
"Bagaimana ini..." Naomi terlihat bingung begitu pun dengan Arsen.
Tak lama turunlah hujan yang lebat...
Byur...hujan dan angin menerpa badan mereka.
Tak lama suara langkah kaki pun terdengar, dan ada yang menerobos tumbuhan tumbuhan yang berada di taman.
Tak.. tak... tak... Srek....srek...srek..
Puk....
Sebuah tangan menepuk pundak Naomi.
"Kamu lagi apa sayang di sini hujan hujan.?" Naomi sungguh merasa kaget.
"Aaa...aduh. Yo...kamu ngagetin aja." Ucap Naomi
"Harusnya aku yang kaget ..kamu lagi apa malem malem gini...di luar, gelap gelap, hujan lagi." Naomi terlihat bingung "emmmm tadi aku di dapur denger ada suara gitu di taman, aku takut ada maling atau apa...aku ikutin ke sini .. tapi gak ada....pas mau balik kamu dah ngagetin aku." Naomi tergagap menjawab pertanyaan gio
"Ya ampun Naomi....kalo ada apa apa kamu panggil aku aja...kenapa keluar sendiri. Ya udah ayo kita kembali, lihat baju kamu jadi basah. Nanti kalo sakit gimana?" gio menarik tangan Naomi pergi kembali masuk ke vila.
Namun seseorang jongkok tengah bersembunyi di balik pohon pohon.
Naomi masuk ke kamar dan membersihkan dirinya lalu mengganti bajunya.

Naomi turun hendak mengambil hairdryer di laci depan televisi bekas tadi Hanna pinjam. Dia mengeringkan rambutnya dan gio menghampiri.
"Sini aku bantu...." Gio langsung mengambil sisir dan hairdryer. Dengan cekatan gio mengeringkan rambutnya.
Dan seseorang juga baru keluar dari arah pintu dapur dengan keadaan rambut dan seluruh tubuhnya basah kuyup.
"Kamu tadi ke mana sih sen .... Kok ngilang?" Arsen terlihat bingung
"Emmmm....itu...tadi pas di kamar mandi aku denger ada suara grasak-grusuk.. jadi aku pergi cek ke luar, eh gak lama hujan." Gio mengerutkan keningnya
"Jadi tadi kamu juga ke luar cari sesuatu yang grasak grusuk? Tadi aom juga ke luar." Arsen tersenyum dipaksakan " oh Nona Azura juga ke luar ya ...aku tak tahu...tapi tadi aku sempat lihat ada putih gitu lewat, aku penasaran dong ya aku ikutin aja sampe pohon pohon belakang itu, tapi kok gak ada ya? Aku heran deh." Arsen sungguh pintar berpura pura ternyata.
"Mungkin hanya bayanganmu saja...dan karena suaramu, aku yakin itu membuat my aom keluar nyari suara yang tak lain itu kamu sen."
" Oh...iya mungkin...maaf...kalo tahu nona Azura ke luar kehujanan juga, kita mungkin bisa main hujan hujan dulu ya. Bukan begitu nona Azura? Biar bisa joget dan nyanyi kaya orang India. Kan kalo hujan terus ada pohon cocok tuh buat India Indiaan. hahaha." Arsen tertawa dan yang lain ikut juga tertawa. Namun Naomi cuma tersenyum.
"Ada ada aja Mr Miller ini.....ya dan kita bisa sakit bareng. Bagus juga idenya, apa kita balik ke luar aja lagi? Dan Hujan-hujanan?" Ucap Naomi.
"Ahahaha...kalian berdua ini memang lucu." Ucap Hanna.
"Sudah kering sayang, ayo kita ke kamar...tidur ... Besok kita pulang pagi." Gio merapihkan rambut Naomi.
