One Night In Singapore

One Night In Singapore
kejujuran



Hallo...hallo..Yo...Lo masih hidup kan? Suami gue udah sampe ya... Ya udah pesan terakhir Lo apa?" Naomi menahan tawanya di sana.


"Bilang sama Shasha... Gue cinta dia." Telpon pun terputus.


Gio pergi menemui Arsen... Dia berjalan dengan santai namun tetap hatinya dah Dig dug tak karuan.


Terlihat badan tegap, duduk dengan kaki kanan bertumpu di kaki kiri, tangan dimasukkan ke dalam saku, dan wajah gantengnya terlihat lebih menyeramkan karena begitu serius dengan tatapan tajam ketika terdengar langkah gio.


Tak..tak..tak... Suara langkah kaki gio membuat Arsen melihat ke arah gio... Dengan tatapan tajam dan wajah yang datar membuat bulu kuduk gio meremang. Sesekali gio berdehem dan mengusap bulu kuduknya.


"Hai sen.... Sehat?  Emm ada perlu apa Lo Dateng ke Paris? Abis ada tender ya? Wah .. hebat ya... Pengusaha muda bolak balik Paris Jakarta Mulu."  Gio berusaha mencairkan suasana.


"Gue gak ada waktu Yo... Coba Lo jujur... Lo selingkuh di belakang adik gue?" Arsen merogoh sesuatu di balik jasnya.


Tak.... Arsen menyimpan sebuah pistol di meja depan dia duduk.


"Emmm sen... Lo apa apaan man... Masukin pistolnya.... Bahaya." Gugup gio


"Pistol gue gak akan ngapa ngapain Lo kok.... Itu kan benda mati... Yamg pasti Lo tinggal jujur, liat apa yang bisa gue lakukan terhadap Lo." Gio menarik napasnya dengan teratur


"Ok..Lo tenang dulu dan dengerin apa yang gue sampai kan ya..." Arsen hanya menatap gio dan diam saja.


Jadi gini...


Flashback


Tak..tak..tak... Evelyn berjalan bolak balik membawa setumpuk dokumen yang harus di berikan kepada gio.


Terlihat wajah Evelyn meringis kesakitan.


"Ssssahhh ... Aw... " Gio memalingkan wajahnya ke arah Evelyn.


"Kenapa Lo?" Evelyn tersenyum kecil


"Sakit Yo.... Kaki gue..." Gio mengeryitkan dahinya.


"Emang kenapa?" Evelyn memperlihatkan kakinya.


"Lecet?" Evelyn menganggukan kepalanya


"Sepatu baru Yo... Mungkin karena murah jadi bahannya agak keras deh."


"Ya udah gue obatin" gio mengambil kotak obat P3K


Drrrrrt...drrrrt... Handphone gio bergetar.


"Hallo sha... " Gio sedang membersihkan luka Evelyn dengan alkohol


"Emmm gio... Mengenai yang kemaren, aku minta maaf, chef Philips memang begitu terhadap semua orang..."


" Yah ...GPP... Mungkin orang Eropa udah biasa begitu tapi tidak dengan kami.."


" Kemaren udah aku minta kok sama chef untuk tidak seperti itu lagi...dan dia bisa mengerti."


"Baiklah.."


Yo..." Terdengar suara wanita di balik telpon itu.


"Evelyn... Sebentar.." suara gio terdengar kembali...


"Aaaaah Yo... Sakit..perih." Terdengar rintihan dari balik telpon lagi.


"Kamu bisa diam dulu gak sih .. jangan gerak." Bisik gio namun masih terdengar oleh Shasha


"Tapi sakit Yo..."


"Aku tahu...ini mungkin karena pertama kali... Udah diem dulu." Bisik gio


"Pelan pelan ya..." Ucap wanita itu yang tak lain adalah Evelyn..


"Kamu duduk dulu di sana."


"Tapi aku gak bisa jalan, sakit Yo.."


"Sha..nanti aku telpon lagi ya... Ini ada sedikit gangguan... Ok."


Telpon gue putus biar Evelyn di obatin dulu dan setelah itu aku coba telpon tapi gak bisa."


Flashback end.


Arsen melihat dan memperhatikan dengan seksama wajah pria di depannya dengan tatapan penuh mengintimidasi... Mencoba mencari kebohongan di mata gio namun dia melihat kejujuran di sana.


"Jadi Lo gak ada apa apa sama Evelyn, sekertaris ganjen Lo itu?"


"Gak lah... Masa gue selingkuh, dari dulu gue itu setia sen... Kalo gue suka sama Evelyn, mungkin udah dari dulu, 2tahun yang lalu gue oacarin dia daripada nunggu Naomi jadi janda." Arsen membelalakan matanya.


"Santai man... Lo tahu kan gue cinta banget sama Naomi, dan pas gue pulang ke Indonesia, melihat keluarga kalian begitu bahagia...gue lepas seikhlasnya Naomi buat Lo... Selama bertahun tahun gue mencoba membuka hati, gak ada yang bisa menggantikan posisinya... Dan ketemu lah gue sama Shasha adik Lo... Baru saat itu hati gue bergetar.. dan gue sayang dia sen... "


Arsen mengambil pistolnya yang membuat gio berdiri dari duduknya.


"Gue masukin nih pistol..." Gio mengusap dadanya, merasa lega karena pistolnya sudah di masukkan ke dalam jas Arsen.


"Biar dia istirahat dulu...mungkin belum waktunya gue pakai lagi.." santainya Arsen berbicara namun membuat gio bergidik ngeri.


"Udah, jangan Lo keluar keluar kan lagi...terutama di sini. Ok." Arsen tersenyum lebar


"Kapan lo mau lamar adik gue?" Gio tersenyum manis


"Minggu depan gue mau ke Singapore, nemuin ortu Lo.. gimana?" Arsen menganggukan kepalanya


"Ok... Gue kabarin ortu gue biar menyiapkan segalanya."


"Tapi... Gue mau ngobrol dulu mengenai kesediaan dia menjadi muslim... Gue gak bisa lanjut jika dia gak bisa masuk agama gue... Jadi... Lo tunggu keputusan shasha baru sampai kan tujuan gue jika Shasha udah bersedia. Gimana?" Arsen menganggukan kepalanya


"Ok... Gue sih yakin dia mau... Dia kan udah belajar sedikit sedikit dari gue dan Naomi... Mungkin dia sedang mencerna saja saat ini... Kita lihat apa dia sudah mantap atau belum, tapi gue gak bisa maksa... Itu pilihan hidup dia." Gio tersenyum sambil mengangguk.


"Gue akan hargai keputusan dia sen... Gue juga gak bisa maksa..jika jodoh mungkin bisa lanjut, kalo pun tidak...akan aku anggap sebagai adikku saja." Arsen berdiri lalu menepuk bahu gio.


"Sabar aja... Gue mau istirahat ya... Ngantuk gue." Arsen langsung masuk ke kamar sebelah kamar gio yang dulu pernah dia tempati bersama Naomi ketika datang ke mansion gio.


"Dasar Arsen... Nyelonong aja kayak di rumah sendiri... Untung Lo suaminya Naomi..." Gio menghela napasnya berpikir tentang masa depannya bersama Shasha, apakah bisa terwujud atau tidak.


***


Eh guys... Aya bikin cerita baru.. judulnya Alea... Nanti Singgah ya kalo udah di up... aku mau tamat kan dulu cerita ini sama cerita pasangan somplak. mudah mudahan suka. Makasih..🙏