
"Benarkah.....? apakah kau tidak berbohong....?" ucap Melisa. "Ya..... aku tak berbohong, dan apakah kau tidak ada yang kau bawa.....?" ucap hito. "Bawa.....? Kita mau ke mana.....?" ucap Melisa.
"Apakah kau lupa.....? padahal aku bilang kemarin, sekarang kau sudah lupa.....?! kemarin aku bilang kalau kita akan pergi hari ini, kau mau pergi ke mana terserah mu, aku ingin pergi ke desa atau kota terdekat dan ingin melakukan sesuatu" ucap Hito sambil menarik pipi Melisa. "Hentikan.... hentikan Hito sakit,....." ucap Melisa dan Hito pun melepaskan pipi Melisa.
"Aduh.... apakah kau tidak merasa bersalah setelah melakukan ini padaku.....?" ucap Melisa sambil mengelus pipinya sendiri. "Gak... kalau kau berlama lama, kau akan aku tinggal dan semoga saja kau bertemu monster atau makan makanan beracun dan mati mengesankan" ucap Hito.
"Hito.... apakah kau tau, perkataan adalah doa dan juga ada pepatah yang menyebutkan mulutmu adalah harimaumu" ucap Melisa. "Hal seperti itu tidak akan berpengaruh padaku, dan juga jangan banyak bicara akan aku tinggal beneran" ucap Hito. "Iya... iya... iya tunggu sebentar aku mau berpamitan dengan yang lainnya" ucap Melisa. "Ya.... aku akan tunggu di sini, katakan juga salam ku" ucap hito.
"Ogah.... katakan saja sendiri, kau kan punya mulut" ucap Melisa yang membantah kata Hito. "Hoho.... sekarang kau sudah berani ya....." ucap hito yang sambil memegang dengan erat pedangnya. "Ya.... ya.... akan aku sampaikan, jadi simpan dulu pedang mu...." ucap Melisa. "Ya.... pergi sana sekarang" ucap Hito.
"Ya.... aku akan pergi sebentar, jadi tunggu sebentar ya....." ucap Melisa yang kemudian pergi dengan berlari untuk menemui Illuka, Illuya dan Shannara. Tak lama kemudian, Melisa pun bertemu dengan mereka bertiga. Illuka dan Illuya sedang duduk bersila dan sedang meningkatkan aliran mana mereka.
Sedangkan Shannara ada di depan mereka, Shannara sedang melihat perkembangan mereka karena sebelumnya Illuka dan Illuya meminta bantuan Shannara untuk membantu mereka berlatih. "Anu.... Shannara, karena mereka berdua sedang fokus berlatih, apakah kau bisa sampaikan salam ku pada mereka berdua.....?'' ucap Melisa.
"Tentu saja, aku bisa sampai kan salam mu pada mereka nanti, kau mau pergi dengan tuan bukan.....?" ucap Shannara. "Ya.... baiklah kalau begitu, tolong sampaikan salam ku pada mereka ya....." ucap Melisa. "Ya.... jangan khawatir akan aku sampaikan" ucap Shannara. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dan juga kalau ada waktu aku akan berkunjung kembali ke sini" ucap Melisa.
"Ya..... sampai jumpa, hati hati di jalan...." ucap Shannara. "Ya... jaga juga kesehatan mu, Shannara" ucap Melisa. "Ya.... cepatlah pergi, kalau terlalu lama tuan akan meninggalkanmu" ucap Shannara. "Oh ya..... baiklah kalau begitu aku akan pergi...." ucap Melisa yang kemudian berlari untuk menuju ke tempat Hito menunggu.
Melisa berlari dengan cepat agar ia tidak di tinggal oleh Hito. Tak lama kemudian ia pun sampai di depan Hito. "Hah.... hah.... hah.... aku capek sekali, rasanya kaki mau patah saja...." ucap Melisa. "Hah....? kau bercanda.....? atau apakah kau benar benar ingin aku patahkan kedua kakimu......!?" ucap hito.
