
Shasha terdiam dan tanpa sadar air matanya terus menetes, setelah dia menyadari dia langsung merebahkan dirinya di kasur dan menangis s jadi jadinya..
Karena aira matanya terus mengalir, matanya jadi bengkak dan hidung pun memerah.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, waktunya mereka sarapan sebelum memulai pekerjaan. Naomi dan Arsen juga Arkana yang sudah berada dalam meja makan menunggu kedatangan Shasha namun sampai saat ini masih belum turun juga sampai sampai Naomi yang harus memanggil Shasha.
Naomi menaiki tangga dan sekarang sudah berada di depan kar Shasha.
Tok..tok..tok...
"Sha.... Ayo sarapan" tak ada suara sahutan atau langkah kaki yang terdengar. Naomi kembali memanggil adik iparnya itu.
"Sha... Kamu sudah bangun? Sha.. ayo kita sarapan." Tak ada Jawaban sama sekali.
"Sha...sha..Shasha" tok...tok...Tok pintu kembali di ketuk.
Naomi mulai khawatir, ketika pintu di buka, ceklek.. Shasha juga membuka pintunya. Naomi sungguh kaget dengan apa yang terjadi, melihat wajah adiknya yang berantakan membuat dia langsung membuka suara.
"Kamu kenapa sha?" Pekik Naomi.
"Aku...aku.." Naomi menatap Shasha dengan gemas.
"Cepat jawab..Kamu kenapa?" Naomi sungguh bukan penyabar jika berhadapan dengan kondisi keluarga nya.
Tak lama Shash malah menangis dan memeluk Naomi. Naomi yang sudah mengerti langsungembawa Shasha untuk duduk di tepi ranjang.
"Ceritakan kepada kakak apa yang terjadi." Ucap naomi dengan lembut.
Shasha yang sudah tak bisa menahan sakit sendiri menceritakan apa yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu. Tak di sangka Arsen berada di balik pintu kamar Shasha. Dia tadinya bingung kenapa istrinya itu sangat lama. Namun mengetahui cerita dari Shasha Arsen langsung naik pitam, dia pergi dengan cepat dan membawa mobil yang dikendarai mang Ujang, sopir Arsen. Entah araenau kemana.
"Kamu yakin jika yang terjadi memang begitu?" Ucap Naomi yamg masih syok akan ucapan Shasha. Naomi sangat mengenal gio, sangat susah dipercaya jika gio melakukannya.
"Itu yang Shasha dengar kak... Bagaimana aku tidak berpikir begitu jika kata katanya mengandung makna aneh..."mata Shasha begitu sendu d Ngan mata yang membengkak.
"Baiklah... Jika memang begitu... Aku akan pastikan apa itu benar atau salah." Shasha menatap dengan sendu.
"Jika kakak mau berbicara dengannya, tolong sampaikan padanya... Batalkan saja rencananya." Naomi membelalakan matanya.
"Kamu yakin sha?" Dengan cepat Shasha mengangguk dan menyeka air matanya.
"Bagaimana jika...kamu salah paham? Sejujurnya kakak masih belum percaya, bukan karena gak percaya sama kamu, tapi mungkin kita yang terlalu cepat memutuskan dan menyimpulkan." Shasha langsung tidur dan menutup wajahnya dengan selimutnya.
"Baiklah.. jika kamu gak mau sarapan, kalo lapar kamu turun aja ya.. kakak mau sarapan lalu pergi kerja. Masalah gio, nanti kakak telpon saat kakak tak ada pasien."
Karena keadaannya sedang galau, dia memutuskan untuk tidak pergi kuliah.. dia memutuskan untuk rebahan saja di kasur empuknya.
Karena matanya sembab dan perih, sehingga tak terasa dia kembali tertidur selama dua jam. Handphonenya terus bergetar, namun mata Shasha tetap tertutup.
Drrrt... Drrrrtt.. handphone Shasha terus bergetar namun benda pipih itu tak diangkatnya karena dalam mode senyap, sebelum menangis tersedu sedu, dia meng silent kan handphone nya karena tak ingin di ganggu.
