
Setelah kejadian penembakan semalam gio mulai sering memperlihatkan perhatian nya, setiap hari membawa bunga mawar merah dan selalu disambut dengan senyuman oleh Naomi.
Naomi yang akhir akhir ini sibuk tak punya banyak waktu bersama kecuali di akhir pekan. Begitupun gio yang saat ini masih sibuk dengan pembangunannya dengan perusahaan yang cukup besar di dunia.
Saat ini gio dan rekan bisnis nya sedang bertemu di lokasi hotel dan berbincang bincang mengenai acara pesta pembukaan hotelnya.
"Tuan Miller, jangan lupa untuk datang Minggu ini ya pukul 7, undangannya sudah saya berikan ke sekertaris anda." Ucap gio dengan senyuman mengembangnya.
"Oh tentu saja tuan Suparat, saya akan sangat senang untuk hadir. Namun saya melihat ada sedikit perbedaan dengan raut wajah anda kali ini." Tanya Miller di sela sela pembicaraan bisnis kali ini.
"Hahaha, anda ada ada saja...memang ada apa dengan wajah saya?" Gio sangat bingung.
"Anda terlihat lebih bahagia dibanding biasanya. Wajah anda berseri seri, apa ada kabar gembira?" Tanya Miller ikut senang melihat rekan bisnisnya dalam keadaan yang sangat baik.
"Sejujurnya, iya. Aku sangaaaat bahagia, orang yang saya cintai dari kecil, my little aom akhirnya telah menerima cinta saya." Ucap gio
"Wow...luar biasa...saya ikut senang. Cinta pertama ya? Di pesta nanti pasti anda ajak kan? Saya sangat ingin tahu seperti apa gadis yang anda cintai, setahu saya dulu ketika kita bertemu di Thailand, banyak sekali wanita yang mendekati Anda, namun tak pernah anda gubris. Sampai sampai banyak orang berpikir Anda maaf... seorang gay."
Gio merasa hal itu tidak aneh dan dia juga pernah mendengarnya. " Hahahaha...iya memang. Tapi saya waktu itu sibuk dengan perusahaan dan ayah saya yang terkena stroke, rasanya tidak tepat saya memadu kasih, dan memang ada seorang gadis kecil yang selalu saya ingat selama 12 th, aku ingin tahu bagaimana dia saat dewasa dan ternyata tambah cantik dan menggemaskan. Aku beruntung mendapatkannya."
"Penantian yang setimpal ya... saya ikut senang dengan kebahagiaan yang anda dapatkan saat ini." Gio tersenyum lebar " terima kasih dan bagaimana dengan tunangan anda...bukankah Anda sudah bertunangan? Jangan sampai tidak membawanya ya. Saya sangat ingin juga mengenal wanita yang sudah meluluhkan anda." Miller tertawa "ya saya akan berusaha untuk mengajaknya, mudah mudahan dia tidak sibuk karena dia kemaren sedang ada jadwal pemotretan." Gio baru tahu jika tunangan Miller ternyata seorang model. "Seorang model? Wow...luar biasa...tak salah anda bertekuk lutut, ternyata seorang model. Sudah pasti dia wanita yang sangat cantik dengan body yang luar biasa ya?" Miller tertawa kembali. "Anda bisa saja...sejujurnya saat ini saya lebih tertarik dengan body yang imut dan menggemaskan..."
Gio membesarkan matanya " masa? Tak mungkin bukan kah anda sudah lama memadu kasih dengan tunangan anda? Masa jadi berubah tipe? Hahaha."
"Dulu kami sempat mau menikah namun terhalang, ada sedikit peristiwa sehingga kami harus berpisah dan saya sempat bertemu gadis yang imut. Namun takdir berkata lain, saya harus kembali ke tunangan saya." Gio membelalakkan matanya
"Wow .... Kisah yang sangat mengesankan. Mungkin itu lah takdir. Jodoh tak kan Kana mungkin itu judul yang cocok dengan kisah anda. Namun saya sepertinya harus hayu hati tuan Miller...pacar saya imut mungil dan menggemaskan...jangan sampai anda tertarik olehnya. Dia mungil tapi kecil kecil cabe rawit loh "
"Ya...jangan sampai...nanti bisa bisa saya ambil pacar anda dan saya jadikan istri. Hahaha." Mereka berdua tertawa.