"Janganlah begitu, aku kan cuma bercanda jadi jangan di bawa serius begitu Hito....." ucap Melisa. "Hah..... makin lama kau bicara akan aku tinggal beneran nih....." ucap hito. "Eh...... jangan tinggalkan aku sendirian Hito......" ucap Melisa. Dan mereka pun pergi ke arah hutan untuk mencapai ke desa atau kota terdekat.
"Hmm.... kalau di pikir pikir kau juga bisa ku gunakan untuk menjadi umpan monster" ucap Hito. "Umpan monster.....?! pala kau, kau mau menjadikan ku umpan monster.....?!" ucap Melisa. "Lah mah jadi apa lagi.....? apakah kau punya kelebihan atau hal yang bisa berguna.....?" ucap hito. "Tentu saja ada....!! aku juga punya kelebihan" ucap melisa.
"Kalau begitu katakan apa kelebihan mu....." ucap hito. "Hmm.... aku bisa bertarung dengan pedang....." ucap Melisa. "Aku lebih hebat darimu, jadi itu tidak akan berguna" ucap Hito. "Eh.... hmm.... kalau begitu aku bisa..... apa ya.....? aku bisa apa lagi.....?" ucap Melisa yang bingung apa kelebihan dirinya.
"Tuh kan, apa aku bilang kau itu cuma bisa di jadikan umpan monster" ucap Hito. "Tidak....!! aku tidak sudi di jadikan umpan monster.....!!" ucap Melisa. "Ya.... mau bagaimana lagi.....? cuma itu Job yang bisa mau isi" ucap Hito. "Ogah banget...... mending melakukan hal lain" ucap Melisa. "Melakukan hal apa.....? apakah kau bisa katakan.....?" ucap hito.
"Entahlah kalau untuk sekarang tapi entah untuk nanti" ucap Melisa. "Halah.... jangan banyak bermimpi kalau kau jatuh nanti sakit" ucap Hito. "Jangan meremehkan diriku ini, nanti kalau sudah berpisah akan aku tunjukkan kalau aku ini hebat....." ucap Melisa. "Ya.... akan aku tunggu apa yang bisa mau capai..... kalau kau membuat ku takjub akan aku kunjungi kau di manapun kau berada saat itu" ucap Hito.
"Ya..... baiklah kalau begitu kita deal kan.....?" ucap Melisa. "Ya.... deal, aku tidak di rugikan dan kau juga tidak di rugikan, jadi kesepakatan ini sangat bagus" ucap Hito. "Ya.... tunggu saja, tak lama aku akan di kenal dunia dan menjadi legenda....." ucap Melisa yang sudah tinggi hati. "Semoga saja kau tak bisa mencapai hal itu, akan aku tertawakan samapi aku puas" ucap Hito.
Mereka berdua berjalan ke arah sebuah Savana yang berada di pinggir gunung dan perbatasan dengan kerajaan Al'Saderaan. "Mereka berjalan tak menemukan monster sama sekali di jalan, mereka berdua hanya memetik buah dan tanaman yang bisa di konsumsi dan di olah.
"Sepuluh menit setelah mereka berjalan, Hito berhenti. "Uh.... aku tak punya tenaga sama sekali" ucap Hito. "Kruyuk....." suara perut Hito yang berbunyi dengan cukup keras. "Eh....? kau sudah lapar.....? padahal baru sepuluh menit berjalan, kau sudah kelelahan, lemah sekali kau hito....." ucap Melisa. "Sialan kau Melisa.....!! berani sekali keu berkata seperti itu.....?! kau ingin mati dengan cara apa hah....?!" ucap hito yang menakuti Melisa.
"Tidak.... tidak.... tidak ... aku cuma bercanda, kalau kau lapar, kita berhenti dan makan dulu sebentar di sini" ucap Melisa. "Hmm..... bagus kalau begitu" ucap Hito. Dan Hito pun menyiapkan api unggun dan mengeluarkan sebuah daging yang memiliki panjang satu meter dan lebar tiga puluh centimeter. Kemudian Hito pun membakar daging itu di atas api sambil di beri garam sedikit. "Hey Hito.... apakah aku boleh bertanya kenapa kau mudah lapar.....?" ucap Melisa.