"Hanna ayo...mau tidur sekarang atau nanti?" Tanya Naomi
"Nanti aja deh...aku masih mau di sini, sen...cepet ganti baju trus balik ke sini, aku pengen ngobrol sama kamu." Arsen mengangguk kan kepalanya dan melangkah ke kamar untuk mengganti bajunya.
Di keheningan malam, hujan lebat mengguyur bumi dan angin kencang membuat suasana semakin dingin.
Di depan televisi duduk sepasang kekasih, Arsen dan Hanna. Mereka duduk di sofa berdampingan dan terlihat Hanna seperti ada di yang ingin di sampaikan.
"Khem...sen...." Hanna berdiri dan duduk di pangkuan Arsen, tangannya melingkar di leher Arsen. Arsen pun terkejut dengan tingkah Hanna yang lebih aktif dibandingkan dulu ketika mereka berpacaran.
"Hanna....bisa duduk di samping? Aku tak enak jika ada gio atau nona Azura melihat kita." Hanna mengerutkan keningnya
"Kenapa harus tidak enak, mereka juga akan mengerti sen, mereka juga sepasang kekasih bukan?" Arsen hanya tersenyum.
"Honey...kami sudah lupakan wanita itu bukan? Wanita yang selalu kamu panggil angel.... Kami sudah kembali mencintai ku kan?" Hanna hendak mencium bibir Arsen namun yang kena pipinya, karena Arsen sedikit menolehkan wajahnya ke sisi lain.
Arsen hanya terdiam." Arsen...ayolah...jangan menolak...kamu tahu hati aku sakit ketika hal dulu terjadi, dan aku hancur sen....aku tak pernah membuka pintu hati aku untuk siapapun walaupun itu James. " Arsen hanya diam membisu.
"Maka ketika James bilang 'apakah kamu mau ketemu Arsen?' maka hati aku begitu bahagia...dan dipikiran ku kamu juga akan bahagia, namun apa? Kamu sudah memiliki wanita lain. Sakit hati aku sen." Lanjut Hanna
"I love you sen, i still love you...jangan tinggalkan aku ya sen...please...demi cinta kita " ucap Hanna dengan menitikberatkan air matanya.
"Aku tak tahu Hanna...aku butuh waktu... Aku masih mencintainya. " Ucap Arsen.
"Lupakan dia sen...lupakan. please." Hanna mencium bibir Arsen, saat ini tangannya menahan tengkuk Arsen sehingga arsen tak sempat mengelak.
Arsen hanya diam saja tanpa membalas, namun Hanna tak mungkin diam saja, dia gigit bibir bawah Arsen sehingga bibirnya terbuka dan itu kesempatan untuk Hanna bisa melu*at lembut bibir Arsen.
Arsen yang teringat akan ucapan Naomi yang akan bertunangan dengan gio 2 bulan lagi membuat dia frustasi dan akhirnya membalas ciuman Hanna dengan kasar....terlihat bergairah ..
Namun ada seseorang di atas tangga yang sedari tadi akan melangkah karena kehausan tak jadi melangkah kan kakinya ke dapur. Dia kembali ke kamarnya dengan tangan menghapus tetesan air mata.
"Inikah akhir dari kisah cinta kita Arsen, kau sudah memilih....dua kali kau memilih Hanna...rasanya aku tak perlu ragu lagi untuk mengatakan iya kepada gio ... Hanya dia yang tulus mencintaiku. Hiks..hiks..." Batin Naomi berteriak. Dan dia meyakinkan dirinya untuk menerima gio.
Arsen menghentikan pagutannya...mereka terengah engah mencari udara. Mata hanna begitu berbinar binar bahagia, akhirnya Arsen membalas ciuman nya yang susah sekali dia dapatkan selama kembali menjalin kasih.
"Terima kasih sayang.... sekarang kamu benar benar sudah membuka hati kamu untuk aku. Jadi..kapan kita menikah?" Arsen menatap kosong karpet bulu di bawah kakinya. " Setelah pernikahan gio dan Azura....saat itu kita nikah. Atau...kita bisa menikah bareng. Bagaiman" Hanna sangat senang mendengarnya.
