One Night In Singapore

One Night In Singapore
Hansamu, Swy



"Maaf gio...aku tidak sengaja menindihmu, aku tak bisa berhenti berlari karena aku juga tergelincir pas kakiku mencoba berhenti mendadak." Naomi mencoba bangun dari atas badan gio.


"Tak apa, toh badanmu kecil jadi tak berat dan sama sekali tidak menyakiti mu." Terulas senyum di bibir sexy gio


"Kau tau aom, aku sangat merindukanmu...tiap malam aku melihat bintang di atas balkon kamar ku. Mengingat momen momen yang kita lewati bersama. Namun aku tak dapat menghubungi mu." Tesirat wajah sendu di sana


"Memang sangat terpencil ya sehingga kau tak dapat menghubungi ku?" Penasaran sekali rasanya Naomi..


"Ya saat itu ayahku gak mau aku menghubungi siapapun yang berada di sini, termasuk teman temanku yang lain. Ayah bilang nanti aku tak fokus belajar. Namun ketika aku sudah lulus SMA ayah membolehkan ku untuk menghubungi semua kerabat dan teman di sini. Sayanngnya ketika aku mendapatkan kembali handphone ku, seorang penjambretan mengambilnya."


"Bagaimana bisa?" Sungguh sangat menggemaskan dan membuat hati Naomi kesal terhadap penjambret itu.


"Aku kejar dia Naomi, namun diujung jalan ketika dia sudah berbelok aku melihat dia menggandeng seorang wanita dalam keadaan hamil. Aku berhenti mengejarnya, aku tidak mau melihat seorang istri marah dan kecewa karena suaminya melakukan pekerjaan kotor." Naomi terkejut dan juga merasa iba


"Aku tak berani mendekat Naomi, ku lihat dia sangat bahagia, mungkin sebentar lagi wanita itu akan melahirkan. Dan aku tak mau merusak kebahagiaan mereka. Ku pikir sudahlah handphone aku bisa beli lagi." Helaan napas gio terlihat begitu dalam


"Kenapa kau..." Belum selesai Naomi berbicara, gio langsung memotong ucapan nya


"Facebook bukan? Terus terang aku memang akan mencari mu di Facebook, namun aku belum sempat beli handphone, asisten ayah memberi tahu perusahaan ayah tertipu puluhan milyar karena bekerjasama dengan seorang penipu, akibat kejadian itu ayah terkena stroke. Itu yang mengakibatkan aku tidak bisa menghubungi mu. Banyak yang harus aku lakukan." Gio kembali menghela napasnya dan menatap wajah Naomi, dia bisa melihat Naomi menahan air matanya


"Maaf aom....my little aom....aku ...harus mengurus ayah, memang masih ada ibu namun aku harus fokus kuliah dan mengurus perusahaan sementara ayah sakit. Aku harus mulai belajar menjadi pemimpin perusahaan di usiaku yang masih muda. Sampai sampai aku tak punya waktu sama sekali untuk bermain dan senang senang tentunya." Perlahan lahan gio menceritakan apa saja yang dia lalui, baik kesedihan ataupun kebahagiaan yang dia lalui selama ini dia alami.


"Baru tahun ini ayah sehat aom, dan selama aku kuliah dan bekerja menggantikan ayah, Alhamdulillah aku berhasil membuat perusahaan kembali sukses, bahkan lebih sukses dan maju daripada sebelumnya, penipu juga tertangkap dan bisa m ngembalikan uang ayah walaupun cuma setengahnya."


"Gio....maaf....aku kira kau sudah melupakan aku...tiap malam aku ingin mengirimkan pesan bahkan ingin sekali menelpon, namun kau pernah bilang tidak akan pegang telp. Aku kecewa, sebegitu sibuknya kah? Sesusah itukah jaringan di sana? Tapi kenyataannya kau melalui banyak hal." Gio hanya menatap Naomi dengan lembut.


"Ya sudah... sekarang yang penting aku sudah ada di sini dan akan berada di Indonesia dalam waktu yang sangat lama. Sesuai keinginanmu." Naomi menatap kebingungan.


"Kau bingung? Hehe...aku akan mengurus perusahaan ayah yang ada di Jakarta jadi aku akan berada dekat dengan mu. Itupun jika kau menginginkannya...jika tidak mau aku bisa menjauh kembali aom." Goda Gio


"Tentu saja aku akan sangat senang kau berada di dekatku gio." Naomi tersenyum lebar.


"Apalagi jika sebagai suami." Ucap gio penuh keyakinan.


"Maaf...aku saat ini.." Naomi merasa tidak enak dengan gio.


"Aku tahu...kamu memiliki hubungan dengan seseorang, begitu bukan?"


"Bagaimana kamu tau?"


"Ayolah Naomi....aku walaupun tidak bisa berbicara bahasa Jepang tapi aku bisa mengerti dan memahami kondisi tadi."


"Maaf gio...."


