One Night In Singapore

One Night In Singapore
Back to Indonesia



Hari ini peresmian hotel Cannes, gio dan Evelyn berada di sana begitupun dengan Mike.


Acara berjalan dengan lancar, semua tamu undangan begitu menikmati suasana hotel itu karena memang ter desain dengan begitu bagus sehingga menampakkan kenyamanan bagi pengunjung yang datang ke hotel itu.


Saat ini mereka sedang menikmati minuman dan makanan yang sedang dihidangkan.


Gio sibuk menyambut semua tamu undangan.


"Hallo Mr. Arold... Welcome and enjoyed."


"Thank you very much Mr Gio. Nice grand opening.."


"Thank you." Gio mengangkat tangannya dan pelayan datang dengan menenteng nampan beserta minumannya. Tanpa dia sadari yang  membawa nampan itu adalah seseorang yang gio kenal.


"Have enjoy...excuse me. " Gio ijin pamit dan memanggil pelayan tadi.


"Orange juice please." Pelayan tadi menganggukan kepalanya "ok. Just a momen sir." Gio merasa kenal suara ini. Gio melirik dan meneliti wajah nya. Mereka saling bertatapan dan melongo.


"Kamu ngapain di sini?" Gio melongo


"Kerjakan... Ngapain lagi? Ngamen?"


"Dasha...aku serius." Gio bicara pelan namun tegas


"Emang kamu pikir aku lagi ngebodor apa?" Bisik Dasha dan gio menggeleng gelengkan kepalanya "terserah... Yang pasti bikinin gue jus, cepet gak pake lama." Dasha pergi dengan cepat dan kembali dengan pesanan gio.


"Ini..." Gio tersenyum pesanannya sudah datang.  " Kamu kerja di sini?" Dasha mengangguk " iya..hanya untuk malam ini saja, Bu Elisa meminta tambahan pegawai dan temanku menawarkan kerjaan ini...dan aku lagi butuh kerjaan. Ya .. di sini lah aku sekarang." Gio mengangguk sambil meminum jus nya.


"Tapi... Bukannya kamu kerja di minimarket?"


"Saya gak bisa balik lagi ke sana..sudah ada yang ganti posisi saya." Gio menatap Dasha, melihat gadis ini berpakaian pelayan hotel.


...



...


Kurang lebih model pakaian nya seperti ini ya ..


"Kamu mau kerja di hotel? Tapi gak di sini." Dasha tersenyum " mau ..mau.." Dasha antusias sekali.


"Aku ada hotel satu lagi, dekat dengan daerah rumah ku...kamu bisa kerja di sana. Gimana?" Dasha mengangguk


"Siap... Kalo ada bagian chef juga boleh tuh... Ya jadi asisten juga boleh."


"Emang kamu bisa masak? Kok mau jadi chef?" Dasha tersenyum " Dulu ibu aku ngajarin saat aku kecil, bikin kue gitu...dan ibu angkat dulu waktu muda seorang chef jadi aku  belajar sama beliau." 


Jadi Dasha mendapatkan keahliannya itu dari ibu kandung juga ibu angkatnya.


Acara peresmian hotel telah selesai, semua tamu undangan sudah pamit pulang begitupun dengan para pekerja yang telah selesai melaksanakan tugasnya.


Dasha terlihat menunggu taxi lewat, dia sudah berdiri sekitar 30 menit lamanya namun taxi tak satupun datang. Mungkin sudah terlalu malam, sehingga taxi karang sekali lewat. Teman Dasha, Eli mempunyai kerjaan tambahan di dapur untuk membantu mencuci piring sehingga dia memutuskan untuk menginap di kosan pacarnya.


"Kamu masih di sini?" Gio menundukkan kepalanya agar bisa melihat Dasha dari jendela.


"No taxi...mungkin karena udah malam." Gio mengangguk " masuk, aku antar pulang." Dasha sudah lelah menunggu jadi langsung masuk saja ke sana.


Mereka berada di dalam mobil selama tiga puluh menit, jaraknya lumayan jauh dari rumah Dasha dan Gio.


"Masalah kerjaan, nanti saya cek dulu ke Merry apa ada lowongan. Jika kamu beruntung mungkin dapat posisi sebagai asisten chef." Dasha mengangguk antusias.


"Ya GPP." Tangan Dasha di pindahkan ke pahanya. Dia melihat ke luar jendela, jalanan sudah tak seramai tadi, namun masih ada kendaraan yang lalu lalang.



