
Wajah Naomi pucat seketika, merasa sesak dan takut Arsen terluka bahkan lebih parah dari sekedar luka.
Naomi melihat Andre dari arah belakang si penembak dan dia tersungkur baru Naomi merasa lega karena bunyi tembakan itu berasal dari Andre.
Tak lama datang sekitar 30 orang berjubah hitam hitam dengan earpiece nya dan membawa pistol serta senapan turun dari mobil.
Mereka langsung mengelilingi Arsen dan Naomi.
"Wah siapa mereka? Banyak banget, apa musuh Arsen, kenapa ini orang mau bunuh Arsen sih?" Naomi bergumam
"Memangnya kamu siapa sih sen, kok bisa bisanya mereka berniat membunuh Arsen." Batin Naomi
"Cepat lindungi bos besar, jangan sampe terluka." Andre mem
berikan perintahnya
" Siap." Semua orang mengelilingi Arsen dan sekitar 10 orang mengiring ke mobil sehingga Arsen Naomi dan sillia bisa masuk ke mobil. 2 mobil melindungi di depan dan belakang mobil yang Arsen tumpangi.
" Arnold, 15 menit buat kamu cari info siapa yang mengirim orang untuk membunuh gue." Arsen menghubungi temannya
"....."
"Gue ngandelin Lo. Thanks." Arsen menutup sambungan telepon nya.
Sedangkan 20 orang tersisa masih saling tebak dan hanya menghabiskan waktu 10 menit saja untuk mengalahkan musuhnya.
Naomi dan silia saling tatap tak percaya dengan kejadian barusan. Mereka beranggapan jika Arsen itu adalah seorang mafia.
Arsen yang sedari tadi melihat ekspresi wajah Naomi dan silia pun paham jika mereka sedang menunggu penjelasan dari nya.
"Tenang my angel, aku bukan mafia." Arsen tertawa sedangkan Naomi
Dan Silia matanya membulat tak percaya, bagaimana Arsen bisa tau pemikiran mereka berdua?
"Kami butuh penjelasan sen." Ucap Naomi dan diangguki Arsen
Sebelum Arsen membuka mulutnya, terdengar suara handphone.
Drrrrrttttt .....drrrrrttttt
" Ya, gimana?" Tanya Arsen
" Arsen....that ia your uncle Robert." Ucap Arnold singkat
"Oh..mmm.. sudah kuduga, sepertinya harus segera ku bereskan. Padahal sudah ku beri kesempatan untuk berubah dan menyerahkan diri ke polisi. Baik jika memang begitu maunya. Cukup sudah sampai di sini kesabaran ku." Arsen mengepalkan tangannya dan terlihat amarah di wajahnya.
"Retas keamanan perusahaan nya, dan laksanakan rencana yang sudah kita susun Waktu itu." Ucap Arsen dingin
"Ok."
Arsen langsung menutup telponnya, wajahnya tambah dingin dan tatapan tajam matanya membuat Naomi sedikit merasa merinding.
Naomi tahu kondisi Arsen sedang tidak baik dan dia berusaha menenangkan nya. Naomi bergeser tempat duduk dan menyentuh pundak Arsen dengan lembut.
" Ada apa? Semua baik baik saja kan?" Tanya Naomi dengan lembut dan Arsen menatap mata Naomi seketika pula tatapan Arsen menjadi sendu.
Terlihat ada luka di matanya... naomi tak tau ada luka apa di situ... namun rasanya ingin menenangkan.
Naomi memeluk Arsen dan mengusap punggung nya dengan lembut. Nyaman sangat nyaman yang Arsen rasakan saat ini.
"Jika kamu sudah siap bercerita, maka aku siap mendengarkan." Arsen hanya mengangguk dan memeluk balik Naomi
"Aku akan ceritakan semua, nanti di rumah ya." Arsen melepaskan pelukan Naomi sehingga dia bisa menatap wajah nya. Dan Naomi tak mau banyak bicara dia hanya tersenyum lembut.
" Aku antarkan kalian pulang." Ucap Arsen
Mereka sampai di apartemen Naomi, tak lama mobil yang ditumpangi Andre pun sampai sehingga mereka berempat sudah duduk di sofa.
" Sillia, kamu mau pulang atau mau menginap di sini?" Tanya Andre
"Aku menginap saja, tadi aku dah ijin sama Daddy kok." Andre mengangguk mengerti.
Suasana seketika menjadi hening... tak terdengar suara dari siapapun, dan akhirnya Arsen membuka mulutnya...
" Naomi ... apapun yang terjadi...aku mohon jangan tinggalkan aku ya..." Naomi bingung dengan maksud ucapan nya ini.
" Maksud kamu apa?" Arsen mencoba menjelaskan
" Yang mencoba membunuhku selama ini adalah pamanku sendiri." Naomi kaget merasa tidak percaya, bagaimana bisa seorang paman hendak membunuh ponakannya sendiri?
" Perusahaan itu...milik kakek ku, keadaan waktu itu sungguh memprihatinkan, hampir bangkrut...." Arsen menjeda ucapan nya dan tak ada yang berani memotong nya.
"Kakek dililit hutang, dan beliau meminta tolong kepada Daddy untuk menyelamatkan perusahaan, daripada perusahaan akan disita bank, maka sebaiknya jatuh ke tangan anak sendiri." Arsen menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
" Daddy membereskan semua urusan perusahaan, membiayai operasi nenek dan membayar semua hutang, juga membuat perusahaan kembali berdiri...paman yang merasa punya punya hak atas perusahaan merasa marah tidak diberikan hak oleh kakek."
"Dia marah, mengamuk, membabi buta....tanpa tahu jika perusahaan sudah dibeli oleh Daddy."
