar" batin Laidly. "Coba aku tebak, kau pasti berpikir kenapa daging monster ini bisa jadi sangat enak kan....?" ucap Hito.
"Ah.... aku cukup kenyang, kalau ada alat memasak yang lebih memadai aku bisa membuat makanan yang lebih enak" ucap Hito. "Kau bisa membuat makanan yang lebih enak dari ini....?" ucap Laidly. "Ya.... tentu saja kalau ada alatnya, omong omong aku belum melihat apa yang aku dapat dari barter" ucap Hito.
"Oh ya.... aku juga penasaran apa yang tersisa saat aku tertidur sekitar seribu tahun" ucap Laidly. "Yosh... mari kita buka" ucap Hito yang membuka satu peti dan mengeluarkan semua yang ada di dalam peti pertama. Kemudian ia membuka peti kedua dan mengeluarkan semua yang ada di dalam peti. "Hmm.... banyak sekali perhiasan, wah.... ini pisau, kalau kuat bisa aku gunakan untuk memasak" ucap Hito. "Memasak....? kebanyakan orang yang dapat pisau akan di gunakan untuk bertarung" ucap Laidly.
"Untuk bertarung......? kemarin aku mendapatkan satu pisau dan itu buruk sekali, bahkan itu mudah patah, padahal hanya untuk memotong pohon" ucap Hito. "Memotong pohon.....?! dan juga pohon seperti apa yang kau potong....? pohon besi atau pohon apa....?" ucap Laidly. "Hmm.... pohon itu cukup aneh, pohon itu bisa menggerakkan akarnya sebagai senjata dan memiliki kecerdasan yang cukup" ucap Hito.
"Jangan jangan pohon hito yang sangat keras, pohon suci....?!" ucap Laidly. "Ya.... aku tidak tau apa itu, tapi aku punya benihnya, nanti kalau aku tanam kau pasti tau" ucap Hito. "Ya... aku juga sedikit penasaran seperti apa pohon yang kau maksud" ucap Laidly. "Ya.... dan sisa yang aku dapat hanya koin koin ini" ucap Hito. "Kenapa terlihat kecewa seperti itu....? bukankah kau bisa menggunakan koin ini sebagai untuk membeli sesuatu....?" ucap Laidly.
"Bukankah untuk jual beli itu menggunakan barter seperti yang kau lakukan denganmu....?" ucap Hito. "Tidak, manusia menggunakan koin koin ini sebagai alat transaksi, dan juga aku tidak terlalu mengerti berapa nominal koin koin ini" ucap Laidly. "Oh.... begitukah, aku baru tau kalau begitu ini juga penting" ucap Hito yang sambil memasukkan semua barang yang ia dapat dari barter dengan Laidly.
Setelah itu Hito mengambil sebuah pisau yang baru ia dapat dan sebuah benih pohon. "Waktunya untuk menguji kelayakan dari pisau ini" ucap Hito. "Apakah kau akan menguji di tempat ini....?" ucap Laidly. "Ya.... tentu saja, tenang saja kau menyingkir sedikit agar tidak terluka" ucap Hito. "Ya... aku akan menyingkir sedikit" ucap Laidly yang sedikit menjauh.
Hito pun langsung menanam benih pohon tersebut di lantai. "Wruuu...." selang beberapa saat setelah hito menanam, pohon tersebut langsung tumbuh besar. "Hmm.... seperti yang aku duga ada banyak sekali buahnya" ucap Hito yang kemudian mengambil semua buah yang ada di pohon tersebut. setelah itu Hito memegang pisau yang ia keluarkan tadi dan melakukan persiapan.
[Note: Hito saat ini sedang berada di sebuah goa di dalam gunung. lebih tepatnya hito berada di dalam salah satunya gunung gunung bersalju di Mountains of Cottysh, akan tetapi hito tidak tau dia ada di mana].