
Dor..dor...dor.. tembakan mengarah ke Arsen dan Arsen tergeletak.
Namun Arsen bangkit lagi karena tembakan itu hanya mengarah ke tangan Arsen.
"Bagus, bangun lah aku masih belum puas, kamu harus merasakan kesakitan terlebih dahulu." Ucap Gian
Arsen tahu Gian tak bisa bahasa Indonesia.
"Naomi, bawa dia mendekat ke arah jendela. " Ucap Arsen (bahasa Indonesia)
"Kenapa?" Tanya Arsen
"What are you talking? Don't take cover behind your language." Ucap Gian
*Kalian bicara apa? Jangan berlindung dibalik bahasamu.
"Pokonya ikuti aja ya."
"Ya" Jawab Naomi sambil dia melangkah sedikit demi sedikit sampe di dekat jandela.
"Stop. Don't talk again." Teriak Gian
Melihat Gian yang sedikit lengah membuat Naomi melihat kesempatan untuk bertindak, di memegang tangan kiri yang mendekap di leher Naomi dengan tangan kirinya dan tangan kanan yang mengarahkan pistol ke Arsen dia pegang dan sekali hentakan yang sangat cepat membuat Gian terbanting ke bawah dan Naomi berusaha untuk menendang Gian namun Gian dengan cepat mengambil kembali pistol yang tadi terlempar dan mengarahkan ke naomi, yang akhirnya membuat Naomi terdiam.
Arsen sungguh khawatir melihat keadaan ini. Takut Naomi kenapa Napa. Melihat Arsen ada gerakan membuat Gian menembakan kembali ke arah Arsen.
Dor...dor...dor...
Naomi langsung melihat Arsen kembali tersungkur, kali ini tembakan nya mengenai perut dan dada Arsen.
Sontak Naomi pun berlari memeluk Arsen. Dia menangis.
"Sen...Arsen...bangun. hiks ..hiks .." Naomi tak kuasa melihat darah yang mengucur di badan Arsen.
"Belum bos...tentu saja belum. Adik dan ayahku sudah mati..sebelum dia mati aku belum tenang bos."
"Cukup Gian...dia sudah tak berdaya Gian. Aku mengerti kesedihanmu. Kita kembali ke Jerman Gian...kau bisa hidup tenang di sana.ok. cukup. Aku tak mau kamu nanti malah mati.." ucap James meyakinkan.
"Bos..bukankan dengan kematiannya bisa membuatmu mendapatkan wanita yang kau cintai? Jadi biarkan aku membunuhnya bos dengan begitu dendamku tuntas dan keinginanmu terpenuhi." Ucap Gian
"Tapi setelah Arsen mati kamu akan mati dibunuh anak buah nya Arsen Gian, dan aku tak mau itu terjadi." Ucap James meyakinkan Gian untuk berhenti.
"Tak apa bos, aku sudah tidak punya siapa siapa lagi bos, aku hanya punya bos dan ini juga salah satu cara aku berterima kasih atas bantuanmu selama ini." Jawab Gian
Gian sungguh tak bisa digoyahkan pendiriannya, dia mengarahkan tembakan ke kepala Arsen, dengan begitu Arsen akan mati seketika.
"Awas nona, jangan menghalangi tembakanku. Jika kau tak menyingkir, kau akan tertembak." Ucap Gian.
Dor...dor..dor..
"Arsen....hiks..hiks..bangun...arsen. please wake up...you are my everything." Naomi menangis karena melihat Arsen tak bergerak.
"Hahahaha....aku mau tembak Arsen kau malah menghalangi nona...tapi walaupun begitu dia akan tetap melindungi mu dan tembakanku tetap mengenainya kan, walau sasaranku jadi mengarah ke punggungnya. Tapi tak apa lah yang penting peluruku tak sia sia. " Tawa Gian menggema.
Tanpa dia sadari posisinya sekarang berada di dekat jendela dan dor..dor..dor.. tembakan tepat di jantung Gian, dia limbung dan terjatuh, darah keluar dari dada juga mulutnya. James memeluknya. Sebelum dia menghembuskan nafasnya yang terakhir dia hanya tersenyum dan berkata.
"Bos...uhuk uhuk.. terima kasih..." Gian meninggal di pangkuan James.
*****
Thanks for reading and don't forget to vote and comment.
See you next chapter
Bye 🤗😘