Sesekali gio melirik Dasha... Melihat wajah cantiknya yang begitu mulus membuat dia selalu ingin meliriknya. Bibirnya yang ranum membuat dia kurang fokus dengan jalanan, apalagi mengingat kejadian yang mereka lalui seminggu yang lalu, untung saja jalanan sudah tak begitu ramai jadi Resiko kecelakaan berkurang.


"Khemmm... Kamu kenapa liatin aku?" Gio langsung berdecih " ch.. siapa yang liatin kamu, aku lihat ke spion..takut ada mobil atau motor di belakang lalu menyalip." Sanggah gio


"Oh...aku kira, maaf aku takutnya ada yang salah sama wajahku. Takutnya ada sisa kue di bibirku atau di pipiku ada yang kotor...hehe... Iya.. begitu." Gugup Dasha...


Mereka sampai di depan rumah Dasha, gio mau tak mau mengantar kan Dasha sampai ke depan rumah sampai gadis itu masuk dan menguncinya karena takut kejadian dulu terulangnya lagi. Dan secara tidak langsung mereka mengingat momen yang dulu. Keduanya menyenderkan tubuhnya di balik pintu dan menutup matanya dengan nafas yang terburu buru.


Sekitar lima menit mereka berada saling memunggungi dengan pintu sebagai sekat bagi mereka. Keduanya merasakan hal yang sama.


Keesokan harinya gio menghubungi Merry menanyakan ada lowongan kerja tidak di hotel, dan beruntung lah Dasha, bagian pelayan restoran di hotel itu baru saja kosong karena ada yang resign karena akan menikah.


Dasha pun begitu senang akhirnya bisa kembali bekerja setelah seminggu nganggur di rumah.


Gio yang sudah janji akan datang ke Indonesia, keesokan harinya dia berangkat hendak menemui keponakan nya Arkana.... Sehingga hari pertama kerja gio tak dapat mengantar dasha.


Dasha langsung bertemu dengan Mery dan seleksi pun dilakukan. Dasha lolos dengan perasaan puas karena jika di dampingi gio dia takutnya hasil itu ada campur tangan gio.


Perjalanan ke Indonesia lancar seperti biasanya. Gio sampai di Indonesia namun dia tak mau memberitahukan jika dirinya sudah sampai di Jakarta. Dia ingin memberikan kejutan.


Gio membawa beberapa hadiah untuk diberikannya kepada Arkana.  Gio menekan bel dan terbukalah pintu rumah tersebut.


"Aaaaaa.... Giooooo." Teriak Naomi sampai memeluk gio kegirangan namun seseorang yang berada di atas lantai dua itu turun dengan cepat dan menarik badan Naomi dengan cepat.


"No hug.... Honey..." Gio dan Naomi terkejut dengan tindakan Arsen sang suami Naomi.


"Ish... Kau ini... Aku kangen gio, tiga tahun kita tak bertemu. Sayang..." Arsen menganggukan kepalanya


" ok. But no hug." Naomi memutarkan bola matanya.


Gio hanya terkekeh geli " kalo gue mau bawa Naomi, dulu gue bisa nikah sama dia, dengan gampang dia akan jadi istriku sen, kenapa baru sekarang gue rebut lagi setelah dia punya anak dari Lo." Arsen tersenyum kecil. Walaupun Arsen tahu hal itu tak mungkin terjadi namun tetap ada rasa cemburu.


"Mana ponakan gue yang ganteng?" Gio sambil duduk santai di sofa.


"Mba nindi... Tolong bawa Arkana ke sini mba..." Naomi menelpon nindi sang baby sitter yang lagi ngajak main di ruang bermainnya.


Tak lama datanglah Arkana yang lucu yang berpakaian sama seperti Daddy Arsen.  "Sini anak Daddy... emmuah." Kecupan diberikan Arsen buat Arkana.


...



...


Gio merasa iri melihat itu semua. "Uuuuh lucunya...jadi pengen punya anak....Naomi... Bikin baby yu." Seketika Arsen melototkan matanya.


"Sabar sen..sabar...canda gue...sini sayang sama om ganteng. Sen sini dong sen... Gue pengen gendong." Arsen masih mendekap Arkana dan enggan memberikan anak nya.


"Ya udah kalo gak mau ngasih... Padahal gue ke sini buat Arkana deh.... Gak dapet anaknya ya ibunya gak papa." Gio mendekat ke Naomi.


"Stop... Lo berani dekat Naomi dan meluk dia lagi, gue lempar Lo ke luar." Gio tersenyum lebar


"Arkana... Itu om gio... Arka Sama om gio dulu ya..." Arka tersenyum " om gio..." Ucap nya.


"Uuuuuuuhhhhh. Ucul....ah... Baby gemoy.... Aku mau bikin yang banyak."