"Oh kita sudah 2x berbisnis dan menjalin hubungan dengan baik, jangan panggil tuan Miller lagi...biar tidak canggung panggil nama depan saya saja ya.." dan gio mengangguk kan kepalanya tanda dia setuju.
"Baiklah... baik lah...maka anda juga jangan panggil saya tuan Suparat kalo begitu." Miller tersenyum
"Setuju." Mereka saling bersalaman.
"Jadi saya panggil anda..."
"Arsen...panggil saya Arsen. Kita sudah cukup kenal kan?" Gio tersenyum
"Baiklah Arsen...tapi rasanya saya pernah mendengar nama anda ya, tapi di mana?" Gio terlihat berpikir
"Tentu sudah beberapa tahun yang lalu saat kita pertama kali bertemu di Thailand...saya mengenalkan diri dengan nama saya kan 'Arsen Miller' namun kita saat itu belum begitu dekat jadi anda memanggil saya Mr. Miller." Gio hanya mengangguk angguk kan kepalanya
"Oh...ya mungkin begitu. Baiklah Arsen sekarang panggil saya Gio saja"
"Saya juga merasa pernah mendengar nama anda namun sama halnya denganmu gio...mungkin dulu saat kita berkenalan. Gio Suparat. Jadi Tuan Suparat. Namun...nama Suparat itu dari ayah anda ya, nama orang Thailand ya?"
"Ya betul. Ayah saya orang Thailand, kami di Indonesia sudah lama semenjak orang tua saya menikah, namun saat mau SMP harus pindah ke the kembali karena kakek saya sudah tak mampu menjalankan bisnis nya, dan ayah yang menggantikan. Dan ketika SMA ayah yang sakit hingga saya harus turun tangan dan belajar memimpin perusahaan, tapi bersyukur ayah sudah sehat jadi bisa mengambil alih kembali perusahaan kakek dan saya bisa pegang perusahaan ayah di Indonesia." Arsen memperhatikan semua ucapan gio
"Berarti kita dulu bertemu sekitar 3-4 th yang lalu ya? Anda sedang kuliah kan saat itu? Dan saya juga baru menjabat sebagai CEO setahunan. Kita sama sama banyak belajar. Namun lihatlah sekarang...anda sudah lebih mahir."
"Oh tidak...anda lebih sukses seperti nya."
"Hahahaha." Tawa ringan mereka sungguh terlihat menyenangkan orang sekitar yang melihat nya...namun mereka tidak tahu dibalik itu ada seorang wanita yang pernah dan masih mereka berdua cintai...... apakah masih bisa mereka tertawa seperti itu?
Acara pesta pembukaan hotel akhirnya tiba...semua tamu mulai mengisi gedung hotel yang cukup luas.
Suasana sudah makin ramai, banyak undangan yang hadir saat ini, bahkan orang tua Naomi pun diundang oleh Gio namun sayang mereka tidak dapat hadir karena mommy Naomi saat ini sedang kurang sehat, dan gio paham akan hal itu.
Pesta yang cukup meriah.... Semua pengusaha dan rekan rekan bisnis juga para sahabat di undang di acara tersebut.
Gio tengah berbicara dengan Naomi yang baru saja datang.