"Jangan meminta maaf, jika kamu jodohku pasti kita akan bersama. Aku akan menunggumu. Paling tidak aku bisa berada dekat dengan mu dan kita kembali saling mengenal. Kamu mengenal gio dewasa dan aku mengenal Naomi dewasa. Pasti banyak perubahan di diri kita masing masing. Cuma satu yang tak berubah darimu." Gio menyunggingkan senyuman nya.


"Apa yang tak berubah dariku?" Tanya Naomi penasaran.


"Kamu masih tetap mungil...gadis kecilku. Hahaha." Naomi mencebikkan bibirnya.


"Cih, ku kira apa....tapi tunggu...aku yang sekarang lebih besar dong gio...masa badanku sama kayak waktu SD? Ada ada aja " Naomi membesarkan matanya.


"Tapi tetap mungil kan dari pada orang lain, coba kami bandingkan dengan Jihan dan Sillia, apa sama besarnya?" Naomi seketika terdiam dan termenung


"Iya juga sih" gumamnya namun masih bisa terdengar oleh gio.


"Baru nyadar, kau begitu mungil dan imutnya? Kecuali bagian bagian tertentu sih, lumayan tumbuh dengan sempurna." Gio menatap dada Naomi.


"Gio..apa yang kau lihat?" Naomi menutup dadanya dengan kedua tangannya.


"Hahaha Aku tidak liat apa apa, aku hanya lihat kamu, ngapain juga kamu tutup aku sudah lihat dan merasakan tadi menempel di dadaku." Santai gio


"Ih gio mesum....ternyata gio dewasa sudah mulai mesum ya. " Naomi mencubit pinggang gio


"Aw...aw..aw...hahaha...kan terlihat aom...masa aku harus menutup mataku ketika berbicara denganmu. Kamu kira aku buta Hem?" Gio berlari menuju tempat orang tua Naomi dan ketiga temannya itu berkumpul.


"Gio awas kamu ya..." Naomi mengejar gio kembali.


Mereka berdua saling mengejar dan tertawa, seakan tidak ada hal yang dipikirkan, tidak ada masalah dan kesedihan, yang ada hanya kebahagian.


"Hey... kalian tidak capek dari tadi main kejar kejaran?" Ucap Adi.


"Kapan kita ke mall? Bentar lagi Dzuhur loh. " Ucap Jihan


"Memang kalian mau pergi ya?" Tanya gio yang menghentikan langkahnya. Dan Naomi baru teringat


"Ya udah kita siap siap kalo gitu. " Semua orang bubar kecuali Vina dan Akimoto mereka masih duduk berdua di depan televisi.


"Gio ..kamu ikut kan?"


"Tentu saja, aku tak akan melewatkan kesempatan untuk berada di samping mu." Gio mengedipkan matanya


"Kau genit sekali ternyata. Hahaha."


"Baiklah, aku pulang dulu, setelah sholat aku balik sini. "


"Ok. Kita tunggu ya....gak pake lama."


"Siap my little aom." Gio melangkah pergi dan menghilang


Di sini lah mereka Sekarang, membeli 5lembar tiket masuk untuk film midnight sun, film romantis yang sayang berakhir sedih.


"Kamu nangis aom?" Tanya gio


"Mataku sembab ya?" Gio mengangguk


"Gimana gak nangis, cewek nya meninggal. Coba aku di situ, aku peluk si Patrick...uh...dia ganteng banget lagi. Pengen cubit rasanya."


"Gantengan aku sama dia, masa kamu tak lihat sih..coba kamu perhatikan!" Naomi perhatikan dari atas sampai bawah.



"Ganteng sih .... Pasti banyak cewek yang bersedia menjadi pendamping mu gio." Batin naomi


"Ya lumayan...." Ucap Naomi sambil mengangguk anggukan kepala nya dan mengacungkan jempol nya


"Lumayan...ganteng begini lumayan? Aish.....kau ini."


"Anata wa hontōni hansamudesu, gio."


*Kamu ganteng banget gio.


"Kamu ngomong apa?"


"Hansamu."


*Ganteng


"Artinya apa?"


"Jelek wleeee." Naomi menjulurkan lidahnya


"Khuṇ s̄wy, c̄hạn rạk khuṇ"


*Kamu cantik, aku cinta kamu."


"Apa itu?"


"Swy."


*Cantik


"Artinya, gio.."


"Jelek. Kamu juga jelek." Gio mencubit hidung Naomi.


Mereka jalan jalan di mall dan makan sebelum memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Mereka pulang sebelum Maghrib karena ketiga sahabat Naomi harus kembali ke Jakarta karena Senin harus kembali melaksanakan tugas nya sebagai seorang dokter.


****


Kangen Arsen? Nantinya next chapter baru ada.


Thanks yang udah bersedia baca, like, vote dan comment, apalagi sampai share.


Menghargai karya orang itu cukup mudah Lo, yang simpel aja cuma kasih vote dan comment.


See you next chapter


Bye 🤗😘