One Night In Singapore

One Night In Singapore
Teman ?



Jadi selama ini dia....." Sungguh Arsen tak menyangka. Rasanya tak percaya. Kenapa? Hanya kata itu yang terpikir di pikiran Arsen.


Arsen dan Andre mendekat ke arah ruangan uncle Robert, dia melihat dokter sudah keluar ruangan dan tengah berbicara dengan aunty molly. Tersirat senyum di wajah wanita paruh baya yang masih cantik itu tatkala mendengarkan keterangan dari dokter.


Sebuah harapan yang terlukis jelas di wajah aunty nya. Dan Arsen pun merasakan kelegaan.


Tak lama dokter pergi arsen mendekati aunty, aunty langsung melirik ke arah Arsen dan tersenyum.


"Bagaimana aunty, seperti nya uncle baik baik saja?" Terka Arsen


"Ya thanks to God, he is better" jawab aunty


"Ayo kita masuk sen, uncle udah siuman dan melewati masa kritisnya." Lanjut aunty molly.


Mereka berada di ruangan yang cukup lumayan besar dan nyaman, ada lemari es, sofa, televisi, sungguh ruangan yang nyaman hanya untuk menunggu pasien bukan?


"Uncle...are you ok?" Uncle Robert berusaha untuk duduk namun ditahan Arsen.


"Tidur saja uncle" uncle tersebut tulus dan meneteskan air mata nya tanpa sadar, dia merasa menyesal beberapa tahun karena insiden berebut harta membuat harta yang benar benar berharga terlepas. Ya harta berharga itu adalah.....kasih sayang keluarga.


Arsen yang melihat ketulusan sang paman pun langsung memeluknya.


"Over kan uncle?" Arsen tersenyum sambil menatap mata uncle Robert


"Ya ... Semua dendam memang harus selesai. Terimakasih Arsen sudah mau berbesar hati untuk memaafkan." Arsen sedikit menggeleng.


"Kenapa kamu menggeleng, apa belum selesai?"


"Urusan kita masalah harta memang selesai tapi tidak dengan masalah rencana pembunuhan." Uncle tampak khawatir....


"Masih ada yang berusaha membunuhku kan uncle. Siapa dia?" Arsen hanya ingin memastikan apa betul ini orang nya.


"Aku tak tau siapa yang mencoba membunuhmu. Aku hanya bekerja sama untuk membuat kamu dan ayahmu bangkrut. Tak ada rencana untuk menghilangkan nyawa orang." Terlihat kenyakinan dalam mata uncle.


"Baiklah...uncle bekerja sama dengan siapa?" Arsen hanya ingin mendengar satu nama saja ya..hanya satu nama. Jika memang ada hal lain rencana pembunuhan itu nanti dia akan cari sendiri.


"James...teman sekolahmu di SMA." Raut kecewa terlukis lagi di wajah Arsen, namun dia masih bingung apa yang membuat teman nya itu tega melakukan nya?


"Uncle tahu alasannya dia membenciku?" Uncle menggelengkan kepalanya


" Jujur aku tak tahu, dia hanya bilang dia benci padamu. Hanya itu."


"Baiklah, biar aku cari tahu sendiri, uncle cepat sembuh, saya pamit." Arsen pergi setelah berpamitan dengan aunty juga Mike yang baru datang dengan membawa tas yang berisikan keperluan ibu dan ayahnya.


Arsen dan Andre juga para pengawal pulang ke mansion milik Arsen yang memang hanya ditinggali oleh dia dan para pengawal nya. Bagaimana dengan keluarganya? Mereka saat ini ada di Singapore, makanya saat itu Arsen berada di sana.


"Baiklah, aku ingin istirahat. Dre.. tolong jangan ganggu aku sampe pukul 12 siang dan suruh Arnold lacak keberadaan James. Laporan aku tunggu saat aku membukakan mata." Arsen melangkah ke arah kamarnya dan Andre hanya menjawab siap saja.


"Siap." Andre lalu menelpon Arnold sang hacker handal.


"APAAN? Gue lagi sama istri gue nih Dre, jangan ganggu. Kasian istri gue udah 2 hari gak gue sentuh." Andre sontak terkejut tatkala terdengar suara desahan dari seorang wanita.


"Ah..ah..siapa sih honey?" Andre pun nyengir di balik telpon.


"UPS...sorry gue ganggu. Ini ada kerjaan dari bos."


"Ya udah cepet, Lo ganggu aja." Arnold masih bergerak walaupun sambil menelpon. Tentu saja membuat Andre ingin cepat menyudahi telpon ketika mendengar suara desahan itu lagi di telinganya.


"Arnold, bisa gak Lo diem dulu biar istri Lo gak mendesah, gue terganggu nih." Arnold langsung diam dan mencoba fokus.


"Ya ini gue diem, cepet gue hampir keluar nih...calon calon baby gemes gue mau keluar." Andre bener bener harus mengurut  dada. Gak Jodi gak Arnold emang mesum. Untung Arnold udah nikah.


"Gini Ar..Arsen minta Lo lacak si James, dia di mana kegiatannya apa, dan coba cari info tentang dendam atau apapun itu yang bisa buat James benci sama Arsen. Info di tunggu jam 12, masih ada waktu 4jam lagi." Arnold manggut manggut aja.


"Ok, udah, itu aja?"


"Iya udah."


"Ya udah."


"Ya udah."


"Ya udah tutup Andre lemot, Lo mau denger gue sama istri gue mendesah lagi? Gue mau lanjut bikin baby emes. Ini butuh tenaga dan konsentrasi, paling 2 jam lagi lah gue balik ke depan laptop. Sekarang gue balik ke istri tercinta."


"Honey...are you ready?" Arnold simpan hp nya di nakas dan terdengar jawaban dari istrinya.


"Always my big baby." Suara wanita terdengar menjawab sambil mendesah.


Andre yang mendengarnya menggidik..


"Ihhh....gue gak nyangka Arnold yang selalu datar depan laptop kayak gini. " Andre langsung tutup telp nya.


Andre merinding mendengar suara suara itu. Apa seperti itu ya...dia sedikit merasa tidak nyaman. Sungguh buat kotor telinga. Tapi dia tak menampik bahwa di bawah sana ada yang bergerak.


"Hey junior, diem Lo...gue gak akan lepasin Lo sembarangan, demi istri tercinta nanti yang akan Lo sayangi. Ok. Gue akan cari yang terbaik buat Lo." Andre ngomong sendiri dan para bodyguard merasa bingung liat andre ngomong sendiri sambil menunduk.


"Ayo kita tenangkan diri, waktunya main game...hahaha." andre mengajak Jonathan main game di tengah rumah.


******


Tak sangka ya Andre masih polos aja. Ya yang nakal cuma si Jodi tuh.


See you next chapter


Bye đŸ¤—đŸ˜˜