"My little aom...maaf kamu harus datang sendiri, ya walaupun dijemput Eza tapi aku merasa kurang baik dengan mu akhir akhir ini. Maaf ya?" Tatapan penyesalan tergambar di sana dan Naomi tersenyum manis
"Santai saja Yo...aku tahu kamu tuh sibuk, secara kamu tuan rumah nya kan? Nah mana rekan bisnismu yang sudah bekerjasama dengan mu?" Tanya Naomi dan gio hanya menatap Naomi saja " Tunggu dulu...aku sekarang sedang melihat bidadari surga ku...jadi jangan mengalihkan pembicaraan. Biarkan aku mengaguminya walaupun cuma sesaat." Naomi tersipu malu dan menarik ujung bibirnya
"Kamu bisa saja Yo...jangan buat aku malu." Gio tersenyum dan menggenggam tangan Naomi dengan serat "kau tahu...malam ini kau lebih cantik sayang... rasanya aku tak akan sanggup melepaskan mu." Naomi tersenyum " maka jangan pernah lepaskan aku, apapun yang terjadi." Ucap Naomi.
"Jika kau yang mau melepaskan, apa yang harus aku perbuat?" Tanya Gio
"Aku tak akan pernah melepaskan mu jika kamu tak melepaskan ku Yo.... Aku sudah berusaha membuka hatiku. Dan aku harap kau menungguku sampai aku benar benar jatuh begitu dalam hanya untukmu. Namun aku butuh waktu untuk melakukan nya. Kau tahu sendiri kan, sudah 2x aku dihianati dan tidak mudah bagiku untuk mempercayai kembali. Walaupun aku tahu kamu mungkin tidak akan pernah melakukan nya. Hanya saja....aku belum mengenal gio dewasa." Naomi tersenyum menatap gio
"Yah ..kau benar... Aku butuh sedikit lagi usaha untuk membuatmu percaya. Namun aku pastikan...hanya kamu yang ada di sini di sini dan di sini." Gio menunjuk ke kepalanya, mata dan hatinya.
" Tunggu aku 1 tahun, maka aku akan melamarmu dan aku harap pada saat itu kamu sudah mencintai ku melebihi cintamu pada siapapun. " Tatap gio penuh keyakinan
"Sepertinya saat ini juga aku sudah mempercayai mu Yo.... Cintamu tulus dan aku rasanya sudah mulai bertambah cinta sama kamu "
Gio tertawa" hahahaha...baiklah aku sangat bersyukur jika begitu. Mungkin aku tak perlu menunggu 1th jika begitu ya ..mungkin 6 bulan saja?" Naomi membesarkan matanya
"Yo...jangan bercanda..."
"Aku tak pernah bercanda sayang... mengenai perasaan aku tak akan pernah main main." Gio mengedipkan matanya
"Ah...aku mulai meleleh...dan seperti nya aku harus ke toilet dulu." Naomi tersenyum lebar dan gio mengangguk
"Silahkan sayang...hati hati, jangan lupa baca doa mau masuk toilet, aku takut kamu digondol Wewe gombel. Hahaha." Naomi mencebikkan bibirnya
"Cih...emang aku anak kecil apa?" Bibir Naomi cemberut
"Jangan seperti itu...nanti aku cium kamu. Padahal aku sudah menahannya sedari tadi." Naomi beranjak pergi lalu berbalik "wleeee sini cium jika berani." Naomi memeletkan lidahnya.
"Dasar, kau sungguh menggemaskan." Gumam gio lalu dia pergi menyapa tamu undangan yang hadir.
Beberapa saat setelah selesai dari toilet, Naomi kembali mencari gio. Dia melihat ke sana kemari mencari sosok gio. Dia dapat melihat gio bersama seorang pria dan wanita yang sedang digandeng nya. Naomi mulai mendekat dan dia melihat dari samping pria tersebut.
Deg...deg...deg... jantungnya berdetak kencang seakan akan dia melihat seseorang yang dia kenal bahkan beberapa saat lalu telah hinggap di hatinya.
"Arsen........tidak mungkin kan aku melihat nya di sini?" Gumam Naomi dan tanpa terasa menetes sebutir air bening dari mata nya.
*********
Bagaimana nih kelanjutannya.
Makasih ya udah mau baca cerita ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, vote and comment juga share ke temen yang lain.
See you next chapter thanks
Bye 🤗😘