"Wah ...ide yang bagus...aku mau kita barengan nikah. Besok kita kasih tau gio, mudah mudahan mereka setuju." Hanna tersenyum lebar.
Keesokan harinya terlihat dua pasang kekasih sedang siap siap untuk kembali pulang dan menjalani kesibukannya.
Naomi melangkah mendekati gio yang sudah berada di samping mobil.
"Semua sudah beres kan? Gak ada yang ketinggalan?" Tanya gio
"Gak ada....tapi Yo...aku mau bilang sa kamu....kalo aku..." Gio menunggu ucapan Naomi
"Aku bersedia Yo...kita tunangan dulu...2bulan...2bulan dari sekarang kita tunangan dan untuk pernikahan kita tanyakan mom sama dad dulu. Gimana?" Sontak gio tersenyum lebar dan berteriak.
"Yes ..yes..yes...aom...kamu yakin kan? Bener kamu terima aku...sayang...benerkan?" Naomi menganggukkan kepalanya dan tersenyum
Gio mengangkat Naomi dengan kedua tangannya ke atas lalu memutar mutarkan badan Naomi lalu memeluk erat tubuh Naomi. " aku seneng banget sayang...oh my little aom...i love you ..emuah... I love you..emuah." gio mengecup dahi, hidung, pipi dan bibir Naomi dengan gemas.
Namun di depan pintu vila terlihat Arsen dan Hanna yang memperhatikan, ada yang tersenyum ikut bahagia dengan kejadian itu namun ada juga yang tersenyum pahit...menusuk dada seakan susah untuk bernafas.
Gio melihat Arsen dan Hanna langsung dia tertawa lepas.
"Arsen... Hanna...aom menerimaku. She said yes...oh my God...is it real? Ya Allah...aku gak bisa percaya ini." Gio tersenyum lebar
"Selamat bro..." Arsen tersenyum dengan terpaksa
"Selamat ya azura...aku ikut senang..gio.. selamat. " Hanna tersenyum bahagia
Arsen mendekati Naomi memeluk dan berkata" selamat nona Azura." Lalu dia berbisik "jika ini keputusan mu...aku akan terima dengan syarat kita menikah bareng" Naomi begitu terkejut. Bagaimana dia bisa menghadapi pernikahan jika harus menikah berbarengan dengan Arsen. Akan sangat berat baginya.
Arsen melepas pelukan dari naomi dan berkata " gio...aku akan sangat senang jika kita bisa berbarengan menikah dengan mu. Bagaimana?" Gio terkejut bukan main.
Bukankah hal itu tidak mungkin? Go dan Naomi akan menikah di mesjid atau di rumah dengan penghulu, namun Arsen di gereja kan dengan seorang pastur? Batin gio
"Aku sangat senang sen jika itu terjadi, namun gak akan mungkin bisa bukan? Tempat kita menikah itu berbeda tentunya. Kamu di gereja dan kami di mesjid.
Ya rumah Naomi di Bandung memang tersedia sebuah tempat ibadah, di samping rumah ada mesjid yang dengan sengaja dibangun untuk acara ibadah.
Arsen tersenyum " tak masalah...aku juga akan menikah di mesjid jika Hanna tak keberatan....karena aku sudah jadi seorang mualaf." Ketiga orang itu sungguh terkejut..kapan Arsen masuk Islam?
"Kalian gak usah kaget gitu...aku udah masuk Islam saat baru seminggu berpacaran dengan my angel....." Hanna terkejut bukan main apalagi Naomi
"Hanna, masalah nya ada di kamu...Kita bisa nikah jika kamu jadi mualaf. Jika tidak, tidak usah dilanjutkan.
********
Thanks for reading and don't forget to give like vote and comment ya guys
See you next chapter
Bye 🤗😘