Muncul satu nama di sana, ya... Siapa lagi kalo bukan gio. Gio sudah menelepon Shasha sebanyak 30 kali namun tak pernah diangkat, bahkan dia sudah mengirimkan pesan chat tapi belum juga di baca apalagi di balas.
Gio merasa kesal karena telponnya tak kunjung di angkat. Akhirnya gio kembali dengan kesibukannya di kantor. Dia harus menemui client nya di sebuah restoran di salah satu hotel bintang lima, kebetulan sang client baru sampai sejam lalu dan masih dalam keadaan capek sehinggaemilih tempatnya untuk mengobrol.
Di lain tempat Naomi merasa gelisah dengan tingkah aneh suaminya, ketika sarapan dia tak melihat Arsen, bahkan pergi dengan wajah marah, begitu penuturan mang uga sang pegawai yang kerjaannya merawat taman di rumah Naomi.
Tak di sangka ternyata Arsen pergi dengan jet pribadi nya menuju Paris..
***
"Tadi dia bilang mau tunangan, sekarang susah di hubungi." Gumam gio
Tak lama handphone nya berdering dan dengan cepat gio mengangkat tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Hallo sha...Kemana aja sih, kok susah dihubungi?" Cerocos gio sekali helaan.
"Bisa diem gak?" Gio terdiam sambil merasa keheranan.
"Ini..." Belum selesai sang penelpon sudah langsung memotong.
"Ini gue.. Naomi..." Gio tersenyum
"Gue kira Shasha calon istri gue. Ternyata Lo calon kakak ipar" Naomi memutar bola matanya.
"Sepertinya gak lagi deh Yo." Gio terdiam dan langsung bertanya
"Maksud Lo apa aom? Gue gak ngerti... Gak lagi?"
"Ya... Gak lagi.. soalnya kata adik gue suruh bilang sama Lo, batalkan saja... gitu."
"What? Kok bisa? Kan baru beberapa jam dia bilang mau bertunangan. Kok berubah lagi? Dia nyesel?"
"Ya dia nyesel karena sikap Lo sendiri."
"Maksudnya gimana? Gue gak ngerti..."
"Denger Yo... Gue gak akan mengulang apa yang akan gue ucapkan, yang pasti dia mendengar sekertaris Lo merintih kesakitan dan ada kata baru perlama, pelan pelan... Apa apa an itu? Lo mau abis sama arsen? Kalo kayak gitu kejadiannya dan itu benar, gue gak bisa bantu Lo Yo..." Gio terdiam dan sedang mencarna apa yang dia dengar.
"Bentar..bentar.. jadi...shasha menganggap aku udah ena ena sama Evelyn?"
"Ya... Dan kalo itu benar, gue kecewa banget Yo... Kita tahu itu dosa kan, dan Lo udah melanggar perintah Tuhan dan udah nyakitin adik ipar gue.. walaupun gue masih belum yakin Lo begitu...tapi gue sekarang butuh penjelasan dari Lo... Mungpung Arsen belum sampai sana lo."
"What? Arsen ke sini?" Gio melongo
"Ya..tadi siang gue tanya mang Ujang, katanya mau ke Paris jadi dia disuruh pulang aja. Gue juga baru di telpon sama Andre kalo Arsen gak akan pulang karena ada urusan. Pasti bentar lagi sampai situ... Selamat menghadapi suamiku ya... Eh ya.
Lo ada pesan pesan terakhir gak? Coba bilang sama gue.." gio masih melongo dan mengerjap ngerjapkan matamya.
Tok..tok..tok..terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Tuan...Tuan.. ada tamu di depan."
"Iya bi.. siapa?" Jawab gio namun Telpon masih tersambung dengan Naomi.
"Itu...tuan Arsen..beliau menunggu di sofa tuan.."
Jantung Gio langsung berdetak kencang.
Deg..deg..deg...deg...
"Hallo...hallo..Yo...Lo masih hidup kan? Suami gue udah sampe ya... Ya udah pesan terakhir Lo apa?"
"Bilang sama Shasha... Gue cinta dia." Telpon pun terputus.