"Paman merasa itu semua cerita direkayasa, kenapa dia tidak mendapatkan bagiannya...merasa semua diberikan kepada Daddy. Padahal semua bukti sudah diperlihatkan kepada paman. Seakan akan dia menutup mata dan telinga."
"Paman marah dan hendak menembak Daddy namun gagal karena kakek menghalangi, sehingga......." Arsen menetes kan air mata dan Naomi spontan mengusap dengan lembut punggung Arsen.
" Kakek meninggal...." Kepala Arsen tertunduk, terlihat luka yang sangat besar di wajah Arsen. Luka dan amarah. Mencoba menahan dan tetesan air mata dan tangan yang terkepal tak dapat terelakkan.
Andre dan silia saat ini sedang ngobrol di depan tv, sedangkan Arsen dan Naomi berada di kamar Naomi sehingga Silia tidak melihat dan mendengar apa yang terjadi. Karena itu bisa dibilang privasi
"Yang sabar ya....aku tahu ini pasti berat. Namun ada kalanya kita harus menghadapi masalah supaya kita menjadi lebih dewasa dan lebih baik lagi." Ucap Naomi dengan lembut.
Arsen memeluk Naomi dan merasakan mendapatkan energi dan dukungan.
"Kamu mau istirahat....tidur saja di sini sama Andre ya. Ceritanya lanjut nanti saja."
"Ceritanya belum beres sayang." Naomi malah tersenyum mendengar penuturan Arsen
"Kamu yakin mau lanjut cerita? Aku gak mau loh liat cowok ganteng aku nan sangar meneteskan air mata." Goda Naomi
"Gak kok gak akan ada lagi air mata, aku cuma kelilipan. hehe."
" Cih..kelilipan. mana ada kelilipan kayak gini...air matanya aja kalo ditampung bisa tuh 1 galon" goda Naomi
" Lebay kamu sayang." Arsen mencubit pipi Naomi
" Aw...sakit tau." Naomi cemberut memonyongkan bibirnya dan Arsen tersenyum lebar melihat tingkah Naomi. Kok bisa ni dokter udah dewasa tapi masih kelihatan imut gitu. Jadi gemesss.
"Maaf my angel." Arsen mengelus pipi Naomi dengan lembut dan Naomi tersenyum.
"Permintaan maaf diterima asalkan besok traktir ice cream. Hehe." Arsen pun ketawa mendengar ucapan Naomi.
"Siap, mau segimana juga aku belikan. Kalo perlu sama pabrik nya sekalian. Hahaha."
"Ya Sultan mah bebas lah." Tawa Naomi pun keluar
" Trus nenek gimana?" Wajah Arsen kembali seperti semula
"Nenek meninggal setelah 2th kakek meninggal. Selama 2th itu nenek sangat sedih akibat kepergian kakek yang tidak lain akibat dari anaknya sendiri. Kami berusaha menghibur nenek, namun tidak ada kebahagiaan di wajahnya. Bagaimana mungkin dia bahagia jika belahan jiwanya pergi meninggalkan nya."
"15% saham nenek akan di bagi 2 oleh Nenek sebagai warisan. Nenek sudah sampaikan kepada paman tapi paman tak mau terima. Merasa terlalu kecil. Daddy ingin langsung kasih 15% itu untuk paman saja tapi nenek menolak karena merasa tidak adil buat kedua anaknya. "
"Sekarang nenek sudah meninggal...dan masalah sudah semakin rumit."
" Jadi rencana mu apa?"
" Aku akan pulang ke Jerman dan bertemu paman. Akan ku berikan 15% milik nenek untuk dia sendiri. Anggap saja hadiah persaudaraan dari Daddy."
" Jika dia tidak menerima bagaimana?"
" Jangan salah kan aku jika aku bertindak membalas semua perbuatannya kepada keluarga ku." Tatapan Arsen berubah menjadi dingin dan datar
" Kapan kamu kembali ke Jerman?"
" Besok pagi aku berangkat. Mungkin penerbangan jam 9."
"Mungkin butuh seminggu bahkan lebih, aku pasti rindu kamu." Arsen memeluk Naomi dengan erat dan dibalas oleh naomi dengan erat juga.
" Baik lah, cepat istirahat besok kita akan menghadapi hari dengan berat jadi badan harus tetap sehat ok."
" Ya kamu benar, aku harus tidur." Arsen langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur " emmmmh nyaman" ucap Arsen
"Eitss.... tidurnya di kamar sebelah, bukan di sini. " Naomi mencoba menarik badan Arsen namun tenaganya tak cukup untuk mengangkat tubuh Arsen.
"Ayo bangun...cepet....bangun dong. Kamu berat tau, aku gak sanggup angkat badan kamu."
" Ya udah gak usah diangkat." Arsen malah menarik tangan Naomi dan langsung badannya jatuh di dada Arsen.
Seketika wajah mereka berdekatan dan tatapan mata sendu Arsen terlihat. Arsen pun tak kuasa menahan rasa tangannya meraih tengkuk Naomi dan bibirnya mendarat di bibir Naomi.
Awalnya sebuah kecupan dan berakhir menjadi ******* singkat. Arsen mendekap badan Naomi di dadanya.
Naomi yang mendapat perlakuan itu merasa terkejut dan dadanya berdegup kencang.
Naomi hendak bangun namun urung melakukan nya karena Arsen " Ku mohon seperti ini dulu sebentar...5menit saja. Biar hati aku tenang."
*******
Wah....mereka harus berpisah dulu tuh. Paman Arsen bisa diajak damai gak ya? Atau malah tambah sengit?
Jangan lupa vote and comment, thanks
See you next chapter
Bye 🤗😘